Minggu, 28 November 2010

REPORTASE ARUH SASTRA VII 2010




Rabu, 8 Desember 2010

JAMAL T SURYANATA : Alhamdulillah sabarataan baik2 hj. MTsN Angkinang? Oiii... mustiai taganang tarus. Saban kalian aku lewat, pas hdk tulak ngajar ka Barabai, paling kada aku maningau ka sakulahan nang suwah maisii otak wan rohaniku. Lalu, aku singgah makan katupat di Pakumpayan. Sayang, kadada lagi nang patuhnya di situ....


Jum'at, 3 Desember 2010

ALIMAN USULKAN LOMBA MENULIS NOVEL

Banyak yang mengemuka saat perhelatan Aruh Sastra Kalimantan Selatan (ASKS) VII di Tanjung, Kabupaten Tabalong, belum lama tadi. Salah satunya adalah apa yang disampaikan sastrawan Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Aliman Syahrani. Dia mengusulkan agar pada ASKS berikutnya digelar lomba penulisan novel.

" Selama ini kan belum pernah ada lomba penulisan novel. Yang ada hanya lomba penulisan puisi dan cerpen, serta bidang sastra lainnya. Nah, saya kira akan lebih menarik bila diadakan lomba penulisan novel pada ASKS berikutnya," cetus Aliman Syahrani.

Menurut suami Tri Purnasari ini, lomba penulisan novel itu bisa dilaksanakan pada ASKS IX tahun 2012 di Banjarmasin.

" Dengan begitu akan ada waktu sekitar dua tahun bagi para penulis atau peserta untuk mempersiapkan diri mengikuti lomba tersebut," saran sastrawan kelahiran Loksado, 30 Desember 1976 ini.

Dia memandang pentingnya diadakan lomba penulisan novel di Kalsel, mengingat masih minimnya buku novel yang dibuat oleh penulis Banua. Sepengetahuannya, hanya ada tiga novel yang telah dibukukan, yakni novel Palas (2004) karyanya sendiri, Gadis Dayak (2006) karya Setia Budhi, dan Rumah Debu (2010) karya Sandi Firly.

" Nah, dengan diadakannya lomba menulis novel, saya kira akan cukup merangsang para sastrawan Banua untuk menulis novel. Sebenarnya, banyak penulis kita yang berbakat untuk membuat novel, hanya saja belum ada dorongan yang kuat. Dengan diadakannya lomba, saya yakin itu bisa membuat mereka tergerak untuk menulis novel," ujarnya.

Senin, 29 November 2010


Kopi, Sastra, Bupati dan KSI (Aruh Sastra VII Tabalong)

Kopi, Sastra, Bupati dan KSI, Cerita Kecil dari Aruh Sastra VII, Tabalong (1)

buku sastraAda cerita menarik di Aruh Sastra VII, Tabalong, Kalimantan Selatan. Tapi ini hanya cerita sepele yang mungkin tak layak menjadi sebuah berita. Ibarat sebuah jalan beraspal, cerita ini kurang lebih tentang tiang listrik yang berdiri tegak di sudut jalan. Cerita apakah itu?

Seminar hari pertama Aruh Sastra VII bertempat di gedung komunikasi Tabalong. Dalam acara ini saya sempat berpindah-pindah duduk, kadang di tengah, di samping, di belakang, sesuka saya memilih kursi kosong berharap aktifitas pindah duduk tersebut dapat mengusir rasa kantuk dan jenuh. Memang acara tersebut berasa melelahkan apalagi peserta Aruh Sastra VII tampaknya tidak seramai tahun-tahun sebelumnya. Dari bisik-bisik, ada sebagian sastrawan Kalsel atau pengurus Dewan Kesenian Kab/Kota sibuk mengurusi Porprov VIII/2010 Kalsel di Kotabaru yang pelaksanaannya berbarengan dengan Aruh Sastra VII.

