Sabtu, 30 November 2013

KEPALA DINAS PENDIDIKAN HULU SUNGAI SELATAN

SABTU, 30 NOVEMBER 2013

Nordiansyah, S.Sos, M.Si
 (Foto:Radar Banjarmasin)

GELIAT KESENIAN DI HULU SUNGAI SELATAN

SABTU, 30 NOVEMBER 2013

 Aliman Syahrani
(Foto:Akhmad Husaini)

Tahun 60 hingga 80 an, Hulu Sungai Selatan (HSS) terkenal dengan sebutan, Yogyanya Kalimantan Selatan (Kalsel). Pasalnya, pada tahun-tahun tersebut, berbagai kesenian dan kebudayaan ditampilkan. Bahkan, dapat terbilang sekian dari kesenian dan kebudayaan yang ada di Banjarmasin, berasal dari HSS.

Salah satu kebudayaan yang hingga kini masih dimainkan, oleh sejumlah masyarakat HSS, adalah Badandang, Batumbang, Bagasing dan Balogo. Selain itu, kesenian yang juga diambil dari budaya masyarakat, adalah Bajapin, Bawayang, Bacarita (Bakisah),  Bahadrah Bakuntau dan lainnya.
 
Meredupnya dunia kesenian di HSS, diperkirakan pada awal tahun 90 an, karena tidak adanya respons dari pemerintah daerah. Banyak para pekerja seni yang hijrah ke kabupaten tetangga. Seiring dengan itu pula, tidak adanya regenerasi di kalangan seniman yang dapat meneruskan perkembangan dunia seni di daerah sendiri.
 
Akibatnya, dunia kesenian di Kabupaten HSS mengalami tidur yang cukup panjang. Kendati ada riak-riaknya, namun kegiatan tersebut hanyalah sementara waktu. Karena, usai kegiatan yang dilaksanakan, maka usai pula kesenian yang ditampilkan dan akhirnya kembali terpendam.
 
Seiring dengan perkembangan jaman dan bergantinya tahun, kesenian tradisional yang ada di HSS semakin tergeser. Apalagi ketika hadirnya elekton (organ tunggal) yang selanjutnya berkembang menjadi karaoke. Hadirnya, alat-alat modern dengan penyanyi yang seksi, semakin menenggelamkan kesenian tradisional yang ada di Bumi Antaludin.
 
Setelah bertahun-tahun tidur panjang, akhirnya kesenian tradisional yang ada di HSS, kembali menggeliat  dan menemukan rohnya kembali. Hal ini karena adanya kebijakan baru dari bupati terpilih Drs Achmad Fikry yang menginginkan HSS, kembali menjadi kota seninya Kalimantan Selatan. Seiring dengan adanya kebijakan tersebut, maka para penggiat dan pekerja seni mulai menampilkan kreasinya.
 
Buktinya, disetiap kegiatan kedaerahan dan lainnya, kesenian tradisional yang ada di HSS, ditampilkan dengan koreografi  yang apik. Dengan adanya kebijakan bupati ini, maka kesenian tradisional mulai menggeliat dengan kuat. Geliat dapat dilihat dari dunia pendidikan, dimana sekolah-sekolah yang ada sudah memuat berbagai program kegiatan ektra kurikuler yang berbau kesenian.
 
Aliman Syahrani, salah seorang budayawan dan penulis asal HSS yang diminta komentarnya mengatakan, bahwa lahirnya kebijakan bupati untuk menghidupkan kesenian di Bumi Antaludin patut mendapatkan dukungan penuh dari semua masyarakat yang ada di HSS. Pasalnya HSS merupakan kota seni dan banyak tokoh serta seniman yang lahir di bumi Antaludin.
 
Dengan ditiupkannya lagi roh kesenian di kota dodol ini, maka kehidupan berkesenian di HSS akan kembali semarak. Sehingga, kedepannya, pelaksanaan pembangunan yang ada di HSS dapat semakin berkembang dengan adanya dukungan dari duni kesenian.
 
“ Saya sangat senang dengan adanya kebijakan bupati, terkait dengan menghidupkan kembali dunia kesenian di HSS,” ujar Aliman Syahrani.
 
Masih menurut Aliman, dengan dihidupkannya dunia kesenian di HSS. Maka, para penggiat kesenian dan pekerja seni dapat menumpahkan ide-idenya. Sehingga, apa yang ingin disampaikan kepada masyarakat. Melalui kesenian, dapat terlaksanakan dengan baik. Selain itu, kedepannya HSS akan menjadi tujuan wisata bagi para pelancong. Sebab selain dapat menikmati objek wisata yang ada di HSS. para pengnjung juga dapat menikmati berbagai kesenian tradisional yang ditampilkan oleh para pekerja seni di kabupaten.*** 
 
Sumber : Radar Banjarmasin
 

LUKISAN M. ALFIANOOR (KELAS IX C MTsN ANGKINANG)

SABTU, 30 NOVEMBER 2013


AKHMAD HUSAINI DALAM KALIGRAFI

SABTU, 30 NOVEMBER 2013


ANAK MUDA NONGKRONG

SABTU, 30 NOVEMBER 2013


JAMPING SAPIDA

SABTU, 30 NOVEMBER 2013


TUGU HAMALAU

SABTU, 30 NOVEMBER 2013


BLUD RSUD BRIGJEND H HASSAN BASRY KANDANGAN (2)

SABTU, 30 NOVEMBER 2013


BLUD RSUD BRIGJEND H HASSAN BASRY KANDANGAN (1)

SABTU, 30 NOVEMBER 2013


BERMAIN AIR

SABTU, 30 NOVEMBER 2013


PERPISAHAN PPL STAI DARUL ULUM DI MTsN ANGKINANG

SABTU, 30 NOVEMBER 2013

Perpisahan PPL STAI Darul Ulum Kandangan. Kamis (21/11/2013) saya mengikuti perpisahan mahasiswa STAI Darul Ulum Kandangan yang melakukan praktek mengajar di MTsN Angkinang selama 2 bulan. Berlangsung sekitar pukul 12.00 WITA. Ada sambutan Kepala MTsN Angkinang. Sambutan supervisor. Lalu sambutan guru pamong yang diwakili Bapak Abdurrahman. Meminta maaf bila salah kata. Kurang diperhatikan. Membina / membimbing. Cita-cita cukup tinggi. Masalah nilai dimusyawarahkan. Nilai yang baik. Perbedaan praktek mahasiswa dulu. Yang sekarang Senin selalu ikut apel / upacara bendera. Datang dan pulang sama dengan jadwal sekolah. Pada kesempatan tersebut mahasiswa member kenang-kenangan kepada pihak sekolah.

Kandangan, 21-11-2013

MENGENANG ALUMNI MTsN ANGKINANG

SABTU, 30 NOVEMBER 2013

Mengenang alumni. Satu lagi alumni MTsN Angkinang mengakhiri masa lajangnya. Kali ini adalah Norhadijah. Alumni MTsN Angkinang lulusan tahun 2007. Ia akan melangsungkan walimah perkawinan pada Minggu, 24 November 2013 di Bamban Utara Kec. Angkinang.
    Kamis (14/11/2013) ia datang ke sekolah mengantar surat undangan. Dulu Dijah pernah tinggal di Pakumpayan lalu pindah ke Bagambir. Setamat MTsN dan SLTA ia melanjutkan sekolah perawat. Dijah menambatkan pilihan hatinya. Selamat menempuh hidup baru semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah.
    Sewaktu MTsN Dijah sosok siswa yang sopan dan cepat akrab. Termasuk dengan saya. Ia sering datang ke perpustakaan. Jadi saya kenal dengannya. Sering menyapa baik di sekolah maupun di luar sekolah. Dijah seangkatan dengan Ni’mah, Mariatul Qibtiyah, dll. Dijah adik dari Inan, yang dulu disukai Amat Caca (alm) waktu mamabrik nyiur.

