Minggu, 19 Desember 2010

Wadai Banjar




HALTE BLOGGER :

redaksi@banjarmasinpost.co.id
royan.naimi@gmail.com


WADAI BANJAR

Oleh : Akhmad Husaini

Sejak SD saya menyukai bacaan yang berbau budaya Banjar. Bila pergi ke perpustakaan umum, bacaan budaya Banjarlah yang pertama kali saya cari. Juga bila membaca koran terbitan lokal, yang saya baca lebih dahulu hal-hal yang berbau budaya Banjar. Seperti kisah bahasa Banjar, kesenian Banjar, pariwisata Kalsel,dsb. Kini kliping koran tentang budaya Banjar bejibun di almari saya.

Dari sinilah saya kenal nama-nama penulis yang eksis menulis tentang budaya Banjar. Salah satunya adalah Syamsiar Seman.

Penulis buku ini sudah lama saya kenal lewat karya-karyanya. Namun baru kali ini bisa bertemu langsung sekaligus berjabat tangan dengannya. Yakni pada momen Aruh Sastra Kalimantan Selatan (ASKS) VII di Tanjung, Kabupaten Tabalong, belum lama tadi.

Beliau membuka stand penjualan buku karyanya di Taman Kota Tanjung, tempat kegiatan ASKS VII berlangsung. Puluhan judul buku dipajang. Setelah memilih lantas tiga buku saya beli. Kemudian saya minta tanda tangan beliau di halaman depan ketiga buku yang dibeli tersebut.

Dari ketiga buku itu ada satu buku yang paling menarik dan saya sukai. Buku itu berjudul Wadai banjar 41 Macam. Buku setebal 84 halaman itu merupakan cetakan ketiga. Diterbitkan oleh Lembaga Pendidikan Banua, Banjarmasin. Foto sampul depan adalah pasar wadai Amuntai, Kabupaten Hulu Sungai Utara.

" Untuk memperoleh bahan tentang wadai ini saya beberapa kali mengunjungi pasar wadai di Banjarmasin, Kertak Hanyar, Gambut, Martapura, Kandangan, Barabai, dan Amuntai," ungkap budayawan kelahiran Barabai, 1 April 1936 ini.

Di buku tersebut penulis dalam uraiannya menggunakan bahasa banjar. Alasannya adalah nara sumber umumnya adalah mereka yang berprofesi sebagai pembuat dan atau penjual wadai (kue) khas Banjar. Sesuai aslinya mereka menjelaskan dalam bahasa Banjar. Terdapat istilah-istilah yang tidak ada atau sukar diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Contohnya istilah kamir (adonan apam), lunyut kunyur-kunyur (bingka), sintal, bula-bula (santan), sagurakan (lama merebus), mamak (gumbili), dilayur (daun pisang), dsb.

" Selain itu juga sekaligus untuk melestarikan bahasa Banjar sebagai bagian dari budaya Banjar yang perlu dipelihara, dan dikembangkan agar eksistensinya sejajar dengan bahasa-bahasa daerah lain di Nusantara," kata penulis yang belum lama tadi mendapat anugerah gelar keagungan dari Raja Muda Kesultanan Banjar, Pangeran H Khairul Saleh, berupa gelar Datu Mangku Adat.

Yang cukup berkesan pada buku ini dicantumkannya kata sambutan Ketua TP PKK Kalsel, Hj Hayatun Fardah, yang antara lain menyebutkan bahwa kuliner (masakan dan kue) daerah telah dilirik oleh dunia pariwisata, karena nilai rasanya yang khusus.

" Apabila ada seorang ibu yang mencoba mengolah wadai Banjar ini satu macam saja setiap hari, maka ibu itu akan menghabiskan waktunya selama 72 hari. Bahkan mungkin sampai 3 bulan," ujar Syamsiar Seman.

Adapun 41 macam wadai Banjar yang terdapat dalam buku ini adalah : apam habang, apam putih, bubur habang, bubur putih, bubur baayak, babungku, babalungan hayam, bingka, cingkaruk habang, cingkaruk putih, cincin, cucur habang, cucur putih, cucur kuning, dodol habang, dodol putih, gagatas habang, gagatas putih, hintalu karuang, kakicak habang, kakicak putih, kakicak gumbili, kukulih habang, kukulih putih, kalalapun, lakatan putih bahinti, lakatan putih bahintalu, lamang, lupis, pupudak baras, pupudak sagu, papari, putu mayang, ruti baras habang, ruti baras putih, ruti sagu, surabi, tapai baras, tapai gumbili, ular-ular, dan wajik.

Sementara tambahan wadai lainnya adalah : apam Barabai, apam paranggi, amparan tatak pisang, bubur gunting, bubur kacang, bubur randang, buras, bingka Hamuntai, bingka barandam, bingka kantang, bingka tapai, cincin talipuk, dadar gulung, dodol Kandangan, guguduh pisang, guguduh gumbili, guguduh tiwadak, kalalapun Martapura, karupuk Marabahan, karupuk kulit sapi, patah, pundut nasi, rangai, ruti pisang, dan wadai duduitan.

