Selasa, 20 Agustus 2013

LENSA KEMERDEKAAN RI KE 68 TAHUN 2013 DI HULU SUNGAI SELATAN

SELASA, 20 AGUSTUS 2013
















Panjat pinang di Sungai Kupang Palas





FOTO BAPAK DRS. MUHAMMAD SAYUTI RANTAWAN

SELASA, 20 AGUSTUS 2013





LENSA BUPATI YANG MERAKYAT

SELASA, 20 AGUSTUS 2013

Pesta perkawinan Denny Rasulinnor (Deden) di Angkinang Selatan
Pada hari Minggu, 11 Agustus 2013


Tampak Bupati HSS, H Achmad Fikry menghadiri acara tersebut


Akrab


Cengkerama






PEMBERITAHUAN PENTING UNTUK LULUSAN MTsN ANGKINANG TAHUN 2013

SELASA, 20 AGUSTUS 2013

PEMBERITAHUAN PENTING !

Kepada Alumni MTsN Angkinang lulusan tahun 2013 (Tahun Pelajaran 2012/2013) dimana saja berada. Dalam rangka pengisian ijazah dan SKHU asli. Dengan ini kepada kalian semua untuk mengumpul fotocopy SKHU sementara yang sudah dibagikan sebelumnya sebanyak 1 (satu) lembar. Paling lambat sampai tanggal 26 Agustus 2013. Tempat mengumpul di bagian Tata Usaha MTsN Angkinang pada waktu dan jam kerja. Kepada para alumni mohon informasi ini disampaikan kepada teman-teman yang lain yang belum mengetahuinya. Atas segala perhatiannya diucapkan terima kasih. (akhmad husaini)

Rabu, 14 Agustus 2013

KEBERHASILAN PEMBANGUNAN KALSEL DI USIA KE 63

RABU, 14 AGUSTUS 2013

  • Memasuki usia Provinsi Kalimantan Selatan ke-63 tahun 2013 diakui telah banyak keberhasilan pembangunan yang telah dilakukan dibawah kepemimpinan pasangan Gubernur Kalsel, H Rudy Ariffin dan Wakil Gubernur, H Rudy Resnawan.
gubwagubKeberhasilan pembangunan yang bisa dirasakan masyarakat, antaralain mulusnya jalan nasional dan jalan provinsi yang menjadi akses masyarakat dalam bidang transportasi dan angkutan sejumlah penduduk unggulan daerah untuk dipasarkan.

Selain itu menurunnya angka kemiskinan di Kalsel dari September 2012 tercatat sekitar 5,01 persen, kini tinggal 4,77 persen per Maret 2013 atau sekitar 181.739 jiwa. "Saya menyakini penurunan angka kemiskinan di Kalsel dan kini posisi berada di tiga besar terkecil di Indonesia itu berdampak luas terhadap sektor lainnya, termasuk sektor pendidikan dan kesehatan," kata Gubernur Kalsel, H Rudy Ariffin.

Menurut Gubernur, menurunnya angka kemiskinan  di Kalsel itu merupakan wujud nyata dari kerja keras semua komponen masyarakat di daerah ini dan berarti juga terjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat Kalsel.

 Penurunan angka kemiskinan di Kalsel merupakan wujud nyata dari pembangunan yang dilaksanakan selama ini dengan bersinergi dengan pemerintah pusat dan pemerintah kabupaten/kota se-Kalsel. Khususnya bidang kesehatan, kata Gubernur Kalsel, Dampak nyata yang dialami masyarakat Kalsel dari penurunan angka kemiskinan itu terjadinya penurunan angka kematian ibu melahirkan dari 2010 sekitar 110/100 ribu menjadi 92/100 ribu tahun 2011.

Selain itu Kata Gubernur, angka kematian bayi (AKB) juga mengalami penurunan dari tahun 2010 tercatat 50/1.000 turun menjadi 34/1.000 tahun 2011.

Kemudian, umur harapan hidup masyarakat mengalami peningkatan dari tahun 2010 sekitar 63,7 tahun menjadi 68,4 tahun, tetapi usia harapan hidup warga Kalsel itu masih rendah dari warga Kalimantan Tengah(Kalteng).

Selain itu, seiring dengan menurunnya jumlah angka kemiskinan di Kalsel per Maret 2013 itu, kini desa tertinggal di Kalsel terus menurun.

Berdasarkan data Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa. Provinsi Kalsel menyebutkan, hasil monitoring di lapangan jumlah desa tertinggal yang ada pads 13 kabupaten/kola se-Kalsel saat ini sekitar 450 desa, turun dari tahun 2010 yang masih sekitar 600 desa.

Penurunan desa tertinggal itu berkat adanya sejumlah program pemerintah yang diberikan kepada daerah, antara lain program nasional pemberdayaan masyarakat (PNPM) mandiri perdesaan.

Selain itu, ada program yang diluncurkan pemerintah provinsi (Pemprov) Kalsel sejak tahun 2008 yakni gerakan pengembangan masyarakat dalam rangka pengentasan kemiskinan (Gerbangmas Taskin).

Untuk program Gerbangmas Taskin, katanya, Pemprov Kalsel mengalokasikan dana setiap desa sebesar Rp50 juta dan setiap tahun jumlah desa yang mendapat kucuran dana pemberdayaan masyarakat itu sebanyak 52 desa dan setiap kabupaten dua kecamatan.

"Kira patut bersyukur alas keberhasilan pembangunan yang selama ini telah dilaksanakan, hal ini tidak terlepas dari peran serta seluruh lapisan masyarakat di daerah ini," kata Gubernur Kalsel, H Rudy Ariffin, dalam setiap kesempatan.

Peran Berta masyarakat dalam mendukung pembangunan di daerah ini, kata Gubernur, melalui upaya mereka menjadi situasi daerah ini sehingga tetap kondusif sehingga pemerintah bisa melaksanakan pemerintahan dan pembangunan dengan baik.
  • MP3EI Di Kalsel Mulai Geliat
Masterplan percepatan pembangunan ekonomi Indonesia (MP3EI) koridor Kalimantan, khususnya di Provinsi Kalimantan Selatan mulai menggehat, salah satu geliat yang terlihat dengan berdirinya sejumlah proyek pembangunan yang mendukung MP3EI.

Selama ini orang beranggapan bahwa MP3EI hanya wacana belaka, tetapi kenyataan geliat program yang mendukung percepatan pembangunan ekonomi Indonesia di Kalsel mulai tampak dan untuk koridor Kalimantan terkait bidang energi dan pangan.

Gubernur Kalsel, H Rudy Ariffin menyatakan, sejumlah proyek yang mendukung percepatan pembangunan ekonomi Indonesia di Kalsel meliputi pembangunan fly over (jembatan layang) di Jalan A Yani Simpang Gatot Subroto.

Proyek multiyears yang didanai APBN dalam dua tahun anggaran dan menghabiskan dana sekitar Rp210 miliar im sepanjang 400 meter dengan empat jalur dan dua jalur dan merupakan jembatan layang pertama di Kalsel.

Selain jembatan layang sepanjang 400 meter dengan kontraktor PT Pembangunan Perumahan (PP), jugs dilakukah pelebaran jalan pads sisi kiri dan kanan sepanjang 375 meter dengan dana sekitar Rp36 miliar.

Pembangunan jembatan layang di Simpang Gatot Subroto Banjarmasin itu diyakini menjadi salah satu solusi untuk mengatasi kemacetan yang terjadi di kawasan ini, terutama ketika pagi hari dan jam pulang kantor/sekolah.

