Minggu, 27 Desember 2009

JURNAL HUSS 28

Senin, 28 Desember 2009

LOKSADO NAN EKSOTIS

KEELOKAN LOKSADO

Jika ingin merasakan segala kebaikan alam, datanglah ke Loksado, pemukiman masyarakat Dayak-Meratus di hulu Sungai Amandit, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan. Selain alamnya yang asri, di sana juga terdapat rumah panjang suku Dayak (Balai Malaris), air terjun Haratai, Danau Bangkau, Bukit Kantawan dan pemandian air panas Tanuhi.

Masih banyak lagi objek wisata yang dapat Anda kunjungi. Tapi aktivitas paling menantang adalah bamboo rafting atau orang setempat menyebutnya balanting paring. Yakinlah, adrenalin Anda akan terpacu di tengah Sungai Amandit yang deras dan berbatu-batu.

Pengalaman itulah yang saya rasakan pertengahan Juni 2009 ini saat ”mencicipi” keelokan Loksado. Bersama seorang sahabat bernama Hajriansyah, kami bermobil menuju Loksado. Sebelum sampai ke sana, malamnya kami sudah sampai di Kandangan, ibukota Kabupaten HSS setelah menempuh perjalanan 133 km dari Banjarmasin.

Dari Kandangan, Loksado sudah dekat. Kami menginap di rumah Pak Burhanuddin Soebly, sastrawan Kalsel yang juga menjabat Kepala Seksi Pariwisata dan Budaya HSS. Dia telah mengontak joki lanting serta mencarikan kami seorang pemandu yang sekaligus berfungsi sebagai sopir cadangan.

Sekitar pukul 8.00 WITA, setelah menyantap ketupat Kandangan yang terkenal itu, kami mulai melaju menempuh jalur Kandangan-Batulicin. Kami melewati Desa Karang Jawa, yang pada masa gerilya merupakan basis ALRI pimpinan pejuang Hasan Basri. Markasnya yang tua masih berdiri di tepi jalan.

Selepas desa bersejarah ini, jalan mulai menanjak dan berkelok-kelok, pertanda kami memasuki kawasan Pegunungan Meratus. Jalannya yang mulus, dengan hutan di kiri-kanan, membuat perjalanan 38 km itu sungguh tak membosankan. Kami sengaja membuka kaca mobil menikmati kesejukan alam Meratus.

Tak lebih dua jam, kami sampai di kawasan Loksado dengan berbelok ke kiri di sebuah simpang. (Jika lurus, itu arah ke Batulicin, pelabuhan laut terbesar di Kalsel). Loksado sebenarnya juga dipakai sebagai nama kecamatan yang terdiri atas beberapa desa seperti Malino, Tanuhi, Haratai dan Loksado sendiri yang terletak di jalan raya yang dibangun tahun 1990-an itu. Seturut Khadafi, sang pemandu, kami langsung menuju Loksado.

DI depan pasar Loksado yang terletak di tepi Sungai Amandit, perjalanan bermobil harus diakhiri. Di sana sudah menunggu Acun, sang joki lanting yang sudah dikontak Pak Burhanuddin sebelumnya. Kami berkenalan dan memanggilnya Julak (paman). Dia meminta kami segera bersiap. Saya mengganti celana panjang dengan celana pendek, membungkus ponsel, dompet, dan kamera dengan kantong kresek. Hajriansyah tetap bercelana panjang. Persiapannya memang tak seketat arung jeram berperahu karet, yang dilengkapi baju renang dan helm itu.

Sebagian barang kami biarkan di dalam mobil, yang kemudian diambil-alih Khadafi. Ternyata inilah fungsi penting sang pemandu: begitu kami start dari Desa Loksado mobil harus menunggu di Desa Tanuhi, tempat finish. Jarak kedua desa 12 km. Lewat darat cukup ditempuh setengah jam kurang, tapi lewat sungai 2,5 jam lebih! Jangan khawatir jika Anda tidak membawa kendaraan. Sebab dari Tanuhi, desa terdekat di gerbang kawasan, ada banyak ojek motor yang siap mengantar Anda ke tempat start di dermaga Loksado.

Apa yang disebut lanting paring tak lain rakit bambu; terbuat dari susunan batang bambu, diikat kuat, di tengahnya diberi tempat duduk. Biasanya, bagian ujung diikat meruncing menyerupai kepala kapal. Tapi lanting yang kami naiki sederhana saja, dan hanya terdiri atas 16 batang bambu. Julak Acun mengaku membuatnya agak tergesa sebab kabar dari Pak Burhanuddin baru diterimanya sore sebelumnya. Untuk diketahui, lanting yang dipakai dari Loksado, tak bisa lagi digunakan sebab tak mungkin membawanya balik menyongsong arus.

Arus Sungai Amandit memang tak alang-kepalang! Deras, liar, berbatu dan penuh jeram. Meski debit air mulai menyusut seiring datangnya musim kemarau, toh suasananya tetap menantang. Begitu melewati depan pasar Loksado, arus yang deras segera menyambut. Lanting yang tadi tenang segera bergermeretak seiring gemuruh air, membuat tubuh kami terbanting, susah-payah mencari keseimbangan. Sang Joki cekatan mengendalikan arah dengan sebatang galah bambu. Ia harus menghindari kepala lanting bertubrukan dengan batu jika tak ingin tersekat atau dipelintir arus. Untunglah Julak Acun sudah berpengalaman.

Perjalanan tak selamanya diseret arus, selalu ada bagian sungai yang tenang. Saking tenangnya, sang Joki harus mendorong lanting dengan galah panjangnya. Geraknya jadi lambat. Tapi saat tenang begitulah kami bisa menikmati alam. Saya mengeluarkan kamera dari bungkusnya. Kesempatan memotret alam yang sangat indah. Bukit-bukit berderet biru di kejauhan.

Di bukit terdekat terlihat ladang penduduk ditanami hortikultura seperti karet, kayu manis, kemiri, durian dan nangka. Juga palawija semacam jagung dan terong. Tak ketinggalan hutan bambu yang jarang ada di tempat lain. Bukit batu Kantawan yang seperti ditata secara manual, tegak elegan dengan latar pegunungan biru-kelabu.

Kepalang basah, saya terjun dari lanting. Gedebur! Bak pepatah, air yang tenang itu dalam, jadi kesempatan terjun bebas dan berenang-renang di sisi rakit yang pelan.

”Awas, ada buaya!” seru teman saya. Saya kaget. Julak Acun tertawa,”Sungai sini tak ada buayalah, kecuali di kuala dekat rawa.”
Teman saya itu hanya tersenyum kalem. Dia sengaja menggoda saya rupanya. Kami lalu berhenti di tepi sungai, beristirahat menikmati suasana lebih akrab, setidaknya suara burung terdengar lebih jelas. Pohon-pohon besar seperti bengkirai, tarab dan binjai, masih terlihat kokoh di tepi sungai, meski tak banyak. Saya ingin melihat pohon ulin alias kayu besi, tapi Julak Acun menggelengkan kepala. ”Sudah tak ada di sini,” katanya.

Kami pun melanjutkan perjalanan. Tak jarang kami bertemu peladang dan penangkap ikan. Ada juga sejumlah kampung yang sepi di tepi sungai, seperti Mandahin dan Ntarlagi. Yang disebut kampung ini tak lebih tiga atau lima rumah saja, dihubungkan jembatan gantung atau cukup pakai lanting. Sebelum finish, kami melewati tugu Proklamasi, tempat Hasan Basri mengumumkan kemerdekaan RI.

Setelah itu, kami mendarat dengan selamat di tepian Desa Tanuhi, tak jauh dari pemandian air panas. Di sana Khadafi telah menanti. Kami lalu masuk ke kompleks air panas, memesan makan-minum di kafetaria, untuk akhirnya berendam berlama-lama. O, eloknya Loksado yang penuh berkah!