Buku ini dilengkapi pula dengan foto-foto pasar wadai di beberapa kota di Kalimantan Selatan. Seperti pasar wadai di Martapura, Kandangan, dan Amuntai.

Penasaran dengan isi buku ini ? Silakan beli di toko buku. Atau tertarik ingin membuat dan mencicipi wadai Banjar ? Tetapi tidak memliki bukunya, saya siap meminjamkan buku milik saya. Tapi ada syaratnya ? Syaratnya adalah kalau sudah bisa membuat wadainya, bagi-bagi dong kepada saya. He...hee...heee...heeeeee

Selasa, 07 Desember 2010

GARUDA DIDADAKU







Rabu, 8 Desember 2010


INDONESIA TEKUK THAILAND 2-1


Timnas Indonesia mencatat sejarah baru, mengalahkan Thailand di even bergengsi tingkat Asia Tenggara. Lewat permainan keras di Gelora Bung Karno, tadi malam (7/12), Maman Abdurrahman dkk mampu menyingkirkan tim kuat Thailand dengan skor 2-1. Dengan hasil ini, tim besutan Bryan Robson itu dipastikan tersingkir dari ajang Piala FFA 2010.

Tim Garuda pada babak pertama hanya sempat mendominasi permainan hingga menit ke-12. Selebihnya, Maman dkk lebih banyak digempur serangan Thailand yang dimotori Suree Sukha. Markus Horizon dipaksa kerja keras untuk menjaga mistar gawangnya. Kelihaian Markus teruji pertama kali, saat mampu memeluk bola dari tendangan keras pemain Thailand sembari menjatuhkan diri pada menit ke-14.

Sementara, Timnas yang tampak tumpul di lini depan yang tanpa kehadiran Firman Utina, hanya sesekali saja melakukan serangan balik. Itu pun, tidak begitu menyengat. Mandulnya umpan-umpan dari lini tengah membuat Irfan Bachdim tidak begitu tampak kelincahannya dan akhirnya digantikan Bambang Pamungkas di menit ke-58.
Di menit ke 54, gawang Timnas Indonesia hampir saja kebobolan. Untungnya, bola keras hasil gerakan salto Kirait mampu ditepis dengan refleks tangan Markus. Sebelumnya, di menit ke-52, Cristian Gonzales mampu mendebarkan publik pencinta Tim Garuda. Hanya saja, bola bergulir ringan di sisi kiri gawang Thailand.

Skor berubah pada menit ke-67. Jala gawang yang dijaga Markus digetarkan tendangan pemain andalan Thailand, Suree Sukha. Beberapa kali, ujung tombak Thailand ini mampu membuat para penonton menarik nafas panjang. Hanya saja, Markus tadi malam masih mampu membuktikan sebagai kiper terbaik di tanah air.

Suree Sukha yang rajin menerima umpan matang, dan karena itu terkuras energinya, nafasnya terengah-engah. Di menit ke-75, dia digantikan pemain lainnya. Keluarnya Suree di kubu Thailand, dan masuknya Bambang Pamungkas di kubu Garuda, membuat ritme permainan di 20 menit pengujung berubah total. Maman dkk lebih mendominasi permainan dan beberapa kali bola hampir mampir ke jala gawang Thailand.

Cristian Gonzales mampu membuat pertahanan Thailand kalang-kabut. Di menit ke-80, Gonzales yang sedang mengolah bola dijatuhkan pemain Thailand di kotak pinalti. Hadiah pinalti disambut dengan Bambang Pamungkas yang bertindak selaku eksekutor. Meski arah bola mampu diantisipasi penjaga gawang Thailand, namun gerakannya kalah cepat dengan si kulit bundar. Skor berubah imbang, 1-1.

Permainan keras Thailand menjadi-jadi begitu skor imbang. Hanya selang tujuh menit kemudian, yakni menit ke-87, lagi-lagi Timnas Garuda mendapat hadiah pinalti. Ini gara-gara tendangan keras pemain tengah Timnas yang mengarah ke gawang Thailand, terhalang membentur tangan kanan pemain belakang Thailand, yang akhirnya dipaksa keluar lapangan dengan kartu merah.

Bambang Pemungkas, pemain senior di Timnas, lagi-lagi bertindak sebagai algojo. Kali ini, tendangannya lebih manis dari eksekusi pinalti yang pertama. Dari kaki BP, panggilan Bambang, bola bergerak ke arah kiri kiper Thailand yang memilih bergerak ke kanan. Skor berubah lagi menjadi 2-1 dan tetap segitu hingga peluit panjang dibunyikan. Dalam laga keras ini, empat pemain Thailand kena kartu kuning dan satu kartu merah.