Seminar hari pertama membahas banyak hal, mulai telaah bahasa dan sastra sebagai teraju jati diri generasi Banjar hingga mengkritisi kembali Perda Provinsi Kalsel no.6 tahun 2009 tentang pemeliharaan kesenian daerah. Banyak pendapat, pemahaman juga pemikiran yang meramaikan acara seminar pada hari pertama.

O.ya. Gedung komunikasi adalah sebuah ruangan berbentuk persegi panjang, dilengkapi fasilitas AC dan dinding berlapis busa tipis untuk mengedapkan suara. Kapasitas ruangan berkisar antara 100-120 orang. Pada sisi bagian kanan-kiri agak merapat ke dinding – disitulah panitia menempatkan asupan konsumsi peserta Aruh Sastra berupa kue dan air teh tanpa kopi hitam yang saya yakini banyak peserta mengidamkannya. Berapa sih harga kopi di Tabalong sehingga tidak disediakan? Pertanyaan tentang kopi inilah yang nantinya menjadi alasan kenapa saya sering bolak-balik menuju sebuah warung di dekat taman kota.

Sebuah taman kota itu berdekatan dengan gedung Sarabakawa, Masjid, Pasar dan juga Kantor Bupati. Sementara di Taman kota itu sendiri kemudian dipersiapkan panggung pertunjukkan sebagai sentral acara Aruh Sastra VII. Ya, di situ pembukaan acara Aruh Sastra ke VII berlangsung, disitu pula pagelaran Mamanda, festival Madihin, dan pagelaran dari peserta kabupaten/kota dilangsungkan.

Menyinggung sedikit tentang kopi, ternyata harga kopi satu gelas cukup murah. Kalau tidak salah cuma Rp.2000,- (Kebetulan saya tidak pernah bayar karena begitu banyak sastrawan yang bersedia menanggung harga kopi yang saya hirup sambil menikmati suasana taman kota yang sejuk). Di bagian ini juga ada hal yang lucu menurut saya. Dua orang sastrawan Banjarbaru tiba-tiba terlihat mondar-mandir membawa gayung menuju air mancur yang letaknya persis berada di depan tempat saya menikmati kopi hitam. Untuk apa mereka membawa gayung? Mau mandi ya? Cerita lucu tentang dua sastrawan Banjarbaru pembawa gayung akan saya ceritakan dibagian lain.

Setelah seminar selesai, saya beserta rombongan tidak langsung kembali ke rumah penginapan. Ketua Pelaksana Aruh Sastra VII Tabalong menyampaikan pesan mengajak makan siang bersama sambil menemani Sastrawan dari Yogyakarta, Raudal Tanjung Banua.

Di mobil yang berpenumpang 7 orang termasuk saya, mereka adalah dua orang reporter dari Banjar TV, satu orang wartawan dari Radar Banjarmasin (merangkap sopir), wartawan Mata Banua, dan dua orang sastrawan dari Banjarmasin.

Dalam perjalanan, Sastrawan berasal dari Banjarmasin membuka cerita pahit (seperti kopi tanpa gula), bahwa ada sebuah kabupaten di Kalsel yang berencana mendirikan Komunitas Sastra Indonesia (KSI). KSI merupakan sebuah wadah bagi pecinta, pengamat atau pelaku sastra untuk berdiskusi dan berbagi ide pemikiran. KSI tidak saja berkembang di Kalsel namun juga tersebar di daerah-daerah lain luar Kalsel dan berpusat di Jakarta. Untuk Kalsel – yang saya tahu – sudah berdiri di kota Banjarmasin, Banjarbaru, Kotabaru dan Kertak Hanyar.

Khusus untuk pendirian KSI di salah satu kabupaten yang tadi saya sebutkan, ternyata berjalan tidak mulus. Justru kendala yang dihadapi berasal langsung dari sang Bupati. Katanya, Bupati tidak mengijinkan PNS di wilayahnya untuk berorganisasi.