Kandangan, 14-11-2013

PUISI AKHMAD HUSAINI

SABTU, 30 NOVEMBER 2013

Elegi Candi Laras

Hari-hari menyungging waktu
Melewati batang Margasari
Memburu makna menirai hati
Langkah-langkah yang pasti
Dari Puspa Raya
Jangan sangkut pautkan kehidupan ini
Dengan ribuan elegy nyanyi sunyi
Disini di Tapin Bastari
Seringkali berbeda tirani dengan naluri
Menghunjur ke kiri
Menghunjam ke mata kaki
Acapkali kekuatan pasti membawa prestise
Bukan kesombongan dan keangkuhan yang saya iri
Tak ubahnya pergerakan melewati jembatan layang
Memindah emas hitam ke Sungai Putting
Akankah membawa merdeka ?
Di kemilau raksasa menindas imajinasi

Rantau, 18-11-2013




Berita Apalagi

Lelucon yang mengumandang tiap hari
Tentang berita kecelakaan
Korupsi merajalela
Menjadi hal biasa
Penyakit mewabah
Kanker paru
Menyedihkan melihat hati
Awalnya gundah
Dengan segala kelembutan


Kandangan, 11-11-2013


SAPRAH AMAL DI TELAGA SILI-SILI

SABTU, 30 NOVEMBER 2013

Saprah amal. Saya menerima surat undangan Saprah Amal dari panitia perbaikan Masjid At Taqwa Desa Telaga Sili-Sili Kecamatan Angkinang Kabupaten Hulu Sungai Selatan.
    Bersama ini Bapak, Ibu, Saudara (i), kami undang pada kegiatan saprah amal, dalam rangka pencarian dana untuk perbaikan / rehab bangunan masjid At Taqwa Desa Telaga Sili-Sili. Hidangan yang kami sediakan berupa nasi sop / soto yang Insya Allah akan dilaksanakan pada hari Kamis, 21 November 2013. Pukul 08.30 WITA s/d selesai.
    Demikian undangan ini disampaikan, atas kedatangan dan sumbangannya sangat kami harapkan. Semoga amal jariah Bapak, Ibu, Saudara (i) diterima Allah SWT. Amin Ya Rabbal ‘alamin.
    Turut mengundang : Dra Hj Jamilah (Camat Angkinang), H Fahrarijani (Kepala Desa Telaga Sili-Sili), H Hamdi Tanda (Tokoh Agama/Masyarakat), H Makmur SE, H Adan, Jamhari, Nunci, Juhansyah, Jamaludin, Ahnanurrazi, S.Pd.I (Ketua Pengurus masjid), Rahmi Susanti (Ketua TP PKK), Masniah, S.Pd.I (Tokoh Wanita), Mastinah, S.Pd.I, serta seluruh masyarakat Telaga Sili-Sili. Pengundang Abdul Muin (Ketua), Sahlan Syarif (Sekretaris), dan M. Arsyad (Bendahara)***

Kandangan, November 2013

LEBIH DEKAT DENGAN ERMINA HENDRIYANTI

SABTU, 30 NOVEMBER 2013

Ermina Hendriyanti  nama lengkapnya. Biasa disapa dengan nama panggilan Yanti. Sekarang duduk dibangku Kelas IX A MTsN Angkinang. Berusia 14 tahun. Anak pertama dari dua bersaudara pasangan M. Amin dan Risnawati. Pekerjaan orangtuanya swasta. Pelajaran favoritnya di sekolah Seni Budaya dan IPA.
    Yang dilakukan sepulang sekolah mengulangi pelajaran di sekolah. Sebelumnya shalat Dzuhur dan makan siang. Sementara saat hari libur biasa membantu memasak dan ke rumah nenek.
    Biasa menunaikan shalat di rumah. Ia tinggal di Desa Taniran Selatan. Langgar yang terdekat dengan rumahnya Al Inayah. Pola orangtua mendidiknya melarang bergaul dengan orang-orang yang dilihat tidak baik dalam berperilaku. Yang disukai Yanti saat berada di sekolah berkumpul dengan teman-teman. Tayangan televisi yang disukainya sinetron seperti Surat Kecil untuk Tuhan.
    Yang bercita-cita jadi bidan. Hobinya main bulutangkis. Ukuran berat badannya 43 dengan tinggi 150 cm. Biasa tidur pukul 21.00 WITA dan bangun pukul 05.00 WITA.
    Yanti mengaku pernah jatuh dari atas pohon jambu ke lumpur. Juga pernah dimarahi orangtua karena tidak mematuhi nasehatnya. Ia berusaha menolong semampu mungkin bila ada temannya yang membutuhkan pertolongan. Tempat terjauh yang pernah didatanginya adalah Banjarmasin. Dalam  rangka liburan. Naik mobil kesana. Berfoto-foto. Selama satu hari berada disana. Yang ikut selain Yanti juga     ibu, nenek , acil dan pamannya.
    Saat berada di mobil Yanti merasa takut karena cukup kencang sopir melarikan kendaraannya. Oleh-oleh yang dibawa pulang makanan dan aksesories. Ada rencana untuk kembali ke Banjarmasin. Suasana di tempat yang didatangi cukup asyik dan menyenangkan. Tak lupa bila tiba waktu shalat menunaikan ibadah.***