Dari Tradisi Petani Bambu

Aktivitas wisata balanting paring atau bamboo rafting, bermula dari tradisi petani bambu di Loksado. Mereka biasa menjual bambu ke kota Kandangan dengan cara mengikatnya dalam bentuk rakit lalu dihanyutkan di Sungai Amandit. Satu rakit biasanya terdiri atas 50-70 batang bambu yang disusun bertumpuk. Tak jarang mereka membawa hasil bumi lainnya seperti kulit kayu manis, karet, atau durian. Mereka berangkat berkelompok dan memilih saat air tidak surut.

Tentu saja waktu tempuh Loksado-Kandangan lebih lama. Kalau lewat darat, perjalanan hanya memakan waktu sekitar dua jam, perjalanan mengarungi sungai membutuhkan waktu dua hari dua malam. Tak heran mereka pun menginap di jalan, di kampung-kampung terdekat di tepi sungai.

Seiring pertumbuhan fasilitas wisata seperti hotel, cottage, restoran, dan lapangan tenis di Loksado, jumlah wisatawan kian meningkat. Balanting paring pun lantas diminati sebagai salah satu atraksi wisata. Para petani atau pedagang bambu yang terlatih itu pun memiliki ”tambahan” profesi. Mereka ramai-ramai menjadi joki, dan bahkan menghimpun diri dalam sebuah organisasi resmi: Persatuan Joki Lanting.

Hasil menjadi joki pewisata yang melakukan balanting paring itu lumayan juga. Dalam sebulan, seorang joki bisa mengantar tiga atau lima trip wisatawan. Tarifnya Rp. 200.000 untuk rute pendek (Loksado-Tanuhi), waktu tempuh 2,5 jam; rute sedang Rp. 300.000 (Loksado-Muara Hatip), 3 jam waktu tempuh; dan sistem borongan untuk rute panjang Loksado-Kandangan, dua hari dua malam.
Namun rute panjang secara resmi hanya ada sekali setahun, yakni bulan Desember saat debit Sungai Amandit meningkat drastis. Secara kebetulan, Desember juga peringatan hari jadi Kabupaten Hulu Sungai Selatan.

Maka jadilah Dinas Pariwisata dan Budaya daerah ini menyelenggarakan event Festival Lanting. Lebih 50 lanting hias akan bertolak dari Loksado ke Kandangan, sambil mengarak pengantin balanting yang diiringi musik tradisional sepanjang sungai.

Acara utama festival tersebut adalah lomba balanting paring. Biasanya, ada tiga hal yang menjadi penilaian dalam lomba yang sangat menantang naluri petualangan seseorang. Yakni, bagaimana kemampuan peserta dalam menaklukkan derasnya jeram dari Loksado sampai ke Kota Kandangan, bagaimana kekompakan peserta dalam mengarungi jeram, dan bagaimana cara peserta menjaga lanting alias rakit mereka yang dihias hingga sampai garis finish yang ditentukan. Seru sekali.

Selain itu, mungkin karena kekhasannya, masyarakat Dayak di Loksado memiliki sebuah tarian bernama Balanting Paring yang terinspirasi dari aktivitas menghela bambu di sungai. Tarian itu biasanya dibawakan pada perayaan-perayaan masyarakat setempat. Yang pasti, tak keliru jika keelokan Loksado masuk daftar kunjungan Anda.


SASTRAWAN KANDANGAN

Penyair Kandangan ( HSS )
Rabu, 21 Januari 2009
Ahmad Husaini

Lahir di Angkinan, Kandangan , 18 Nov 1979. Mulai menulis sejak 1996 saat masih di MAN 2 Kandangan. Karyanya dimuat antara lain di BBC London siaran Bahasa Indonesia, Radio Australia, RRI Nusantara II Banjarmasin, SKM Media Masyarakat, Gawi Manuntung, Banjarmasin Post, Radar Banjarmasin, Buletin Beritahifi Jakarta, Tabloid Bola, Gerbang, Gaya Hidup Sehat. Kegiatan sastra pernah mengikuti diskusi Bulan Sastra Hijaz Yamani dalam pergaulan Sastra (2003), Aruh Sastra I Kalsel di Kandangan (2004), Workshop Penulisan Cerpen KCI V Indonesia di Banjarmasin (2007), Aruh Sastra IV Kalsel di Amuntai (2007), Aruh Sastra V Kalsel di Balangan (2008).


Lamunan Syahdu

Di hari yang indah kutulus mengadu
Saat ketumpulan berfilsafat di wilayah yang muram
Tetesan api penderitaan yang tak tentu
Bersimbah darah kedurjanaan
Antara lautan kesombongan
Dan sungai keangkuhan
Berlumur dengan tangisan pilu
Yang menantikan rembulan di batas lara
Dn lamunan syahdu yang tak kunjung sirna

Kandangan, 10 NOV 2008


Suatu Sore Di Sebuah Kafe

Datang melangkah melewati celah
Di antara bangunan tua
Terdengar hingar-bingar musik dansa
Ada sejuta tingkah mengeluh
Saat menatap langit yang mulai merajut
Tampak gerak-gerik lembut lalui pandangan itu
Dalam satu irama kegelisahan
Terdengar sumpah serapah yang bertaut
Ditemani aroma kenikmatan tabu
Langkah demi langkah
Merebak dalam cerita klasik yang resah
Seiring rasa kelu yang dalam
Berbenturan dengan sunyi di pelataran kelam

Kandangan, 18 Feb 2008



Aku Ingin

Malam ini benar-benar terus sunyi
Jalan hidup terasa terjal menghadang
Aku sudah bosan untuk berontak
Ingin pergi ke tempat yang sepadan
Tak lagi dalam lesakan ketidakpastian

Kandangan, 25 Mei 2004


Sejarah Langkah

Embun pagi datang membawa ratapan sayu
Saat asap-asap kehidupan mulai menerpa
Langkah kaki siap menuntas hati
Jangan abaikan jalan ini
Karena kita akan melewati
Dengan seribu senyuman
Atau berjuta kepiluan hati
Dengarkan rapat dunia
Biarkan tak seperti mereka
Namun kita di sini merasa damai sentosa

Kandangan, 10 Sep 2008


Melabuh Rindu

Melabuh rindu di dirimu adalah sebuah keharusan
Yang terpatri rapi dalam imaji diri
Haruskah kalah dalam bersaing
Yang tak ada desing
Berbaur dengan krharuan asmara bening

Kandangan, Okt 2007
Diposkan oleh Arsyad Indradi di 00:03 0 komentar
Minggu, 29 Juni 2008
Burhanuddin Soebly

Lahir di Kandangan, 12 Januari 1957. Menulis sejak 1979. Publikasi karyanya antara lain di media cetak : Banjarmasin Pot,Media Masyarakat, Berita Nasional (yogya),Pelita (Jakarta),Berita Buana (Jakarta),dan lain –lain.Antologi Puisinya : Palangsaran (1982),Patilarahan (1987) daqn Ritus Puisi (2000). Antologi bersama Puisi Indonesia 87 ( DKJ,TIM Jakarta 1987), dan Pertival PuisiXIII (PPIA-FASS, Surabaya, 1992 ). Tiga novelnya, Reportasi Rawa Dupa,Seloka Kunang-Kunang, dan Konser Kecemasan, merupakan Pemenang II Sayembara Penulisan Cerita Bersambung Majalah Femina Tahun 1997,1998, dan 2001. Novelnya yang lain antara lain :Biru Langit, Biru Hati ( B.Post,1979), Serenada Tnaha Bencana (B.Post,1991 dan lain – lain.Dia aktif di dunia teater. Bersama kelompok teaternya La Bastari, telah bergelar dan mengikuti Festival Pertunjukan Rakyat Tingkat Nasional,Festival Teater Anak ,di beberapa kota Indonesia. Pernah mengikuti Pesta Gendang Nusantara 6 di Malaka, Malaysia (2003). Banyak naskah teater yang ditulisnya antara lain : Parantunan (1983), Kembang Darah (1983, Roh Bukit Kehilangan Bukit (2000) dan Repoertoar Roh Bukit (2002 ).

Ziarahmalammelaka

“persiaran malam ini

jejakperistiwalama …”

Mei Lan memandu perjalanan

tapi Melaka Cuma kaca

dan dinding batu. Barangkali anak waktu

telah bergegas melepas susu ibu

dan myembunyikan jejak bapa

di mana Tuah ?