Minggu, 05 Desember 2010

FOTOKITA




Semua Bicara Tentang Kehidupan



ASYIK


PULANG DAN BEBAN

MAHFUZAH MENCARI PEDOMAN PUTERI




Senin, 6 Desember 2010

Mahfuzah Hidayati 10 Desember jam 10:47 Laporkan
Nama: Mahfuzah Hidayati
TTL: Kandangan, 17 Juni 1989
Pendidikan Sekarang: Universitas Lambung Mangkurat/IPS/Pend.Sejarah
Alamat: Jl. Veteran Km. 5,5 Rt. 02 No. 31 Banjarmasin 70238
Nama Orang Tua: Akhmad Kusasi dan Siti Aminah
Hobi: membaca buku, mendengarkan musik dan jalan-jalan
prinsip hidup: lebih baik gagal dalam mencoba daripada tidak sama sekali di usahakan.
komentar:"historia magistra vitae/sejarah adalah guru kehidupan, dengan kata lain sejarah selalu dimulai dari diri sendiri baru bisa memberi contoh untuk orang lain, kalau menurut saya pribadi perhatian pemeritah tentang sejarah sendiri sudah cukup baik, terlihat dengan banyaknya buku-buku yang dihasilkan oleh tokoh-tokoh tertentu, walaupun untuk untuk aplikasinya cukup sulit.


MAHFUZAH HIDAYATI : siep,,2 lagi harapan.
Anak bu ruhayah(penulis pedoman putri),n pa syarifudin (ketua museum wasaka),.mungkin dlm wkt dkt ne dak k'rmh ank ibu ruhayah yg d-mtp..
No kontak u:085251291993





Mahfuzah Hidayati, seorang mahasiswi di Banjarmasin datang ke Perpustakaan Umum HSS. Ia mencari arsip koran lama Pedoman Puteri, untuk tugas kuliahnya. Namun ia kecewa karena yang ia cari tidak ada.

Dia mengaku sudah pula bergerilya mencari ke Museum Wasaka, Museum Lambung Mangkurat Banjarbaru. Juga ke sejarawan dan budayawan banua. Seperti ke Burhanuddin Soebely, Jaseri, Yusni Antemas, dsb. Namun hasilnya nihil. (akhmad husaini)

Tolong pang siapa nah nang bisa mambantu ?



SUSAHNYA MENCARI ARSIP LAMA

Ini semacam sebuah pelajaran bagi lembaga berkompeten di Hulu Sungai Selatan maupun Kalimantan Selatan. Seorang mahasiswa kesulitan mencari arsip lama untuk menyelesaikan tugas kuliahnya. Ia pontang-panting mencari kemana saja tapi tak ketemu juga.

Mahfuzah Hidayati, mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Banjarmasin mengalami hal ini. Untuk sebuah tugas kuliah ia mencari arsip lama untuk penunjang, yakni majalah Pedoman Putri terbitan Kandangan.

Perludiketahui majalah ini terbit tanggal 3 Februari 1947 dipimpin oleh Rohayah Batun, Maserah, Siti Rupsinah, dan Siti Maslara. Karena situasi Kandangan saat itu yang kian memanas membuat majalah stensilan ini tak bertahan lama, tahun 1949 berhenti terbit.

Mahfuzah tertarik dengan hal ini, karena sesuai dengan jurusan di tempat ia kuliah. Akan tetapi untuk mendapatkannya tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Berbagai upaya telah dilakukan. Dia datang ke Museum Waja Sampai Kaputing di Sungai Jingah, Banjarmasin. " Tapi, kata pengelolanya masih dicarikan," ujar Mahfuzah.

Lantas perburuannya berlanjut ke tempat lain yakni Museum Negeri Lambung Mangkurat, Banjarbaru. Juga tak membuahkan hasil.

Lantas ia ke Kandangan. Dia datangi budayawan yang pernah menulis tentang sejarah HSS. Tapi jawabannya sama, tidak ada lagi.

Berikutnya Mahfuzah mendatangi pelaku sejarah yang juga Ketua LVRI HSS, M.Jaseri. Juga ke tempat keluarga Rohayah Batun, pemimpin Pedoman Putri. Mereka mengaku tidak memiliki lagi koleksinya.

Harapan tertumpu kepada Kantor Perpustakaan, Dokumentasi, dan Arsip Daerah (KPDAD) HSS. Tapi sangat disayangkan respon mereka kurang bagus. " Kami tak memilkinya. Cari kelain saja," ujar Mahfuzah menirukan jawaban petugas KPDAD HSS.

Beginilah potret kearsipan d banua kita. Semoga ini menjadi pelajaran dan pengalaman berharga bagi kita semua.