Kini progress pembangunan jembatan layang tersebut diperkirakan lebih dari 40 persen dan diharapkan tedadi percepatan pembangunan, karena selama ini menjadi keluhan masyarakat, karena terjadi kemacetan.

Selain itu, proyek yang juga mampu mempercepat pembangunan ekonomi di Kalsel adalah de-ngan beroperasinya pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Asam-Asam unit 3 dan 4 dengan kapasitas 2 X 65 Megawatt (MW), di Kabupaten Tanahlaut.

PLTU Asam-Asam unit 3 dan 4 telah dinyatakan layak operasional setelah melalui tes dan kini sudah masuk sistem kelistrikan PT PLN Kalselteng sejak April 2013 lalu.

Untuk pembangunan PLTU Asam-Asam unit 3 dan 4 di Desa Asam-Asam, Kabupaten Tanah laut dengan nilai investasi mencapai Rp1,7 triliun.

Selanjutnya, pabrik besi spons rotary kiln kapasitas 315.000 ton/ tahun dan power plant dengan kapasitas 2 X 14 MW yang dibangun patongan antara PT Krakatau Steel, PT Aneka Tambang (Antam) dan Pemprov Kalsel.

pembangunan industri baja dan energi yang dibangun PT Meratus Jaya Iron Steel, di Kabupaten Tanah Bumbu (Tanbu) dan peletakan batu pertamanya oleh Wakil Presiden, HM Jusuf Kalla itu dengan investasi Rp 1,381 triliun.

Disamping itu, juga telah dibangun pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang dibangun pihak swasta yakni salah satu perusahaan pertambangan yang beroperasi di Kalsel yakni PT Adaro Indonesia.

PLTU yang dibangun PT Makmur Sejahtera Wisesa (PT Adaro Power Group), di Kabupaten Tabalong tersebut dengan kapasitas 2 x 30 MW dengan nilai investasi sekitar Rp1,6 triliun.
Kemudian, proyek pengembangan infrastuktur pertambangan di Kabupaten Tanah Laut dan Kabupaten Kotabaru yang dibangun PT Arutmin Indonesia dengan total investasi sekitar Rpl,5 triliun.

pembangunan peti kemas pelabuhan trisakti Banjarmasin oleh PT Pelindo III sepanjang 265 meter X 34,5 meter yang telah mulai dibangun April 2012 de-ngan nilai investasi Rp375 miliar.

Secara keseluruhan, kata Gubernur, nilai investasi dalam rangka implementasi MP3EI di Kalsel lebih dari Rp 11 triliun dan investasi tersebut berasal dari APBN, Badan Usaha Milik Negara (BUMN) daerah dan swasta.

Penyiapan SDM Berkualitas Dalam rangka menyiapkan sumber daya manusia (SDM) berkualitas, Gubernur Kalsel, H Rudy Ariffin, menggagas pembangunan SMA Banua Kalsel (Bilingual Boarding School) yang dibangun sejak tahun 2010 yang didanai APBD Kalsel dengan total sekitar Rp45 miliar.

SMA Banua Kalsel yang kini memasuki tahun kedua dimaksudkan untuk mencetak kader anak bangsa di daerah ini yang sehat fisik dan psikis serta memiliki nilai akademis yang bagus dan diharapkan menguasai Bahasa Inggeris.

Gubernur Kalsel, H Rudy Ariffin menyatakan, pihaknya berharap SMA Banua Kalsel mampu melahirkan generasi berkualitas dimasa mendatang. "Kira berkeinginan ke depan dari SMA Banua akan lahir generasi muda yang maju dan berkarakter sehingga menjadi generasi yang menjadi kebanggaan masyarakat di daerah ini, " ujarnya.

Menurut Gubernur Kalsel, putra-putri terbaik yang kini tersaring dari generasi muda yang ada di daerah ini diharapkan nantinya para lulusan SMA Banua Kalsel tersebut nantinya mampu menghadapi kompetisi global.

Menteri pendidikan dan Kebudayaan, Prof DR Ir Mohammad Nuh, DEA, ketika melakukan kunjungan ke SMA Banua Kalsel itu, menyatakan, upayapeningkatan kualitas SDM yang dilakukan Pemprov Kalsel layak dibanggakan.

"Saya kira luar biasa apa yang telah dilakukan Pemprov Kalsel untuk meningkatkan kualitas SDM agar para generasi muda di daerah ini nantinya mampu bersaing di era global," ujarnya beberapa waktu lalu.

SMA Banua dibangun dengan dana yang bersumber dari APBD Provinsi Kalsel beberapa tahun anggaran, hal itu salah satu ide dari Gubernur Kalsel, H Rudy Ariffin, untuk menyiapkan generasi muda yang berkualitas dimasa mendatang.

Menurut Mohammad Nuh, support Pemprov Kalsel untuk memajukan pendidikan dengan membangun lembaga pendidikan yang berstanda internasional im sangat luar biasa dan patut ditiru oleh daerah lainnya di negeri ini.

"Kalau melihat support yang diberikan Pemprov Kalsel untuk memajukan dunia pendidikan itu, maka tidak tega rasanya membatalkan Sekolah berstandar internasional (SBI)," ujarnya.
***

Sumber : Mata Banua

NAMA SAYA KAREL, INDONESIA TANAH AIR BETA

RABU, 14 AGUSTUS 2013



“Saya kakak!”, pekik seorang anak laki-laki berkulit hitam berkaos putih dengan pakaian khas Papua berupa rumbai-rumbai di bagian bawah tubuhnya dan hiasan di kepalanya sambil mengacungkan tangannya tinggi-tinggi berharap agar dilihat dan dipanggil untuk naik ke atas panggung.

“Nama saya Karel dari Papua dan saya di sini mau bernyanyi”, lanjutnya tanpa rasa gugup sedikit pun ketika ditanya oleh MC apa yang hendak dipertontonkannya di atas panggung.

“Saya mau ajak teman saya kakak untuk bermain gitar, bolehkah?”, katanya kemudian. Di bawah panggung seorang anak laki-laki lantas membuka jaket merah yang dikenakannya, lalu berlari ke sana ke mari mencari sebuah gitar untuk dipinjam.
Alunan gitar bersenandung dan Karel pun bernyanyi.

“Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya”, baru satu baris lagu dinyanyikan, sontak membuat bulu kudukku bangun, membuat jiwa ini menangis sendu. Selain suara Karel yang memang cukup indah tetapi ada makna mendalam di balik lagu yang dibawakannya.

Kunikmati lagu tersebut sampai akhir dan ketika petik senar gitar berakhir, Karel dan kawannya mendapat sambutan luar biasa yang ditandai dengan riuhnya tepuk tangan dari ratusan anak-anak dan orang dewasa yang hadir di acara itu. Ya, ku hadir di acara Galeri SUARA  Indonesia yang diadakan oleh Wahana Visi Indonesia mitra dari World Vision International, sebuah acara yang mengumpulkan puluhan anak-anak dari berbagai daerah di Indonesia binaan WVI untuk berbagi bersama, belajar dan unjuk diri menyuarakan tentang siapa sebenarnya anak-anak Indonesia itu.

