Senin, 15 Februari 2010

FILE SASTRA

Jum'at, 22 Oktober 2010


Menulis Di Otak: Tulisan di Otak
oleh Ersis Warmansyah Abbas

Saya banyak ditanya tentang kiat menulis, banyak pula jawaban yang telah dituliskan. Tetapi ada rahasia dasar yang ingin disampaikan. Entah kenapa, sedari kecil sangat suka mendengar ceramah di surau, dongeng Nenek, cerita Bapak dan Ibu. Ketika kelas V SD membaca buku-buku Bapak sekelas Winnetou, Raja Minyak, Tariq bin Ziad. Ketika PGA (SMP-SMA) terasyik-asyik dengan Kho Phing Ho.

Lalu, perasaan terbuai dengan karya Hamka, Abdullah Harahap sampai Eny Arraw. Ketika kuliah, bacaan berkelana ke mana-mana. Pokoknya, hidup itu ya membaca. Nah, dalam pada itu, setiap membaca ada ‘sesuatu’ yang berproses di otak. Membaca tentang A, bagaimana kalau A itu B atau C. Kenapa D tidak F, kalau digabung N, kira-kira bagaimana.

Begitu belajar metode penelitian makin ramai. Kalau melihat sesuatu muncul formula-formula baru, baik tentang yang dilihat apalagi kalau diformulasikan dengan entry behaviour. Ramai di otak. Pikir-pikir, kenapa yang bergolak di otak itu tidak ditulis, tidak dituangkan dalam bentuk tulisan?


Awalnya ditulis di diari, dibaca e… ternyata bagus-bagus. Timbul kepercayaan diri, wah bagus ya tulisan Ersis? Lalu muncul ide, kenapa tulisan di otak itu tidak dialihkan ke kertas memakai jasa mesin tik. Muncul keberanian dan dikirim ke media cetak. Alaamak, setelah dimuat, dikirimi wesel. Menulis lagi, dikirimi lagi, dan … hasilnya menakjubkan. Sekedar bandingan, ketika menjadi guru honor di SMA Marsudi Luhur Jogjakarta (1978), satu jam pelajaran dihargai Rp.750. Satu tulisan dibayar Sinar Harapan Rp.40.000. Saya pernah mau pingsan menerima honor Kompas ketika menulis tentang seorang teman tunanetra yang S2.



ESSEI MENIKMATI PUISI KALIMANTAN SELATAN DI DUNIA MAYA Bagian 1
oleh Hamberan Syahbana pada 04 Desember 2010 jam 16:41

MENIKMATI PUISI PENYAIR KALIMANTAN SELATAN DI DUNIA MAYA

Bagian 1

Oleh Hamberan Syahbana

Kalimantan Selatan adalah salah satu provinsi yang subur bagi pertumbuhan dan perkembangan perpuisian. Sehubungan dengan hal tsb saya menganggap perlu berbagi pengalaman dalam menikmati puisi-puisi penyair tsb dalam essei Menikmati Puisi Penyair Kalimantan Selatan di Dunia Maya. Dalam essei bagian pertama ini kita akan menikmati 3 buah puisi dari 3 orang penyair Kalsel.

1. Puisi Kasidah Cinta karya Burhanuddin Soebely dari Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan
2. Puisi Mendulang Cahaya Bulan karya Arsyad Indradi si Pengair Gila dari Kota Banjarbaru
3. Puisi Suatu Ketika di Taman Cinta karya Jamal T. Suryanata dari Pleihari Kabupaten Tanah Laut



[1]

MENIKMATI PUISI BURHANUDDIN SOEBELY

Burhanuddin Soebely lahir 2 Januari 1957 di kota Kandangan Kalimantan Selatan. Penyair yang satu ini bukan hanya dikenal sebagai sastrawan tetapi juga dikenal sebagai seniman teater. Kesehariannya Burhanuddin Soebely selalu bergelut dengan dunia seni dan kesenimanannya. Hal ini sesuai tugas PNSnya di Kantor Departemen Penerangan HSS Kalimantan Selatan, yang mengayomi seniman tradisonal pertunjukan rakyat. Sekarang dia bertugas di Dinas Pariwisata dan Kebudayaan HSS Kalimantan Selatan.

Burhanuddin Soebely mulai menulis puisi, cerpen, essei, novel, naskah drama dan sinetron sejak tahun 1975. Tulisan-tulisannya dimuat di SKH Banjarmasin Post, SKH Media Masyarakat Banjarmasin, SKH Radar Banjarmasin, Tabloid Wanyi Banjarmasin, Tabloid Gerbang Kandangan, SKH Berita Nasional Yogyakarta, SKH Pelopor Yogyakarta, SKH Masa Kini Yogyakarta, SKH Kedaulatan Rakyat Yogyakarta, SKH Terbit Jakarta, SKH Pelita Jakarta, SKH Berita Buana Jakarta, Majalah Anita Jakarta, Majalah Femina Jakarta,

Puisinya yang telah dibukukan dalam Antologi adalah: Patilarahan (Kandangan, 1987), Ritus Puisi (Kandangan, 2007). Puisinya yang telah dibukuan dalam antologi bersama dalam: Dahaga B.Post 1981 (Banjarmasin, 1982), Palangsaran (Kandangan, 1982), Puisi Indonesia (DKJ TIM Jakarta, 1987), Festival Puisi XII (Surabaya, 1992), Perkawinan Batu (DKJ TIM Jakarta, 2005), Doa Pelangi Di Tahun Emas (Marabahan 2009).

Tahun 2010 ini Burhanuddin Soebely menerima gelar Anugerah Budaya dari Gubernur Kalimantan Selatan melalui Dinas Pemuda, Olahraga, Kebudayaan dan Pariwisata sebagai penghormatan sekaligus penghargaan atas komitmennya yang selalu mengangkat serta mengembangkan seni dan budaya khususnya kebudayaan Banjar.



KASIDAH CINTA

Puisi Burhanuddin Soebely



dalam doa malamku, aku mencoba menafsirimu

dan berguru pada tetes hujan yang bersunyi

di rumah tiram sebelum mnjelma mutiara



dalam doa subuhku, aku mencoba menafsirimu

dan berguru pada embun yang membisikkan

rahasianya di rajah daun



dalam doa siangku, aku mencoba menafsirimu

menangkapi isyarat-isyarat mercu

bahasa purbani kerdip matamu



sungguh, aku mencintaimu

itu sebabnya

aku tak pernah selesasi menafsirimu



Kandangan, 2 April 2010



Puisi KASIDAH CINTA karya Burhanudin Soebely ini tampil dengan tipografi 4 bait yang masing-masing terdiri atas 3 untaian larik. Semua untaian lariknya begitu indah menyentuh sekaligus memukau dengan pemilihan kata yang bernuansa religius.

Marilah kita cermati bait 1 dalam untaian berikut ini

larik 1 - dalam doa malamku, aku mencoba menafsirimu

larik 2 - dan berguru pada tetes hujan yang bersunyi

larik 3 - di rumah tiram sebelum menjelma mutiara

Bait 1 ini dibangun dengan diksi yang puitis, indah dan memukau Semuanya merupakan doa, tafakkur dan khusyu. Marilah kita resapi untaian larik-larik tsb.: dalam doa malamku, aku mencoba menafsirimu - dan berguru pada tetes hujan yang bersunyi - di rumah tiram sebelum menjelma mutiara

Bait 1 ini ada rima awal yang ditandai dengan pengulangan bunyi konsonan [d] pada klausa dalam doa malamku di awal larik 1 yang bersajak dengan kata dan berguru di awal larik 2 dan dengan klausa di rumah tiram dilarik 3. Persajakan tsb membentuk rima awal dengan pola persajakan a, a, a.

Di sini juga ada imaji visual sekaligus imaji auditif dan imaji taktil. Dalam imaji visual kita seakan benar-benar melihat seseorang yang tengah berdoa sehabis sholat malamnya. Kita juga turut membayangkan ada tetes hujan dan rumah tiram yang di dalamnya ada mutiara. Dalam imaji auditif kita juga seakan benar-benar mendengar rintihan doanya yang begitu dalam. Dengarlah betapa indah latunan doa: aku mencoba menafsirimu dan berguru pada tetes hujan yang bersunyi di rumah tiram sebelum menjelma mutiara. Berikutnya dalam imaji taktil kita seakan benar-benar merasakan hening dan sunyinya malam meski ada tetes hujan.

Bait 1 ini juga dibangun dan diperkuat dengan ritme atau irama yang memukau. Hal ini ditandai dengannya pengulangan-penguangan bunyi di sepanjang larik-lariknya. Di sini ada irama yang ditimbulkan oleh pengulangan bunyi vokal [u] pada kata: malamku, aku menafsirimu, berguru, hujan, bersunyi, rumah, sebelum, dan mutiara. Di sini juga ada pengulangan bunyi sengau [m] pada: dalam, malamku, mencoba menafsirimu, rumah tiram, sebelum menjelma mutiara.

Berikutnya marilah kita cermati bait 2 dalam untaian larik berikut ini.

larik 4 - dalam doa subuhku, aku mencoba menafsirimu

larik 5 - dan berguru pada embun yang membisikkan

larik 6 - rahasianya di rajah daun

Bait 2 ini juga dibangun dengan diksi yang puitis indah mempesona dan memukau dalam kekhusyuan tafakkur. Marilah kita resapi keindahan untaian latik-larik tsb.: dalam doa subuhku, aku mencoba menafsirimu - dan berguru pada embun yang membisikkan - rahasianya di rajah daun.

Bait 2 ini juga dibangun dengan rima awal dan rima akhir Hal ini ditandai dengan adanya pengulangan bunyi konsonan [d] pada kata dalam di awal larik 4 yang bersajak dengan kata dan di larik 5. Dan pengulangan bunyi sengau [n] pada kata membisikan di akhit larik 5 yang bersajak dengan kata daun Di akhit larik 6. Semua pengulangan tsb membentuk rima awal dengan pola persajakan a, a, b. dan membentuk rima akhir dengan pola persajakan a ,b, b.

Bait 2 ini juga dibangun dengan imaji visual, imaji audtif dan imaji taktil. Di sini ada imaji visual sekaligus imaji auditif. Kita seakan benar-benar melihat seseorang sekaligus mendengar dia sedang berdoa. Di sini juga ada imaji taktil, di mana kita seakan turut merasakan dinginnya angin subuh, ada juga dinginnya embun yang membasahi daun.