" Sejarah itu perlu. Agar kita termotivasi menjalani kehidupan dan tahu perkembangan masa lalu. Semoga biidang kearsipan di banua kita dapat dibenahi dan mendapat perhatian instansi terkait," harap Mahfuzah.

Sabtu, 04 Desember 2010

LENSA HSS 2010








Pesta Rakyat Makan Ketupat Kandangan. Dalam rangka Hari Jadi HSS ke 60, Kamis, 2 Desember 2010, depan Pendopo HSS.

CERITA RAKYAT HSS





Sabtu, 4 Desember 2010


DATU PUTIH

(Asal Usul Kampung Banyu Barau)



Cerita tentang sikap perlawanan anak bangsa, putera Hulu Sungai Selatan yang ada di desa Parincahan (Banyu Barau sekarang) melawan penjajah Ulanda (Belanda) di masa itu.

Ketika itu pihak polisi Ulanda menerima laporan bahwa masyarakat desa Parincahan, tidak mentaati perintah dan tidak mau membayar pajak kepala. Perlawanan ini justru dipimpin oleh “pangerak” (jabatan setingkat Ketua LK sekarang) sendiri.

Atas laporan ini, komandan polisi Ulanda segera melaporkan ke Tuan Kantolor (asisten Kontroler), namun tuan Kantolor sedang berada di Banjarmasin. Sementara menunggu perintah dari tuan kantolor, komandan polisi melakukan konsolidasi dan koordinasi pasukan, guna menyusun siasat dan strategi penyerangan ke kampung Parincahan. Rencana penyerangan ini ternyata bocor dan diketahui oleh masyarakat setempat. Pangerak dan tetuha masyarakat Princahan segera mengadakan “pahadring” (rapat untuk membahas kesiapan menghadapi serangan ini.

Dalam rapat tersebut, disusun rencana yang cukup sederhana namun efektif. Di pinggiran desa arah ke jalan raya dibuat danau cukup luas, namun tidak terlalu dalam. Di sisinya dibuat jamban-jamban besar dari pohon kayu (batang) untuk keperluan MCK (mandi, cucui, kakus). Di tepi danau didirikan sebuah bangunan/balai yang sangat besar, dengan tiang-tiang tinggi terbuat dari pohon pinang. Di tengah bangunan tersebut digantung sebuah ayunan yang juga dalam ukuran besar. Beberapa buah drum minyak tanah tersedia berjejer di tepi danau. Kemudian masyarakat juga menumpuk paku besi dalam beberapa tumpukan di seberang danau laiknya tumpukan sayur.

Tertundanya waktu serangan, dikarenakan menunggu perintah tuan kantolor, memungkinkan masyarakat kampung untuk mengadakan persiapan tersebut.

Sementara itu polisi Ulanda mengumpulkan berbagai informasi tentang situasi desa dan masyarajatnya.

Waktu serangan pun tiba, polisi Ulanda di bawah pimpinan komandannya (satu-satunya Ulanda asli) tentara anggotanya kesemuanya “Ulanda hirang”), segera berangkat menuju desa Parincahan dengan bersenjatakan lengkap, yakni senapan “barujuk”, bayonet dan klewang.

Untuk menuju lokasi desa, pasukan polisi Ulanda dipandu oleh salah seorang warga, yang sebenarnya merupakan anggota kelompok masyarakat yang akan diserang.

Pasukan pun tiba di tepi danau buatan. Setibanya di sana mereka kaget dan tercengang menyaksikan pemandangan yang ada.

Di seberang danau, dibangunan besar, terlihat seorang anak bayi yang berwarna putih bertubuh sangat besar, sebesar orang dewasa, sedang “dipukung”/diayun. Mereka juga menyaksikan tumpukan paku di tepi danau, permukaan danan yang menyala dan jamban-jamban/batang dengan ukuran raksasa.

Dalam keadaan kaget dan ada rasa takut, segera menanyakan keanehan ini kepada penunjuk jalan.

Si penunjuk jalan menceritakan, bahwa:

1. Bayi yang sedang dipukung tersebut adalah anak pangerak.

2. Air danau yang menyala (banyu barau), memang merupakan kebutuhan air penduduk sehari-hari untuk minum, memasak dan mandi/cuci.

3. Jamban-jamban raksasa adalah tempat penduduk desa mandi, mencucui dan buang air.

4. Tumpukan paku merupakan bahan sayur-mayur untuk keperluan makan penduduk sehari-hari.

Mendengar penjelasan tersebut, komandan polisi Ualnda dan anggotanya merasa sangat takut. Rupanya penduduk desa Parincahan yang bakal mereka serang ini adalah para raksasa, dan bukan lawan mereka.

Komandan polisi Ulanda segera mengambil keputusan bahwa serangan dibatalkan, dan memerintahkan pasukan untuk kembali.