Lalu terlintas pikiran ini di kepalaku.
Di tengah ramainya perbincangan banyak orang, lalu tulisan-tulisan di media cetak nasional dan luar negeri yang sebagian besar berita menyebut tentang kemerdekaan Papua dan kekerasan yang kerap terjadi di sana, bahkan yang terbaru soal pergunjingan kala dibukanya perwakilan OPM (Organisasi Papua Merdeka) di Inggris, kemudian muncul sosok seorang Karel, anak laki-laki lugu yang dengan gagah berani menyanyikan lagu « Indonesia Tanah Air Beta », yang mencoba dengan semangatnya meyakinkan mereka yang hadir bahwa Papua tetaplah bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Masih di pikiranku terngiang, andai saja kalian orang-orang tua yang keras kepala menuntut kemerdekaan, andai saja kalian manusia-manusia yang sok pintar mau merongrong indahnya Pancasila, andai saja kalian yang selalu membuat pertikaian ada di sana saat itu, akankah hati kalian tergerus melihat Karen dan kawan-kawannya bernyanyi ? Akankah ada sedikit perubahan jiwa dalam diri kalian ?

Mungkin.
Atau tidak sama sekali.
Tapi setidaknya Karel dan kawan-kawannya sudah merubah pandanganku tentang bagaimana orang Papua itu sebenarnya. Papua dengan segala kelebihan dan kekurangannya adalah bagian dari negara Indonesia, itu pesan dari Karel.
1373643430847480466
Karel sedang bernyanyi (foto: Harun Kristiawan)