Di sini juga ritme atau irama yang dibentuk dengan pengulangan bunyi vokal [u] pada: subuhku, aku, menafsirimu. berguru, embun dan daun.

Selanjutnya kita cermati pula bait 3 dalam untaian berikut ini.

larik 7 - dalam doa siangku, aku mencoba menafsirimu

larik 8 - menangkapi isyarat-isyarat mercu

larik 9 - bahasa purbani kerdip matam

Bait 3 ini juga dibangun dengan diksi yang indah, khusyu dalam tafakkur. Marilah kita resapi keindahan uantaian dalam bait 3 berikut ini: dalam doa siangku, aku mencoba menafsirimu - menangkapi isyarat-isyarat mercu - bahasa purbani kerdip matamu.

Bait 3 ini juga dibangun dengan rima akhir. Hal ini ditandai dengan adanya pengulangan bunyi vokal [u] pada kata menafsirimu di larik 7 yang bersajak dengan mercu di larik 8 dan kata matamu di larik 9. Pengulangan bunyi tsb membentuk rima akhir dengan pola persajakan a, a, a.

Bait 3 ini juga dibangun dan diperkuat dengan imaji audtitif sekaligus juga imaji visual. Di sini kita seakan benar-benar mendengar dan sekaligus melihat seseorang yang begitu khusyuknya berdoa bermunajat di siang hari.

Di sini juga ada ritme yang terbentuk dengan adanya pengulangan bunyi vokal [u] dalam kata siangku, aku, menafsirimu, mercu, purbani dan kata matamu. Berikutnya juga ada irama yang terbetuk oleh pengulangan bunyi sengau [m] dalam kata dalam, mencoba, menafsirimu, menangkapi, mercu dan kata matamu. Ternyata masih ada pengulanga bunyi konsonan [r] dalam kata menafsirimu, isyarat-isyarat, mercu, perbani dan dalam kata kerdip.

Secara khusus di sini ada diksi isyarat-isyarat mercu. Kata mercu mengingatkan kita pada mercu suar. Dalam sebuah pelayaran mercu suar adalah penanda yang sangat diperlukan di laut pada malam hari. Berarti puisi ini mengungkapkan adanya isyarat dalam bahasa purba berupa kerdip kelap kelip di malam hari. Padahal ini diucapkan dalam doa siangnya. Dalam hal ini Burhanuddin Soebely ingin menyampaikan pesan moralnya bahwa kita harus menafsiri dan menangkap isyarat itu. Dalam konteks situasi dan kondisi saat ini, kita bagaikan berada dalam sebuah pelayaran di kegelapan malam. Dan kita harus menafsiri isyarat itu. Isyarat itu telah nampak berupa bencana yang menimpa akhir-akhir ini. Dalam istilah penyair Burhanuddin Soebely itu adalah isyarat bahasa purbani. Bagi Yang Maha Kuasa isyarat itu hanyalah bagaikan kerdipan mata. Untuk itu kita harus arif menafsirinya agar jangan berubah menjadi kemarahan.

Berikutnya marilah kita cermati bait 4 dalam untaian larik-larik berikut.

larik 10 - sungguh, aku mencintaimu

larik 11 - itu sebabnya

larik 12 - aku tak pernah selesasi menafsirimu

Bait ini adalah penegasan kembali dari bait 1, 2 dan bait 3 di atas. Meskipun isyarat demi isyarat terus bermunculan, sang penyair tak henti-hentinya menafsirinya sebagai tanda bahwa ia sesungguhnya selalu mencintaiNya.Marilah kita resapi keindahan dan kekhusyuan untaian larik-larik tsb.: sungguh, aku mencintaimu - itu sebabnya - aku tak pernah selesasi menafsirimu

Bait 4 ini juga dibangun dengan diksi yang memukau. Bait 4 ini juga dibangun dengan rima akhir yang ditandai dengan pengulangan bunyi vokal [u] dalam kata mencintaimu di larik 10 yang bersajak dengan kata menafsirimu di larik 12 yang membentuk pola persajakan a, b, a.

Di sini juga imaji auditif di mana kita seakan mendengar ucapan penyair yang begitu indah, hidmat dan khusyu mengucapkan sungguh, aku mencintaimu - itu sebabnya - aku tak pernah selesasi menafsirimu

Di sini juga ada irama yang terbentuk dari pengulangan bunyi vokal [u] dalam kata: sungguh, aku, mencintaimu, aku dan dalam kata menafsirimu. Juga ada irama yang terbentuk dari pengulangan bunyi vokal [e] dalam kata: mencintaimu, sebabnya, tak pernah, selesai dan dalam kata menafsirimu

Puisi Burhanuddin Soebely ini berjudul KASIDAH CINTA. Kata KASIDAH langsung mengingatkan kita akan lantunan lagu irama padang pasir yang bernuansa Islami. Dalam kasidah kita sering mendengar ya habibi ya habibi yang berarti hai kekasihku hai kekasihku. Yang dimaksud dengan kekasih di sini bukanlah kekasih dalam artian kekasih yang banyak ditayangkan adegan percintaan dalam sebuah film atau sinetron. Tetapi yang dimaksud kekasih dalam syair lagu disini adalah kekasih Tuhan yaitu Nabi Muhamad SAW. Kara kasidah ini sekarang lebih familiar dengan sebutan nasyid atau syair-syair yang bermuatan shalawat. Sedangkan yang dimaksud Burhanuddin Soebely dengan kata kekasih di sini adalah Allah SWT Sang Pencipta Alam Semesta.

Kata KASIDAH berasal dari bahasa Arab yaitu QASIDAH yang berarti lagu atau nyanyian yang berisi syair-syair dakwah. Qasidah tsb juga adalah puisi yang berbentuk syair yang terdiri dari lebih 14 bait. Sedangkan kata CINTA itu berasal dari bahasa Sansakerta dengan akar katanya CIN yang berarti ingat, kenang yang mendapat awan TA menjadi TACIN. Kata TACIN artinya teringat selalu, terbayang selalu, terkenang selalu. Dalam proses gejala bahasa berubah menjadi CINTA dengan makna yang sama. Gejala bahasa di sini sama halnya dengan gejala bahasa berubahnya kata sapu menjadi usap.

KASIDAH CINTA di sini adalah sebuah lantunan cinta Burhanuddin Soebely kepada Sang Pemberi isyarat-isyarat. Demi cintanya Burhanuddin Soebely selalu dan tak pernah selesai menafsiri isyarat-isyaratNya. Bacalah betapa indahnya ungkapan dalam larik-lariknya. Penulis puisi inipun tak segan berguru menafsiri isyarat-isyaratNya: dalam tetes hujan yang bersunyi di rumah tiram sebelum menjelma mutiaran. pada embun yang telah membisikkan rahasianya di rajah daun, dan pada mercu bahasa purbani kerdip matamu. Hikmah yang berharga dalam pesan moral puisi ini adalah hendaknya kita dapat menafsiri dengan arif isyaratNya yang banyak bertebaran pada tanda-tanda alam belakangan ini.



[2]

MENIKMATI PUISI PENYAIR GILA ARSYAD INDRADI

Arsyad Indradi lahir 31 Desember 1949 di kota Barabai Kalimantan Selatan. Sesuai dengan ijasahnya S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonseia ia juga adalah guru bahasa Indonesia yang kemudian menjadi Penilik Kebudayaan. Tahun 2009 yang baru lalu ia memasuki masa pensiun dari tugas-tugas resminya.

Kesehariannya dia tinggal kota Banjarbaru di Jalan Pramuka no. 16 RT 03 RW 06 Banjarbaru Utara, Kalimantan Selatan. Penyair yang satu ini termasuk penyair yang rajin menulis dan menerbitkan karya-karyanya, yang oleh para penyair di seluruh Nusantara lebih dikenal dengan sebutan si Penyair Gila

Karya-karyanya telah dibukukan dalam: Antologi Puisi Nusantara: 142 Penyair Menuju Bulan (Kelompok Studi Sastra Banjarbaru, 2007), Antalogi Puisi Narasi Musafir Cinta (Kelompok Studi sastra Banjarbaru, 2006), Antalogi Puisi Nyanyian Seribu Burung (Kelompok Studi sastra Banjarbaru, 2006), Antalogi Puisi Romansa Setangkai Bunga (Kelompok Studi sastra Banjarbaru, 2006), Antalogi Puisi Anggur Duka (Kelompok Studi sastra Banjarbaru, 2006), Antalogi Puisi Kalalatu: bahasa Banjar dengan terjemahan bahasa Indonesia (Kelompok Studi sastra Banjarbaru, 2006). Antalogi Puisi Burinik bahasa Banjar dengan terjemahan bahasa Indonesia, (Kelompok Studi sastra Banjarbaru, 2006)

Puisi-puisinya juga dimuat dalam antologi puisi bersama dalam: Jejak Berlari (Sanggar Budaya Kalsel, 1970), Panorama (Dewan Kesenian Kaliamantan Selatan, 1974), Jendela Yanah Air (1995), Rumah Hutan Pinus (Kilang Sastra Batu Karaha Banjarbaru, 1977), Gerbang Pemukiman (Kilang Sastra Batu Karaha Banjarbaru, 1977), Bentang Bianglala (Kilang Sastra Batu Karaha Banjarbaru, 1978), Cakrawala (Kilang Sastra Batu Karaha Banjarbaru, 2000), Bahana (Kilang Sastra Batu Karaha Banjarbaru, 2001), Tiga Kutub Senja (Kilang Sastra Batu Karaha Banjarbaru, 2001), Bumi Ditelan Kutu (Kilang Sastra Batu Karaha Banjarbaru, 2004), Baturai Sanja (Kilang Sastra Batu Karaha Banjarbaru, 2004),

Anak Zaman (Kelompok Studi Sastra Banjarbaru, 2004), Dimensi (Kelompok Studi Sastra Banjarbaru, 2004), Bumi Menggerutu (Kelompok Studi Sastra Banjarbaru, 2004), Seribu Sungai Paris Berantai (Kotabaru, 20060, Antologi Puisi Nusantara: 142 Pnyair Menuju Bulan (Kelompok Studi Sastra Banjarbaru, 2006), Pelangi Di Tahun Emas (Marabahan, 2009)

Pada tahun 2010 penyair ini telah mendapat Penghargaan Anugerah Seni dari Walikota Banjarbaru, dan pada tahun yang sama juga mendapat Penghargaan Hadiah Seni dari Gubernur Kalimantan Selatan.