YANG MASIH BERTAHAN

SABTU, 30 NOVEMBER 2013

Saya ngobrol dengan anak-anak murid saya di perpustakaan saat istirahat. Anak-anak Kelas IX. Ada Herlina, Ermina Hendriyanti, dkk. Banyak yang diobrolkan. Terutama yang berkenaan dengan hal-hal yang berbau tradisional. Ada permainan TAKANG. Pemain 4 orang atau  lebih. Alat yang digunakan berupa batu. Batu diletakkan ke kaki. Lalu dilempar. Sampai sajukung. Ada juga main kalang, mencari kijing, mahancau, bakacal, dan timbakan paring.
    Menurut Herlina karena pengaruh teknologi banyak sepeda motor lalu taksi berkurang penumpang. Ada juga gerobak sapi. Waktu SD Herlina sering melihat lewat dijalan. Membawa paya, kumpai, nyiur, dsb. Dengan seorang pengemudi. Menurut Ermina gerobak sapi bisa saja dipertahankan karena bebas polusi. Permainan lain kalikir, gilaan, main tali. Sementara permainan anak yang berhubungan dengan air atau sungai balarut gadang pisang, Baucus, katilambung, bacablus, dsb.
    Sementara kesenian tradisional yang pernah dilihat dan diketahui Herlina antara lain gipang, pantul, wayang, madihin dan kuntau. Berkenaan dengan kuliner. Ada dulinat, upak, gumpal, ardat, dan pastil. Semuanya berbahan baku  ubi kayu atau singkong.
    Berbahan baku pisang guguduh, kulak, galabia, rimpi, dsb. Berbahan tepung terigu, sumapan, kukulih, apam, apam batil, dsb. Topik pembicaraan terus berkembang. Tentang hal yang berhubungan dengan kematian. Profesi setelah kematian ada maniga hari, manujuh hari, manyalawi, mamatang puluh, manyaratus, mahaul.
    Serba-serbi lain yang berhubungan dengan prosesi kematian. Daun pandan diayam. Ada surabi supaya berpayung dihari kiamat. Mamandi’i mayat.
    Berhubungan dengan perkawinan. Badatang dengan orangtua laki-laki. Bapasang cincin, baataran. Panantuan hari. Banikahan. Resepsi, manajak sarubung, balawatan, bahias, mangawah surung sintak, tamu, dayang-dayang, dsb.
    Berhubungan dengan dunia pertanian atau bahuma. Ada marandam banih, maulah panaradakan, manaradak, maampak, batanam. Sebelumnya ada mahalarat. Lakatan bahinti, basambahiyangan. Dengan tujuan supaya banih banyak. Manradak, bapuntal, babalik, bajuhut, mangatam. Padi dikatam atau diharit. Diirik. Mencari ikan dengan kail atau unjun. Ada maunjun papuyu. Ada maunjun haruan / mamair.
    Ketika maunjun papuyu mengundang umpan iruan, wanyi lalat, tabuan, anai-anai, ambayakung. Serta maunjun pair menggunakan umpan kodok. Ketika maunjun yang digunakan umpan, unjun, ember/wadah, nilon, kawat, tempat memancing. Jenis-jenis ikan papuyu, haruan, sapat, sanggiringan, puyau, walut. Maunjun walut.***
 

Kandangan, 20-11-2013

   

PURADAN SEHARGA Rp. 1 JUTA

SABTU, 30 NOVEMBER 2013

Puradan seharga Rp.1 juta. Karena puradan keluarga saya harus mengeluarkan duit Rp. 1 juta. Sementara baparbaik di rumah Pambakal Jamaludin Selasa (26/11/2013) malam sekitar pukul 21.00 WITA. Dihadiri kedua belah pihak. Saya dan ayah saya. Juga ada Ahyar, Fitrianor, Kani sebagai aparat desa. Juga Apul dan Madan dari pihak keluarga saya. Ifin sopir beserta isterinya.
    Ifit selaku Sekdes Angkinang Selatan lalu menghubungi menantu Ifin, selaku pemilik itik, yang berada di Kaltim melalui handphone. Kronologis kejadian disampaikan. Hingga minta ganti rugi Rp.2,5 juta. Setelah melewati argument panjang disetujui ganti rugi Rp.1,5 juta. Kami hanya bayar Rp.1 juta. Pambakal Jamal manalangi Rp.500 ribu. Kami bersalaman. Jalan damai ditempuh.
    Manghadapi masalah ini saya tak karuan rasa. Berawal dari ayah saya yang manaradak di Putat menggunakan satu sendok puradan untuk mengusir penyakit. Namun apa jadinya itik milik Zainal Arifin alias Ifin Sopir memakan taradak keluarga saya. Tentu saja itik tersebut keder. 32 ekor itik tewas di tempat. Ifin mengaku  yang  mati sekitar 70-an ekor.
    Sabtu (23/11/2013) sepulang sekolah di palatar rumah ada Pambakal Jamal, Kani selaku RT dan kedua orangtua saya. Ada apa ? Hati saya menjadi tak nyaman. Lepas pakaian saya buka pintu. Ternyata ayah saya tersandung masalah. Ifin Sopir minta ganti rugi atas kematian itiknya. Bila tidak mengganti akan dilaporkan ke polisi. Sempat-sempatnya Ifin mengancam kalau tidak polisi yang menanganinya TNI. Karena Ifin punya hubungan anggota TNI yakni anak dan menantunya adalah anggota TNI.
    Mengetahui hal itu, karena panik dan belum pernah tersandung masalah seperti ini, saya datang langsung didampingi Pambakal Jamal, ke rumah Ifin. Ifin pertama kali minta ganti rugi Rp.3,5 juta. Tentu orangtua saya keberatan. Lalu minta diturunkan. Minta Rp.2 juta. Tapi tetap keras. Lalu keputusan Rp.2,5 juta dengan tenggat satu minggu.
    Saya kalang kabut. Setelah dari rumah Ifin saya terus tancap gas ke Kandangan. Cari hutangan. Mencari Aliman, Sirajudin, dll. Tapi mereka tak ada. Lalu mendatangi ibu Hj. Fahriani di Pandai. Beliau mau mengutangi tapi hari Senin (25/11/2013).
    Minggu (24/11/2013). Kejadian ini menyebar ke warga kampung tempat saya tinggal. Rata-rata pro ayah saya. Beragam komentar dan saran mengemuka. Pada intinya tidak setuju Rp.2,5 juta. Kalau bisa tak usah dibayar biar berurusan dengan polisi saja. Bimbang dan ragu menyelinap. Perasaan tidak karuan menyeruak.
    Senin (25/11/2013). Saya tidak turun ke sekolahan. Malu dengan masalah ini. Ahyar dan H Suriani datang ke rumah. “Baik mambari’I aku daripada mambari Ifin,” ujar H Suriani memprovokasi.
    Selasa (25/11/2013). Masalah kian rumit. Saya tinggalkan rumah. Ke Kandangan shalat Dzuhur di masjid Istiqamah. Shalat Ashar di masjid Nurul Falah Rantau. Lalu shalat Maghrib dan Isya di masjid Riadusshalihin Barabai.
    Puradan bahan kimia berbentuk butiran kecil. Dalam dunia pertanian yang saya ketahui puradan digunakan untuk mengusir binatang pengganggu tanaman. Agar bisa tumbuh sempurna.
    Hikmah kejadian  ini saya lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Banyak baca shalawat, ayat kursi, Al Qur’an, dsb. Ingin selalu pergi dari rumah.
    Senin (25/11/2013) malam usai shalat Isya bawa uang untuk disampaikan ke Pambakal Jamal. Tapi Ifin Sopir ditelepon tidak datang-datang. Kami pulang. Keesokan harinya Ahyar bilang luput pulang.***
Kandangan, 28-11-2013

KARYA NOR ADIYATI ( KELAS VII C MTsN ANGKINANG )

SABTU, 30 NOVEMBER 2013
    
Wahai dusta darimu aku belajar untuk berkata jujur
Duhai khianat darimu aku belajar untuk menjadi setia
Duhai lemah darimu aku belajar menjadi kuat
Duhai takut darimu aku belajar untuk menjadi berani
Duhai salah darimu aku belajar untuk menjadi benar
Duhai amarah darimu aku belajar menjadi sabar
Duhai airmata darimu aku belajar untuk tertawa
Karena kau segalanya bagiku

Karya : Nor Adiyati (Kelas VII C MTsN Angkinang)

POHON KEHIDUPAN

SABTU, 30 NOVEMBER 2013


KARYA AHMAD HERIYANDI (KELAS VII A MTsN ANGKINANG)

SABTU, 30 NOVEMBER 2013


MELINTAS DI KALUMPANG

SABTU, 30 NOVEMBER 2013




Senin, 25 November 2013

MENGENAL A. THABRANY ADZANYS

SELASA, 26 NOVEMBER 2013

A.Thabrany Adzanys lahir di Kandangan. Terakhir bekerja sebagai wartawan di Jakarta.Dalam kiprah keseniannya, Adzanys juga beregelut di dunia teater, menjadi pimpinan komunitas Pendawa Lima. Tahun 1960, bersama D. Zauhidie dan Salehuddin, merupakan utusan Kabupaten Hulu Sungai Selatan ke Kongres Pemuda di Bandung. Menulis sejak tahun 1950-an. Publikasi karyanya lebih banyak di SKH Abadi (Jakarta). Meninggal dunia di Jakarta.***

LEBIH DEKAT DENGAN IWAN YUSI

SELASA, 26 NOVEMBER 2013

Iwan Yusi lahir di Kandangan, 2 Desember 1960. Pendidikan D3 Jurusan Bahasa Indonesia. Bekerja sebagai guru di SMPN 5 Kandangan.