Desa tersebut akhirnya diberi nama desa Banyu Barau, dan sang bayi yang tidak lain adalah pangerak itu sendiri yang memamng berpostur tubuh besar, diberi gelar Datu Putih.

Ketika Datu Putih meninggal dunia, beliau dimakamkan di tempat beliau diayun dengan ukuran makam yang luas biasa besarnya, dan sampai sekarang tetap dibina oleh masyarakat setempat dan diberi cat warna putih. Makam ini dikenal dengan nama makam Datu Putih, dan sampai sekarang masih ada.***



SINDUPATI



Oleh: A. Syarmidin


BUHAN Bukit iya-am nang mandiami hunjuran Maratus kampung Loksado. Buhannya tuti sakalinya taumpat jua papacahan puak Dayak Ngaju. Bahari ti buhannya bagana di parak banyu, di pinggir laut lawan di hunjuran randah Kalimantan Selatan, makanya-am sampai jua bakulaan kabiasaan lawan urang Banjar Hulu lawan Banjar Kuala. Pungkala-pungkala susial, ikunumi wan kabiasaan hari-hari, manyabapakan buhannya baalih-alih, maulah wadah kaganaan saurang di hunjuran Pagunungan Maratus.

Buhannya bagana bagalumuk. Wadah kaganaan tuti dingarani buhannya balai, rumah tinggi nang saling ganalan, kawa diganai bapuluh-puluh kaluarga. Saikung kaluarga mangganai buncu nang disambat ujuk.

Matan kababanyakan balai tuti ada nang bangaran Balai Tanginau. Sabuting ujuknya diganai Pang Udar lawan Umang Lisam, laki-bini nang pahaharatannya inyuk. Pungkalanya, bapuluh-puluh tahun sudah hidup balaki-babini kada jua baisi anak. Jangan baisi anak, parigal Umang Lisam pacang batianan gin kada talihat. Padahal urang sabalaian nang sama kaya inya balaki-banini sudaham baanakan, ada nang sudah basisi dua-talu ikung, malahan ada nang sudah baisi cucu.

Parasaan inyuk tuti ka-iyaannya maulah rasa tapakalah kajadian dianggap tamanang. Marasa kada nyaman Umang Lisam lawan Pang Udar rancak bagana di huma haja, basintup di rampa halus sambil maharap lawan Ning Diwata supaya kaya urang jua dibari anak.

Pihan malam, pas bulan purnama, Umang Lisam mandapat bisikan gaib di talinga sidin. “Lisam, lamun ikam handak baisi anak, ikam harus batapa, lawasnya satu purnama. Kalakuan ikam batapa maniru katak, barandam hinggan dagu di batang Hamandit, mahadap ka hulu…”

Baisukan ari, imbah bapandir lawan Pang Udar, Umang Lisam mambulatakan hati handak manuruti bisikan gaib tuti. Basangu kayakinan wan kapasrahan sabagai saurang mahkluk anu Sang Pancipta, Umang Lisam mamulai tapanya.

Kada nyanyamanan tapa sidin tuti. Makan lamun ada jua-am daun nang larut matan hulu masuk ka muntung sidin. Nginum lamun ada jua daradai ambun nang gugur ka ilat. Balum lagi huhuas nang saitu-saini cungul kada sakira. Bahanu sidin marasa kaya dihumpatingakan banyu nang saling landasan, dirujuk batang kayu sing ganalan, dipuntal wan handak ditaguk ular ganal banar, dikacak wan handak dikarakah raksasa. Bahanu jua sidin marasa banyu di higa awak sidin manggurak saling panasan atawa barubah dingin kanyam mancucuk sampai tulang.

Hari balulun. Malan lawan siang basasahan. Minggu bapuntal. Purnama cungul pulang. Parak tangah malam, pina sadar lawan kada Umang Lisam malihat kapala naga bangsul di hadapan sidin.

“Lisam, kahandak ikam parak sudah dikabulakan Ning Diwata. Kaina kusamburakan sabuting daun ulin, ikam makan wan taguklah daun tuti,” ujar naga.

Kada sa-apa, naga banganga manyamburakan sabuting daun ulin ampah ka muntung Umang Lisam. Umang Lisam lakas mamamah balalu managuk daun ulin tuti.

“Ya damintu,” ujar naga. “Nang dudi bila ikam baranak, ngarani anak ikam Siandupati,” ujar naga pulang mamasani.

Kada sawat Umang Lisam manyahuti, naga sudaham sintup kada kalihatan lagi. Umang Lisam balalu maampihi tapa sidin, bakuciak mangiyau pang Udar. Tajujumpipir Pang Udar manyasah, balalu bacabur ka batang maingkuti bininya nang handak naik ka tabing. Sambil balingkang mamaraki rampa, Umang Lisam bakisah kajadian pihan sidin batapa.