Setelah makan siang, cerita ini dilanjutkan kembali oleh sastrawan asal Banjarmasin tersebut ke ruang rapat Pleno (tentunya sambil lalu). “Memangnya KSI itu organisasi politik?” ungkap si sastrawan asal Banjarmasin mencibir tindakan Bupati yang melarang PNS berorganisasi tadi.

Kebetulan saya bertemu sastrawan asal kabupaten yang dimaksud. Tanpa diminta, ia pun menceritakan kejadian yang sebenarnya. “Setelah kami pelajari, ternyata Bupati berpegang pada pedoman dan tata tertib PNS yang telah baheula,” kata si sastrawan menjelaskan kenapa dirinya dan teman-teman sastrawan lain tidak diijinkan mendirikan KSI. “Parahnya, larangan berorganisasi ini berkembang hingga melarang PNS mendirikan koperasi,” lanjut si sastrawan tadi.

Larangan berorganisasi di Kabupaten XXX tersebut ternyata tidak main-main. Dari sastrawannya sendiri saya mendapat informasi bahwa dalam waktu dekat sang Bupati akan mengadakan rapat koordinasi untuk memantapkan larangan bagi PNS di kabupaten XXX untuk tidak mendirikan/mengikuti organisasi.

Pertanyaan saya adalah, adakah kriteria organisasi yang tidak boleh diikuti para PNS di wilayah kekuasaan si Bupati tersebut? Kalau hanya sekadar organisasi saja, bukankah pemerintahan itu sendiri juga termasuk salah satu bentuk organisasi?

Pertanyaan kedua, adakah dasar hukum yang jelas mengenai larangan PNS berorganisasi?

Berhubung saya bukan PNS, dan tidak mengetahui tata tertib yang berlaku, apakah dasar hukum yang dimaksud adalah merujuk pada Peraturan Pemerintah No.30 tahun 1980 atau ada yang lain? (saya download filenya di sini)

Dari cerita di atas, diam-diam saya menghitung jumlah sastrawan Kalsel yang statusnya PNS. Selama ini mereka baik-baik saja di kabupaten/kotanya masing-masing. Tidak pernah terdengar seorang Bupati yang melarang mereka aktif berkegiatan sastra dalam sebuah organisasi yang bernama komunitas.

Naif rasanya jika ada putra-putri daerah yang ingin menyumbangkan tenaga dan pikiran untuk mengembangkan seni, sastra dan budaya di daerah tempatnya tinggal -seharusnya adalah tugas dan tanggung jawab pemerintahnya sendiri – justru berbalik menghalang-halangi putra-putri daerahnya sendiri.

Saya tidak ingin onani dengan pemahaman saya sendiri mengenai fenomena larangan PNS berorganisasi di atas. Terlebih-lebih organisasi sastra. Tentunya sidang pembaca lebih banyak mengetahui dan memiliki wawasan luas untuk ikut menanggapinya. Sambil Anda ikut menyumbang pemikiran, saya melanjutkan tulisan lain selama mengikuti Aruh Sastra VII di Tabalong.




Obrolan Santai; Kepingan yang tercecer di Aruh Sastra Kalimantan Selatan VII

Oleh; Kayla Untara

Perhelatan tahunan buat komunitas sastra lokal yang disebut Aruh Sastra Kalimantan Selatan ini baru saja berakhir semalam. Acara yang di adakan mulai tanggal 26 sampai dengan 28 Nopember kemaren boleh dikatakan tak seperti yang saya bayangkan sebelumnya, paling tidak buat saya pribadi. Meski even kali ini spesial buat saya pribadi karena dalam rangka sekaligus menerima piala dan hadiah pada lomba penulisan Cerpen Bahasa Banjar, namun tetap acara itu tak mengesankan sebagaimana saya harapkan.

Kali ini saya ingin berbagi sedikit cerita dan curhat kalau memang boleh dikatakan seperti itu tentang kepingan aruh yang tercecer kali ini.