Sumber : HK

JALIYAH, MUTIARA INSPIRASI DARI PULAU BAWEAN

RABU, 14 AGUSTUS 2013

Jaliyah, itu namanya. Pendek dan ringkas, tak banyak embel-embel. Nama yang paling mudah aku hapalkan di kelas saat hari pertama mengajar. Ya, dengan begitu, predikatku sebagai seorang guru, wali kelas 6 tidak perlu lagi dipertanyakan. Aku terbukti hapal dengan murid-murid yang aku ajar, setidaknya untuk hari pertama mengajar.
Aku adalah seorang guru yang dulu bertugas di Pulau Bawean. Di manakah pulau Bawean itu berada? Ini adalah pertanyaan favoritku. Hampir semua yang bertanya latar belakangku sebagai guru, pasti menanyakan tempat aku mengajar dulu. Tak banyak yang tahu di mana pulau Bawean berada. Bahkan, ada juga beberapa penduduk yang secara administratif tergabung dalam satu kabupaten dengan Pulau Bawean saja tidak tahu.
Pulau Bawean adalah sebuah pulau yang terletak di Laut Jawa, di antara Pulau Kalimantan dan Pulau Jawa. Secara administratif, Pulau Bawean termasuk dalam Kabupaten Gresik, Propinsi Jawa Timur. Cek saja di peta! Di peta, pulau Bawean sangat kecil. Wajar kok karena secara nyata saja untuk mengelilingi pulaunya hanya diperlukan waktu 3 jam dengan mengendari sepeda motor.
Kembali lagi ke Jaliyah. Jaliyah yang aku sebutkan di awal tulisan tadi adalah nama salah satu muridku di Pulau Bawean. Teman-temannya sering memanggilnya ‘Jali’, begitu pula aku, ibu gurunya. Muridku di kelas 6 hanya berjumlah 17, 6 murid perempuan dan sisanya 11 murid laki-laki. Jadi, bisa dibayangkan betapa akrabnya kami di sekolah yang terletak di atas pegunungan tua ini.
13738759472130116049
bersama murid perempuanku
Dibandingkan dengan teman-temannya, Jaliyah adalah murid yang cukup dewasa. Ada sisi kematangan tersendiri, baik secara fisik dan psikologis, dari dirinya. Setelah kutelusuri, ternyata Jali pernah tidak naik di kelas-kelas sebelumnya. Hal itu juga yang membuat Jali sedikit berkecil hati ketika bergaul dengan teman-temannya di kelas 6. Beberapa kali aku melihat Jali lebih mudah akrab dengan teman-temannya yang sudah duduk di bangku SMP. Dengan kenyataan itu, caraku berkomunikasi dengan Jali pun berbeda dengan caraku berkomunikasi dengan teman-temannya di kelas 6.
Jali tinggal di rumah neneknya. Ibunya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Sedangkan ayahnya, hidup di rumah yang terpisah walaupun masih dalam satu dusun. Sehari-hari, selain sekolah, Jali mengasuh adik dan saudara-saudaranya, serta membantu sang nenek yang sudah tua mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Pekerjaan rumah tangga yang dilakukan Jali tergolong pekerjaan fisik yang menguras energinya tetapi karena sudah sering dilakukan, dia sama sekali tidak merasa kelelahan. Mencari rumput untuk makanan sapi di perbukitan, mengambil air dari sumber mata air, serta mencari kayu untuk memasak di tungku dilakukan Jali setiap sore dengan suka cita. Sering aku bertemu murid perempuanku itu menyunggi di kepala apa saja yang dia dapat di bukit. Wajah yang terbakar sinar matahari serta keringat yang mengucur di wajahnya sama sekali tak dihiraukannya. Hanya senyum lebar yang diberikannya untukku. “Selamat sore, Bu!” begitu katanya malu-malu. Malam harinya, secara tiba-tiba, selepas mengaji, sering juga aku bertemu dengannya. Jali tersenyum kepadaku sambil menggendong balita. Aku pun penasaran kapan muridku itu beristirahat.
Di kelas 6, Jali memang bukan termasuk anak unggulan yang mampu menjawab semua pertanyaan dengan benar. Nilainya pas-pasan saja untuk beberapa mata pelajaran. Walaupun demikian, menariknya, Jali adalah murid yang mau berusaha. Pengerjaan soal yang salah dan kuminta untuk dibetulkan, dilakukan Jali dengan tekun. Anjuran agar dia datang ke rumahku malam atau sore hari untuk les tambahan pun dipenuhinya. Dia juga salah satu muridku yang rajin meminjam buku di perpustakaan di rumahku. Buku favoritnya adalah cerita putri-putrian dan buku cerita bahasa Inggris bergambar.
1373876120589374088
Taman Pintar, nama perpustakaanku di rumah
Pernah aku datang ke rumahnya. Sengaja. Sebagai gurunya, aku ingin melaporkan perkembangan Jali di kelas 6 kepada walinya. Tetapi rumah Jali sepi. Hanya ada Jali yang kemudian mempersilakanku duduk dan tinggal sebentar di rumahnya. Aku memandang ke sekeliling ruangan. Rumah Jali yang minim perabotan rumah tangga itu seakan menjadi saksi kegigihan Jali selama ini. Di beberapa sudut ruangan tampak kerajinan tangan yang aku ajarkan di sekolah. Jali tersenyum malu-malu ketika aku mengetahuinya. Ternyata Jali senang dengan kerajinan tangan. Bahkan, dia bisa membuat bunga-bungan dari gelas plastik bekas minuman. Bunga-bungan itu dipajang di dinding ruang tamu. “Mudah, Bu, membuatnya. Ibu mau saya ajari?” begitu katanya kepadaku saat itu.
Mengajar di sebuah pulau yang terdiri dari pegunungan tua dan perbukitan yang tak terjangkau sinyal selama satu tahun ternyata cepat berlalu. Setelah kelas 6 mengadakan acara kelulusan, berarti masa tugasku sebagai guru bantu di Pulau Bawean pun berakhir. Murid-muridku menangis melepas kepergianku, termasuk Jali. Aku hanya berpesan kepada murid-muridku untuk terus melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi. Maklum, angka putus sekolah di dusunku cukup tinggi. Biasanya, setelah lulus SD mereka akan langsung bekerja membantu orang tuanya di rumah mengurus sawah dan sapi. Setelah menginjak dewasa, beberapa dari mereka bahkan menjadi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Malaysia. Tawaran dan iming-iming dari para penyalur banyak beredar dan sulit ditepis. Belum lagi ditambah dengan cerita sukses sanak saudara yang menjadi TKI di Malaysia. Semuanya menjadi tantangan tersendiri bagi generasi muda Pulau Bawean. Pergi selama beberapa tahun dengan modal seadanya atau tetap tinggal di Pulau Bawean bersama keluarga. Mirisnya, sebagai guru di dusun itu, aku pernah mendapat pertanyaan dari seorang muridku, “Bu, buat apa sih, kita sekolah? Paman saya saja yang tidak lulus SD bisa menjadi TKI di Malaysia dan setiap bulan mengirim uang.” Ya, anak-anak sekecil itu sudah bisa mempunyai standar tersendiri tentang uang.
Walaupun sekarang aku bekerja di Jakarta, hubunganku dengan murid-muridku di Pulau Bawean tidak terputus. Kami masih saling berkirim kabar melalui pesan singkat walau tidak sering. Maklum, di dusunku tidak ada sinyal. Hanya tempat-tempat tertentu yang secara ‘ajaib’ terjangkau sinyal walau hanya satu bar (garis) saja. Jali adalah salah satu dari mereka. Dia rajin menghubungiku walau hanya bertanya kabar, apa yang sedang kulakukan, sampai bertanya tempat di mana aku bekerja sekarang. Kadang aku merasa bersalah juga dengan Jali. Ada pesan singkat yang terlewat dan tidak sempat kujawab. Dia pun tergolong kritis dan sensitif untuk urusan seperti ini. Di pesan selanjutnya, dia pasti bertanya mengapa pesan darinya tidak dibalas dan telpon tidak diangkat. Jali, oh Jali, setelah aku jelaskan bahwa selama bekerja, aku tidak selalu dapat membawa handphone, dia pun mengerti.
1373874861931707002
Salah satu cara mencari sinyal
Mendengar cerita Jali yang berapi-api, bayanganku saat itu Jali sedang berjalan-jalan bersama saudaranya atau untuk kepentingan lainnya. Ternyata aku salah. Setelah telepon ditutup, pesan singkat dari Jali masuk ke handphone-ku. Dia mengatakan bahwa kepergiaannya ke Surabaya dan Gresik adalah untuk mempersiapkan kepergiaannya ke Malaysia sebagai TKI. Dia tidak berani mengatakannya langsung kepadaku. Dia pun minta maaf karena tidak bisa melanjutkan sekolah, tidak bisa menjalankan nasihat yang aku sampaikan saat perpisahan dahulu.
Suatu hari, Jali meneleponku. Dia senang sekali karena sedang berada di Jawa. Ya, rata-rata orang Bawean menyebut ‘Jawa’ saat mereka berlayar ke Pulau Jawa. Walaupun secara administratif, Pulau Bawean termasuk dalam gugusan Pulau Jawa juga. Jali bercerita betapa ramainya alun-alun Gresik, betapa ramainya Surabaya. Mobil, sepeda motor, pertokoan, perkantoran, semuanya lengkap. Apalagi sinyal, melimpah! Aku maklum saja karena ini memang kali pertama Jali keluar dari Pulau Bawean. Di akhir ceritanya, Jali mengatakan keinginannya untuk bertemu denganku lagi. Melihat betapa megahnya Gresik dan Surabaya, ia pun penasaran dengan Jakarta, kota tempat aku bekerja sekarang.
Shock. Aku tidak bisa berkata-kata setelah membaca pesan singkat dari Jali. Bahkan, butuh beberapa detik untuk sadar. Air mata ini tertahan di sudut mata. “Muridku menjadi TKI, muridku menjadi TKI, muridku menjadi TKI. Guru macam apa aku ini?” Berbagai pertanyaan memenuhi pikiranku. Aku mencoba untuk tenang dan tidak gegabah dalam mengambil sikap. Aku tidak pernah mengajarkan kepada murid-muridku untuk membeda-bedakan jenis pekerjaan. Asalkan itu halal dan tidak mencelakaan diri dan orang lain. Mayoritas keluarga dan sanak saudara murid-muridku di Pulau Bawean memang mencari nafkah dengan menjadi TKI di Malaysia. Sehingga, pergi ke Malaysia dan menjadi TKI bukan hal yang aneh lagi di sana.
Setelah berhasil menenangkan diriku sendiri, aku pun menelepon Jali. Aku berbicara dengannya dan berusaha memahami keputusannya untuk menjadi TKI di Malaysia. Jali pun bercerita, sebagai anak, dia ingin membahagiakan keluarganya. Dia ingin membantu perekonomian keluarganya. Dia sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa. Belitan kemiskinan sudah tak tertahankan bagi keluarganya. Jika dia hanya sekolah, dia tidak bisa membantu keluarganya. Jadi, dia memutuskan untuk turun gunung dan pergi ke kecamatan untuk mencari pekerjaan. Saat bertemu dengan orang yang menawarinya bekerja di Malaysia, Jali pun lmengiyakannya tanpa memikirkan hal lain. Toh, ada beberapa pamannya yang bekerja di Malaysia juga. Jadi, Jali berharap di Malaysia, dia bisa berjumpa dengan paman-pamannya.
Aku tersentuh mendengar cerita Jali, sekaligus malu. Anak sekecil itu sudah berpikir untuk turut serta meringankan beban perekonomian keluarga. Dia rela pergi jauh asalkan ada yang bisa dia berikan untuk keluarganya. Walau jujur, sebagai gurunya, aku tidak rela. Saat aku mencoba menghubungi keluarganya, keluarganya pun sudah tidak sanggup melarang. Jali benar-benar penuh tekad. Aku pun menghubungi temankku yang berada di Gresik. Selain mengantarkan buku-buku yang sengaja aku kirimkan untuk Jali, aku ingin temanku langsung berbicara dengan Jali tentang keputusannya menjadi TKI. Hasilnya pun nihil. Temanku hanya berkata, “Tekadnya sudah kuat, Het. Sudah tidak bisa diajak ngomong lagi. Anaknya sungguh-sungguh. Kamu tidak perlu khawatir, dia akan diantar oleh saudaranya sampai di Malaysia dan akan bertemu dengan pamannya.”
Beberapa bulan kemudian, ada nomor Malaysia yang masuk ke handphone-ku. Saat aku angkat, aku bahagia sekali. Ternyata, Jali. Dia senang sekali bisa menghubungiku. Dia bercerita kalau pekerjaannya di Malaysia adalah mengasuh anak-anak saat si majikan bekerja di kantor. Rumah tempatnya bekerja sangat besar, sama seperti yang dia lihat selama ini di TV. Jali terpesona dibuatnya. Satu hal yang masih menjadi kendala bagi Jali adalah kebiasaan sarapan dengan roti. Jali belum bisa menyesuaikan diri karena dia lebih suka makan nasi. Bahkan, saking senangnya bercerita, dia lupa mengabarkan kondisinya di Malaysia.
Aku terharu sekaligus miris mendengarnya. Muridku benar-benar sudah sampai di Malaysia dan bekerja sebagai TKI. Tapi aku tidak mau merusak kebahagiaannya. Dari suaranya saja tampak jelas dia sangat ingin berbagi cerita denganku, guru yang dirindukannya. Aku hanya sanggup mendengarnya bercerita sambil sesekali menimpali ceritanya dengan, “Oh ya?”, “Lalu bagaimana?”, “Terus?”.
Di akhir ceritanya, Jali membuatku kaget. Jali bercerita kalau si majikan ternyata menyuruh Jali pulang kembali ke Pulau Bawean untuk melanjutkan sekolah setelah tahu umur Jali yang masih sangat muda. Bahkan, si majikan meyakinkan Jali dengan uang gaji yang diperolehnya, cukup untuk biaya sekolah. Jali pun mengiyakan. Dia lalu teringat kepada keluarganya di Pulau Bawean. Dia teringat alasan kepergiannya. Dia dengan polos berkata, “Bu, saya teringat Ibu. Ibu dulu bertugas mengajar di Pulau Bawean hanya satu tahun. Saya pun ingin segera kembali ke Pulau Bawean untuk berkumpul bersama keluarga saya. Tapi, saya ingin mengumpulkan uang dan membahagiakan keluarga saya. Saya akan setahun dahulu bekerja di sini lalu pulang sama seperti Ibu dulu.”
Nyess! Hatiku seperti tersentuh ribuan bongkahan es. Ternyata selama ini Jali terinspirasi denganku, tentang keberadaanku di Pulau Bawean selama satu tahun, tentang nasihatku untuk terus sekolah, serta semua ucapan yang aku sampaikan di kelas 6 dulu. Semuanya tersimpan rapi dalam memori Jali.
Bertemu Jali, berkenalan dengannya, berinteraksi dengannya membuat definisiku akan kerja keras bertambah. Muridku yang bernama Jali, ternyata mampu mengajarkan aku tentang sesuatu hal yang selama ini aku lupakan. Mungkin, aku pun sebagai gurunya belum sempat mengajarkan. Kerja keras, pengorbanan, dan cinta keluarga adalah tiga simpul yang saling menguatkan. Tekad Jali bulat, tekad Jali kuat. Aku yakin, Jali sebenarnya tidak sendiri. Di luar sana, tidak sedikit anak-anak Indonesia yang harus berhadapan dengan kerasnya hidup karena tuntutan ekonomi. Mereka yang seharusnya menghabiskan waktu untuk bermain dan merasakan kehangatan kasih sayang keluarga, harus tegak berdiri untuk mencari penghidupan. Anak tetaplah anak. Anak bukanlah orang dewasa mini. Ini adalah tanggung jawab kita bersama untuk turun tangan menciptakan lingkungan yang ramah anak dan menjaganya agar dapat menginspirasi.
Untuk Jali dan semua pekerja anak di Indonesia, Tuhan akan menjaga kalian dengan cara-Nya.