Lidup-lidup hati Umang Lisam lawan Pang Udar saban hari, mahadang bujur-kadanya bukti bisikan naga pihan Umang Lisam batapa. Ka-iyaannya, pandiran si naga tabukti, Umang Lisam batinanan. Pas pihan baranakan, buhan Balai Tanginau batambah pulang lawan saikung kakanakan lalakian, Sindupati.

Parigal Sindupati mun dijanaki matan awak luarnya kada kaya manusia kabanyakan. Muhanya pina babincul-bincul, bigi matanya galak banar nang kaya handak bangsul ka luar, bibirnya sumbing, kulimbit awaknya hirang latat. Lamun dijanaki baastilah maka kalihatan kalu di kulimbit hirang latat tuti pina babindrang kaya basisik, sisik naga!

Umang Lisam lawan Pang Udar kada tapi mahirani parigal awak luar Sindupati, putungan kaya itu kada mangurangi kasukaan wan rasa sukur lawan pambarian Ning Diwata. Sidin badua mengganalakan Sindupati lawan kasing sayang, malajari sababaiknya. Kaputingannya kawa mahimungi juwa-ai. Sindupati kada kalah lawan urang, inya jadi pamuda nang wagas, pintar, bakabisaan, wan lakas manggawian napa haja. Kalakuannya nang batabi, baparnum, jadi sasambatan urang di balai supaya ditiru ulih kakanakan nang lain.

Wayah aruh ganal atawa bawanang, Sindupati kada sadikit umpat manggani-i napa haja, aruh tuti digawi urang pihan imbah tuntung mangatam banih di huma. Bagarit kijang, pilanduk atau babi gasan makanan, inya-am nang paharatnya. Mun pihan manyumpit, bah, damaknya kada biasa luput manuju, bidik banar tupang. Biar kaya itu, tapi inya kada manyumpit babarang haja, inya bapalih jua manuju, binatang nang handak digarit tupang nang disumpitnya. Lamun aruh wan buhan balai handak talu ikung kijang haja, saitu pang inya manggaritakan, kada labih kada kurang tupang.

Biasa inya maulah kakawananya inyuk. Pihan nitu buhannya malihat kijang bini nang basimpan manyusui anaknya. Paharatan kakawananya maniringakan sumpitan ampah ka kijang nitu, Sindupati bangsinghaja baingar. Napang ada, bukah mancicing kijangnya ka tangah sabat kajadian takajut.

“Nanapa maka ikam agah kijangnya?” ujar kakawannya batakun.

“Kijang tuti baisi anak nang masih manuyusu. Pasti ha anaknya tuti mamarluakan kasih sayang lawan panjagaan mamanya. Amun mamanya kita mati-i bayanya-am anaknya kadada nang manjaga, bisa mati jua inya. Biar anak kijang, inya handak jua diingu kaya kita jua kalu?” ujar Sindupati manjalasakan lawan kakawaannya.

Kaya itu pang, Sindupati rancak banar jadi kambang pamandiran buhan balai. Apalagi wayah ini, ngarannya disambati pulang ulih buhan balai, tapi pina babisik-bisik haja. Pamandiran buhan balai, nang iyanya buhan pamudanya, kada bapandir biasa haja sakalinya, tapi pina mahapak wan mangulibi. Kanapa alah? Ih…, sakalinya Sindupati dikahandaki kuitannya supaya bapara lawan Diang Turun Dayang!

Diang Turun Dayang tuti anak pangulu adat sakaligus kapala Balai Tanginau. Galuh nang bamula bujang, galumuk kahimungan buhan balai, kambang rarabutan buhan lalakian hunjur Maratus. Muhanya kada ham tuhah, langkar banar tupang, kadada wadaannya lagi tih. Awaknya sadang mungkal. Rambutnya, ubui, labat hirang bajuntai sampai ka tumit.

“Jakanya ti Sindupati tuti bacaramin dahulu di umbayang banyu mun handak bapara lawan Diang Turun Dayang,” ujar Apau pina takulibi.

“Ya am. Kada bataha tangkup lamun sabigi parmata diambani tambaga,” ujar Ritung mancalungap.

“Katia Turun Dayang, umbuiku nang sudah lukut gin kada bataha mahakuni paraan Sindupati,” Sarnam umpat jua mancalungap.

“Cahai, kada usah mandahului kahandak Ning Diwata gin,” Santang malamahi pandir. “Mun paraan tuti dihakuni napa garang…?”

“Dihakuni?” Apau manumpalak. Imbah itu inya galahak-galahak tatawa sing landangan. “Kudangar paraan tuti ditunda gasan dipikir-pikir dahulu. Parasaku tuti panulakan halus ngarannya.”

“Nah, lamun bujur kaya itu baarti pumput sudah kisahnya, kada usah disambat-sambat lagi. Kasian jualah Siandupati, pasti ha hatinya asa dikarukut bidawang,” mancalungap pulang Santang.