Bayangan saya, dengan tema mengangkat budaya dan kesenian lokal ini saya mengharapakan ada nilai lebih dari even tahunan sebelumnya (meski saya tidak rutin mengikuti setiap even sejak pertama kali dilaksanakan dikota Kandangan, sempat mengikuti di Kotabaru, Amuntai dan Balangan) karena hal ini termasuk ide baru yang menarik. Terlebih dengan diadakannya lomba penulisan puisi dan cerpen bahasa Banjar, madihin, dan ba-syair tentu hal ini sangat saya apresiasi penuh. Entah karena apa, tema besar dan mulia itu tidak sepenuhnya terlaksana dengan baik, menurut kesan yang saya rasakan paling tidak.

Terlepas dari kesan saya terhadap tema besar itu dan yang lainnya, ada hal lain yang saya kira patut saya bagi dalam catatan kali ini. Pertama mengenai minimnya kehadiran tokoh penulis senior lokal yang hadir di even penting tersebut. Sebagai contoh saja, dari Kandangan Pamanda Burhanuddin Soebely, Iwan Yusi, Hardiansyah Asmail, Aan Maulana Bandara, Suryani Giri, serta beberapa nama penulis senior lainnya tak ikut serta dengan rombongan kami. Memang sebagian alasan ketidak hadiran itu bisa difahami, namun lebih banyak tidaknya. Kanda Jamal T. Suryanata, Micky Hidayat, Eza Tabry Husano dan beberapa nama penulis senior lainnya sampai hari kedua tak kelihatan bayangnya. Jika kemudian memnbandingkan dengan aruh pertama yang di adakan di kota Kandangan atau di Kotabaru (sebagai barometer kesuksesan acara), maka tentu even untuk mengumpulkan para penulis dan seniman serta sebagai sarana saling mengenal sosok penulis/penyair/seniman/budayawan senior terlebih macam saya sebagai penikmat sastra ini tak seramai waktu itu kalau tidak ingin dikatakan setengah gagal.

Meski nama Arsyad Indradi, Hamberan Syahbana, YS. Agus Suseno, ASA, Hajriansyah, Aliman Syahrani, Muhammad Radi, Adjim Ariadi, Sandi Firli, Hari Insasni Putera, Zulfaisal Putera dan yang lainnya mengikuti dan mengahadiri even tahunan kali, namun saya secara pribadi ada sedikit merasa ada inguh yang kurang pada penyelenggaraan aruh sastra ini karena minimnya kehadiran beberapa penulis senior lainnya. Jika kemudian kita sandingkan dengan persentase kehadiran penulis atau seniman dengan tema besar tentang budaya dan kesenian local yang di angkat kali ini, saya kira tema itu sedikit kehilangan ruhnya.

Panitia Aruh kali ini juga sepertinya perlu dikritisi. Terutama masalah mess tempat inap para peserta aruh yang ditempatkan saling berjauhan sehingga sedikit mempersulit untuk saling silaturrahim di luar jadwal acara yang sudah ditetapkan. Yang sedikit parah (kami rombongan dari kandangan sebanyak 25 orang) mess tempat inap yang disediakan panitia berupa rumah dinas kecil, tentu hal ini tak layak untuk orang sebanyak itu. Tidurnya bertumpuk-tumpuk, masih mending jika bisa tidur, yang ada malah banyak bergadangnya padahal jika hal ini sama terjadi pada rombongan yang lain tentu banyak peserta yang menempuh perjalanan jauh ke kota Tanjung ini dan lebih banyak jumlahnya, maka saya tak bisa membayangkan bagaimana. Lucunya, pas pidato pertanggungjawaban pihak panitia mengatakan bahwa menyediakan mess itu untuk rombongan maksimal 40 orang! Membayangkan peserta tidur bakal jadi kue lapis!?