“jangan cakap pasal tu ..,” bisik

Mei Lan. Lampu-lampu muram

menjerat irama dansa.” Selagi berulit ni

di copeng telinga cakap sahaja gelora laut

setakat kapal belum karam dalam malam …”

cuma kaca

dan dinding batu. Bau rambut

membuat ruang susut. Dan sebentuki pualam

terpeta pada tilam

di mana Tuah ?

“Tun Tuah tu lagi bersama Putri Cina

mengayuh asmara di atas pusta … “

Mei Lan memandu perjalanan

peluh rinai

di rambut terurai. Selebihnya busa bir

meleleh perlahan di bibir cangkir

Melaka membunuh banua

Menguburbapa

Garden City

Malaka,2003. ( dari : La Ventre de Kandangan ).

Diposting oleh penyair Nusantara di 16:31

Diposkan oleh Arsyad Indradi di 06:53 1 komentar
Sabtu, 28 Juni 2008
Imraatul Jannah

Lahir di Kandangan, 2 Mei 1982. Masih meneruskan studinya di Pondok Pesantren Drussalam Martapura dan bergabung di Komunitas Kilang Sastra Batu Karaha Banjarbaru. Menulis puisi sejak tahun 1995,namun baru berani mempublikasikannya pada tahun 2000. Publikasi karyanya pada Untaian Mutiara Sekitar Ilmu dan Seni di RRI Nusantara III Banjarmasin, Banjarmasin Post, Radar Banjarmasin dan Tabloid Budaya Serambi Ummah Banjarmasin. Antologi puisinya antara lain Epilog Hari Ini (2002), Jika Cinta Telah Menyapa (2004), antologi bersama antara lain Potret Tiga Warna (2000), Narasi Matahari (2002), Notasi Kota 24 Jam (2003), Bulan Ditelan Kutu (2004) dan Bumi Menggerutu (2005).Dalam menulis sering menggunakan nama pena Annisa.

Bulan yang Kehilangan Wajahnya

bulan yang kehilangan wajahnya, menangis diam-diam.

menatap sendu wajahnya yang gemetar di hadapanku

cakrawala ini masih juga menimang cinta. tapi

pengembaraan ini seperti seteru yang menimpas janjiku

pelan-pelan

burung-burung telah lama menanggalkan sayapnya, satu

demi satu. mengurai rinduku yang terselip di tebing-

tebing batu, dan membikin penanggalan-penanggalan

di taman makam waktu

oh, adakah cinta seperti bayang-bayang

Yang tak tergapai ?

(25012005)

Diposkan oleh Arsyad Indradi di 19:05 0 komentar
Langgan: Entri (Atom)
Laptop Gratis

[Laptop Gratis]

* Kembali ke Halaman Utama

Get graphics at hostgif.com
Free Graphics @ hostGIF.com
Arsyad Indradi
Arsyad Indradi
Daftar Penyair Kandangan

* ▼ 2009 (1)
o ▼ Januari (1)
+ Ahmad Husaini

* ► 2008 (2)
o ► Juni (2)
+ Burhanuddin Soebly
+ Imraatul Jannah

Mengenai Saya
Foto Saya

Arsyad Indradi
Menyusun buku Antologi Puisi 142 Penyair Nusantara Menuju Bulan.

Lihat profil lengkapku

KISAH KABAYAN

Kabayan dan profesor duduk berhadapan
di kereta api yang membawa mereka
dari Bandung ke Jakarta. Mereka
belum
pernah bertemu sebelumnya, itulah
sebabnya sepanjang perjalanan mereka
tidak saling bercakap-cakap.
Untuk mengusir kebosanan, profesor
menawarkan sesuatu pada Kabayan,
“Hai Kabayan, bagaimana kalau kita
main tebak-tebakan?”
Kabayan diam saja sambil menatap
pemandangan di luar jendela kereta.
Hal ini membuat Profesor menjadi gusar.
Katanya, “Kabayan, ayo kita main
tebak-tebakan!
Aku akan mengajukan pertanyaan untuk
kau tebak. Kalau kau tak bisa
menjawabnya, kau harus membayarku
Rp.5.000, Tetapi kalau kau bisa
menjawabnya, aku bayar kau Rp. 50.000.
Kabayan mulai tertarik dengan tawaran
itu.
Profesor melanjutkan, “Kemudian, kau
ajukan pertanyaan padaku. Kalau
aku bisa menjawabnya, cukup kau bayar
aku Rp. 5.000. Tapi kalau aku tak
bisa menjawabnya, aku bayar kau Rp.
50.000, Bagaimana?”
Mata Kabayan berbinar-binar. Katanya,
“Baik kalau begitu. Sekarang
ajukan pertanyaanmu.”
“Ok,”sahut profesor dengan cepat.
“Pertanyaanku, berapa jarak yang
tepat antara bumi dan bulan?”
Kabayan tersenyum karena tak tahu apa
jawabannya. Ia langsung merogoh
sakunya dan menyerahkan Rp. 5.000,pada
profesor. Dengan gembira Profesor
menerima uang itu, “Nah, sekarang
giliranmu.”
Kabayan berpikir sejenak, lalu
bertanya, “Binatang apa yang sewaktu
mendaki gunung berkaki dua. Tapi
sewaktu turun gunung berkaki empat?”
Profesor lalu berpikir keras mencari
jawabannya. Ia melakukan
coret-coretan perhitungan dengan
kalkulatornya. Kemudian ia mengeluarkan laptop,
menghubungkannya dengan internet dan
melakukan pencarian di berbagai
situs ensiklopedi. Beberapa lama,
profesor itu mencoba. Akhirnya ia
menyerah.
Sambil bersungut-sungut ia memberi uang
Rp. 50.000 pada Kabayan yang
menerimanya dengan hati senang.
“Hai, tunggu dulu!” profesor itu
berteriak. “Aku tidak terima. Apa
jawaban atas pertanyaanmu tadi?”
Si Kabayan tersenyum pada profesor.
Dengan santai ia merogoh saku
celananya dan menyerahkan Rp.5.000,-
pada profesor.
Jangan menganggap orang lain tidak tahu
apa yang kita
ketahui, karena seringkali di balik
ketidaktahuannya mereka mengetahui apa
yang tidak kita ketahui.

SKETSA FILE 28

Senin, 28 Desember 2009

PESONA HULU SUNGAI SELATAN


Ketupat Kandangan

Kandangan merupakan kota transit bagi kendaraan Kota Banjarmasin yang akan menuju ke Kota Nagara atau sebaliknya. Kota kecil ini memiliki terminal yang cukup sibuk dan sebuah bangunan pasar tua dengan bentuk arsitektur yang mengesankan peninggalan era kolonial. Jika anda singgah di kota ini, cobalah makanan khas Kabupaten Kandangan yang lezat yaitu Ketupat yang dimakan dengan Gulai Ikan Haruan.

Apabila kita melangkahkan kaki ke daerah Kandangan Kab. Hulu Sungai Selatan (HSS), di setiap warung makanan nyaris semuanya menyediakan menu yang namanya Ketupat Kandangan.

obyek wisata kandangan
Ketupat Kandangan

Parincahan adalah satu daerah yang bisa dikatakan sentralnya ketupat kandangan yang terkenal sejak era 1980 an sampai sekarang. Di ruas Jalan A Yani, tepatnya mulai Simpang Lima sampai arah menuju luar kota menuju Kota Barabai, Hulu Sungai Tengah (HST) kita akan menemui deretan warung Ketupat.

Ketupat kandangan disediakan dengan gulai santan dan ikan haruan (gabus) yang dipanggang menggunakan arang kayu. Gulai ikan ini juga disajikan dengan cara khas daerah Kandangan. Ikan tidak langsung dicampur dengan kuah gulai, tetapi dibikin terpisah. Setelah dipanggang dalam tusukan sate, barulah haruan (gabus) ini dicelup dalam kuah gulai Lalu disajikan bersama potongan-potongan ketupat.