“Ujar Pang Udar, inya tulak ka hutan handak maramu paikat lawan damar,” Kuntut manyurung pandir.

“Bisa gasan jujuran saku,” ujar Sarnam sambil pina maulu-ulu.

“Sudaham,” suara Santang pina kancang. “Inya tu kawan kita jua, kawan nang baik ha pulang.”

Tatangguhan sambil takulibi nang disambat Sarnam sakalinya bujur. Sindupati tulak ka hutan dasar handak maramu paikat lawan damar gasan jujuran lamun paraanya kaina dihakuni. Inya bahimat bagawi, handak maunjuki tanda cinta nang paling baik gasan Diang Turun Dayang.

Puhun kamarian, imbah mamusut paluh, Sindupati bakujuk ka batang Hamandit handak balambui atanapi mandi. Tuhuk bakunyung wan banyalam, inya baingsut ka atas batu ganal di tangah batang, marabahakan awak di situ. Barubus angin maulah matanya kalat, mangantuk kada katahanan. Kada sa-apa taguring ju-ai inya di atas batu.

Inya sadikit-dikit kada tahu kalu jauh di hulu batang hujan saling labatan kaya diluruk tumatan langit. Banyu batang Hamandit balandas saitu saini. Ba-ah bangsul. Rampakan banyu mahawarakan awak Sindupati matan atas batu. Hingak-hingak inya timbul-tinggalam ka atas banyu, bakahandak bakunyung ka tabing, tapi ulak banyu manjuhut inya kada sakira. Awaknya timbul tinggalam pulang dilarutakan ulak. Tarus ka hilir, ka ampah kandarasan nang dituyuki batu-batu landap di bawahnya.

Sindupati tarus bausaha manjapai tabing, tagal tatap haja kada hingkat. Kada kawa. Kandarasan baulak landas tuti parak banar sudah, sapaningau haja lagi. Sindupati maigut bibir, nang kawa diulahnya hinggannya manyarah lawan kahandak Ning Diwata.

“Ning Diwata, sasambahanku. Lamun wayah ini maut handak maruhut, aku tatap basukur karana nang kadamintu pasti ha nang paling baik nang Dika bariakan lawan aku…”

Pas tahayut watun kandarasan, Sindupati takulipai satumat ka atas lalu sasadi maniruk ka ampah sahimpil batu. Tadangar manggarabau bunyi awak tahangkup batu, bunyi tulang-tulang ramuk, bunyi banyu balimbur nang mangalalak.

Imbah itu awak Sindupati tinggalam. Paharatan sadar lawan kada inya marasa awaknya taangkat ka atas banyu. Dihiyutnya hinak, dibuncalingakannya mata. Saitu-saini takalimpapak inya pas manyadari awaknya tatingharap kada bauri di atas kapala naga!

“Sindupati! Nangapa ikam, handak mati mudarkah?” ujar naga batakun.

“Kada!” Sindupati lumpi manyahuti. Sambil takuringis maarit ngilu kajadian tulang-tulangnya patah, dikisahakannya kajadian nang maumpinak inya.

“Jadi ikam sudah baparalah lawan galuh bangaran Diang Turun Dayang? Cahai! Ikam sadari juakah kaya apa putungan muha ikam?”

“Kusadari banar. Rigat lawan rusak rupaku ini inya sudah takdir Ning Diwata jua, kanyamanan nang dibariakan Ning Diwata. Aku ti napang ada, sahibar maniku takdir sambil jua pang bausaha lawan badua. Cintaku lawan Diang Turun Dayang kada cinta sambarang cinta pang, cinta tulus lawan suci karana baburinik tumatan Ning Diwata jua.”

Si naga baarunuh mandangar pandiran Sindupati. “Damintu-am anakku-ai. Takdir Ning Diwata dasar sudah nang paling baik gasan kahidupan manusia!”

Imbah nitu naga mahawarakan awak Sindupati ka atas. Pas di bawah intang kaguguran awak Sindupati, muntung naga banganga sing luasan, mahadang handak manungap. Sakijipan mata haja, awak Sindupati mangaluyur masuk ka dalam muntung naga. Kada saapa, awak anak Umang Lisam tuti dimuakakan pulang, muak nang saling gancangan, muak nang maulah awak Sindupati dihimpating ka tabing batang.

“Bulik ha ikam, anakku-ai, kuitan ikam haratan inyuk mahadangi ikam,” ujar naga sambil banyalam, hilang dikulum ulak banyu batang Hamandit nang sing dalaman.