            Mulai menulis tahun 1979, namun baru mempublikasikan karyanya tahun 1981. Publikasi karyanya, antara lain di SKH Banjarmasin Post. Iwan sering memenangkan sayembara penulisan yang diselenggarakan Depdikbud dan LIPI.

            Antologi sajaknya adalah Kakamban Habang (1983) dan Gelang-Gelang Merjan (1984). Antologi bersama yang memuat sajaknya, antara lain Palangsaran (Posko La Bastari, Kandangan, 1982) dan Jendela Tanah Air (DKD Kalsel, 1995).

            Bukunya yang telah terbit, antara lain, Misteri Padang Galam (Balai Pustaka, Jakarta). Anak-Anak Balai (Mitra Gama Widya, Jogjakarta, 1996). Mungkur Kambing (Mitra Gama Widya, Jogjakarta). Cerita Rakyat Kalimantan Selatan 2 (Grasindo, Jakarta, 1997, bersama Djarani EM dan Burhanuddin Soebely).***

REFLEKSI 34

SELASA, 26 NOVEMBER 2013

Refleksi 34 tahun Akhmad Husaini. Mengapa dan bagaimana saya menulis ? Terkenal di dunia maya, terasing di kampung sendiri. Awal menggeluti dunia menulis. Karya perdana. Setelah karya pertama dimuat. Gairah menulis. Menulis kini. Perjuangan dalam menulis. Tanggapan masyarakat terhadap bakatku. Pendiam itu emas. Sang inspirator. Jalan-jalan asyik. Berkenalan dengan media social. Impian yang belum terkabulkan. Suka duka menggeluti dunia tulis-menulis. Menebar virus menulis. Pencetus ide. Menyukai korespondensi.***

MENGENAL ZAFURY ZUMRI

SELASA, 26 NOVEMBER 2013

Lahir di Jambu Hilir, Kandangan, 14 Juli 1922. Pendidikan Fakultas Dakwah IAIN Antasari Banjarmasin. Menjadi dosen di almamaternya itu. Tahun 1958, menjadi anggota DPRD Tingkat I Kalimantan Selatan. Tahun 1971-1977, menjadi Wakil Ketua DPRD Tingkat I Kalimantan Selatan. Terpilih lagi di tahun 1977, lalu mengundurkan diri tahun 1980.

            Tahun 1959, menjadi anggota BPD (Badan Pemerintah Daerah) Kalimantan Selatan. Tahun 1960, menjadi anggota BPH (Badan Pemerintah Harian) Kalsel. Tahun 1974, sempat dicalonkan sebagai Gubernur Kalsel.

            Menulis karya sastra sejak tahun 1940-an. Publikasi karya antara lain di SKH Merdeka (Jakarta), SKH Pikiran Rakyat (Bandung), majalah Terang Bulan (Surabaya), majalah Siasat (Jakarta), majalah Pedoman (Jakarta).

            Zafury Zumri meninggal di Banjarmasin, 28 September 1987.***

LEBIH DEKAT DENGAN ZULKIPLI MUSABA

SELASA, 26 NOVEMBER 2013

Zulkipli Musaba lahir di Nagara, HSS, 13 Desember 1959. Bermukim di Banjarmasin. Pendidikan Sarjana FKIP Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, dan Program Pascasarjana IKIP Malang.

            Bekerja sebagai dosen FKIP Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin, dan Kepala  Balai Bahasa Banjarmasin di Banjarbaru. Ia juga mengajar pada STKIP PGRI, IAIN Antasari (1989-2002), dan Ketua Majelis Kader Pimpinan Muhammadiyah Kalsel. Sampai sekarang ia masih belajar khusus dengan pola kaji duduk mengenai keislaman.

            Mulai menulis sejak tahun 1980-an. Publikasi karyanya antara lain di SKH Banjarmasin Post dan Dinamika Berita (Banjarmasin). Antologi bersama yang memuat sajaknya adalah Jendela Tanah Air (DKD Kalsel, 1995), dan Perjuangan, Perdamaian, dan Cinta (Balai Bahasa Banjarmasin, Banjarbaru, 2003). Bukunya yang telah diterbitkan adalah terampil Menulis dengan Bahasa Indonesia yang Benar (Sarjana Indonesia, 1994).***

MENGENAL ZAFRY ZAMZAM

SELASA, 26 NOVEMBER 2013

Lahir di Sirih, Kandangan, 15 September 1918. Pendidikan Vervlog School di Kandangan, Cursus Volk School (CVO) Kandangan. Pekerjaan terakhir sebagai Kepala Jawatan Penerangan Provinsi Kalimantan Selatan.

            Aktif dipergerakan nasional dan pers perjuangan. Tahun 1937, diangkat sebagai guru di Alabio. Disini ia menerbitkan majalah Bingkisan. Tahun 1938, tulisan-tulisannya yang tajam menyerang pemerintah Belanda, dan aktivitasnya mengajarkan lagu Indonesia raya pada murid-muridnya, membuatnya dipanggil penguasa Belanda. Zafry diultimatum untuk meneruskan kegiatannya atau diberhentikan dari pegawai negeri. Zafry akhirnya minta berhenti dan kembali ke Kandangan.

            Di Kandangan, aktivitasnya berlanjut. Minggu ketiga Agustus 1945, Zafry bersama Muhammad Arsyad dan Hamli Carang mempertanyakan perkembangan perang pasifik kepada Ken Kanrikan (Bupati) Kandangan. Penguasa tertinggi Jepang di Kandangan itu sambil terisak mengatakan bahwa Jepang telah menyerah kepada sekutu pada tanggal 15 Agustus 1945. September 1945, saat pelaksanaan Pasar Malam Kemerdekaan di alun-alun Kandangan, Zafry terlihat berlari-lari keliling lapangan sambil mengibar-ngibarkan bendera merah putih. Oktober 1945, ditangkap Belanda. Dua minggu lamanya Zafry menjadi tahanan di Belitung, Banjarmasin.

            17 Agustus 1946, menerbitkan majalah Republik. Ditahun itu pula ia kembali ditangkap dan dibawa ke Banjarmasin. Tahun 1948, diangkat sebagai anggota Komite Nasional Indonesia (KNI) Kalimantan Selatan, dan menghadiri persidangan KNIP di Gedung Concordia Malang. Ditahun itu majalah Republik dibredel Asisten Residen Hoogerber. Zafry Zamzam, untuk ketiga kalinya ditangkap, ditahan di Banjarmasin selama 3 bulan.