Sumber : Mynameishety

DINDA, PUSTAKAWAN CILIK INSPIRATIF

RABU, 14 AGUSTUS 2013

Rumah di kawasan Cipayung, Depok, Jawa Barat itu terlihat sepi dari depan. Namun begitu kita masuk ke salah satu ruangan di rumah itu, tampak sejumlah anak sedang asyik membaca buku di tangan masing-masing. Begitulah pemandangan setiap hari di Rumah Buku AlyaNayya.
“Awalnya karena banyak sekali koleksi buku kami di rumah. Rasanya, sayang jika hanya kami saja yang baca, sementara teman-temanku banyak yang suka baca tapi orangtua mereka tidak membelikan mereka buku cerita,” tutur Alya Namira Nasution yang biasa disapa Dinda.
Pada tahun 2010 Dinda pun mendirikan taman bacaan. Saat itu umur Dinda baru 9 tahun dan sudah tertarik menjadi pustawan cilik. “Dari usulan ayah, bunda dan adik, aku memberi nama perpustakaanku itu Rumah Buku AlyaNayya, yang merupakan paduan namaku dan adikku, Jingga Nayya. Awalnya sempat mau diberi nama Buka Buku, tapi kok kurang keren ya,” jelas putri sulung dua bersaudara pasangan Ade Nur Sa’adah dan Haris Nasution ini.
13732792791176561908
Dinda mengaku untuk mengundang pengunjung ke perpustakaannya banyak dibantu bundanya. “Bundaku yang selalu manggil anak-anak buat main ke rumahku untuk pinjam buku. Selain mengajak anak-anak tetangga, bunda juga minta ke guru sekolahku untuk menyuruh teman-temanku meminjam buku di rumahku,” jelas Dinda yang bertuga mencatat buku-buku yang dipinjam dan memeriksa buku di taman bacaannya.
Yang menarik, untuk membaca buku-buku koleksi di Rumah Buku AlyaNayya ini tak ada uang administrasi keanggotaan atau sewa buku. “Karena ini taman bacaan gratis, syarat utamanya hanya kejujuran untuk mengembalikan buku yang dipinjam. Sayangnya, tidak semua anak bisa ditantang buat berlaku jujur. Banyak sekali bukuku yang tidak mereka kembalikan. Kalaupun kembali, buku-buku itu sudah robek atau dicoret-coret,” tutur Dinda yang juga seorang penulis cilik sejak usia 8 tahun.
Marahkah Dinda mengetahui bukunya rusak? “Aku tetap senang. Yang penting aku bisa menularkan virus gemar membaca buat teman-temanku,” jawab Dinda buru-buru. Agar tak banyak buku yang dicoret pembaca, Dinda pun punya akal. “Aku membuat pembatas buku yang berisi pesan agar mereka menjaga buku yang mereka pinjam. Selain itu ya … harus banyak-banyak sabar dan ikhlas … hehehe.”
Dinda tak pernah ragu untuk terus menjalankan taman bacaannya karena dukungan dari orangtuanya. Apakah bentuk dukungannya? “Tentunya dengan menambah koleksi buku di taman bacaanku. Selain itu, bunda juga sering mengajak orang-orang untuk meminjam buku, jadinya taman bacaanku itu sering ramai di kunjungi orang sekitar. Kalau ibu-ibu lain pergi arisan bawa dagangan, bundaku malah bawa buku buat dipinjami ke anak-anak yang ikut arisan supaya nggak rewel. Sedangkan Ayah rutin membelikan ensiklopedia untuk perpustakaanku,” jelas Dinda.
Taman bacaan AlyaNayya buka pukul sepuluh pagi, tutupnya pukul empat sore. Biasanya akan ramai pada pukul duabelas hingga pukul dua siang. “Mungkin karena banyak dari mereka yang sudah pulang sekolah, atau sedang jam mainnya mereka,” imbuh penulis buku Kecil-Kecil Punya Karya berjudul Eyang Rendra ini.
Untuk jenis buku, berdasarkan data yang dicatat Dinda kebanyakan meminjam novel, buku dongeng, dan juga komik.
1373279415598738892
Alya Namira nasution biasa disapa Dinda, sang Pustakawan Cilik dengan segudang prestasi. (foto: koleksi pribadi)
Peringkat pertama dalam penerimaan siswa baru di SMP Negeri 1 Depok, dengan NEM 29,15 ini juga punya cara unik untuk meramaikan taman bacaannya. “Contohnya seperti lomba menggambar, mewarnai, mengarang, dan lain sebagainya. Lomba itu tentu saja juga disertai hadiah. Kalau kegiatan lomba membuat pembatas buku, biasanya hadiah yang di sediakan adalah buku. Jadi, anak-anak sekitar lebih suka mengikuti kegiatan lomba membuat pembatas buku itu. Kegatan itu biasanya diadakan kalau uang royaltiku keluar,” kata penulis cilik yang sudah menerbitkan 13 buku ini.
Sebagai pustakawan cilik, Dinda menemukan kebahagiaannya sendiri dengan mengurus taman bacaan. “Senang banget saat melihat banyak pengunjung yang meminjam buku. Soalnya, aku jadi tahu ternyata mereka juga punya minat baca yang besar, walaupun kadang-kadang sering asal-asalan merawat buku tersebut,” ucap Dinda.
Namun di antara kebahagiaannya, pernah terselip kesedihan di hati Dinda saat menjadi pustakawan cilik. “Aku sering kasihan melihat teman-teman yang datang meminjam buku ke perpustakaanku. Umumnya mereka itu anak orang yang ekonominya jauh di atas keluargaku tapi  keluarganya tidak merasa penting membelikan anaknya buku. Padahal anaknya suka sekali membaca buku. Aku jadi merasa beruntung memiliki orangtua seperti ayah dan bundaku, meski hidup kami sederhana, tapi orangtuaku memiliki perhatian yang besar kepada minat anak-anaknya,” jelas Dinda yang memiliki segudang prestasi, diantaranya Juara 1 Lomba Menulis Cerpen Tingkat Nasional Kemendikbud, 2011.
Dinda berharap agar peminjam buku di perpustakaannya mau menambah minat baca mereka, dan lebih merawat buku-buku tersebut. “Impianku yang lain, semoga perpustakaanku tambah berkembang, dan koleksinya menjadi lebih banyak,” harap Dinda yang kini sudah memiliki koleksi 2000-an judul buku.
Semoga impianmu terwujud, Dinda. Teruslah menjadi agen perubahan untuk teman-teman di sekitarmu.
(ben/ Foto: dokumen pribadi)