Mangalantatak bibir Sindupati sambil manyambat sukur lawan Ning Diwata, kajadian inya kada jadi dikuracak jarigi maut. Tulang-tulang di disabukuan awaknya nang patah kada tarasa lagi sakit, malahan pinanya tabulik waras pada nang asal. Inya marasa awaknya pina bagatah, bakas liur naga. Bapuat inya ampah ka sumbar banyu, bagaritik hati handak mambarasihi awak. Pas handak mancalap tangan handak batampungas, inya takalimpapak manjanaki umbayang di dalam banyu, di situ dijanakinya bajinguk muha lalakian anum sing bungasan. Dipusut-pusutnya mata, ditingaunya ka balakang, kadada siapa-siapa lalu.

Baarti umbayang di banyu tuti muhaku pang sakalinya, hati Sindupati bapandir saurangan. Saitu-saini Sindupati lakas batilungkup, basujut, basukur lawan batarima kasih kada sakira atas pambarian Ning Diwata lawan inya.

Imbah mandi, Sindupati badadas bulik ka Balai Tanginau. Buhan balai nang pihan baranai takalimpapak malihat lalakian anum sing langkaran cungul di hadapan buhannya. Santang, Sarnam, wan Apau badadas mangacak hulu parang, sadi maumpinak lalakian anum nang kada suah dilihat tuti.

Kapala balai, abah Diang Turun Dayang, badadas jua bangsul manyasah, di balakang sidin bajurut warga balai nang lain, kaya kandang batis ha lagi saking banyaknya.

“Ui urang hanyar, napa kahandak jadi bangsul ka balai kami?” ujar kapala balai managur banahap, suara sidin tadangar bawibawa.

“Bulik ka ujuk, manamui kadua kuitanku saurang wan mandapati warga balai sabarataan,” Sindupati manyahuti, suaranya tanang haja kada manggitir.

“Bulik? Kuitan? Jangan mangabuwau, jangan bakaramput! Sabarataan warga balai di sini sudah pinandau lawan siapa haja. Tapi kami kadada nang pinandu lawan ikam.”

“Aku Sindupati, anak Pang Udar lawan Umang Lisam.”

“Sindupati?” warga balai takajut tapaimbai sabarataan.

Santang badadas balingkang ka hadapan. “Ui, urang hanyar! Baapik pandir, jangan sararabahnya ilat haja, lamun kada handak parangku mamagatnya!” Santang sasain bahimat mangacak hulu parang.

“Aku bujuran Sindupati. Ning Diwata lawan kakuasaan-Nya sudah maubah ragaku,” ujar Sindupati manjalasakan.

Matan garumbulan warga manyilak Umang Lisam. Mata bibinian tu-uh nitu manjanaki awak Sindupati sing landangan mantan kapal sampai ka batis. “Lamun ikam cakah mangaku anakku, takutuk ikam! Sambilan bulan sambilan hari aku mangandung, aku tahu banar napa lawan kaya apa anakku. Sabarataan warga balai gin pinadu ciri di awaknya, ciri nang dibawa matan di dalam parut, ciri bacalak hirang mudil kaya daun di balukuk. Kalu ikam baisi ciri nang kandamintu, aku parcaya lamun ikam Sindupati anakku, nang kaya aku parcaya lawan Ning Diwata Nang Maha Kuasa gasan balaku napa haja!”

Sabarataan urang nang ada di halaman balai manjanaki Sindupati sasain bahimat. Santang mancabut parang, balingkang mamaraki Sindupati nang badiri manjugut kaya patung kada sing garakan. Tangan kanan Santang sadi mariwas, tangan kiwanya maruhut bakakarasan baju kulit talimbaran nang disantak Sindupati. Ruhut bakakarasan Santang maulah baju Sindupati wawah wan tapacul. Awak Sindupati bakuliat babalik. Mata buhan warga balai tabuncaling sabarataan malihat ciri calak hirang di balukuk Sindupati.

Umang Lisam lawan Pang Udar mahalunyur maragap Sindupati. Imbahnya, di lantai balai, sambil duduk basila, Sindupati mangisahakan samunyaan kajadian nang maumpinak inya. Matan nang mandangar kisah nitu, ada sapasang mata jaranih kada lapas manjanaki Sindupati. Mata ampun Diang Turun Dayang.

Di pumput kisah, kilaran mata Siandupati barampakan lawan sapasang mata jaranih nitu. Sindupati takurihing bapair. Diang Turun Dayang pina supan kasisipuan, manyimpani muhanya nang habang manyanja kala ka balukuk Umang Lisam. ***

Kamis, 02 Desember 2010

MTsN Angkinang Kebanjiran

Rame urang mandi balumba


Jum'at, 3 Desember 2010

Hujan lebat yang mengguyur tadi malam menyebabkan sungai Angkinang meluap. Angkinang banjir. Siswa MTsN Angkinang dipulangkan lebih awal karena lantai kelas terendam.

Hal ini dilakukan untuk menjaga hal-hal yang tak diinginkan. Biasanya bila banjir siswa asyik bermain air. Air akan kembali surut beberapa jam kemudian. Namun dampaknya besoknya sekolah akan becek. (akhmad husaini)