            Tahun 1948, dibentuk Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kring Banjarmasin. Zafry Zamzam merupakan ketuanya. Tahun 1950, ia mengundurkan diri karena diangkat sebagai pegawai negeri, menjabat sebagai Kepala Jawatan Penerangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan berkedudukan di Kandangan. Tahun 1951, menjadi anggota DPRD HSS. Zafry turut mendirikan IAIN Antasari Banjarmasin, dan pernah menjabat sebagai rektor.

            Menulis sejak tahun 1938. Publikasi karyanya, antara lain pada majalah Bingkisan (Alabio), majalah Purnama Raya (Kandangan), Republik (Kandangan), majalah Intan Sari (Banjarmasin), SKH Kalimantan Berjuang ( Banjarmasin), SKH Banjarmasin Post.

            Buku yang telah diterbitkan  adalah Mencari Kepribadian Sendiri (1959), Pengantar Ilmu Dakwah dan Etika (1962), dan Syeikh Muhammad Arsyad Al Banjari (1974).

            Dalam menulis Zafry menggunakan berbagai nama samara, seperti Kelana, Zam, Jimjimi, Daldali, atau Isyah. Meninggal di Banjarbaru, 23 Desember 1972.***

MENGENAL M. MUCHTAR AS

SELASA, 26 NOVEMBER 2013

M. Muchtar AS lahir di Kandangan, 26 Juni 1941. Bekerja sebagai PNS dilingkungan Kantor Departemen Penerangan Provinsi Kalimantan Selatan, dengan jabatan terakhir Kepala Kantor Departemen Penerangan Kotamadya Banjarmasin.

            Aktif berkesenian terutama dibidang seni lukis, drama, sastra, dan deklamasi. 26 Mei 1963, mendirikan Sanggar Balahindang, sebuah komunitas pelukis di Kandangan, bersama Salehuddin, dkk. Selama masa itu, Muchtar rajin berpameran. Dari tangannya lahir lukisan-lukisan profil para sastrawan, seperti yang terlihat pada antologi puisi Banjarbaru Kotaku (1974), dan Bunga Api (1994).

            Dibidang drama, Muchtar sering pula berpentas. Bersama kelompok PGSLP asuhan Anwary Fauzi, Muchtar pernah memerankan tokoh Bonio dalam drama Barabah (karya Motinggo Boesye).

            Menulis puisi, bagi Muchtar, merupakan katarsis tersendiri. Sajak-sajaknya tidak dipublikasikan, tetapi beredar dilingkungan terbatas, diantara teman-temannya. Antologi puisi bersama yang sempat memuat puisinya adalah Bunga Api (Deppen Prov Kalsel, 1994). Meninggal di Banjarmasin, 20 Agustus 1997. Dimakamkan di Kandangan, 21 Agustus 1997.***

HAMSAD RANGKUTI

SELASA, 26 NOVEMBER 2013

Melamun adalah titik awal penulis senior Hamsad Rangkuti menelorkan karya-karyanya. “ Saya adalah seorang pelamun yang parah,” katanya dalam Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang. Sejak kecil, ia suka duduk berjam-jam diatas pohon dan membiarkan pikirannya mengembara tanpa kendali. Ia merasa menikmati aktivitas tersebut.
            Hamsad Rangkuti mulai merasa tergugah untuk menulis ketika membaca cerpen-cerpen yang dimuat di Koran-koran Minggu di Medan, seperti karya Bokor Hutasuhut, Partahi H Sirait, Ananta Pinola, dan SM Taufiq. Dari mereka lah Hamsad mengetahui karya-karya yang baik, yang menurut Hamsad, diukur dari bagaimana cerpen tersebut mampu  mengganggu batin, bahkan sampai berminggu-minggu. Ia pun lantas ingin  menghasilkan karya tulis yang mampu mengganggu ketenangan orang lain. Cerita pendek pertamanya Nyanyian Rambung Tua muncul dari lamunan ketika melihat seorang buruh penderas getah di hutan rambung.
            Pada 1975, Hamsad mengikuti pelatihan menulis dan menyadari pentingnya teknik untuk ilmu penulisan. Bagi Hamsad, mengarang pada dasarnya adalah berpikir. Menimbang-nimbang komposisi, menyeleksi informasi, membangun unsur dramatik, dan memasukkan unsure keindahan. Bukan sekadar berhanyut denga kata0kata. Pengetahuan tentang kata menurut Hamsad  menjadi semacam juru selamat bagi profesi kepengarangannya.***

LEBIH DEKAT DENGAN MIZIANSYAH J

SELASA, 26 NOVEMBER 2013

Miziansyah J Lahir di Tanah Bangkang, Kandangan, 2 Juni 1957. Pendidikan PGAN Kandangan. Tahun 1980, sempat menjadi guru honorer di SD PT Hutan Kintap. Terkena PHK ditahun 1981, lalu meneruskan pendidikan di Universitas Islam Kalimantan (Uniska) Banjarmasin, namun terhenti ditengah jalan. Tahun 1982, kembali ke Kandangan, bergabung dengan komunitas Posko La Bastari. Tahun 1984, menjadi TKS Butsi Di Desa Bayur, Samarinda Ilir, Kaltim, kemudian menjadi guru agama SMTP di Tenggarong.
            Menulis sejak tahun 1972, tetapi baru mempublikasikan karyanya tahun 1980. Karyanya tersebar diberbagai media, antara lain Banjarmasin Post, Media Masyarakat (Banjarmasin), Utama (Banjarmasin), Dinamika (Banjarmasin), Merdeka (Jakarta), Pelita (Jakarta), dan RRI Nusantara III Banjarmasin.

            Antologi puisi yang sudah diterbitkan adalah Tanah yang Terbatas (HPMB, Banjarmasin, 1982) dan Rumah Kecil (1984). Antologi puisi bersama yang memuat puisinya antara lain Dahaga-B.Post 1981 (Biro Informasi Sastra Banjarmasin, 1982), dan Palangsaran (Posko La Bastari, Kandangan, 1982). Miziansyah merupakan salah satu peserta Forum Penyair Muda 8 Kota di Banjarmasin tahun 1982.***

MENGENAL SALIM FACHRY

SELASA, 26 NOVEMBER 2013

Salim Fachry ahir di Kandangan, 3 Juni 1947. Pendidikan Sekolah Teknik Pertama (1956). Bekerja sebagai PNS di lingkungan Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Mulai menulis sejak tahun 1950-an. Karyanya dipublikasikan di berbagai media terbitan Jakarta, Medan, dan Banjarmasin, antara lain majalah Mimbar Indonesia, Sadar, Warta Dunia, Horison, Konfrontasi, Indonesia, Teruna, Waktu, Minggu Pelangi, Gema Islam, Panji Mas, Suara Muhammadiyah, Banjarmasin Post, Bandarmasih.
            Dalam kiprah berkeseniannya, Salim juga merupakan seorang dramawan, tergabung pada komunitas Pendawa Lima pimpinan D. Zauhidie. Beberapa naskah drama yang pernah dimainkannya adalah Tangkai Lilin (Victor Hugo), Talanjur Purun (D. Zauhidie), Bulan Berdarah (Masroen Effendi AB), Tuan Kontolor (D. Zauhidie).

            Salah satu naskah drama yang ditulisnya berjudul Bila Hatiku Sembuh, dipentaskan Burhanuddin Soebely dan kawan-kawan pada Temu Teater Tiga Kota di Barabai (1974). Salim adalah deklamator yang handal, nyaris mendominasi setiap lomba deklamasi di Kandangan. Ia juga menjadi pemenang I Lomba Deklamasi pada Pekan Pemuda Kalimantan Selatan di Barabai , tahun 1959.