Mendulang Cahaya Bulan

Puisi Arsyad Indradi



Dosadosa siapa yang menyembul dari tujuh patala bumi

menciarciar di atas kehidupan

Dosadosa siapa yang melaras dari tujuh patala langi

meraung raung di atas semesta

Malam memberi bulan sepenuhnya terang

Ya Rabbi dosadosa penyairkah yang mengotori asmamu

sampai arasymu bergoncang?

Duhai kami yang tunduk terpejam tafakur

tangantangan gemetar jarijari menisik batubatu tasbih

pecah berdarah

Kami datang ke altarmu ya Rabbi, menadah

Kami pendulang yang tadzallul sujud di kakimu

datang dari duniawi yang sesungguhnya kau palingkan muka

Malam ini lapangkan napas kami

yang mengalir ke tapaktanganmu mengalir ke Hu Allah

Batubatu tasbih adalah wirid fana kami

Batubatu tasbih adalah zikir rindu kami

Sajadah adalah dulang kami

Malam ini kami mendulang cahaya bulanmu Ya Rabbi

Kami lenggang dengan muraqabah iman kami

Kami basuh batubatu tasbih dengan tobat nasuha

Kami bilas dengan airmata lailahailallah

Dulang kami penuh batubatu tasbih O cahaya bulan

Galuh bulan galuh cahaya bulan galuhmu Hu Allah

Sebiji bulan seribu bulan lailahailallah

Selembar cahaya bulan seribu cahaya bulan lailahailallah

Duhai beri kami barang selembar cahaya

yang dapat menghapus segala dosadosa

Kami dulang cahaya kedamaian

Kami dulang cahaya ketentraman

Malam ini kami dambakan cahaya cintakasih

Karena kaulah yang mampu menyucikan hati kami

yang bergelumang

Karena kaulah yang mampu mencabut tamak kami

Ya Rabbi hidupkan jiwa kami yang tak beruh

Malam ini dulang kami lenggang dalam mardatillah firmanmu

Banjarbaru, 2005

Melihat tahun pembuatannya, puisi ini diciptakan Arsyad Indradi tahun 2005 tapi masuk ke jejaring sosial facebook pada tgl 28 Agustus 2010 bertepatan dengan Nuzulul Quran. Puisi Mendulang Cahaya Bulan karya Arsyad Indradi kali ini sedikit berbeda dengan puisinya yang lain. Puisi-puisinya yang lain tetap tampil dengan bait-bait yang tertata rapi. Tetapi puisi Mendulang Cahaya Bulan ini tampil dengan tipografi tanpa bait. Seluruh untaian lariknya mulai dari larik 1 hingga ke larik 36 mengumpul jadi satu bait saja. Melihat tata wajah puisi yang panjang tanpa bait ini, maka masalah yang berkenaan dengan rima dan berbagai pola persajakan lainnya menjadi tidak penting lagi.

Dalam hal ini nampaknya Arsyad Indradi fokus pada diksi atau pemilihan kata. Kali ini Arsyad Indradi tanpil dengan diksi yang puitis, indah, mempesona dan sekaligus memukau. Diksi dalam Mendulang Cahaya Bulan yang bertebaran di setiap untaian larik-lariknya, bukan hanya ungkapan-ungkapan puistis, tetapi juga penuh dengan ungkapan kekhusyuan tafakur penyadaran, pengakuan, pertaubatan, percakapan, dan juga permohonan pengampunan seorang sufi kepada Sang Khalik. Seluruh untaian lariknya penuh dengan pemilihan kata yang indah memukau dan merasuk jiwa pembacanya. Memang di sinilah kekutan puisi-puisi Arsyad Indradi.

Puisi ini diawali dengan majas erotesis yang ditandai dengan kalimat tanya: Dosadosa siapa yang menyembul dari tujuh patala bumi menciarciar di atas kehidupan. Dosadosa siapa yang melaras dari tujuh patala langit meraung raung di atas semesta. Di samping Erotesis juga selaligus majas hoperbola yang ditandai dengan begitu dahsyatnya dosa itu menyembul dari tujuh patala bumi dan melaras dari tujuh petala langit. Ungkapan-ungkapan ini tampil begitu mantap, dahsyat di sanubari nurani pembaca. Hal ini dapat dirasakan baik pada ungkapannya, lebih-lebih lagi makna dan roh yang ada pada kata-kata tsb.

Berikutnya kita tiba-tiba saja merasa bergetar seluruh tubuh, tak terasa hingga berkeringat dingin ketika membaca untaian di larik 6 dan 7: Ya Rabbi dosadosa penyairkah yang mengotori asmamu Sampai arasymu bergoncang? Inilah pengakuan yang paling dalam dari seorang penyair Arsyad Indradi yang sangat menyadari bahwa Allah SWT dan rasulNya Muhammad SAW sangat membenci para penyair. Hal ini jelas terbaca pada hadist dan Al Quran. Sampai-sampai Allah SWT perlu mewahyukan surah “Asysyu’ara” yang berarti penyair atau tukang buat syair. Tentu penyair yang dimaksud adalah penyair jahiliyah dan sebangsanya.

Para penyair yang dalam puisi-puisinya selalu melantunkan puisi-puisi yang indah, yang isinya sangat menghormati , memuja, memuji, mengagung-agungkan para jagoan-jagoan mereka. Dan sebaliknya menghina, mencela, menghujat, sumpah serapah dan sejenisnya pada kalangan musuh mereka. Berikutnya mereka juga memuji keindahan tubuh wanita, kecantikan wajahnya, dan seluruh lekuk-lekuk tubuhnya yang menggiurkan dengan kata-kata yang menimbulkan gairah birahi pembaca dan pendengarnya. Dan puncaknya mereka juga mengatakan bahwa Nabi Muhammad itu adalah tukang sihir. Dan Al Quran itu adalah puisi.

Padahal kita tahu bahwa puisi adalah ungkapan pikiran dan perasaan seseorang terhadap sesuatu melalui bahasa yang indah tersusun dalam bait dan larik. Sedang Al Quran jelas bukan ungkapan pikiran dan perasaan seseorang. Tetapi Ia adalah wahyu sebagai acuan pedoman dan petunjuk dari Alah SWT yang diturunkan melalui malaikat Jibril AS kepada Nabi Muhammad SAW.

Membaca untaian puisi Mendulang Cahaya Bulan ini, tentulah Arsad Indradi bukan penyair yang dibenci tsb. Menyadari semua itu, Arsyad Indradi mengawali tafakurnya dengan: Duhai kami yang tunduk terpejam tafakur, tangantangan gemetar jarijari menisik batubatu tasbih [hingga] pecah berdarah. Kami datang ke altarmu ya Rabbi, menadah. Kami pendulang yang tadzallul sujud di kakimu datang dari duniawi yang sesungguhnya kau palingkan muka dalam larik 8 sampai dengan larik 13. Di dalam larik-larik 9 dan 10 juga ada majas hiperbola pada untaian: jarijari menisik batubatu tasbih pecah berdarah

Di dalam puisi ini kita merasakan ada maji yang lain. Pada imaji visual kita seakan benar-benar melihat segalanya yang diungkapkannya.hanya saja semua terlihat tidak secara realis tetapi lebih pada surealis. Bagaimana jelasnya kita melihat tangan yang pecah bedarah karena menisik batubatu tasbih. Pada larik yang lain kita seakan benar-benar melihat para penyair mendulang cahaya bulan. Mendulang cahaya bulan benar-benar ungkapan yang memukau. Tentu saja ini lebih pada sebuah ungkapan bathin yang dalam. Cahaya bulan dimaksud adalah sesuatu yang dapat menghapus segala dosadosa, yang mampu menyucikan hati yang bergelumang dosa, yang mampu mencabut rasa tamak dari jiwa yang tak bersih, yang mampu menghidupkan jiwa yang tak beruh. Cahaya bulan adalah rasa keberimanan yang berakar pada keikhlasan Tiada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah. Untuk itulah Arsyad Indradi mendulang cahaya bulan pada malam yang khairun min alfi syahr. Malam yang lebih baik dari seribu bulan. Lihatlah betapa daahsyatnya ungkaan ini: Malam ini dulang kami lenggang dalam mardatillah firmanmu/ Kami lenggang dengan muraqabah iman kami/ Kami basuh batubatu tasbih dengan tobat nasuha/ Kami bilas dengan airmata lailahailallah/ Dulang kami penuh batubatu tasbih O cahaya bulan/Galuh bulan galuh cahaya bulan galuhmu Hu Allah

Sebiji bulan seribu bulan lailahailallah/ Selembar cahaya bulan seribu cahaya bulan lailahailallah/ Duhai beri kami barang selembar cahaya/ yang dapat menghapus segala dosadosa/ Kami dulang cahaya kedamaian/ Kami dulang cahaya ketentraman/ Malam ini kami dambakan cahaya cintakasih.

Selain dari imaji, kita juga dapat merasakan irama dalam puisi ini. Irama itu terasa dengan sendirinya mengalun syahdu sekaligus khusyu karena adanya pengulangan bunyi. Baik pengulangan bunyi berupa kata, frase, klausa, atau pun pengulagan kalimat yang tidak utuh. Pelajaran berharga yang dapat kita petik dalam pesan moral yang terkandng dio dalamnya adalah: Hendaknya kita selalu ingat kepadaNya. Betapa banyak dosa-dosa yang telah kita lakukan. Segeralah bertafakkur, bertaubat memohon ampunanNya. Selagi masih bisa bermunajat padaNya. Dia Yang Maha Pengampun dan Dia yang juga Maha Penerima taubat.



[3]

MENIKMATI PUISI JAMAL T. SURYANATA

Jamal T. Suryanata yang nama aslinya Jamaluddin, dilahirkan pada 1 September 1966 di Kandangan Hulu Sungai Selatan. Penyair ini juga adalah sarjana S1 alumnus STKIP PGRI Banjarmasin, dan S2nya alumnus Program Pascasarjana di FKIP Unlam Banjarmasin.