Ikan haruan atau gabus (Ophiocephalus striatus atau Channa striatus) adalah jenis ikan yang banyak hidup di rawa-rawa, bahkan di genangan-genangan air yang masam di Kalimantan Selatan. Dapat dikatakan ikan haruan adalah makanan rakyat Banjar yang umumnya disantap bersama ketupat kandangan. Inilah makanan yang menduduki nilai penting dalam hidangan makanan khas Kalsel. Bahkan untuk ikan haruan berapa pun harganya di pasaran akan dibeli warga demi melengkapi hidangan makanan khas, terutama untuk hidangan ketupat kandangan.


Nagara
Nagara merupakan kota kecil yang ditempati Sungai Nagara (cabang Sungai Barito) dan sering meluap. Karena itu, rumah penduduk di tenpat ini umumnya adalah rumah yang dibangun di atas tiang-tiang tinggi. Pada saat musim hujan, hampir seluruh bagian kota tertutupair kecuali jalan yang sengaja dibuat tinggi, namun pada puncak musim hujan, permukaan jalan juga tertutup air sehingga Nagara berubah menjadi semacam “Kota Air”.

Menurut catatan sejarah, Nagara yang terletak tidak jauh dari kota Kandangan, merupakan ibukota dari kerajaan pertama di Kalimantan Selatan bernama Nagara Dipa sebelum dipindahkan oleh Pangeran Samudera ke Bandarmasih yang kemudian berkembang menjadi Kota Banjarmasin saat ini. Nagara juga menjadi pusat kerajinan senjata tajam seperti pedang, golok dan keris. Para pengrajin ditempat ini mampu menghasilkan berbagai jenis senjata tajam seperti Mandau dengan bentuk yang indah dilengkapi dengan sarungnya.

Mandau adalah pedang tradisional suku Dayak yang dibuat di Desa Hadirau dan Tumbukan Banyu. Pembuatannya memnggunakan peralatan sederhana dan diselesaikan sekelompok pengrajin dan Mandau hanya di buat untuk hiasan. Tapi adapula Mandau yang khas dibuat sendiri oleh ahlinya dan pedang ini dipercayai memiliki kekuatan magis yang diisi melalui upacara ritual.

Pembuatan gerabah terletak di Desa Bayanan tidak jauh dari Pasar Nagara, pengunjung bisa menyaksikan setiap tahapan pembuatan dengan peralatan sederhana atau bahkan pengunjung bisa memcoba ikut untuk pembuatannya. Pengrajin biasanya membuat bermacam-macam bentuk Tembikar dan yang terkenal adalah Dapur Nagara atau Anglo.


Loksado
Loksado berada 60 km dari kota Kandangan, ibukota kabupatan Hulu Sungai Selatan (HSS) atau 195 km dari Banjarmasin.

arung jeram loksado
Arung jeram Loksado

Loksado merupakan magnet yang menjadi primadona wisata alam (petualangan) paling laris dijual ke wisatawan mancanegara.

Objek wisata alam Loksado tak hanya menarik dari segi kesejukan alam, air terjun bertingkat dan pemandinan air panas di desa Tanuhi.

Pernak-pernik kekayaan budayanya menjadi sumber inspirasi bagi peneliti budaya dan tumbuh-tumbuhan. Ada 43 Balai (rumah adat) tersebar di 9 desa kecamatan Loksado. Yang paling besar adalah Balai Malaris, Balai Haratai, dan Balai Padang.

Satu hal yang paling berkesan di mata turis baik wisman maupun wisatawan domestik adalah setelah sekian jam trekking (jalan kaki melintas hutan) kemudian ditutup dengan wisata arung jeram menggunakan lanting (rakit bambu). Pengalaman berarung jeram dengan lanting (bamboo rafting) meninggalkan kesan khusus bagi para wisatawan yang terbiasa dengan kehidupan modern itu.


Wisata arung jeram menggunakan lanting

Balai Adat Malaris adalah yang paling besar diantara balai yang lain dikawasan Loksado, berbeda dengan balai adat lainnya, balai ini masih dihuni dimana ada 40 keluarga besar. Berjarak 2,5 km dari Loksado. Tidak jauh dari Balai Malaris terdapat sebuah bendungan pembangkit tenaga listrik dan sebuah riam untuk bemandi ria, yaitu Riam Berajang dan Riam Anai.

Kawasan Loksado memiliki hutan primer banyak ditumbuhi pepohonan dan kayu-kayuan yang beraneka ragam. Jenis pohon yang tumbuh diwilayah ini adalah seperti: Meranti, Sungkai, Ulin, Karet, Kayu Manis, dan jenis pohon buah-buahan serta aneka jenis bunga Anggrek. Didalam hutan juga hidup berbagai satwa, seperti: Kijang, Kancil, Macam, Beruang, aneka jenis kera termasuk Bekantan, Satwa Melata dan jenis burung, seperti: Raja Udang, Enggang, Ayam, Hutan dll. Begitu pula dengan Kupu-Kupu dengan aneka warna yang menawan.

Arung Jeram dengan rakit bambu di sungai Amandit adalah puncak dari kegiatan perjalanan setelah beberapa hari. Kegiatan inilah yang paling banyak disukai oleh banyak wisatawan dan yang palinng mengesankan. Ada beberapa lokasi yang bagus untuk memulai perjalanan dengan tingkat kesulitan dan waktu tempuh yang bervariasi tergantung dari keinginan wisatawan itu sendiri.


Air Terjun Haratai
Air terjun Haratai terletak di desa Haratai, lebih kurang 15 menit perjalanan dengan jalan kaki dari Balai Haratai, dapat ditempuh dengan memasuki hutan bambu dan perkebunan karet atau kayu manis.


Pintu masuk menuju air terjun Haratai


Air terjun Haratai

Air terjun tersebut bertingkat tiga dengan ketinggian masing-masing 13 meter.


Panorama indahnya air terjun Haratai dilihat dari kejauhan

Pengunjung dapat bermandi ria pada telaga, tetapi dibagian bawah air terjunnya, atau hanya duduk-duduk diatas bebatuan besar. Tersedia juga tempat ganti pakaian dan shel teruntuk beristirahat.


Air terjun Hanai
Wisata air terjun Riam Hanai di kawasan balai adat Malaris Desa Lok Lahung Kecamatan Loksado merupakan air terjun yang sangat deras dengan ketinggian 4 meter.


Air Terjun Kilat Api


Air Terjun Kilat Api

Air Terjun Kilat Api terletak di desa Tanuhi 4 km dari penginapan/cottage Tanuhi. Bisa ditempuh dengan kendaraan roda 4 atau roda 2.


Pemandian Air Panas Tanuhi
Letaknya di lembah pegunungan Loksado. Di sisinya mengalir sungai jeram nan jernih dan dikelilingi tanaman yang menghijau.

Untuk menuju lokasi wisata tersebut sangat mudah, karena dapat ditempuh melalui jalan darat. Jaraknya sekitar 30 kilometer dari pusat Kota Kandangan. Anda bisa menggunakan mobil pribadi maupun angkutan pedesaan yang tersedia di Kota Kandangan.

Tepat di pertigaan Desa Hulu Banyu, belok kiri setelah melalui sebuah jembatan ulin. Dari pertigaan tersebut hanya sekitar 400 meter, letaknya tepat berada di lembah pegunungan Loksado.
Dari pintu masuk, ada jembatan beton penghubung dari jalan ke lokasi wisata. Dari atas jembatan terlihat jelas aliran sungai jeram yang masih alami dengan pesona kehidupan masyarakat yang masih alami.


Jalan masuk tanuhi

Kerap kali dari atas jembatan ini ada masyarakat membawa lanting paring (rakit bambu) yang akan dijual ke pasar lanting di Kandangan Hulu Kecamatan Kandangan Kota.

Ada 4 buah kolam pemandian yang terdapat di Tanuhi ini..


Kolam pertama lebih panjang


Kolam kedua merupakan kolam pemandian dengan air terpanas


Kolam ketiga merupakan kolam yang airnya agak dingin dan dalam


Kolam keempat adalah kolam tersurut airnya, karena ini merupakan kolam yang diutamakan untuk anak-anak.