Keluhan itu tak hanya sampai di sini, entah even tahunan bagi komunitas penulis dan seniman ini sudah terlalu jauh masuk ranah birokrasi politis atau bagaimana, namun peristiwa terhadap rekan kami pada malam di hari pertama sedikit banyaknya mengensankan hal itu terasa kental sekali. Ada salah seorang anggota rombongan kami bernama Bagan yang melakukan perjalanan dari kota Kandangan ke kota Tanjung (90 km lebih) menggunakan sepeda ontel, ketika mengekspresikan kegembiraanya pada acara pembukaan dengan spontanitas khas seniman, setelah acara parade peserta, dia langsung mengambil mikropon di panggung dan mengucapkan kegembiraan bisa mengikuti acara Aruh Sastra ini sekalian memperkenalkan diri bahwa termasuk kontingen dari Kandangan, namun setelah itu di suruh turun oleh beberapa aparat (polisi) kemudian dengan arogannya menyuruh untuk membuka baju dan mengeluarkan semua isi di dalam Butah (tas keranjang khas dari dayak loksado) yang di sandangnya di tengah lapangan tempat acara berlangsung serta diintrogasi seperti seorang kriminal dan “dikira” orang gila/stress. Dianggap mempermalukan panitia di hadapan muspida dan undangan yang hadir serta menyalahi protokoler! Kami dari kontingen kandangan kecewa dengan perlakuan itu, meski pihak panitia kemudian meminta maaf.

Malam itu, yang menyayangkan sikap pihak keamanan ini bukan hanya kami dari kontingen Kandangan, namun dari beberapa kontingen lain menyatakan hal serupa bahkan salut serta mendukung aksi Bagan itu sebagai sebuah keberanian dan ekspresi yang luarbiasa terlebih mengingat perjuangannya bersepeda seorang diri dari kota Kandangan ke kota Tanjung hanya demi meramaikan Aruh Sastra kali ini. Entah kenapa pihak keamanan tidak terlebih dahulu konfirmasi ke pihak (ketua) kontingan dari Kandangan, namun malah langsung bertindak berlebihan dan terkesan over acting dengan menyuruh si Bagan melepas baju dan mengeluarkan isi Butahnya di tengah lapangan dan di hadapan banyak orang. Kami sepakat, tudingan menyalahi protokoler serta mempermalukan pihak panitia itu tak bisa sepenuhnya di benarkan, karena dunia seni ini punya standarisasi sendiri yang terkadang memang perlu kebijakan untuk menyikapinya. Bukan malah mengukur dengan hal-hal berbau birokrasi dan aturan-aturan protokoler beserta tetekbengeknya! Jika kemudian aruh sastra ini terlalu kaku dengan aturan dan segala tetek bengek birokrasi politis semacam itu, maka aruh sastra yang di gagas pertama kali sebagai ajang untuk silaturrahim seniman maupun budayawan dan mengekspresikannya serta meningkatkan pamor dunia seni budaya daerah, maka jujur, sebagai urang asli banua, saya kecewa!

Belum lagi jika bicara lomba yang diadakan. Ada beberapa catatan yang saya kira perlu ke depannya dibenahi kembali. Berita acara teknikal meeting yang beberapa keputusannya tidak sejalan dengan pelaksaan ketika lomba pun jadi dilema.

Acara seminar yang di hadiri sastrawan nasional Raudal Tanjung Banua (moga nama ini tidak salah tulis) pun terkesan hambar. Pertama karena molor jam mulainya acara yang terlambat satu jam dari jadwal sebelumnya hingga membuat uraian pembicara maupun pas session dialog menjadi lebih singkat waktunya. Kedua, pembahasan mengenai perda untuk mulok saja seperti jalan di tempat dan terkesan tidak menemukan sesuatu yang berarti karena tidak adanya kehadiran pihak dinas terkait seperti dari dinas pendidikan. Akhirnya, secara keseluruhan, acara jadi semacam “bapapandiran wara” tanpa menemukan hasil yang terlalu menggembirakan.