Sumber : Benny Ramdhani

PEMENANG KOMPASIANA

RABU, 14 AGUSTUS 2013

Pemenang Kompasiana-World Vision Blog Competition

1374823123789415249
Setiap tanggal 23 Juli, Indonesia memperingati Hari Anak Nasional. Peringatan hari anak ini diadakan dengan harapan menyadarkan masyarakat sekaligus pemerintah tentang peran anak sebagai generasi penerus bangsa. Segala bentuk eksploitasi terhadap anak tentu tidak dibenarkan. Anak perlu dididik dan dibina dengan baik dan benar agar kelak mampu menggantikan peran-peran pendahulunya dalam meneruskan cita-cita kemerdekaan bangsa Indonesia.
Beberapa waktu lalu, Kompasiana bekerja sama dengan World Vision mengadakan kompetisi ngeblog bertemakan “Anak sebagai Agen Perubahan”. Dari ratusan artikel lomba yang masuk, banyak hal-hal tak terduga yang mampu dilakukan seorang anak dalam hal yang positif. Contohnya Dinda (12) sang pustakawan cilik.
Kegemarannya membaca buku, membuat Dinda memiliki beragam koleksi buku. Daripada buku-buku ini hanya diam di tempat tanpa ada yang membacanya lagi, maka ia berinisiatif untuk meminjamkan buku-buku ini kepada teman-temannya dengan mendirikan perpustakaan mini di rumahnya. Dinda tahu bahwa teman-temannya juga senang membaca. Namun sayangnya, orangtua mereka tidak mendukung hobi membaca ini.
Sejak umur 9 tahun, Dinda mendirikan perpustakaan mini. Tak ada pungutan biaya yang ia terima dari sini. Kata Dinda, hanya kejujuran yang ia tanamkan kepada teman-temannya bila mereka ingin meminjam koleksi bukunya. Meski terkadang buku yang dipinjamkannya itu rusak atau bahkan hilang, Dinda tidak berkecil hati. Justru ia kian bersemangat dengan menambah koleksi buku-bukunya yang hingga kini sudah 2000-an.
Kisah inspiratif Dinda yang diceritakan oleh Benny Ramdhani ini turut mengantarkan Benny sebagai pemenang pertama dalam Kompasiana-World Vision Blog Competition. Ya, setelah melewati masa penjurian, Kompasiana dan World Vision telah memilih tiga artikel terbaik sesuai dengan syarat dan ketentuan. Berikut nama pemenang Kompasiana-World Vision Blog Competition.
Pengiriman hadiah akan dilakukan oleh pihak World Vision. Silakan konfirmasikan diri Anda sebagai pemenang dengan mengirimkan email ke teresia_prahesti@wvi.org dengan subyek Pemenang Kompasiana-World Vision Blog Competition.
Selamat  kepada pemenang.
Yang belum berkesempatan menang, ikuti kompetisi ngeblog lainnya di Kompasiana yang sedang berlangsung saat ini. (ANN)

LOMBA MENULIS KOMPASIANA 2013

RABU, 14 AGUSTUS 2013

Ceritakan Serunya Perjalanan Anda bersama Shell V-Power Blog Competition


13748082891468310260
Kompasiana Power Blog Competition
Melakukan perjalanan ke berbagai tempat tertentu atau berkeliling dunia dan meraih keberhasilan dalam hidup yang tak terlupakan, tentu sangat menyenangkan bagi sebagian orang. Tak sedikit dari mereka senang mengabadikan momentum istimewa itu dengan foto, video maupun tulisan ulasan perjalanan. Terpenting, semua perjalanan dan prestasi itu bisa dibagikan dan menjadi inspirasi bagi orang lain.
Nah, bagi pecinta traveling atau jalan-jalan, kali ini Kompasiana mengajak Anda berbagi cerita dan pengalaman seputar  catatan perjalanan yang mencengangkan atau istimewa, juga momentum kemenangan atau keberhasilan luar biasa yang sulit Anda lupakan melalui Shell V-Power Blog Competition yang diselenggarakan atas kerjasama Kompasiana dengan Shell V-Power.
Berikut syarat ketentuan dan tema yang harus Anda perhatikan saat mengikuti lomba.
Ketentuan Umum
  1. Ada tiga tema dalam kompetisi blog ini.
    • Catatan dari Sebuah Perjalanan Tangguh
      Tuliskan kisah perjalanan panjang Anda melintasi kota, daerah, pulau, atau bahkan negara. Kenapa Anda melakukan tujuan perjalanan tersebut, bagaimana cara Anda melakukan perjalanan, dan apa saja yang Anda temui dan alami saat melakukan perjalanan? Tulis di Kompasiana dan sertakan tag: shellvpower, catatanperjalanan

    • Perjalanan Tangguh di Kota Tangguh
      Tentu Anda pernah berkendara menembus kemacetan kota, kan? Entah itu mengantarkan barang titipan atau mengantar-jemput seseorang. Belum lagi di tengah  Anda menemui berbagai masalah dan hambatan, seperti mobil mogok atau ban kempes. Ceritakan perjuangan dan ketangguhan Anda melewati kemacetan kota dengan segala masalahnya demi mencapai tujuan Anda. Tulis di Kompasiana dan sertakan tag shellvpower, fitdantangguh

    • Moment of Victory
      Pernahkah Anda mengalami momen kemenangan atau keberhasilan yang tak terlupakan? Ayo unggah foto ekspresi kemenangan dan tuliskan kisah kemenangan Anda di Kompasiana. Jangan lupa sertakan tag shellvpower, momentofvictory

  2. Masing-masing peserta hanya boleh memilih satu tema dari tiga tema yang disediakan. Namun, peserta boleh mengirimkan lebih dari satu tulisan asal temanya sama dengan tema tulisan sebelumnya.

  3. Peserta lomba terbuka untuk semua Kompasianer. Jika belum memiliki akun Kompasiana, klik di sini.

  4. Peserta lomba menuliskan ulasan atau pengalamannya sesuai dengan penjelasan dan tema yang telah disebutkan di poin pertama.