Penyair yang satu ini juga dikenal sebagai sastrawan dan penulis buku. Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, kritik dan esai sastra-budaya, serta artikel umum dimuat di Banjarmasin Post, Media Masyarakat, Radar Banjarmasin, Bali Post, Koran Tempo, Kompas, Swadesi, Wanyi, Suara Guru, Ceria Remaja, Al-Zaytun, Matabaca, On-Pff, Gong, Matra, Basis, Horison, Jurnal Cerpen Indonesia, Jurnal Kebuadayaan Kandil, dan Dewan Sastera (Kuala Lumpur, Malaysia).

Prestasi yang pernah diraihnya dalam bidang kepengarangan di antaranya sebagai Juara II Sayembara Cerpen Indonesia DKD Kalsel (1992), Juara III Sayembara Cerpen Indonesia DKD Kalsel (1994), Juara II Lomba Cipta Puisi Batu Beramal 2 se-Indonesia versi Studio Seni Sastra Kota Batu, Malang (1995), Juara I Sayembara Mengarang Esai tentang Pengajaran Sastra Tingkat Nasional (1998), Juara I Lomba Menulis Cerpen dalam Bahasa Banjar Se-Kalsel (2007), Juara I Sayembara Penulisan Esai tentang Perkembangan Publikasi Sastra Kalimantan Selatan 2000—2008 Se-Kalsel (2008), dan beberapa kali menenangkan Sayembara Penulisan Naskah Buku Bacaan Anak Tingkat Nasional (1993, 1996, 1997, 1998, 2001).

Penyair yang satu ini juga pernah mengikuti Festival Puisi Kalimantan (Banjarmasin, 1992), Mimbar Penyair Abad 21 (Jakarta, 1996), Program Penulisan Majelis Sastra Asia Tenggara: Esai (Bogor, 1999), Dialog Borneo-Kalimantan VII (Banjarmasin, 2003), Ubud Writer’s and Reader’s Festival (Ubud-Bali, 2004), Cakrawala Sastra Indonesia (Jakarta, 2005), Kongres Cerpen Indonesia IV (Pekanbaru, 2005), Festival Kesenian Yogyakarta (Yogyakarta, 2007), dan Kongres Cerpen Indonesia V (Banjarmasin, 2007).

Sejumlah puisi, cerpen, dan esainya ikut disertakan dalam beberapa buku antologi bersama seperti Festival Puisi Kalimantan (1992), Tamu Malam (1992), Bosnia dan Flores (1993), Batu Beramal 2 (1995), Kebangkitan Nusantara II (1995), Antologi Puisi Serayu (1995), Jendela Tanah Air (1995), Mimbar Penyair Abad 21 (1996), Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia (2000), Wasi (2000), La Ventre de Kandangan (2004), Dian Sastro for President! (2005), Ragam Jejak Sunyi Tsunami (2005), Perkawinan Batu (2005), Jendela Terbuka: Antologi Esai Mastera (2005), Seribu Sungai Paris Barantai (2006), Sastra Banjar Kontekstual (2006), dan Tongue in Your Ear: Indonesian Poetry Festival (2007). Sajaknya ”Datanglah Sang Cahaya” telah diterjemahkan ke dalam bahasa Portugal dan dimuat dalam buku Antologia de Poeticas: Antologi Puisi Indonesia—Portugal—Malaysia (2008).

Selain menulis dalam bahasa Indonesia, ia juga menulis puisi dan cerpen dalam bahasa Banjar. Buku-bukunya yang sudah diterbitkan adalah Untuk Sebuah Pengabdian (Balai Pustaka, 1995), Mengenal Teknologi Penerbangan dan Antariksa (Adicita Karya Nusa, 1998), Di Bawah Matahari Terminal (Adicita Karya Nusa, 2001), Problematik Pembelajaran Bahasa dan Sastra (Adicita Karya Nusa, 2003), Galuh: Sakindit Kisdap Banjar (Radar Banjarmasin Press, 2005), Penyesalan Sang Pemburu (Pabelan Cerdas Nusantara, 2005), Bulan di Pucuk Cemara (Gama Media dan LPKPK, 2006), Debur Ombak Guruh Gelombang (Tahura Media, 2009), Bintang Kecil di Langit yang Kelam (Tahura Media, 2009), dan Guruku Tidak Kencing Berlari (Tahura Media, 2010).

Berkat prestasi dan dedikasinya dalam bidang penulisan sastra kreatif, pada tahun 2006 ia dinobatkan sebagai salah seorang seniman peraih Hadiah Seni dari Gubernur Kalsel (untuk bidang sastra) dan pada tahun 2007 terpilih sebagai penerima Penghargaan Sastra dari Kepala Balai Bahasa Banjarmasin (untuk bidang penulisan cerpen).

***



SUATU KETIKA DI TAMAN CINTA

Puisi Jamal T Suryanata



duh, serasa aku bagai terjaga

tidur panjang telah mendinding mata

dari senyummu yang sembunyi

di balik keindahan taman ini



betapa sederhananya aku, manusia

sang salik yang tengah suntuk mengitari

keluasan taman cintamu

yang tak pernah dapat kuurai

sebagaimana pintalan kata

dalam sajak-sajakku, sujud-sujudku



duh, serasa aku bagai terjaga

dari sebuah mimpi tentang cinta

yang tak pernah tertulis sempurna

dalam kitab-kitab penyucian jiwa


(Pelaihari, 31 Juli 2010)



Puisi SUATU KETIKA DI TAMAN CINTA karya Jamal T Suryanata ini tampil dengan tipografi yang terdiri dari 3 bait. Bait 1 terdiri dari 4 larik. Bait 2 terdiri dari 5 larik. Dan bait 3 terdiri dari 4 larik. Semua lariknya berjumlah 13 larik.

Membaca judulnya sepintas lalu ini puisi ini adalah puisi cinta yang biasa ditulis anak ABG yang tengah dilanda cinta. Setelah memasuki larik-lariknya ternyata sedikitpun tak ada nuansa cinta anak ABG di sini. Tetapi puisi ini adalah puisi yang bernuansa Islami, secara khusus puisi ini adalah puisi yang bernuansa tasawuf.

Marilah kita cermati bait 1 dari puisi ini. Bait 1 ini dibangun dengan diksi yang biasa digunakan sehari-hari tetapi di tangan Jamal T Suryanata ternyata kata-kata biasa ini menjelma menjadi untaian larik yang begitu mempesona. Marilah kita resapi untaian larik-larik tsb.: duh, serasa aku bagai terjaga – tidur panjang telah mendiding mata –dari senyummu yang sembunyi – di balik keindahan taman ini.

Ada beberapa kata yang harus dimaknai secara khusus. Di larik 2 ada frase tidur panjang. Secara umum makna tidur panjang di sini maknanya memang benar-benar tidur yang lama. Tetapi secara konotatif tidur panjang bisa bermakna mati suri dalam hal suatu aktivitas. Atau dengan kata lain maknanya adalah lama tidak melakukan aktivitas tertentu. Sedangkan dalam puisi yang bernuansa tasawuf ini maka tidur panjang maknanya adalah terlalu lama terlena dengan keindahan dan kenikmatan duniawi. Sebelumnya di larik 1 ada kata terjaga. Kata terjaga ini maknanya adalah baru sadar. Jika dikaitkan dengan judul dan untaian di larik 2, 3 dan 4, maka kata terjaga di sini maknanya adalah baru menyadari bahwa tidur yang panjang itu telah mendiding matanya dari senyuman yang indah yang tersembunyi di balik keindahan taman cinta. Taman Cinta di sini adalah sebuah ungkapan rasa cinta yang begitu mendalam antara seorang sufi dengan Tuhannya. Tak ada taman yang lebih indah bagi seorang sufi selain dari indahnya taman cinta milik Tuhannya ini. Tak ada cinta yang lebih mesra selain dari cintanya seorang sufi dengan Tuhannya. Tak ada senyum yang lebih indah bagi seorang sufi selain senyuman Ilahi yang menyejukkan hatinya.

Bait 1 ini juga dibangun dengan rima yang tertata rapi. Lihatlah di ujung larik 1 ada kata terjaga yang bersajak dengan kata mata di larik 2. Yang ditandai dengan adanya pengulangan bunyi vocal [a]. Berikutnya di larik 3 ada kata sembunyi yang bersajak dengan kata ini di larik 4. Yang ditandai dengan adanya pengulangan bunyi vokal [i].

Bait ini juga dibangun dengan imaji visual. Kita seakan benar-benar melihat orang yang terjaga dari tidurnya, lalu kita pun turut terperanjat. Karena dalam sekejap bagaikan sebuah keajaiban, kita seakan benar-benar melihat ada senyuman di balik keindahan taman. Di sini kita seakan-akan benar-benar melihat ada taman yang begitu indah. Sebuah taman yang barangkali belum pernah terbayangkan. Inikah replika dalam alam surealis taman firdaus yang penuh dengan keindahan itu? Atau inikah taman Jamiatul Ma’wa yang penuh kenikmatan itu? Semuanya nampak bagi penyair dalam keadaan antara tidur dan bangunnya. Atau ini adalah ungkapan apresiasi rekaan sang penyair terhadap suatu alam di alam yang lain. Hal ini ditandai dengan: tidur panjang telah mendinding mata dari senyummu yang sembunyi .

Di larik 1 ada majas ekskalamasio pengungkapan dengan menggunakan kata seru dalam untaian duh, serasa aku bagai terjaga. Yang ditandai dengan kata duh. Di larik 1 ni juga sekaligus adalah majas simile yang ditandai dengan kata bagai. Di larik 2 dan 3 ada majas personifikasi dalam untaian larik tidur panjang telah mendiding mata dan dalam untaian dari senyummu yang sembunyi. Yang ditandai dengan untaian tidur telah mendinding mata dan senyum yang sembunyi.

Bait ini juga dibangun dengan ritme atau irama yang terbentuk dari keindahan jalinan kata di dalam larik-lariknya. Selain itu ada juga irama yang terbentuk dari pengulangan bunyi vokal [u] pada kata: duh, aku, tidur, senyummu dan dalam kata sembunyi. Berikutnya di sini juga ada pengulangan bunyi vokal [i] di dalam kata: tidur, mendinding, dari, sembunyi, di balik keindahan taman ini. Di sini juga ada pengulangan bunyi vokal [e] pada kata: serasa, terjaga, telah mendiding, senyummu, sembunyi dan dalam kata keindahan. Di sini juga ada pengulangan bunyi konsonan [t] pada kata: terjaga, tidur, telah, mata dan dalam kata taman. Semua pengulangan ini membentuk irama yang turuyt mempeindah dan memperkuat bait ini.