Kiranya menjadi harapan bersama bahwa aruh sastra yang dilaksanakan nanti akan lebih baik dan bagi kabupaten kota penyelenggara dapat terus bisa berbenah berdasarkan kekurangan-kekurangan even-even sebelumnya. Secara garis besar, aruh sastra Kalimantan Selatan VII ini terlaksana dengan baik. Saya dan mudahan juga anda tak menginkan aruh ini hanya semacam seremonial semata dan tidak menghasilkan suatu perubahan buat perkembangan dunia seni dan budaya di Kalsel. Mudah-mudahan acara semacam ini tidak dimanfaatkan pihak-pihak tertentu untuk kepentingan politis dan semacamnya, sebab penulis dan seniman di Kalsel ini bukan “urang nang kawa dihihimungi wara wan duit sajampal atawa harapan palsu!”

Menurut pian?




TERNYATA

Bapak Hairin Nazrin pernah jadi penyiar di RRI Banjarmasin era tahun 80-an. Juga di radio-radio swasta di Kalsel. Hal ini terungkap saat dalam perjalanan pulang dari Tanjung menuju Kandangan di dalam mobil yang kami tumpangi.

PUISI BURHANUDDIN SOEBELY

PADA SUATU HARI
(Adaptasi Surah Al Infithar)

Lewat bunyi sangkakala
sukma waktu
pilin memilin

bayangkan, bumi kehilangan pasak-pasaknya
menggasing segala isi bulu-bulu dalam angin

bayangkan, langit kehilangan tali kendalinya
berlaga segala isi dentum beruntun dentum

dan bagai tebaran anai-anai
ruh-ruh beriring ketempat berjanji
beragam wajah
dipanggang matahari sepenggalah

Sijjin dan Illiyin kacakan peristiwa purba
hari-hari hilang mendadak bangkit bagai kuda
dengan garang memekikkan genderang perang
berkibarlah panji-panji
panji khianat dan benci
(perlahan tersilak segala tabir rahasia
mengaca inti diri, menatapi luka-luka)

Hari ini genap sudah segala perhitungan
tak ada pelarian, jalan dua bersimpang
keindahan taman firdaus
keganasan sel-sel api

SENSASI DARI KANDANGAN

Bhagan Topenk (Rahman Rijani) naik sepeda dari Kandangan ke Tanjung untuk ikut Aruh Sastra Kalimantan Selatan (ASKS) VII, 26-28 November 2010. Saat pembukaan malam Sabtu ia bikin ulah. Tampil ke depan panggung yang dihadiri Bupati Tabalong, Rachman Ramsyi dan pejabat lainnya. Setelah memarkir sepedanya, ia mengambil mikrofon. " Perkenalkan nama Saya Bagan, dari Kandangan. Semoga kegiatan ASKS ini dapat berlangsung sukses."

PUISIKU

Aku dan rasa benciku
malam ini
ingin pergi dari sini
secepatnya
melangkah lebih jauh

Tanjung, November 2010

DUTA HSS

Nama : Selvia Stiphanie
TTL : Barabai, 22 November 1993
Alamat : Jl. Mualimin No.22 Barabai Kabupaten HST
" Menurut saya sastra di Kalsel sudah berkembang. Tapi masih perlu dikembangkan lagi."
e-mail dan fs : linibadaiotak@yahoo.com
blog : anomalibadaiotak.multiply.com
cp : 085265265462
Putri Padi : 085292522102
e/f : umiyabiy@yahoo.com
Perempuan Kertas (Putri Padi)
Anomali Buku Unik


Nama : Heldayanti Rukmana
TTL : Barabai, 6 Januari 1995
Alamat : Jl. Muallimin RT.10 A RW.04 Barabai Darat Kab. HST
" Aruh Sastra hidupkan budaya banua kita."