            Antologi bersama yang memuat sajaknya antara lain Perkenalan Dalam Sajak (CV Himmah, Banjarmasin, 1963), Bandarmasih Edisi Puisi (DKD Kalsel, 1974), Dahaga-B.Post 1981 (dihimpun oleh Tajuddin Noor Ganie, 1982)***

LEBIH DEKAT DENGAN ALIMAN SYAHRANI

SELASA, 26 NOVEMBER 2013

Aliman Syahrani lahir di Datar Belimbing, sebuah kampung di hunjur kaki Gunung Kantawan, HSS, 30 Desember 1976. Pendidikan Madrasah Aliyah Darul Ulum Kandangan. Bekerja sebagai instruktur computer di Duta Setia Computer Kandangan. Pemilik Kandangan Fitness Centre (KFC). Aktif pada sejumlah organisasi keislaman dan kepemudaan di HSS dan Kalimantan Selatan. Antara lain di Al Mizan Islamic Centre (Al Mic) Kandangan. Angkatan Muda Islam Indonesia (AMII) cabang HSS. Repermesta (Remaja Perpustakaan Masjid Taqwa) Kandangan. Pengurus Cabang Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) dari PPS Betako Merpati Putih Kandangan. Pengurus Daerah Pelajar Islam Indonesia (PII), pernah menjabat sebagai Ketua Umum periode 2001-2002. Pengurus wilayah PII Kalsel (sebagai litbang Ta’lim dan Ta’dib). Koordinator Sosial Budaya pada MPC Poros  Indonesia HSS. Kabid Pengembangan Seni Budaya (PSB) PD Ikatan Remaja Muhammadiyah (IRM) HSS. Anggota FLP (Forum Lingkar Pena) Banjarmasin. Sekretaris II KNPI HSS.
            Selain itu ia juga melakukan serangkaian ziarah panjang dalam pengembaraan intelektualnya ke sejumlah kota di Tanah Air : Banjarmasin, Surabaya, Solo, Jogjakarta, Jakarta, Lampung, Palembang, Makassar, Balikpapan, serta kota-kota lainnya.

            Mulai menulis sejak menjalani pendidikan di SLTPN Loksado (1991). Publikasi karyanya, antara lain di Jendela Serawak (Malaysia), Album Cerpen Anggi (Surabaya), SKH Dinamika Berita (sekarang menjadi Kalimantan Post), SKH Banjarmasin Post, SKH Metro Banjar, SKH Borneo Post, SKH Barito Post, SKH Radar Banjarmasin, KMD Kompost, Serambi Ummah, Mingguan Banua Kita, Tabloid wanyi, Tabloid Gerbang, Buletin Ashabul Kahfi.

            Forum seni yang pernah diikutinya antara lain adalah Temu Sastra Sastrawan Kalimantan Selatan 1998 di Banjarmasin. Penyuluhan dan Penyebaran Informasi (penulisan cerpen dan pembahasannnya) se Kalimantan Selatan tahun 2000 di Banjarmasin. Dialog Borneo VII di Swiss Bell Hotel Banjarmasin tahun 2003. Aruh Sastra Kalimantan Selatan (ASKS) I hingga sekarang.

            Bukunya yang telah terbit, antara lain Misteri Terbunuhnya Seorang Hakim (novel detektif) terdiri dari dua buku, Misteri Pesan Orang Mati, Detektif Kocak vs Penjahat Romantis (kumpulan cerpen detektif). Catatan yang Tersisa, Lingkar-Lingkar Retak (novel), Senja Kala, Suci (kumpulan cerpen), Nyanyian Sepi, Shiluet Senja, Sajak Lampu dan Stanza (antologi puisi).

            Juga karya lainnya Palas (novel), Menangkis Jampi-Jampi Agama, Memaknai Kembali Ritus, Ajaran dan Seremoni Agama (esai keislaman).***

MENGENAL AAN MAULANA BANDARA

SELASA, 26 NOVEMBER 2013

Aan Maulana Bandara lahir di Kandangan, 8 Maret 1969. Pendidikan Sarjana Fakultas Tarbiyah IAIN Antasari, Banjarmasin. Bekerja sebagai guru agama dan jurnalis. Mulai menulis sejak tahun 1990. Publikasi karyanya, antara lain di SKH Banjarmasin Post dan SKH Dinamika Berita (Banjarmasin).***

MENGENAL FAJAR GEMILANG

SELASA, 26 NOVEMBER 2013

Fajar Gemilang lahir di Kandangan, 26 November 1960. Putera dari D. Zauhidie. Pendidikan S2 Universitas Gajah Mada, Jogjakarta. Pernah bekerja di SKH Banjarmasin Post, kemudian bekerja di lingkungan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan. Menulis sejak tahun 1985. Publikasi karyanya antara lain di SKH Banjarmasin Post. Antologi bersama yang memuat sajaknya adalah Tenunan Hari Esok (BKKBN Provinsi Kalsel, 1983) dan Festival Puisi Kalimantan (HIPSI Kalsel, Banjarmasin, 1992).***

MENGENAL MUHAMMAD GAFURI ARSYAD

SELASA, 26 NOVEMBER 2013

Muhammad Gafuri Arsyad lahir di Kandangan, tahun 1937. Pernah bekerja dilingkungan Kantor Jawatan Kebudayaan Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Kemudian pindah dan bermukim di Banjarmasin. Menulis sejak tahun 1950-an. Karyanya tersebar diberbagai penerbitan daerah dan pada Untaian Mutiara RRI Nusantara III Banjarmasin. Gafuri juga dikenal sebagai seorang dramawan. Beberapa drama yang pernah disutradarai atau dimainkannya adalah Bilal (karya M. Yunan Helmi Nasution, 1967) dan Penggali Intan (karya Kirdjomulyo).***

KALUT

SELASA, 26 NOVEMBER 2013

Tak pernah menghadapi problem sebesar ini. Kalang kabut dan panik jadinya. Terbelit-belit. Ingin lekas kelar. Takut keluar rumah. Takut bertemu dengan orang banyak. Malu. Semoga Zainal Arifin (Ifin Sopir) -orangtua dari Zainuddin, teman waktu di MTsN Angkinang dulu, kini jadi anggota TNI- mau ringan hati. Menerima ganti rugi Rp.1 juta. Tidak mempermasalahkan lagi hingga ke polisi. Juga Pambakal Jamal bijaksana mengatasi masalah ini. Lalu warga mau mengerti atas kejadian ini. Saya ingin cepat selesai. Tidak menjadi beban pikiran. Semoga ada jalan terbaik masing-masing tidak ada yang dirugikan. Puyeng memang. Dibalik kesulitan ini Insya Allah ada kemudahan yang diberikan. Siapa lagi yang bisa membantu ayah saya.***



Sabtu, 23 November 2013

HANTU DI TANAH BORNEO

MINGGU, 24 NOVEMBER 2013



1. Kuntilanak (Pontianak)

Kuntilanak atau Pontianak merupakan jenis hantu yang sangat umum diketahui oleh penduduk Kalimantan Barat bahkan oleh semua warga Indonesia.

Hantu Pontianak sering digambarkan sebagai wujud wanitacantik yang berambut sangat panjang dan berbaju putih.