Marilah kita cermati bait 2 puisi ini. Bait 2 ini juga sama seperti halnya biat 1 di atas. Bait 2 ini juga dibangun dengan diksi pemilihan kata yang bernuansa tasawuf. Hal ini secara khusus ditandai dengan kata sang salik di larik 6 dan kata sujud-sujudku di larik 9. Pada awalnya kita pasti menduga bahwa ini adalah salah ketik. Karena kita sudah familiar dengan kata Sang Khalik. Tetapi setelah dibaca ulang ini benar-benar Sang salik. Frase Sang salik ini adalah kata yang sangat asing bagi kebanyakan orang, karena kata ini hanya dikenal di dalam lingkungan para sufi. Kata Salik berasal dari bahasa Arab yaitu salaka yang artinya berjalan. Istilah kata salik sendiri sangat erat kaitannya dengan tasawuf, tariqat dan sufisme. Terutama kaitannya dengan kata suluk. Suluk adalah menempuh jalan kearah kesempurnaan. Sang salik di sini maksudya adalah sebutan bagi seseorang yang sedang mendalami dan menjalani maqam-maqam dalam tingkatan tasawuf sebelum ia mencapai tingkat kesempurnaan. Lihatlah betapa menyejukkannya untaian larik-larik di bait 2 ini: betapa sederhananya aku, manusia - sang salik yang tengah suntuk mengitari - keluasan taman cintamu yang tak pernah - dapat kuurai sebagaimana pintalan kata - dalam sajak-sajakku, sujud-sujudku

Di Bait 2 ini ada imaji auditif sekaligus juga imaji visual. Kita seolah-olah benar-benar mendengar ucapan sang salik dalam kerendahan dirinya mengaku suntuk mengitari taman cintaNya yang begitu luas, yang tak pernah dapat diurainya bagaikan pintalan kata dalam sajak-sajaknya, dalam sujud-sujudnya. Di sini juga kita seakan-akan benar-benar melihat betapa suntuknya sang salik yang tengah mengitari taman cintaNya. Terbayang juga dalam bernak kita sebuah taman yang begitu luas.

Bait 2 ini juga dibangun dengan majas metapora dan majas simile. Di larik 5, 6 dan 7 ada majas metafora dalam untaian larik: aku, manusia sang salik yang tengah suntuk mengitari keluasan taman cintamu. Berikutnya di larik 7, 8 dan 9 ada majas simile dalam untaian larik: keluasan taman cintamu yang tak pernah dapat kuurai sebagaimana pintalan kata dalam sajak-sajakku, sujud-sujudku Hal ini ditandai dengan kata sebagaimana yang setara dengan kata bagaikan.

Bait 2 ini juga dibangun dengan irama yang terbentuk dari pengulangan bunyi vokal dan konsonan. Di sini ada pengulangan bunyi vokal [e] pada kata betapa sederhananya, tengah, mengitari, keluasan, tak pernah, dan dalam kata sebagaimana. Di sini juga ada pengulangan bunyi vokal [u] dalam kata: aku, manusia, suntuk, keluasan, cintamu, sajak-sajakku dan dalam kata sujud-sujudku. Di sini juga ada pengulangan bunyi konsonan [s] dalam kata: sederhananya, manusia, sang salik, suntuk, keluasan, sebagaimana, sajak-sajakku dan dalam kata sujud-sujudku. Berikutnya di sini juga ada pengulangan bunyi konsonan [t] dalam kata: betapa, tengah suntuk mengitari, taman cintamu, tak, dapat dan dalam kata pintalan kata. Di sini juga ada pengulangan bunyi konsonan [k] dalam kata: aku, sang salik, suntuk, keluasan, tak, kuurai, kata, sajak-sajakku dan dalam kata sujud-sujudku.

Marilah pula kita cermati bait 3 puisi ini. Bait 3 ini adalah bait terakhir yang merupakan penutup dari puisi ini. Bait terakhir ini dibangun dengan diksi yang bernuansa sufisme. Marilah kita rasakan betapa dalamnya ungkapan dalam larik-lariknya. duh, serasa aku bagai terjaga - dari sebuah mimpi tentang cinta - yang tak pernah tertulis sempurna - dalam kitab-kitab penyucian jiwa. Di larik 11 ada kata cinta. Yang dimaksud dengan cinta di sini adalah perasaan kecintaan yang begitu dalam terhadap Tuhan.

Bait 3 ini dibangun dengan majas ekskalamasio gata bahasa dengan ungkapan yang menggunakan kata seru. Hal ini ditandai dengan kata duh di awal larik 10. Di larik 10 ini juga ada majas simile yang ditandai dengan kata bagai. Di sini juga ada rima yang tertata rapi. Di larik 10 ada kata terjaga yang bersajak dengan kata cinta, sempurna dan kata jiwa di akhir larik 11, 12 dan larik 13. Yang ditandai dengan pengulangan bunyi vokal [a]. Pengulangan bunyi vokal ini membentuk rima tak sempurna dengan pola persajakan a,a,a,a.

Bait 3 ini juga dibangun dengan ritme yang terbentuk dari pengulangan bunyi vokal [e] dalam kata: serasa, terjaga, sebuah, tentang, tak pernah tertulis sempurna, dan dalam kata penyucian. Di sini juga ada pengulangan bunyi vokal [i] dalam kata: dari, mimpi, cinta, tertulis, kitab-kitab penyucian dan dalam kata jiwa. Di sini juga ada pengulangan bunyi konsonan [t] dalam kata: terjaga, tentang cinta, tak pernah tertulis, dan dalam kata kitab-kitab. Puisi ini menjadi lebih hidup lagi karena adanya ritme yang terbentuk dari pengulangan kata, rase, dan untaian larik di sepanjang bait-baitnya.

Puisi ini berjudul SUATU KETIKA DI TAMAN CINTA yang mengungkapkan gejolak jiwa seorang sang salik dalam menempuh jalan Suluk dalam rangka mencapai kesempurnaan jiwa. Pesan moral yang sangat berharga dalam puisi ini adalah: Hendaknya kita jangan sampai terlena oleh keindahan dan kesenangan duniawi hingga kita lupa padaNya yang telah menghamparkan taman cinta.



Banjarmasin, 3 Desember 2010

SISA BANYU MATA BATAGAR ( Bagian 1 )

Oleh : Kayla Untara

Karirikan bunyi jangkrik tadangar mambalah malam kadap. Takananya tadangar jua bunyi hadupan hahalulung marista matan jauh. Malam ini ti, ari pinda dingin pada nang masi. Mandirap-dirap hampai ka tulang sulbi. Amun nang kada panahanan, mau mamburinjing bulu awak saikungan atawa mamilih balukup di kaguringan. Tagal, hidin masih haja tumatan hintadi bacungkung di muhara ambin sambil takakananya mambuang habu ruku nang dikapit jarigi tangan subalah kiwa.
Amun dilihat sapintas paharatan tahindau cahaya lampu samprung balatat nang kada tapi nyarak, kalihatan banar muha hidin pada tuha banar hudah. Kaning hidin nang hibak garis kariput mananda-akan hudah banyak tamakan masinnya uyah kahidupan. Calung mata wan rambut nang hibak huban, patanda pada hidin ni lawas malihat lawan marasai pahit manis jalan nang sudah hidin lingkangi. Antang sasala baju buruk nang sadikit batahi lalatan nang dipakai hidin, kalihatan awak hidin kurus babahu lumbah mantuk rahat dibawa ngangal bagawi barat. Tagal, samunyaan tu tatutupi wan cahaya sumangat tagas nang mamancar tumatan muha hidin. Ini jua jadi patanda pada hidin ni bahari lagi anum kada urang sambarangan. Pagalangan hidin nang ganal tapi kulitnya hudah kandur, balilit galang bahar, mananda-akan lagi anum hidin ni tamasuk urang nang agau.
Kukus ruku masih haja mampaul kada sing pajahan. Mata hidin nang masih mancirat landap nang kaya mata halang, mancarunung, cangang ampah ka batang paring nang ada di halaman pundukan. Angin takana daras malam ini ti. Batang paring baguyangan nang kaya baigal haja lagi karamian. Tadangar bunyi karisikan daunnya amun rahatan ditampur angin. Girip-giripan kunang-kunang tarabangan di tangah kadap nang tabarung cungul, timbul tinggalam. Ada jua bunyi burung buak manyindin lagu sunyi, maulah hidin makin hanyut wan pikiran saurang. Sambil bahahanu takurihing saurangan, tagal takananya ada titik banyu mata hidin. Rupanya ada nang jadi pikiran.
Hidin niti bagana saurangan di tangah hutanan jauh pada rumah urang kampung. Bapuluh tahun hudah hidin manyaurangan.
“Kada karasaan, sahapa tahunkah hudah diaku niti di sia bagana…?” Hidin batakun wan diri saurang. Diisap hidin pulang ruku sambil mata tatap manarawang ampah ka batang paring nang pinda makin baigal ditampur angin.
“Ada juakah nang pinandu wan ingat kanu diaku…”. Gagarunum pulang hidin.
Imbah gagarunum nang kaya itu, lanyap pulang pikiran hidin. Banyu batang nang kada jauh pada pahalatan balakang rumah babunyi gagalarak. Manambah asa karasaan banar pada nang sunyi malam ini ti. Rupanya hidin niti kaganangan wayah jaman revolusi. Lagi tangan hidin masih bacakutan dum-duman , rahatan balati masih batajak di pinggang di sasala basal nang balilit. Kaganangan wayah batis bacamuang licak wan tanah luluk pahumaan wayah mambaluk Walanda putih di tangah hujan labat.