  5. Artikel lomba bersifat baru dan merupakan karya orisinil, bukan saduran, dan terjemahan.

  6. Artikel lomba bersifat reportase, opini, dan bukan karya fiksi.

  7. Artikel lomba memakai Bahasa Indonesia yang baik dan benar.

  8. Semua artikel yang diikutsertakan harus ditayangkan di Kompasiana dengan tag yang sesuai dengan tema yang dipilih. Jangan lupa, tag diketik tanpa tanda petik.

  9. Artikel yang dilombakan tayang pada 22 Juli hingga 4 September 2013.

  10. Hasil tulisan Anda di Kompasiana wajib di-share ke berbagai sosial media yang Anda miliki.
Pemenang
  • Pemenang lomba dipilih berdasarkan kualitas tulisan.

  • Jumlah sharing artikel di sosial media, komentar, jumlah pembaca, dan rating menjadi bahan pertimbangan dalam penjurian.

  • Pemenang akan diumumkan pada 19 September 2013.

  • Keputusan juri tidak dapat diganggu-gugat.
Hadiah
Pemenang yang terpilih berhak mendapatkan hadiah berupa:
  • Pemenang I: Canon DSLR 650D Kit

  • Pemenang II: Samsung Galaxy Tab 2 - 10.1

  • Pemenang III: Samsung Galaxy Ace 2

  • Hadiah hiburan: Voucher map untuk lima pemenang @ Rp 500rb
Pajak hadiah ditanggung pemenang. (ANN/SR)

DARI MANA ASALNYA ?

RABU, 14 AGUSTUS 2013

DARI MANA ASALNYA ?

            “ Dit belikan mie goreng,” ujar Evi di depan koperasi saat aku menuju warung depan. Evi dkk sedang mencuci piring. Hari itu kena giliran mereka.

            Terlihat Evi begitu lembut dan manis. Kecantikannya seperti artis sinetron. Tak kuduga Kalsel kaya akan manusia cantik. Salah satunya Evi tadi. Lamunanku lenyap seketika saat tukang warung menanyakan apa yang dibeli. Lalu kusebut satu-persatu. Termasuk mie goreng yang dipesan Evi. Kubelikan sebanyak tiga bungkus. Sementara tak lupa beli permen kebangsaanku ‘Alpien Liebe’.

            Aku beranjak ke wisma. Pesanan Evi kuserahkan. Saat Evi mau membayar kukatakan tidak usah. “Dit sedang cair,” ucap Nurul yang berada disamping Evi. “ Makasih Dit,” ujar Evi. Kami berpisah.

            Hubunganku dengan Dhea Ananda makin akrab saja. Kami cinta lokasi karena syuting sinetron Anak Haram yang tayang di RCTI tiap malam Sabtu menggantikan sinetron Wong Cilik.

            Penampilan Dhea yang funky abiz membuatku cinta padanya. Duh Dhea walau usiamu lebih muda dariku. Aku bertengkar dengan Syam’ani soal Evi. Bahkan berbuntut perkelahian adu fisik. Teman-teman di wisma A membela aku. Sementara di wisma B juga membelaku. Ini karena mereka temanku. Rasa cemburu yang tak tertahankan melihat Evi dikencani Syam’ani . Pada saatnya bom kecemburuan itu meledak.

            Akibatnya sanksi menghadang dari Kepala BS. Aku disuruh menyelesaikan rumput panjang untuk dipotong di depan kantor kepala. Sementara Syam’ani mendapat tugas yang sama di belakang wisma Nusa Indah dan Anggrek.

            Melihat kasus ini Evi berusaha untuk netral. Denganku Evi biasa-biasa saja bersikap. Juga dengan Syam’ani. Tadi malam Alik merekam music disco di radio FM yang ada di Banjarmasin. Paginya saat senam diputar. Sehingga ada yang berjingkrak-jingkrak ria. Asyik memang kedengarannya.

            Yang berkesan hari ini dengan Evi. Karena menstruasi Evi tidak lincah saat senam di depan aula. Ia kurang terlihat kurang gerak. Evi mengaku saat BL payudaranya sakit. Ia minta dibelikan obat peringan sakit.

            Saat makan siang Evi kuberi makanan ringan Joss tiga bungkus. Siang Evi minta dibelikan mie goreing. Mengambil baju muslim anu Evi menjelang shalat Jum’at. Dia mencucikan dan sudah disetrika. Evi tertawa saat melihat puisiku dimading yang baru dipajang di depan kelas umum.***

Kandangan, 2003

DIAN AGUS LATIHAN BERSAMA TIMNAS

RABU, 14 AGUSTUS 2013

 Foto:Akhmad Husaini

Dian Agus Prasetyo saat tampil memperkuat Barito Putera
Dalam laga persahabatan di Kandangan, Kab. HSS




Dian Agus Prasetyo hanya sebentar menikmati libur Lebaran tahun ini. Kiper Barito Putera tersebut harus berkumpul di Solo guna menjalani latihan Timnas Indonesia sejak Minggu (11/8) kemarin.

Dian Agus Pemain otomatis tidak bisa bergabung bersama pemain Barito Putera yang mulai berlatih kembali di Lapangan Sepak Bola Rindam VI/Mulawarman Landasan Ulin Banjarbaru, pagi ini. “Aku mulai latihan di Solo, jadi enggak bisa lama-lama kumpul dengan keluarga,” sebutnya.

Pemain yang bertuliskan DAP di kostumnya itu menyebut pada sesi latihan perdana usai libur Lebaran tidaklah begitu berat. Melainkan fitness untuk mengembalikan kebugaran tubuh. Sedangkan untuk latihan berat baru akan dilakukan beberapa hari ke depan. “Sementara ini program latihan kami fitness dulu di hotel Paragon Solo. Tadi kami mulai latihan dari jam lima sore. Lumayan berkeringat juga, tapi tetap semangat,” kata pemain bernomor punggung 33 tersebut.

Ayah satu orang anak itu mengaku cukup sedih karena sudah harus berpisah dengan keluarga. Namun, sambungnya, hal tersebut tak mengurangi semangatnya untuk tampil terbaik. “Ya begitulah menjadi pesepak bola, tapi aku bersyukur punya anak dan isteri seperti sekarang ini. Mereka begitu mendukung aku, dan itu menjadi motivasi tersendiri untuk memberikan yang terbaik kepada mereka,” ujarnya.***

Sumber : Radar Banjarmasin

KAJADIAN ENGKEN

RABU, 14 AGUSTUS 2013


Takisah., ada saurang laki yg engken banar. Pada suatu hari, si laki ni menyuruh bininya maulah lempeng sagu. "Umanya...!, ulahakan lempeng sagu, lakasi nah unda lapar banar dah !" ujar nang laki ini. "Nangkaya apa handak nukar, galapung nya ja kadida" ujar nang bini. Lalu jar nang laki pulang "Nukar sana di pasar lama, nukar sedikit haja, maulahnya kena sabuting haja !, jangan bebarian lawan urang". "Inggih abahnya ae." "Anu.." ujar nang laki.. "Tulak bejalan ja, jangan minta antar unda, habis kena bensin unda !"

Singkat cerita...

+"Umanya... sudah jadikah lempengnya ?, sudah jadi kah !!!!???"
-"Hadangi ini nah handak meantar"

Pas handak memakan, datang tamu, supaya kada ketahuan tamu lekap'akan ke kepala..tukupi kupiah. Hayukam...lempeng sagu panas panas lekapakan ke kepala maka bakas begundul tadi pas haratan mehadangi lempeng (urang engken tu ketuju begundul supaya duit lambat kaluar), ada gunting tumpul tekena kepala, luka...hahaha...padih banar tu...maka rambut sisa tu berikitan kelempeng...
Bukai ai..