Selain tempat pemandian air panas, Di Tanuhi ini Anda juga bisa menginap untuk menikmati sejuknya udara di lembah alam Loksado ini pada waktu pagi hari. Di sini tersedia bangunan rumah mini yang disebut dengan dengan bangunan khas cottage. Ada 10 buah cottage yang tersedia untuk para pengunjung yang hendak menginap atau beristirahat.


Tempat peristirahatan yang biasa disebut cottage

Ada dua jenis cottage pilihan. Cottage tipe A kamarnya lebih luas dan ada fasilitas garasi mobilnya, sedang cottage tipe B letaknya agak ke dalam dan tidak ada garasinya.


Telaga Bidadari
Obyek wisata ini terletak di desa Telaga Bidadari Kecamatan Sungai Raya dengan jarak kurang lebih 8 Km dari kota Kandangan yang dapat ditelusuri dengan mobil.


Telaga Bidadari

Apabila kita jalan-jalan ke desa Telaga Bidadari kita akan menemukan sumur tua yang tidak akan kering walapun kemarau panjang yang disebut orang Telaga Bidadari. Telaga ini berukuran 3 x 2 meter dengan kedalaman 2 meter, terletak di kawasan tanah pematang yang diteduhi pepohonan.


Telaga Bidadari di lihat dari dekat

Disepanjang jalan menuju Telaga Bidadari terdapat berbagai macam home industri yang memproduksi kue kering, dodol, kuaci bigi waluh dan ketupat kandangan. Cerita tentang Telaga Bidadari yang lebih terurai dapat dibaca pada buku Legenda Telaga Bidadari.


Goa Batu Bini
Selain kawasan Loksado. Antara goa dan banyu panas bisa dibuat lintasan untuk pejalan kaki menikmati kaki Gunung Batu Bini. Di situ ada Telaga Maulak yang eksotis, sejuk dan pemandangan kaki bukit yang indah. Ada kekhasan aroma pegunungan yang bercampur aroma batu gunung. Bagi orang yang haus ketenangan, tempat itu akan menjadi daya tarik tersendiri.
Tidak jauh dari Banyu Panas ada sebuah gua yang disebut Gua Batapaan. Gua ini terletak di bagian yang sangat curam dari Gunung Batu Bini. Letaknya tidak bisa terlihat oleh orang yang memanjat tebing mendekati gua, sehingga harus diarahkan oleh orang yang berada di bawah. Menurut cerita, di situ ada harta peninggalan masa lalu. Ada beberapa orang yang mencoba memasukinya tetapi selalu gagal. Begitu didekati gua itu menutup.


Goa Berangin Malutu
Goa Berangin terletak di desa Malutu Kecamatan Padang Batung. Wisatawan dapat menggunakan mobil atau motor ke lokasi ini dan ditempuh kurang lebih 45 menit dari Kandangan. Jalannya cukup menantang, kadang kala mendaki dan menurun yang cukup tajam. Di dalam goa terdapat air dan dapat dijelajahi dengan jalan kaki atau menggunakan perahu atau jukung tradisional. Ketika kita berada di muara dan di dalam goa tersebut, maka kita akan merasakan bertapa sejuk dan nyamannya angin yang bertiup. Didalamnya terdapat ornamen-ornamen goa yang eksotik. Dari atas puncak gunung dapat menyaksikan sunset maupun sunrise.


Gunung Batu Laki
Gunung Batu Laki terletak Desa Malutu, Kecamatan Padang Batung, 14 Km dari kota Kandangan Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Di kawasan Pegunungan Meratus, Gunung Batu Laki merupakan salah satu tempat wisata alam andalan Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Dari puncak gunung inilah keindahan alam di sekitarnya bisa dinikmati saat matahari terbenam atau terbit. Wisatawan atau pengunjung biasa yang datang ke gunung karst ini barangkali hanya melihat onggokan batu kapur raksasa. Di bawahnya, mereka bisa berkemah, membuat api unggun, dan makan bersama sambil menikmati riak air Sungai Amandit yang bening. Kalau beruntung, mereka akan menyaksikan para pembawa lanting paring (rakit bambu) untuk dijual ke Kandangan. Tawaran wisata petualangan lainnya adalah melakukan perjalanan mengunjungi kampung-kampung Dayak Meratus di Kecamatan Loksado. Para wisatawan biasanya mengakhiri petualangan di daerah ini dengan menguji keberanian dan menikmati sensasi petualangan dengan bamboo rafting untuk menaklukkan jeram Sungai Amandit.


Gunung Kentawan
Gunung Kentawan lebih dikenal sebagai lambang sari kawasan Loksado karena letaknya strategis dan dapat dilihat dari berbagai penjuru. Gunung ini adalah kawasan hutan lindung berupa gunung batu yang ditumbuhi pepohonan disekelilingnya, letak kawasan ini sekitar 28 Km dari kota Kandangan, dan untuk mencapainya hanya jalan kaki lewat Desa Lumpangi, muara Hanip atau Datar Belimbing (Hulu Banyu). Dengan memiliki luas sekitar 245 ha, didalamnya terdapat aneka jenis flora termasuk anggrek Hutan dan fauna yang dilindungi seperti Bekantan, Owa-Owa, Raja Udang (Halcyon SP) dll.


Situs amuk Hantarukung (Makam Tumpang Talu)
Amuk Hantarukung salah satu momen sejarah yang mengingatkan warga Kalsel terutama Hulu Sungai Selatan Kandangan, tentang kegigihan perjuangan rakyat setempat yang dimotori Bukhari dan kawan-kawan melawan penjajah Belanda.
Semangat Amuk Hantarukung dalas batapung tali salawar dalas balangsar dada tak mau dijajah ini.


Situs amuk Hantarukung (Makam Tumpang Talu)

SEJARAH AMUK HANTARUKUNG
Bukhari dari Hantarukung (lahir : 1850 di Hantarukung, Simpur, Hulu Sungai Selatan, wafat : 19 September 1899 di Hantarukung, Simpur, Hulu Sungai Selatan). Bukhari adalah salah seorang pejuang Perang Banjar yang memimpin perlawanan rakyat yang disebut Amuk Hantarukung yang terjadi di masa Sultan Muhammad Seman bin Pangeran Antasari. Ayah Bukhari bernama Manggir dan ibu bernama Bariah kelahiran desa Hantarukung, dalam wilayah Kecamatan Simpur, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Bukhari dilahirkan sekitar tahun 1850 dan semasa mudanya mengembara ke Puruk Cahu (Murung Raya, Kalimantan Tengah) mengikuti pamannya Kasim yang menjadi panakawan (asisten) dari Sultan Muhammad Seman. Sejak itu Sultan Muhammad Seman menjadikan Bukhari sebagai panakawan (asisten) Sultan, dan Bukhari ikut berjuang di daerah Puruk Cahu, Kalimantan Tengah.

Bukhari seorang yang setia mengabdikan dirinya. Ia orang yang dipercaya sebagai Pemayung Sultan. Ia dikenal di kalangan istana sebagai seorang yang mempunyai ilmu kesaktian dan kekebalan. Bahkan tersiar berita bahwa dengan ilmunya itu kalau ia tewas dapat hidup kembali. Ilmu ini diajarkan kepada siapa yang menjadi pendukungnya. Adanya kelebihan-kelebihan Bukhari tersebut, menyebabkan dia dan adiknya bernama Santar mendapat tugas untuk menyusun dan memperkuat barisan perlawanan rakyat terhadap Belanda di daerah Banua Lima, Kalimantan Selatan.