***
Langit kadap banar, salain pada tarang bulan sapanggal jadi palita nang pinda supan batampai. Tumatan pukul sapuluh ti hudah buhannya bajalan matan markas X-18 nang andaknya di Padang Batung . Nang jadi kumandan wayah itu ditunjuk si Lukman . Di hadapan, kalihatan jambatan Luklua . Pindanya parak pukul sawalas malam labih hudah. Kada jauh wan buhannya manyalinap kalihatan Tangsi sardadu Walanda. Angin mayusup ka sasala baju. Dinginnya mancucuk-cucuk hampai ka tulang, tagal biar kaya itu tatap kada barasa marga sumangat nang panas mambara.
Imbah sampai di atas jambatan, kada lawas tadangar kalatui-an bunyi sanapang utumatis nang ditimbakakan ka atas. Bunyinya hangkui banar, kadangaran hampai ka Tangsi sardadu Walanda nang kada jauh pada jambatan. Singhaja, buhannya ma-arai-akan pada baisian jua sanapang utumatis kanu bubuhan sardadu Walanda.
Angin malam ini ti pinda daras pada nang masi, maulah hidin kaganangan paristiwa hidin bahari, dinginnya kurang labih sama, darasnya angin gin pinda mahirip. Tunggal butingan, kisah bahari ma-awang, tagambar di hadapan hidin. Kisah paharatan manggaratak, manakutani buhan Sardadu Walanda tuti nang ma-awang-awang pamulaan. Hidin masih ingat, wayah itu ti tahun ampat puluh dalapan, hari Arba. Kaganangan paristiwa bahari, lihum hidin. Padahal, wayah itu cakada napa-apa, wara manggaratak buhan sardadu Walanda banarai. Maka sakalinya manjing ha pulang.
Burung buak makin banyaring manyindin sunyi. Ari makin bakaraut ka tangah malam, hidin masih haja taungut di muka ambin. Kada lawas, malikit pulang ka ruku nang hanyar ha habis. Talu batang ada pang hudah maisap sambil dikawani banyu kupi nang tatinggal saparu di cangkir arma batangkai anggit hidin. Takananya ada nyamuk hinggap, pak! Badarahan babaya ditapak. Kaganangan curatan darah wayah paluru marabit daging kawan bahari.
Satutumat manarawang pulang pikiran hidin. Ma-awang-awang pulang kajadian bahari rahatan di Malutu .



SISA BANYU MATA BATAGAR ( Bagian 2)


WAYAH itu, takumpulan buhan hidin di Malutu. Nang dipandirakan dimapa ma-alih parhatian buhan pihak Walanda. Kaiya-annya, buhan hidin disuruhakan maharu buhan Walanda di Kandangan. Imbah Isya, tulakan hidin sapakawanan tumat Pagar Haur ampah ka Kandangan, mahantas jalan Jambu .
Sawat kukulilik satumat, imbahnya tadapat wadah basimpan nang dikira cantang andaknya, pintang Simpang Lima Kandangan . Hari mamukul sawalas hudah, pas nang kaya wayah hini, wayah hidin taungut di palatar malam ini ti. Karasaan girap angin manggaritiki awak kurus hidin, sama galianannya nang kaya bahari pas mahadang buhan patruli sardadu Walanda nang cagaran lalu.
Tabulik pulang paristiwa nang ma-awang di hadapan hidin. Wayah itu ti, pas banar buhan pasukan KNIL kaluaran pada Tangsi handak patruli. Imbah tadundum di Simpang Lima Kandangan, langsung pacah bunyi timbakan. Kalatui-an pulang bunyi paluru nang maluhak tumatan hujung pistul wan sanapang.
Limpua pada tangah malam hanyar minda ranai bunyi timbakan. Batinggal pancur darah nang mancurat tumatan awak kawan hidin, si Saberan , nang tambus kana paluru Walanda. Saikung dua ada jua nang luka, tagal masih kawa bauri, batahan pahinakan. Malihat buhan pasukan Walanda lain nang bamula kacangulan tumatan Tangsi, tapaksa-ai buhan hidin mundur. Nyata-ai kalah banyak wan kalah harat sanjata, mun dikarasi bahujung ma-atar nyawa banar haja ngarannya.
Awak kakawanan nang limbui bakuah darah dibawa bulik ka Pagar Haur. Si Saberan nang dadanya tambus paluru Walanda, dipatak di pakuburan Alamatan .
Imbah kaganangan kawan nang tadahulu mangkat, kilir-kiliran banyu mata hidin di sasala pipi. Asa rakai parasaan amun mangganang nang kakaya itu. Kada lawas ma-awang pulang kisah nang lain. Ada wayahnya hidin takurihing amun ma-awang kajadian nang suah talalui lawan kawan samuak saliur rahatan bajuang bahari. Tagal bahahanu ada jua wayahnya titikan pulang banyu mata hidin amun kisah tawa baganti padih luka, wayah malihat kakawanan nang bakuah darah awak manahani panas wan landapnya paluru timah tantara Walanda nang tambus ka daging. Nang kaya kajadian rahatan di Walangku.
Wayah itu rancana handak mambaluk buhan tantara Walanda nang datang tumat Pantai Hambawang . Marga tasalah anggap wan situasi, makanya buhan pasukan pajuang sadikit camuh. Banyak kakawanan hidin nang manating luka, badua nang syuhada ma-atar nyawa.
Owengun , pistul, dum-duman wan sanjata lainnya kalatui-an ka ampah tantara Walanda. Ada salah faham, maulah buhan kakawanan hidin nang lain maninggalakan pusisi nang sudah diatur, kaluar pada panyimpanan marga mandangar hibak bunyi sanjata malatui. Imbahnya makin camuh. Sawat talihat saikung kawan nang bangaran Samidrie abut bagumpal, bagudar, bakalahi badudua-an lawan tantara Walanda nang masih hidup. Kada lawas datangan bantuan buhan Walanda tumat Barabai mandua trak. Tadangar bunyi sanapang bren , kalatui-an ampah kanu pasukan hidin, mamaksa mundur.
Tapaksa pasukan hidin bukahan, malihat kalah banyak wan marasa sanjata nang ada kada mambada-i malawan buhan Walanda nang taharat baisi sanjata. Sambil bukahan mundur, Walanda tatap mairingi wan hujan paluru. Saikung kawan hidin nang bangaran Andi Tadjang kana timbak di batis. Mancurat darah, mahabang nyarak bacampur likat. Ada kawan nang lain mancuba manggindung Andi Tadjang nang kada kawa bukah lagi, tagal, nang ngaran Andi Tadjang niti awaknya ganal tinggi basar, balalu kada hingkat nang kawan manggindung. Malihat ada kawan nang luka, nang bangaran H. Hasbullah bausaha malindungiakan. Paharatan mandangani manulungi kawan tuti, timah panas ampun Walanda marabit dada hidin. Bungkas! Mamancur habang darah di baju nang hudah basah wan paluh. Sakalinya, paluru Walanda singgah jua di awak Andi Tadjang nang hudah luka hintadi. Tanah licak wan darah. Maka syuhada-lah kawan hidin nang badua tuti maninggal bakti.
Bayangan nang manggambarakan wayah jaman revolusi tuti, bagantian cungul di hadapan hidin. Imbah sabuting, kaina baubah pulang ka kisah nang lain. Masih haja pang tagalnya nang tabayang paristiwa-paristiwa rahatan batimbak atawa bajuang malawan Walanda. Asa kaganangan pulang wan kakawalan hidin nang syuhada badahulu mahadap Illahi.
Malam makin bakadap, makin ba-ambun. Titikan pulang banyu mata hidin nang makin karuh. Kaya karuhnya pangrasa nang ada di hati hidin.
***
Ditingau hidin jam dinding nang bakait di tawing rumbia pundukan. Kada karasa-an, pukul dua walas liwat hudah. Parak maniga jam hidin taduduk saurangan di watun ambin. Lima bilah labih hudah ruku habis diisap hidin. Putingnya bahamburan di tanah, habunya manyabak, nang kaya manyabaknya rasa sadih nang manyalimputi parasaan hidin. Rumput mulai batanai ambun nang bamula luruh bagimitan.
Kada ingat lagi hidin sahapa tahun hudah bagana manyaurangan di tangah hutanan niti. Tuhuk hudah hidin malinjang mambalah hutanan nang labat, hutanan nang masih bujang wan linjangan batis manusia, bagurila wan kakawalan bahari. Imbah hidin dianggap garumbulan ulih pamarintah bahari, balalu kada karuan tampuh basimpan di tangah hutanan. Napang haur disasahi tarus, dibaluk handak ditangkapi.
“Bangkui! Bungul banar!!!” Ujar hidin satangah bamamai, manyumpah sasaurangan di sasala bunyi burung buak nang kada sing ampihan manyindin sunyi tumatan hintadi. Garatakan gigi hidin manggarigit.
Kira-kira tahun lima puluhan saingat hidin, wayah itu, hidin wan kakawanan purakah lawan kasatuan, maka paharatan masih bacakutan sanjata di tangan. Awak gin kaciuman haja masih bau sandawa. Marganya, kada nangapa-apa. Marga pamarintah wayah itu jua nang maulah ungkara. Marga alasan rasionalisasi maulah buhan hidin wan kakawanan nang sahati lainnya asa tasanda harga diri. Sakit hati, asa kada dihargai titik paluh darah wayah bajuang gasan banua. Asa kada adil wan kaputusan buhan pamarintah nang ma-ada-akan rasionalisasi tantara. Mantang-mantang kada katuju lawan kaputusan pamarintah tuti, buhan hidin balalu dicap garumbulan. Dipadahakan pambaruntak! Itu nang hidin sapakawanan cakada rila hampai ka liang lahat!
Hudah awak bakuah wan paluh darah. Batinggal luka nang masih karasa-an padihnya hampai wahini. Babaya sadikit pinda mangulicar marga marasa kada adil, balaluan ha dianggap garumbulan pangacau. Dipadahakan macam-macam ha pulang! Han, kada bungul wan tambuk-tambuknya lah nang kaya nitu! Luka sayatan lading binit tantara Walanda masih kalah padihnya dibanding ucapan nang mambalati parasaan hidin sapakawanan, nang jua dipadahakan pamarintah garumbulan pangacau. Maka nang disuruh manangkapi buhan hidin niti, kada urang ha pulang. Bakas kumandan hidin saurang! Han, dimapa kada sakit hati. Miris banar! Amun nang dikaramputi pamarintah, kisah lakun diampuni wan dibari-i itu ini, janji-janji manis nang asa pahit ti hudahnya. Bilang kada kasandangan lagi. Bapadah handak barunding, babaya imbah kaluar pada hutanan, ditangkap! Muar tu hidin amun nang kaya itu bakalakuan!
Kakawanan hidin nang masih sahati, tapancaian ka situ ka mari. Cakada tahu ka mana bukahnya. Hudah matian-ah atawa ditangkap pamarintah, hidin kada tahu lagi jua wahini. Salawas buhan hidin basimpan ka hutan atawa ka gunung, buhan hidin niti padahal kada bakalakuan nang kaya dihabarakan pamarintah wayah itu kanu urang banyak. Paharatan jadi palarian tuti sawat haja hidin malajari kakanakan di gunung mambaca Qur’an. Ba-tabliq, mahutbah di Masigit, malajari masalah agama wan syari’at lawan urang kampung. Tagal ujar pamarintah, dipadahakan katuju marampuk wan jadi maling. Nang padih banar, buhan hidin dipadahakan suah mambunuhi buhan urang kampung jar. Amun wayah Walanda masih ada di banua, urang kampung am nang mambantu-i hidin, sabarataan basumpah, dalas mancurat darah saurang, asal kawa mancabut panyawaan buhan tantara Walanda. Apabila banua kami diundamana, kami riwas wan parang maya! Nangapa maka dipadahakan hakun mamakan daging dingsanak saurang nang satanah sabanua? Haram tahulah darah dingsanak saurang tu! Ibarat ada jua mamati-i buhan urang banua, marga inya jua nang jadi panghianat. Jadi anjing suruhan buhan Walanda. Nang katuju unggut-unggut kanu tantara KNIL kaya burung bilatuk manabuk sarang amun diparintah itu ini. Nang sudah sarbu jadi Walanda hirang. Makanya bahari tu sawat tadangar ada habar urang nang dimati-i hantu jar. Marga matinya kada bakatahuanan siapa nang mariwas atawa mangayau gulunya, timbul tang ada mayatnya ha tabantai di tangah kartak.
***
Malam sasain bakayukut ampah ka dini hari. Hidin masih haja taduduk di watun ambin. Mata hidin nang mancarunung mamancar, manyabak wan banyu mata. Ayuha, Haderi-ai...., ada haja nang ingat wan ikam… Tadangar suara mahalimun babisik mamacah sunyi malam nang makin dingin makin ba-ambun. Asa lacit hati hidin, mambari maras, manyisa-akan banyu mata nang sasain hari sasain batagar.[]