"Assalamu'alaikum" ujar tamu
"Wa'alaikumsalam" ujar nang laki tadi bapander sambil manahan padih
"Apa habar"
"Baeeeeek"

Nah gula nang di lempeng tadi tu belilihan..

"Kanapa kapala" ujar tamu
"Bisul pacah bungulai.." jar...

Haha...jaka kada usah disembunyikan tadi, jaka bebagi dua tadi, ada jua makan sebelah, ni kada sudah kada jadi makan, kapala padih.
Wkakakkaakk....
 
Sumber : lucut-tetawa.blogspot.com

PETANI HSS KE ISTANA

RABU, 14 AGUSTUS 2013




Satu orang penyuluh kehutanan swadaya masyarakat Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) atas nama Drs Edy Sunarko (52), warga Desa Gumbil Kecamatan Telaga Langsat RT 4 RW 2 dan satu rekannya, Kompol (Pur) Saberi (67) warga Desa Ambarai Karang Jawa Kecamatan Padang Batung   menjadi salah satu tamu  diundang Presiden Republik Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ke Jakarta.   
 
Undangan yang disampaikan presiden, sudah mereka terima. Rencananya, mereka berdua akan berangkat pada hari Kamis (15/8) sekira pukul 12.00 menuju Istana Negara.
Kedua orang tersebut akan mendapatkan penghargaan dari presiden. Tapi, sebelum menerima penghargaan, kedua orang tersebut terlebih dahulu mengikuti upacara 17 Agustus di Istana Merdeka. Dalam rangkaian kegiatan   tersebut, keduanya direncanakan akan menerima piagam dan penghargaan langsung dari Presiden.
Bambang Kukilo AMd, Kepala Bidang Penyelenggara Penyuluh, pada Badan Penyuluhan Kabupaten HSS yang mendampingi Edy dan Saberi mengatakan, prestasi yang diraih oleh Edy Sunarko dan Saberi pada bidang masing-masing, memang patut mendapatkan acungan jempol dan penghargaan dari pemerintah.
Sebab, pengabdian dan hasil kerja yang mereka lakukan saat ini, sangat terlihat dengan jelas dan sudah dirasakan oleh masyarakat luas. Tanpa kehadiran kedua orang tersebut pada bidangnya, kemungkinan besar tidak ada yang bisa melakukannya. Karena kedua orang tersebut, adalah innovator yang memiliki gaya dan cara yang berbeda dalam membangun kebersamaan di tengah-tengah  masyarakat.
Edy Sunarko yang menjadi penyuluh kehutanan swadaya di Desa Gumbil, membuktikan keberhasilan kinerjanya selama 13 tahun ini, kendati tidak mendapatkan honor.  Edy sudah berhasil menggalang masyarakat untuk memanfaatkan hutan belukar (ngangur) menjadi hutan produktif. Bahkan saat ini, sebanyak 110 hektare lahan ngangur dapat difungsikan dengan baik.
Seperti, penanaman kelapa sawit, karet, garu dan tanaman produktif lainnya yang menghasilkan. Sehingga, masyarakat desa selain bisa bercocok tanam. Saat ini, sudah memiliki usaha tersendiri dengan penghasilan dari kebun yang sudah mulai menghasilkan. Dalam perkembangannya saat ini, kehidupan dan roda perekonomian masyarakat desa sudah berjalan sangat baik.
Sedangkan kinerja Saberi dengan koperasinya juga sangat baik dan pantas mendapatan penghargaan. Karena Saberi, dapat menjaga stabilitas harga padi unggul pada masyarakat petani yang ada di Kabupaten HSS. Dalam penangkaran yang dilakukannya, padi-padi unggul yang ada di HSS, dibagikan kepada para kelompok tani. Selanjutnya, para kelompok tani melakukan penanaman hingga panen. Kemudian, hasil dari tanaman kelompok tani tersebut dibeli oleh koperasi yang ditangani oleh Saberi.  
Di tempat yang sama, Edy Sunarko yang diminta komentarnya mengatakan, penyuluhan swadaya yang dilakukannya hanyalah untuk membangkitkan semangat dan meningkatkan roda perekonomian masyarakat  yang ada di desanya.  
Saberi yang juga diminta komentarnya mengatakan, bahwa apa yang sudah dilakukannya saat ini, karena melihat mata pencarian warga yang ada di HSS adalah bercocok tanam. Sedangkan hasil yang ditanam banyak tidak sebanding dengan penghasilan. Agar para petani dapat tersenyum, maka dicarilah Ide, agar tanaman yang ditanam bisa menghasilkan tanaman yang menguntungkan.***

Sumber : Radar Banjarmasin

BATAMPUR MERIAM KARBIT DI BARABAI

RABU, 14 AGUSTUS 2013

Kebiasaan Batampur (Perang) Meriam Karbit di Barabai, tepatnya di Daerah Mahang – Palajau masih tidak memudar, setiap Hari Raya Idul Fitri, biasanya pada malam hari raya ke 2, perhelatan perang ini dilaksanakan.berbiaya puluhan juta ini murni hasil urunan dan swadaya masyarakat. Romantisme bunyi yang memekakkan telinga ini ternyata sudah lama ditunggu dan jadi pergunjingan hebat warga Barabai.

Tak salah kalau tradisi yang begitu menguras uang itu tetap digelar. Masyarakat takut kegiatan budaya mereka hilang terus usang dan dilupakan. Kendati persiapan tahun ini terkesan mendadak, dengan semangat yang sama, cita-cita meneruskan tradisi mendentumkan meriam yang bunyinya terdengar puluhan kilo itu harus meriah dan kampung yang sunyi mendadak hidup.

Puluhan batang meriam disipkan, sedikitnya 60 lebih batang meriam (2012) yang  berhadap-hadapan dan terdata di tengah kegelapan malam.

Meriam ini terbuat dari batang pohon aren ini. Hal ini dimulai dengan menebang batang aren dan membelah untuk dilubangi,  menyatukan batang aren, menambal dengan seng, menutupi dengan samawi (pengikat dari bambu) agar lingkarannya makin kuat. Sampai dengan menggulung rantai, memindahkan meriam ke lokasi dan mencobanya.

Photo-0168
Photo-0169Photo-0170
Untuk mencoba, tak perlu ragu, seluruh meriam yang sudah jadi harus dites untuk diuji kekuatan batangnya. Pengujian ini untuk mengukur kadar kebutuhan karbit, air, dan melihat ikatan samawi agar tidak bergerak saat dibunyikan. Selain itu, membunyikan lebih awal bermaksud untuk “memanas-manasi” lawan agar secepatnya menyelesaikan pembuatan meriam. Meriam ini biasanya sepanjang 10 meter, bahkan ada yang lebih.

Adat dan budaya batampur meriam ini jadi alat pemersatu warga Mahang dan Buluan. Silaturahmi tetap lancar kendati namanya perang meriam. Di balik semangat terbersit kesulitan pendanaan. Pasalnya, modal satu batang sekurangnya Rp1 juta, padahal yang bersanding totalnya lebih 60 batang. Dan, kebutuhan karbit sebanyak 1 ton, nilainya sekitar Rp 14 jutaan.

Kalau dilihat dari segi dana, maka hal ini tentunya sangat besar, apalagi kalau dana tersebut bisa digunakan untuk keperluan sosial yang lebih bermamfaat. Namun demi pelestarian tradisi, makwa warga tetap komitmen  utnuk terus swadaya melaksanakannya.***

Sumber : Muhammad Afif Bizri (avivsyuhada.wordpress.com)