Menyusun Kekuatan Rakyat.
Dengan membawa surat resmi dari Sultan Muhammad Seman, Bukhari dan adiknya Santar datang ke desa Hantarukung untuk menyusun suatu pemberontakan rakyat terhadap pemerintah Belanda. Kedatangan Bukhari diterima hangat oleh penduduk desa Hantarukung. Dengan bantuan Pangerak Yuya, Bukhari berhasil mengorganisir kekuatan rakyat untuk melawan Belanda. Sebanyak 25 orang penduduk telah menyatakan diri sebagai pengikutnya, dan di bawah pimpinan Bukhari dan Santar siap untuk melakukan perlawanan terhadap kekuasaan Belanda. Gerakan Bukhari ini bahkan kemudian mendapat dukungan selain penduduk Hantarukung, juga penduduk kampung Hamparaya dan Ulin. Sehubungan dengan itu alasan perlawanan yang dikemukakan bahwa penduduk dari tiga kampung itu tidak bersedia lagi melakukan kerja rodi . Sikap penduduk dan tindakan Pangerak Yuya yang tidak mau menurunkan kuli (penduduk) untuk menggali garis antara Amandit-Negara tersebut, kemudian dilaporkan oleh Pambakal Imat kepada Kiai (gelar kepala distrik), karena yang bersangkutan sedang tidak ada di tempat, Pambakal melaporkan kepada Controleur Belanda di kota Kandangan.

Perlawanan Rakyat 18 September 1899
Penguasa Belanda di Kandangan sangat marah mendengar berita itu pada tanggal 18 September 1899 berangkatlah rombongan penguasa Belanda yang terdiri dari Controleur Adsenarpont Domes dan Adspirant K. Wehonleschen beserta 5 orang Indonesia (opas dan pambakal) yang setia kepada Belanda. Dengan menaiki kereta kuda dan diikuti yang lainnya Controleur Adsenerpont Domes ke desa Hantarukung menemui Pangerak Yuya. Pangerak yang telah bekerja sama dengan Bukhari untuk melawan pemerintah Belanda ini ketika dipanggil oleh Controleur keluar dari rumahnya dengan tombak dan parang tanpa sarung. Setelah terjadi tanya jawab mengenai mengapa penduduk tidak mengerjakan lagi gerakan menggali garis Amandit-Negara, tiba-tiba muncul ratusan penduduk di bawah pimpinan Bukhari dan Santar sambil mengucapkan shalawat nabi maju ke arah Controleur dengan senjata tombak, serapang (trisula) dan lain-lainnya.

Dalam peristiwa itu telah terbunuh tuan Controleur Domes dan Adspirant Wehonleshen serta seorang anak emasnya. Sementara 4 orang lainnya dapat melarikan diri. Mereka itu antara lain opas Dalau dan Kiai Negara (kepala Distrik Negara). Peristiwa tanggal 18 September 1899 ini terkenal dengan Pemberontakan Amuk Hantarukung yang dipelopori oleh Bukhari, seorang yang secara resmi diperintahkan oleh Sultan Muhammad Seman dengan mengirimkan ke desa asal kelahirannya Hantarukung.
Perlawanan Rakyat 19 September 1899.

Peristiwa 18 September 1899 dengan terbunuhnya Controleur dan Adspirant Belanda segera sampai kepada pejabat-pejabat Belanda di kota Kandangan. Kemarahan pihak Belanda tidak dapat terbendung lagi. Besok harinya pada hari Senin tanggal 19 September 1899 sekitar pukul 13.00 siang hari pasukan Belanda datang untuk mengadakan pembalasan terhadap penduduk. Serangan pembalasan tersebut dipimpin oleh Kiai Jamjam putera daerah sendiri, dengan diperkuat oleh 2 Kompi serdadu Belanda bersenjata lengkap. Penduduk desa Hantarukung telah menyadari pula peristiwa yang akan terjadi. Beratus-ratus penduduk di bawah pimpinan Bukhari, Santar dan Pengerak Yuya siap dengan senjata mereka di pinggiran hutan dan keliling danau menanti kedatangan pasukan Belanda. Ketika sampai di desa Hantarukung di suatu awang persawahan, melihat keadaan sepi, Kapten Belanda melepaskan tembakan peringatan agar penduduk menyerah. Pada waktu itulah Bukhari bersama-sama Haji Matamin dan Landuk tampil dengan senjata terhunus maju menyerbu musuh sambil mengucapkan Allahu Akbar berulang-ulang. Tindakan Bukhari tersebut diikuti para pengikutnya yang sudah siap untuk berperang, pertempuran sengit terjadi. Bukhari, Haji Matamin dan Landuk dan Pengerak Yuya gugur di tembus peluru Belanda. Melihat pemimpin-pemimpin mereka terbunuh penduduk lari menyelamatkan diri. Dalam peristiwa 2 hari di Hantarukung tersebut telah terbunuh masing-masing di pihak Belanda adalah Controleur Domes, Adspirant Wehonleschen dan seorang pembantunya. Sementara dari pihak penduduk telah gugur : Bukhari, Haji Matamin, Landuk, Pangerak Yuya.

Penangkapan Penduduk oleh Belanda
Peristiwa ini berlanjut dengan terjadinya pembersihan secara kejam oleh Belanda terhadap penduduk yang terlibat terutama penduduk di desa Hantarukung, Hamparaya, Ulin, Wasah Hilir dan Simpur. Penangkapan segera dijalankan oleh militer Belanda. Mereka yang ditangkapi tersebut berjumlah 23 orang yakni : Hala, Hair, Bain, Idir, Sahintul, H. Sanadin, Fakih, Unin, Mayasin, Atma, Alas, Tanang, Tasin, Bulat, Sudin, Matasin, Yasin, Usin, Sahinin, Unan, Saal, Lasan dan Atmin. Selanjutnya yang mati di dalam penjara adalah : Hala, Hair, Bain, dan Idir. Sedangkan yang mati digantung adalah : Sahitul, H. Sanaddin, Fakih, Unin, Mayasin, Atma, Alas, Tanang dan Tasin. Mereka yang dibuang keluar daerah adalah: Bulat, Suddin, Matasin, Yasin, Sahinin, Unan, Saal, Lasan, Atnin, dan Santar. Jenazah Bukhari, Landuk dan Matamin dimakamkan di Kampung Perincahan, Kecamatan Kandangan, Hulu Sungai Selatan yang dikenal dengan makam Tumpang Talu. Sedangkan sembilan orang dihukum gantung oleh Belanda tersebut dimakamkan di kuburan Bawah Tandui di Kampung Hantarukung di Kecamatan Simpur, Hulu Sungai Selatan.


Rumah bersejarah Durian Rabung
Rumah bersejarah ini terletak di desa Durian Rabung Kecamatan Padang Batung, berjarak sekitar 8 Km dari kota Kandangan. Rumah ini milik H.Abdul Kadir (Kai Jabus) yang digunakan sebagai tempat Rapat Pimpinan Markas Besar ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan. Kadang-kadang Bapak Gerilya Kalimantan Brigjen H. Hassan Basry beristirahat di rumah ini.


Rumah bersejarah Durian Rabung

Kondisi rumah besejarah ini sukup memprihatinkan dan secara bertahap telah direnovasi baik oleh Pemda Hulu Sungai Selatan maupun Pemda Propinsi Kalimantan Selatan tanpa merubah bentuk dantata ruang. Di halaman bagian depan rumah bersejarah ini telah dibangun Tugu Peringatan peristiwa Rapat Pimpinan markas Besar ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan.


Masjid Baangkat
Mesjid Su’ada atau Mesjid baangkat didirikan oleh Al Allamah Syekh H. Abbas dan Al Allamah Syekh H. Said bin Al Allamah Syekh H. Sa’dudin pada tanggal 28 Zulhijjah 1328 H bersamaan dengan tahun 1908 M yang terletak di desa Wasah Hilir Kecamatan Simpur yang jaraknya ± 7 km dari kota Kandangan. Masjid ini didirikan di atas tanah wakaf milik Mirun bin Udin dan Asmail bin Abdullah seluas 1047,25 m persegi.


Masjid Su’ada atau Mesjid baangkat


Masjid Baangkat dilihat dari dekat

Bentuk bangunan induk masjid su’ada yakni persegi empat, bertingkat tiga, mempunyai loteng menutup gawang/puncah dan petala/petaka yang megah. Semua itu memunyai makna tertentu sebagai berikut:

a. Tingkat pertama mengandung makna Syariat
b. Tingkat kedua mengandung makna Thariqat
c. Tingkat ketiga mengandung makna Hakikat
d. Loteng mengandung makna Ma’rifat
e. Petala/petaka yang megah berkilauan yang dihiasi oleh cabang-cabang yang sdang berbunga dan berbuah melambangkan kesempurnaan Ma’rifat.