Antara rintik banyu, 180610

SIAPAKAH SASTRAWAN KALSEL ?

Catatan untuk Tajuddin Noor Ganie

Oleh Sainul Hermawan


Sebagai publik sastra di Kalimantan Selatan kita beruntung memiliki Maman S. Tawie dan Tajuddin Noor Ganie. Keduanya saya takzimi dengan panggilan Pak. Kedua aktor sastra ini memiliki keajegan yang tak tertandingi dalam mencurahkan perhatian secara sukarela untuk mendokumentasikan dan mencatat perkembangan sastra di Kalimantan Selatan, terutama karya yang dipublikasikan di media cetak di Kalsel atau dalam bentuk buku yang dipublikaksikan di institusi sastra di Kalsel.
Pada tanggal 26 September dan 03 Oktober 2010, Pak Tajuddin mempublikasikan catatannya, “Antologi Biografi 643 Sastrawan Kalsel” . Jumlah yang sangat fantastis. Tapi jumlah yang berbeda semacam meralat rilis yang pertama. Tulisan tersebut sangat penting bagi mereka yang berminat meneliti sejarah sastra yang ada di Kalimantan Selatan. Tetapi dalam proses pembacaan, saya seperti diseret paksa oleh beberapa pernyataan dan konsep yang perlu didiskusikan lebih jauh.
Tulisan tersebut seperti jalan pembuka untuk mendiskusikan kembali sejarah tradisi sastra di Kalimantan Selatan yang sejauh ini masih simpang siur. Perhitungan yang dilakukan penulis antologi perlu kita perhitungkan kembali karena hitungan yang tepat dapat menjadi acuan bagi kajian yang lebih serius. Jumlah itu secara korespondensial memang benar tetapi apakah juga benar secara paradigmatik dan koherensial?
Analogi yang bisa kita pakai untuk memahami jumlah sebanyak itu adalah dengan menanyakan apakah setiap orang yang pernah menulis sebuah karya sastra adalah sastrawan? Secara analogik kita bisa mengaitkan dengan logika pertanyaan yang sama, apakah setiap manusia pasti manusiawi, orang yang punya rohani adalah rohaniawan, orang yang belajar sejarah adalah sejarawan, pemimpin negara pasti negarawan, orang yang belajar ilmu agama pasti ulama?
Berdasarkan pengalaman manusia, sastrawan tentulah bukan setiap orang yang pernah menulis karya sastra. Karya sastra bisa ditulis oleh penulis dengan latar belakang apapun, tetapi sastrawan adalah kualitas tersendiri yang diberikan oleh masyarakat sastra suatu wilayah kepada penulis yang dipandang layak menyandangnya, misalnya melalui apresiasi pembaca yang luas, penghargaan komunitas, atau penghargaan pemerintah. Oleh karena itu, penjelasan tentang pengkategorian yang jelas sangat diperlukan.
Di samping persoalan itu, beberapa masalah ada dalam pernyataan tulisan itu. Pertama, perhatikan pernyataan baris pertama: Sastrawan Kalsel adalah sastrawan yang lahir di Kalsel atau pernah tinggal di Kalsel. Hanya itu, tidak ada kriteria lain yang bersifat eksklusif secara sosial politik. Apakah kriteria ini tidak bersifat eksklusif secara sosial politik? Pikirkan kembali, apakah kelahiran bukan kategori sosial? Mari lihat KTP kita, mengapa kita ditanya tempat dan tanggal lahir? Tidak adakah maksud politik identitas? Bukankah identitas adalah milik pribadi kita? Mengapa pemerintah atau negara ingin mengetahuinya? Tentu di balik semua ini ada misi politik yang berkaitan dengan konstruksi kebijakan. Tempat dan waktu ternyata juga kategori sosial dan politik yang penting untuk menetapkan kebijakan-kebijakan sosial politik yang bisa inklusif dan juga bisa eksklusif.
Kedua, pikirkan pula kategori ini: Sastrawan Kalsel adalah siapa saja yang ketika tinggal di Kalsel dikenal luas sebagai penulis karya sastra bergenre modern dalam bahasa Indonesia di berbagai koran/majalah dan buku-buku sastra. Kata kuncinya adalah penulis, sastra, modern, dikenal luas. Frase siapa saja sangat membingungkan karena pada rangkaian pengertian selanjutnya, pengertian ini dibatasi dengan frase dikenal luas, modern, dan bahasa. Pemahaman ini pun bisa berdampak pada munculnya makna baru bahwa karya sastra yang tidak modern, yang tidak berbahasa Indonesia, bukan karya sastra sastrawan Kalimantan Selatan. Kalau pengertian ini yang dipakai maka para pujangga penulis syair Banjar bukanlah sastrawan Kalsel meskipun mereka telah menulis dan mungkin pula dikenal luas dan mendapatkan penghargaan pada zamannya. Pun bisa juga karya mereka ‘modern’ pada zamannya. Bukankah makna “modern” sangat relatif?
Penyataan tersebut sangat berbeda dengan pengertian yang ditawarkan oleh Wikipedia. Ensiklopedia berbasis internet itu mendefiniskan sastrawan seperti ini: Sastrawan adalah istilah bagi orang-orang yang menghasilkan karya sastra seperti novel, puisi, sajak, naskah sandiwara dan lain-lain. Oleh karena itu, penyair, penulis, pujangga, serta profesi-profesi terkait lainnya bisa dikelompokkan sebagai sastrawan juga.1 Jika demikian, Gusti Ali Basyah Barabai penulis Syair Brahma Syahdan, Gusti Ali Basyah Barabai penulis Syair Madi Kencana, Anang Mayur Babirik penulis Syair Teja Dewa, Anang Mayur Babirik penulis Syair Nagawati, Anang Ismail Kandangan, penulis Syair Ranggandis, Anang Ismail Kandangan penulis Syair Siti Zubaidah, Kiai Mas Dipura Martapura penulis Syair Tajul Muluk, Gusti Zainal Marabahan penulis Syair Nur Muhammad, Mufti Haji Abdurrahman Siddik Al-Banjary penulis Syair Ibarat adalah para sastrawan Kalsel juga.2 Mereka dikenal luas. Apakah tak ada modernitas dalam karya mereka? Siapa yang telah meneliti kadar modernitasnya?
Selain itu, ada persoalan terminologis dalam konsep dikenal luas. Seberapa luas? Bagaimana memastikan bahwa sastra itu telah dikenal luas? Pernyataan ini sangat sulit diklarifikasi secara empiris. Apakah penulis puisi yang memanfaatkan internet sebagai media publikasi pasti dikenal luas? Apakah internet wilayah yang sepenuhnya bebas? Apakah penulis yang memublikasikan di koran lokal dan atau nasional pasti dikenal luas? Karena luas adalah kata sifat, kata itu tetap perlu diberi batas untuk memastikan apa yang dimaksud dengan luas itu dengan kajian perbandingan yang memadai.
Ketiga, konsep tentang sastra yang bergenre modern? Apakah modernitas sastra Kalsel yang dimaksud telah diteliti? Atau malah jangan-jangan muatan sastra Kalsel sebenarnya masih belum beranjak dari tradisionalitas, kalau hal itu bisa didualismekan. Apakah yang modern sebagaimana yang dimaksudnya memang tidak mengandung dualitas struktur? Bagi mereka yang ingin meneliti sastra, persoalan di atas adalah ranah penelitian yang belum tersentuh. Kajian sastra terlalu banyak yang masik berkutat pada persoalan intrinsik yang tak dapat diharapkan kontribusinya bagi penetapan estetika sastra di wilayah kita ini.
Keempat, pertanyaan-pertanyaan berseliweran setelah itu: Apakah pengertian karya sastra abad ke-17 masih sepenuhnya bisa dipakai saat ini? Memakainya tentu juga akan berimplikasi pada penentuan termasuk kategori sastra dalam ruang dan waktu Kalsel saat ini dan masa lalu. Bukankah teori berubah mengikuti perkembangan sejarah masyarakat dan masyarakat juga punya power untuk menganggap dan tidak menganggap seseorang sebagai sastrawan? Apakah Merayu Sukma yang telah menasional laik disebut sebagai sastrawan Kalimantan Selatan? Siapa yang menganggap? Anggapan sejarawan sastra, publik sastra, atau pemerintah? Jangan-jangan dia telah termasuk sastrawan nasional? Saya kira perlu penjelasan tentang hal ini. Konsep-konsep ini saya kira perlu diterangjelaskan terlebih dahulu.
Kelima, dinyatakan bahwa: Tidak ada pembatasan dalam hal kurun waktu kelahirannya, tempat kelahiran, latar belakang suku bangsa, agama, ras, golongan, asal daerah, dan tempat tinggalnya setelah dikenal luas sebagai sastrawan. Peryataan ini bernuasa dekonstruktif, dalam pengertian mengadakan sekaligus meniadakan sastrawan Kalsel. Apa yang disebut sastrawan Kalsel oleh antologi tersebut sebenarnya juga bukan sastrawan Kalsel, karena mereka bisa berada dalam kategori dari wilayah di luar Kalsel, misalnya Indonesia, dunia, atau daerah lain.
Inilah yang saya sebut bahwa catatan Pak Tajuddin adalah pintu pembuka untuk memasuki dunia kesastrawanan di Kalsel yang sangat kaya dan memiliki tradisi sastra sangat tua melampaui tahun yang disebutkan dalam tulisannya. Ini wilayah tambang kebudayaan yang sampai saat ini belum digali oleh para generasi pewarisnya. Penelitian sastra di dua perguruan tinggi masih berkutat pada persoalan sastra modern, sementara sastra klasik di Kalsel nyaris tak tersentuh. Kondisi ini tentu mengingatkan kita pada sajak WS Rendra yang terkenal, “Seonggok Jagung di Kamar”: ... Apakah gunanya pendidikan bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing di tengah kenyataan persoalannya? Tapi saya berharap tulisan ini juga salah dan saya terbuka untuk dicerahkan kapan saja.