Suara tertawanya seram dan kebanyakan meringkih.Lokasi diduga sering ditemukan : kuburan, pohon, rumah tua dan hutan.


kisah misteri 



2. Hantu jaring (hantu hujan panas)
Hantu ini muncul pada saat hujan panas. Diyakini oleh orang Kalimantan Barat sering menggangu anak kecil denga menyembunyikannya.
Untuk menangkalnya biasanya dengan menyisipkan daun atau rumput di daun telinga.
Lokasi diduga sering ditemukan : belakang rumah, sawah dan lapangan.


kisah misteri


3. Jembalang tanah
Hantu yang berada di hutan-hutan.
Diyakini sering mengganggu pejalan kaki dan mengakibatkan kaki korban bengkak tidak bisa berjalan.
Lokasi diduga sering ditemukan : hutan dan lapangan.


kisah misteri


4. Hantu Penanggal

Hantu ini berwujud kepala yang dilengkapi dengan organ dari leher sampai perut tetapi tanpa badan (hanya organnya saja).

Cara bergeraknya dengan terbang menggunakan telinganya yang lebar.

Sering mengganggu hewan atau manusia yang akan melahirkan serta diyakini biasanya memakan telur ayam peliharaan penduduk.

Menurut cerita, hantu leak memiliki badan seperti manusia dan pada

saat akan mengganggu penduduk, kepalanya beserta organ dalamnya keluar dari tubuh.


Untuk membunuhnya dapat menggunakan daun jeruju atau duri dan dimasukkan ke dalam rongga tubuh yang ditinggalkan tadi.

Ada juga yang mengatakan dapat dibunuh dengan memutar posisi badan yang ditinggalkannya.

Lokasi diduga sering ditemukan : kandang ayam, rumah bersalin dan rumah penduduk yang akan melahirkan.


kisah misteri



5. Bute

Hantu ini berwujud sapi dengan ukuran yang besar.

Dapat mengganggu manusia yang masuk ke hutan, tetapi biasanya mengganggu sapi ternak

penduduk yang dapat mengakibatkan kematian ternak dengan mukut yang berbuih.

Lokasi diduga sering ditemukan : hutan, kebun, lapangan, semak dan kandang sapi.


kisah misteri



6. Balai Seribu

Jenis hantu ini sering menggangu orang yang masuk ke hutan yang lebat.

Kedatangannya ditandai dengan angin kencang.

Tidak begitu jelas deskripsi atau wujudnya.

Diyakini dapat menyebabkan kematian.

Lokasi diduga sering ditemukan : hutan belantara.


kisah misteri



7. Hantu Kambe’

Hantu kambe’ merupakan jenis hantu yang berwujud setengah kambing (binatang) dan setengah manusia.

Ada yang menceritakan hantu ini memiliki badan manusia dengan rambut

yang panjang dan berkaki kambing (seperti faun dalam dongeng eropa)

tetapi ada juga yang meyakini hantu ini berwujud seperti kambing dengan surai yang panjang.

Hantu ini bertubuh kerdil dan biasanya mengganggu kambing.

Kehadirannya biasanya diikuti dengan suara kambing ribut yang diyakini

disebabkan hantu ini ikut menyusu pada induk kambing.

Lokasi diduga sering ditemukan : semak berlukar dan kandang kambing.


kisah misteri


8. Rabing

Rabing berwujud seperti tikar yang terdapat di dalam air.

Biasanya mendiami sungai-sungai yang angker dan sewaktu-waktu muncul kepermukaan.

Hantu ini dapat menggulung manusia yang berenang sehinga dapat kehilangan nyawa karena lemas.

Kadang-kadang juga digambarkan sebagai sosok makhluk seperti labi-labi.

Lokasi diduga sering ditemukan : sungai dan danau.



kisah misteri

KISAH LOKSADO

MINGGU, 24 NOVEMBER 2013


Dahulu Jaman Kerajaan Banjar ada beberapa Datu, yang tinggal daerah tarbalimbing,  mereka adalah sekumpulan orang orang sangat disegani dan sakti di daerah tersebut dan pada jaman Raja-Raja  saat itu mereka sering melakukan Perampokan. Karena kesaktiannya tidak ada yang bisa menangkap para Datu tersebut, akhirnya Raja Banjar berumanat siapa yang bisa mengalahkan Datu tersebut di beri hadiah, dan konon di daerah tersebut  ada yang bernama Datu Kilat yang menyanggupinya bisa mengalahkan mereka, akhirnya terjadilah perkelahian Datu Kilat dengan  Datu Maangat, Datu Mabamban dan Datu mambulu, akhirnya Para Datu tersebut dapat dikalahkan oleh datu Kilat, pada saat ditangkap dan diikat, tidak ada satu senjata, mandau yang melukai kulit Datu Maangat, Datu Mabamban dan Datu mambulu, akhirnya datu mambulu mengatakan bahwa mereka hanya bisa dibunuh dengan pisau yang dibawanya namun sebelum meninggal datu tersebut bersumpah bahwa "samuga sidin nini bahatara mandangarakan sumpahku anak cucuku dada ada nu jadi parampuk harus barada di pamarintahan amun ada nang jadi parampuk jadi paramuk sasakali" dan memang sulit dipercaya tapi sumpah tersebut sampai sekarang masih berlaku . 

Anak Datu Malamun beliau mengetahui orang tuanya mati melarikan diri kedaerah Sampanahan yg sekarang menjadi wilayah kab.Banjar dan beliau bertapa disana, dan entah kenapa akhir dari pertapaannya lalu beliau dipanggil oleh Raja pada saat itu dan diangkat menjadi Tumenggung kepala adat di daerah pegunungan Meratus, lalu beliau Datu  Malamun berangkat ke pahuluan sungai hamandit yakni Haratai yang sekarang terkenal dengan objek wisata air terjunnya. lalu beliau  memiliki 5 (lima) orang putra yang bernama Datu Raya, Datu Tuuk, Datu Bungsu dan 2 saudara lainnya yang tidk diketahui keberadaannya lalu merekalah  yang membentuk "balai" bernama" TARLIANG" dan pada saat itu temenggungya adalah Temenggung Malamun.

Pada waktu itu "Balai tarliang" menjadi pusat adat yang terkenal di hulu sungai Hamandit dikarenakan beliau yang menjadi tumenggung yang disegani oleh masyarakat adat waktu itu, sampai terdengar kemakmurannya ke kerajaan banjar, lalu pada saat itu Raja memerintahkan Laskar untuk meminta Upeti kepada masyarakat "balai" yang mendiami "TARLIANG" mendengar kabar tersebut masyarakat berbondong-bondong menyimpan hartanya yang menurut cerita mulut ke mulut emas sepanjang sumpitan banyaknya, sumpit  senjata khas dayak, piring melawin sepanjang ukuran manusia dewasa tingginya, gong dan sebagainya harta benda disimpan di tempat tersembunyi bernama "Liang Bandu" yang sampai sekarang masih diperdebatkan oleh masyarakat setempat keberadaannya.Pada saat itu Laskar akhirnya sampai ke "balai Tarliang" namun tidak memperoleh apapun, akhirnya mereka kembali pulang ke kerajaan Banjar.