Banyak peristiwa yang terjadi seolah-olah aneh, tidak rasional tapi nyata ketika akan dan sedang dalam pembangunan masjid tersebut, seperti angin topan bertiup luar biasa keras dan derasnya yang menyebabkan sebatang pohon asam yang besar telah condong sekali akan menmpa rumah Al Allamah Syekh H. M. Said (pendiri masjid Su’ada). Dilihat kejadian ini, Al Allamah tersebut mendekati pohon tersebut dan mendorongnya dengan berlawanan arah, maka dengan pertolongan Allah SWT angin topan yang dahsyat itu berbalik arah sehingga pohon asam ini tumbang dan selamatlah ulama tersebut.

Kejadian lain yakni salah satu tiang utama masjid kurang panjang ± 10 cm, sehingga mengalami kesulitan untuk pendirian bangunan masjid. Dengan izin Allah, keesokkan harinya tiang tersebut menjadi bertambah panjang sesuai kebutuhan. Peristiwa lainnya, yakni ditengah perjalanan antara Kalumpang dan Negara, rombongan Al Allamah Syekh H. M. Said kehabisan ikan untuk makan, tiba-tiba seekor ikan besar melompat ke perahu mereka dan akhirnya mereka mempunyai ikan untuk makan bersama. Kejadian lainnya yakni rombongan tersebut pada malam hari di perahu tidak bisa tidur karena kenyamukan, tiba-tiba dengan pertolongan Allah SWT, ternyata nyamuk tersebut menghilang, sehingga rombongan Al Allamah Syekh H. M. Said dapat tidur.


Makam Datu Taniran
Jika anda berwisata ke bumi antaludin, maka mampirlah di makam Al Allamah Syekh H. Sa’dudin (H.M Thayib) di Taniran Kecamatan angkinang yang jaraknya ± 8 km dari kota Kandangan. Beliau merupakan buyut dari pengarang kitab Sabilal Muhtadin, Datu Kelampayan Syekh Maulana H.Muhammad Arsyad Al Banjari. Nama sebenarnya Datu Taniran adalah H Sa’duddin. Beliau dilahirkan di Dalam Pagar Martapura pada 1774, dan meninggal pada 1856 di Kampung Taniran --sekarang masuk Kecamatan Angkinang. Taniran, tempat H Sa’duddin menyiarkan Agama Islam selama hidupnya sekitar 45 tahun.


Papan nama makam keramat Datu Taniran

Makam Keramat Datu Taniran terdapat di bangunan kecil berdekorasi kaligrafi dan ukiran kayu gaya khas Banjar.


Makam Datu Taniran

Beliau termasuk salah seorang wali Allah SWT yang sepanjang hidupnya digunakan untuk da’wah agama Islam guna menegakkan kalimat Tauhid agar manusia selamat dunia dan akhirat. Untuk lebih jelasnya mengenai keadaan beliau dimasa hidupnya dapat dipelajari melalui biografi atau manakib beliau.

Makam/kubah Datu Taniran ini merupakan makam yang paling sering dan banyak dikunjungi orang, jika dibandingkan dengan makam/kubah lainya yang terdapat di Kabupaten Hulu Sungai Selatan.


Benteng Madang
Jika anda jalan-jalan ke kecamatan Padang Batung sebalah utara akan bertemu dengan sebuah desa yang bernama Madang dengan dataran cukup tinggi menyerupai sebuah gunung. Dataran tinggi tersebut kemudian di tata dan dibuat oleh Tumenggung Antaluddin atas permintaan dari Pangeran Hidayatullah dan Demang Lehman kemudian dijadikan benteng pertahanan pasukan Pangeran Hidayatullah dan Demang Lehman dalam menghadapi serangan serdadu Belanda.

Tercatat ada lima kali serangan yang dilakukan oleh serdadu belanda dan semuanya dapat dikalahkan oleh pasukan Pangeran Hadayatullah dan Demang Lehman. Serangan-serangan serdadu Belanda dilakukan pada tanggal 3,4,13,18 dan 22 september 1860. Pada serangan yang keempat tanggal 18 September 1860, pasukan infantry serdadu bgelanda yang dipimpin oleh Kapten Koch dihajar habis-habisan oleh pasukan Pangeran Hidayatullah dan Demang lehman, sehingga banyak serdadu Belanda yang tewas termasuk Kapten Koch.


Benteng Madang

Saat ini Benteng Madang telah ditata dan direnovasi oleh Pemda HSS dengan anak tangga lebih dari 400 buah dan dapat dijelajahi dengan menggunakan mobil dengan jarak ± 8 Km dari Kota Kandangan.

Riwayat Benteng Madang
Tumenggung Antaluddin adalah seorang panglima perang dalam Perang Banjar dengan pusat perjuangan di kawasan Gunung Madang di kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan.

Pada masa itu Pangeran Hidayatullah dan Demang Lehman meminta kepada Tumenggung Antaluddin untuk membuat benteng pertahanan di Gunung Madang. Pasukan Pangeran Hidayatullah, Demang Lehman dan pasukan Tumenggung Antaluddin terkumpul di sekitar benteng ini pada bulan September 1860.


Pertempuran Gunung Madang 3 September 1860.
Persiapan benteng pertahanan di Gunung Madang ini diketahui oleh Belanda sehingga datanglah serangan pasukan Belanda secara mendadak pada 3 September 1860, sementara benteng belum selesai dibangun. Serdadu Belanda menyelusuri kampung Karang Jawa dan Ambarai dan langsung menuju Gunung Madang. Serdadu Belanda terkejut, ketika baru mendekati bukit itu serangan mendadak menyebabkan beberapa serdadu Belanda tewas. Sekali lagi serdadu Belanda mendekati bukit tetapi sebelum sampai serangan gencar menyambutnya, sehingga tentara Belanda mundur kembali ke benteng Amawang.

Pertempuran Gunung Madang 4 September 1860
Keesokan harinya tanggal 4 September 1860 pasukan infantri dari batalyon ke-13 mengadakan serangan kedua kalinya. Serdadu Belanda ini dilengkapi dengan mortir dan berpuluh-puluh orang perantaian untuk membawa perlengkapan perang dan dijadikannya umpan dalam pertempuran. Serdadu Belanda melemparkan 3 biji granat tetapi tidak berbunyi, dan disambut dengan tembakan dari dalam benteng Gunung Madang. Di dalam benteng Gunung Madang terdapat pula beberapa orang perantaian yang lari memihak pasukan Pangeran Hidayatullah ketika terjadi pertempuran di Pantai Hambawang yang terjadi sebelumnya. Ketika Letnan de Brauw dan Sersan de Vries menaiki kaki Gunung Madang, dia hanya diikuti serdadu bangsa Eropah sedangkan serdadu bangsa bumiputera membangkang tidak ikut bertempur Letnan de Brauw kena tembak di pahanya, dan 9 orang serdadu Eropah terkapar kena tembak dari arah dalam benteng. Setelah Letnan de Brauw kena tembak, serdadu Belanda mundur dan kembali ke benteng di Amawang. Serangan ketiga dilakukan beberapa hari kemudian setelah Belanda memperoleh bantuan dari Banjarmasin dan Amuntai.

Pertempuran Gunung Madang 13 September 1860.
Pada tanggal 13 September 1860 Belanda melakukan kembali serangannya terhadap benteng Gunung Madang. Serangan ini dipimpin oleh Kapten Koch dengan perlengkapan meriam dan mortir. Demang Lehman dan Tumenggung Antaluddin mempersiapkan menunggu serangan Belanda sedangkan Pangeran Hidayatullah mengatur strategi untuk menghadapinya. Pertempuran ini terjadi dalam jarak dekat, tetapi Demang Lehman dan Tumenggung Antaluddin dengan gagah berani menghadapinya. Ketika bunyi senapan dan meriam bergema, tiba-tiba roda meriamnya hancur kena tembakan. Kapten Koch mempertimbangkan untuk mundur kembali ke benteng Amawang. Kegagalan serangan Kapten Koch ini tersebar sampai ke Banjarmasin, sehingga G.M. Verspyck memerintahkan Mayor Schuak menyiapkan pasukan infantri dari batalyon ke 13 yang terdiri dari 91 opsir bangsa Eropah.