Dosen FKIP Unlam
Mahasiswa Pascasarjana UI
Pondok Cina, Depok, 26.09.2010



Jum'at, 2 Juli 2010

ARUH SASTRA VII TAHUN 2010 DI TANJUNG

Aruh Sastra adalah sebuah event di Kalimantan Selatan di bidang kesusastraan yang dilaksanakan tiap tahun. Seperti waktu, maka tahun pun berganti. Aruh Sastra kini memasuki tahun yang ke – 7. Bagi para peminat sastra, banyak alasan kenapa menunggu-nunggu hadirnya event ini. Diantaranya, boleh jadi karena ingin jualan buku, silaturahmi, mengikuti seminar, atau ikut serta dalam lomba.
Khusus bidang lomba penulisan cerita pendek (cerpen) tampak adanya perubahan, biasanya lomba cerpen Aruh Sastra ditulis dalam bahasa Indonesia. Sekarang, bahasa Banjar hulu atau kuala.
Sastra Banjar, khusus yang ditulis dengan bahasa Banjar saat ini memang kurang dilirik oleh para penulis cerpen Kalsel. Saya tidak ingin mencari alasan, bagaimana pun itu sebuah pilihan masing-masing para sastrawannya.
Namun jika ingin dirayakan, “Merayakan Sastra Banjar”, momen Aruh Sastra kali ini menjadi event penting untuk menggali lagi potensi Kalsel melalui bidang kebahasaan, yakni bahasa Banjar. Sekadar motivasi, perubahan ini selaiknya dijadikan tantangan dan bukan menjadi rintangan dalam berkarya.
Tidak ada masalah menulis dalam bahasa apa pun, teknik menulis tetap sama, yang berbeda hanya medium bahasanya. Kali ini, mari kita ‘Rayakan Sastra Banjar’ dengan kesadaran sepenuhnya.
Berikut adalah detail pelaksanaan Aruh sastra:
Panitia Pelaksana Aruh Sastra kalimantan Selatan VII di Tanjung, kabupaten Tabalong, 26 sd 28 November 2010 mengadakan lomba Mengarang Cerpen Bahasa Banjar Kalimantan Selatan, dengan ketentuan sebagai berikut:
- Lomba terbuka untuk umum
- Lampirkan fotokopi kartu identitas diri yang sah dan masih berlaku
- Sertakan biodata dan nomor telepon/HP yang mudah dihubungi
- Peserta boleh mengirim labih dari satu judul cerpen
- Tiap satu judul cerpen dikirim tiga rangkap (1 naskah asli, 2 fotokopi)
- Tema bebas
- Masukkan dalam amplop tertutup, di sudut kiri atas tulis “Lomba Mengarang Cerpen Bahasa Banjar Aruh Sastra Kalimantan Selatan VII”
- Dikirim lewat pos atau diantar langsung (pada hari/jam kerja) ke sekretariat panitia pelaksana : d.a Tahura Advertising, Jalan Sultan Adam RT 16 Nomor 21 Banjarmasin
- Cerpen diketik 1,5 spasi di kertas HVS kuarto (A4), dengan huruf Times New Roman ukuran 12
- Panjang cerpen 3 – 8 halaman
- Menggunakan Bahasa Banjar Hulu maupun Kuala
- Merupakan karya asli, bukan saduran/jiplakan/terjemahan dan belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apapun di media manapun
- Lomba dimulai sejak diumumkan, ditutup 20 Agustus 2010 pukul 12.00 Wita
- Dewan juri akan menetapkan juara I, juara II, juara III, juara harapan I, juara harapan II, dan juara harapan III.
- Para juara akan mendapatkan hadiah uang tunai Rp 3.000.000,-, Rp 2.500.000,-, Rp 2.000.000,-, Rp 1.500.000,-, Rp 1.250.000,-, Rp 1.000.000,- serta piagam penghargaan
- Enam cerpen terbaik akan dibukukan bersama puisi juara dan nominasi Lomba Cipta Puisi Bahasa Banjar Aruh Sastra Kalimantan Selatan VII
- Enam pemenang utama akan diundang menerima hadiah dalam Aruh Sastra Kalimantan Selatan VII, akomodasi dan konsumsi selama acara di Tanjung Kabupaten Tabalong disediakan.
Hal-hal lain yang belum jelas dapat ditanyakan langsung di sekretariat panitia pelaksana, atau contact person 0852-4995-4849.

Sumber:
- Harie Insani Putera
- Zian
- koran Radar Banjarmasin edisi Minggu, 13 Juni 2010



Aruh Sastra Kalimantan Selatan (ASKS) VI di Marabahan, Barito Kuala
18-20 Desember 2009
Mengirim naskah puisi paling lambat tanggal, 27 November 2009


PUISI DARMANSYAH ZAUHIDIE :

KANDANGAN KOTAKU MANIS

Roma atau Paris
Indah Kandangan kotaku manis

Di Kandangan aku dilahirkan
Dibelai timang sang matahari
Dipeluk cium sang rembulan

Di Kandangan aku kenal diri dan cinta
Susah senang seluruh duka

Roma atau Paris
Indah Kandangan kotaku manis

(1960)

RAPAT MAMANDA

Aku mengikuti rapat di Dinas Pariwisata dan Budaya HSS Rabu (3/2/10). Hadir Kepala Dinas Bp. Suriani dan staf. Juga seniman/budayawan HSS. Yang dibicarakan rencana penampilan tim kesenian HSS pada dua even penting yakni Kongres Budaya Banjar bulan April 2010, Napak Tilas bulan Mei 2010. Dimana akan menampilkan kesenian Mamanda. Pencarian pemain sekitar 40 orang.


SUSUNAN PEMAIN DAN KRU
PAGELARAN SASTRA KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN
DALAM RANGKA
ARUH SASTRA KALIMANTAN SELATAN V
BALANGAN, 12-14 DESEMBER 2008

JUDUL : KUYANG
CERPEN KARYA : HARIE INSANI PUTERA

PEMAIN

Debby Meiriska sebagai Acil Midah
Fathul Jannah sebagai Masitah
Wisnu Wijaya sebagai Irham
Sri Maulida Oktavianti sebagai Tanti

NARATOR

Rahayu : Narator 1
Dewi Zatmika Sari : Narator 2
Rahmi Iryanti : Narator 3
Nida Herni : Narator 4
Rahman Rijani : Narator 4

KRU

Supervisor : Wildan Rizkan
Sutradara : Ahmad Riduan
Penata Pentas : Abdaludin
Penata Tari : M.Ilham
Penata Lampu : M. Faried
Penata Musik : Mahyidin, Fahru, Ikhwan

HSS BATAL IKUT DRAMATISASI PUISI

Kabupaten HSS batal mengikuti lomba Dramatisasi Puisi pada Aruh Sastra Kalsel VI di Marabahan, Batola, 25-27 Desember 2009.

Hal ini terlontar saat rapat di kediaman Burhanuddin Soebely Senin (14/12/2009) yang dihadiri sastrawan dan seniman Kandangan: Aliman Syahrani, Hairin Nazrin, M. Faried, Abdalludin, Atu Relez, Akhmad Husaini, Riduan, Muhammad Radi, A. Syarmidin, dan Burhanuddin Soebely sendiri. Dengan beragam alasan yang melatarinya. Seperti berbarengan dengan acara lomba Balanting Paring dan pagelaran Tari Pedalaman yang digelar Dinas kebudayaan dan Pariwisata HSS.

Tapi HSS tetap hadir pada Aruh Sastra sebagai peserta dialog sastra saja. Yang positif ikut adalah Akhmad Husaini, Aliman Syahrani, Rahman Rizani,dan Muhammad Radi.


AGENDA SASTRA

Tanggal 19-20 Desember 2009 bertempat di Gedung Balairung Sari/ Taman Budaya Kalsel di gelar Festival Sastra Kalimantan Selatan.

Hari Minggu (20/12/2009) pukul 13.30-15.30 Wita penyampaian visi, misi, dan komitmen terhadap seni(man) dan budaya(wan) oleh Calon Gubernur Kalsel 2010-2015: HM. Rosehan NB, Drs. Rudi Ariffin, Dr.H. Zairullah Azhar, H. Sjachrani Mataja.