Pada suatu waktu ada acara "aruh" yaitu pesta adat Dayak bersyukur atas hasil panennya yang melimpah, saat itu diramaikan dengan acara adat "Babansai" yakni menari yang diiringi musik Gendang, Sarunai, pada kala itu ada seorang wanita yang baru 3(tiga) hari melahirkan, saking mendengar indahnya suara Serunai yang dimainkan orang dari Sampanahan yang sekarang termasuk Kab.Banjar, akhirnya dia ikut menari dengan semangat, pada saat itu Datu ayah dari sidin Pangirak suaminya yang dikenal sangat berani pada saat itu marah, karena melihat istrinya menari tanpa ingat waktu, lalu memukul mulut pemain serunai tersebut sampai berdarah... akhirnya orang tersebut karena kalah lalu pulang ke daerah asalnya, karena sebuah dendam , lalu di taruhlah oleh orang tersebut yang bernama minyak "sampun" yakni minyak yang memiliki magis sangat kuat untuk membunuh setiap orang yang berada dikawasan yang ditaruh minyak tersebut, setelah di taruh minyak. 
 
Konon pada saat ditaruh minyak tersebut setiap sore menjelang malam di balai tersebut ada yang mati seketika menurut cerita hampir setengah orang yang ditinggal di balai tersebut mati, untuk itu kepala adat mengambil langkah musyawarah adat dan minta petunjuk ke nini batahara yakni kepercayaan orang dayak saat itu ada kekuatan dasyat diluar dirinya yang memberikan sebuah petunjuk, perlu diketahui kepercayaan yang dianut masyarakat dayak tersebut  adalah kaharingan hanya satu cara mengatasinya yaitu harus meninggalkan tempat tersebut dan mencari tempat baru untuk membangun balai, tapi ada sebagian masyarakat lain pergi membuat balai lainnya, seperti balai kacang parang, batang tarang dan sebagainya adapun tetua adat Datu Marimpin dan anak-anaknya'  yang bernama Sidin Butan yang dikenal Tumenggung Mardiah membangun Balai yang bernama " Palupuh " dan beliau Tumenggung Mardiah yang ikut dalam perjuangan kemerdekan mengalami dua kali dihukum jaman penjajahan belanda dan jaman penjajahan jepang beliau adalah kepala adat yang dekat dengan pemerintahan banjar pada saat itu, kepandaian beliau selaku ketua adat adalah pandai berdiplomasi dan sampai sampai ada orang belanda yang mau membawa ke neterland namun beliau menolak dengan alasan tidak bisa membaca, beliau selain kepala adat adalah pejuang, beliau memiliki 4 (empat) anak laki laki  bernama, sidin  Dumas, sidin Imin, sidin Ancir,  sidin Induk yang cikal bakal mendiami daerah bernama " pantai harapan".***

Dari Berbagai Sumber

LOMBA FUTSAL ANTAR PELAJAR SE - HULU SUNGAI SELATAN

MINGGU, 24 NOVEMBER 2013


Senin, 11 November 2013 sekolah tempat saya bekerja mendapat kiriman surat dari Diknas HSS yakni edaran pertandingan futsal se Kabupaten Hulu Sungai Selatan Tahun 2013. Ditandatangani oleh Kepala Dinasnya, Nordiansyah, S.Sos, MSi.

            Salam olahraga. Dalam rangka memeriahkan Hari Jadi Kabupaten Hulu Sungai Selatan ke 63 tahun 2013, Dinas Pendidikan akan mengadakan Lomba Futsal Pelajar Tingkat SD/SMP/SMA sederajat se Kabupaten HSS memperebutkan tropi bergilir dan tropi tetap Ketua Korpri Kabupaten HSS.

            Setiap sekolah dapat mengirimkan timnya minimal 1 (satu) tim yang berjumlah 8 orang. Biaya pendaftaran untuk tingkat SD dan SMP sederajat Rp.150.000,- per tim. Tingkat SMA sederajat Rp.200.000,- per tim. Pemenang Juara I, II, dan III akan mendapatkan tropi, piagam, dan hadiah dari sekretariat Korpri Kabupaten HSS.

            Pelaksanaan  pertandingan akan digelar pada saat libur semeseter ganjil, yakni pada bulan Desember 2012 s/d Januari 2014 di Lapangan Futsal Jalan Kamboja dan Lapangan  Futsal Gambah Dalam.

            Technicaal Meeting akan dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 26 Desember 2013 pukul 14.00 WITA di Aula Dinas Pendidikan Kabupaten HSS.

            Pendaftaran dibuka sejak pengumuman ini diedarkan sampai tanggal 26 Desember  2013 pada saat technical meeting. Tempat pendaftaran Bidang Bina Pemuda dan Olahraga, Dinas Pendidikan Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Contact Person Ida Nurulita, HP.081349432732.***

MENGENAL MASERI MATALI

MINGGU, 24 NOVEMBER 2013

Maseri Matali lahir di Kandangan, 15 Juni 1925. Pendidikan Vervlog School Kandangan. Sehari-hari Maseri merupakan pemilik sebuah toko buku di Pasar Kandangan. Tahun 1947, bersama SM Darul dan Masdan Rozhany, menerbitkan majalah Piala di Kandangan. Majalah sastra yang sempat mencapai oplah 500 eksemplar ini sayangnya tak berumur panjang.
            Ketika Chairil Anwar mempublikasikan sajak Datang Dara Hilang Dara, Maseri mengirim surat kepada HB Yassin, memperingatkan bahwa sajak itu merupakan terjemahan harfiah dari sajak A Song of the Sea karya penyair Cina, Hsu Chih Mo.
            Mulai menulis sajak sejak tahun 1938. Publikasi karyanya, antara lain pada majalah Purnama Raya, Kandangan. SK Borneo Shimbun, Kandangan. Majalah Piala, Kandangan. Majalah Terang Bulan, Surabaya. Majalah Pustaka Timur, Jogjakarta. Majalah Jantung Indonesia, Kandangan. Majalah Waktu, Medan. Majalah Mimbar Indonesia, Jakarta. Majalah Bhakti, Denpasar. Majalah Spektrum, Jakarta. Majalah Panca Raya, Jakarta. Majalah Suara Foni, Balikpapan. Majalah Menara Merdeka, Ternate. Majalah Konfrontasi, Jakarta.
            Tahun 1950-an, sebuah sajaknya berjudul Setitik Embun yang dimuat disebuah majalah Jakarta sebelum perang dunia II, dijadikan syair lagu oleh komponis Mochtar Embut dan menjadi lagu wajib jenis seriosa pada Pemilihan Bintang Radio Tingkat Nasional di Jakarta.
            Tahun 1949 sajaknya yang berjudul Tiada Perduli dideklamasikan di Radio Malaysia, bersama dengan sajak Kerawang-Bekasi Chairil Anwar.
            Maseri juga dibicarakan oleh HB Yassin dalam bukunya Tifa Penyair dan Daerahnya. Agaknya ia merupakan satu-satunya penyair Kalimantan Selatan yang mendapatkan kehormatan itu.
            Tahun 1969, 15 buah sajak Maseri dikumpulkan oleh D. Zauhidie dan kawan-kawan ke dalam sebuah antologi, Nyala. Antologi ini kemudian diterbitkan lagi oleh Posko La Bastari, Kandangan tahun 1980. Dalam menulis Maseri Matali menggunakan berbagai nama samara antara lain Mantan Murni, MN Amandit, Mayasari, Agy Karma, atau Syah Karma. Meninggal di Kandangan, 27 Desember 1968.***