Pertempuran Gunung Madang 18 September 1860
Pada tanggal 18 September 1860 Mayor Schuak membawa pasukan dengan dibantu Kapten Koch menyerang Gunung Madang. Belanda membawa sebuah howitser, sebuah meriam berat dan mortir. Menjelang pukul 11.00 siang hari Demang Lehman memulai menyambut serdadu Belanda dengan tembakan. G.M. Verspyck yang berani mendekati benteng dengan pasukannya, kena tembak oleh anak buah Tumenggung Antaluddin, akhirnya mengundurkan diri membawa korban. Selanjutnya Kapten Koch memerintahkan memajukan meriam. Dengan jitu peluru mengenai serdadu pembawa meriam itu, dan jatuh terguling. Setelah pasukan meriam gagal, dilanjutkan dengan pasukan infantri mendapat giliran maju. Kapten Koch yang memimpin pasukan infantri maju, kena tembak di dadanya dan jatuh tersungkur. Dengan jatuhnya Kapten Koch tersebut serdadu Belanda menjadi bingung dan kehilangan komando. Mereka dengan bergegas menggotong mayat Koch dan berlari meninggalkan medan pertempuran, langsung mengundurkan diri kembali ke benteng Amawang. Setelah serangan keempat ini gagal, Belanda mempersiapkan kembali untuk penyerangan yang kelima Demang Lehman dan Tumenggung Antaluddin juga mempersiapkan siasat apa yang diambil untuk menghadapi serangan secara besar-besaran keluar dan tidak terpusat bertahan dalam benteng saja. Demang Lehman mendapat bantuan dari Kiai Cakra Wati pejuang wanita yang selalu menunggang kuda yang berasal dari daerah Gunung Pamaton (Distrik Riam Kanan).

Pertempuran Gunung Madang 22 September 1860
Serangan kelima terjadi pada tanggal 22 September 1860. Belanda mempersiapkan dengan teliti, belajar dari kegagalan empat kali penyerangannya. Belanda mempersiapkan mendirikan bivak-bivak dan perlindungan pasukan penembak meriam dengan sistem pengepungan benteng Gunung Madang. Pertempuran baru terjadi keesokan harinya dengan tembakan meriam dan lemparan granat. Pada pagi hari itu pertempuran tidak begitu seru, tetapi menjelang pukul 11.00 malam hari, tiba-tiba Demang Lehman dan Tumenggung Antaluddin mengadakan serangan besar-besaran dengan meriam dan senapan. Tembakan itu terus menerus bersahutan sampai menjelang subuh. Karena serangan yang gencar itu Belanda kehilangan komando apalagi malam hari yang gelap gulita. Pasukan Belanda kocar-kacir. Situasi yang tegang ini dipergunakan Demang Lehman dan Tumenggung Antaluddin beserta pasukannya keluar benteng dan menyebar keluar meninggalkan benteng, dan selanjutnya berpencar. Kiai Cakrawati meneruskan perjalanan ke Gunung Pamaton yang kemudian terlibat pula dalam pertempuran di Gunung Pamaton. Alangkah kecewanya Belanda ketika dengan hati-hati memasuki benteng untuk menghancurkan kekuatan Demang Lehman dan pasukannya ternyata benteng sudah kosong, hanya ditemukan satu orang mayat yang ditinggalkan.


Balai Amas dan Batu Beranak
Asal mula cerita Balai Amas (Balai Emas) dan Batu Beranak ini merupakan sebuah tempat berdirinya pohon Ulin yang sangat besar.
Dahulu kala, disebuah pohon Ulin yang sangat besar ini hidup seekor burung Garuda yang setiap waktu kerjaannya memakan anak bayi yang masih di dalam ayunan. Karena semakin lama semakin meresahkan, para penduduk kampung bersepakat untuk memikirkan cara bagaimana menyingkirkan burung Garuda tersebut. Pohon Ulin itu mempunyai 6 x 6 meter.


Gambar balai di atas mencerminkan besarnya ukuran pohon kayu ulin tersebut.

Berbagai macam peralatan dicobakan untuk menebang pohon ulin tersebut tetapi tidak satupun yang mampu menggores batang kayunya. Akhirnya ada seorang tetuha kampung setempat mencoba menumbangkan pohon tersebut dengan sebilah pisau. Dikorek perlahan-lahan akar pohon ulin tersebut dengan hanya menggunakan sebilah pisau kecil tidak disangka-sangka pohon Ulin raksasa inipun roboh bersama burung Garuda di atasnya. Konon, saking tinggi dan besarnya pohon Ulin ini pucuknya sampai roboh ke daerah Marabahan, Barito Kuala (± 50 km dari Banjarmasin, ± 200 km dari Kandangan), sehingga nama daerah itu disebut Marabahan yang berarti tempat rabah (roboh) pohon Ulin tadi.
Setelah keadaan aman, bekas tumbuh pohon Ulin tadi dibuat sebuah balai. Di balai inilah sejak dulu diadakan berbagai macam selamatan dan acara adat setiap tahunnya.

Di kampung ini juga ada dua buah tempat yang diyakini penduduk memiliki kesaktian, yaitu Batu Beranak.

batu amas

Tempat batu beranak ini asalnya tidak ada apa-apa, tiba-tiba bermunculan batu-batu memenuhi tempat tersebut sehingga oleh penduduk setempat diberi gelar Batu Beranak. Konon, ukuran batu yang ada disini bisa tumbuh berkembang sampai akhirnya melahirkan batu kecil di sekelilingnya, begitu seterusnya seperti siklus hidup manusia.

Pernah ada yang iseng-iseng mencoba mengukur batu tersebut, setiap hari Jumat batu yang sama diukur dan menurut keterangan para saksi batu yang diukur tersebut memang terus bertambah ukurannya. Pernah juga ada orang yang mengambil untuk dibawa pulang ternyata beberapa hari kemudian batunya hilang setelah diperiksa batu yang sama kembali ke tempatnya semula.

Demikian sekilas oleh-oleh cerita dari kampung dan memperkenalkan tempat yang diyakini masyarakat setempat sebagai tempat berkeramat sebagai bagian dari kekayaan budaya Banjar.

Bagi yang penasaran, silakan untuk mengunjungi dua tempat tersebut. Pisau yang digunakan untuk merobohkan pohon Ulin tadi masih disimpan secara turun temurun oleh penduduk kampung, bila berkunjung ke sana bisa mencari informasi lebih lanjut.


SKETSA FLORA

Kecipir
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
?Kecipir
Ilustrasi kecipir dari Blanco
Ilustrasi kecipir dari Blanco
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Plantae
Divisi: Magnoliophyta
Kelas: Magnoliopsida
Ordo: Fabales
Famili: Fabaceae
Upafamili: Faboideae
Genus: Psophocarpus
Spesies: P. tetragonolobus
Nama binomial
Psophocarpus tetragonolobus
(L.) D.C.

Kecipir (Psophocarpus tetragonolobus (L.) D.C.) adalah tumbuhan merambat polong mudanya dimanfaatkan sebagai sayuran. Kecipir berasal dari Indonesia bagian timur. Di Sumatera dikenal sebagai kacang botol atau kacang belingbing. Nama lainnya adalah jaat (bahasa Sunda), kelongkang (bahasa Bali), serta biraro (Ternate).

Tumbuhannya merambat, membentuk semak. Dalam budidaya biasanya diberi penyangga, namun jika dibiarkan akan menutupi permukaan tanah. Batangnya silindris, beruas-ruas, jarang mengayu. Daun majemuk dengan anak daun tiga berbentuk segitiga, panjang 7,0-8,5cm, pertulangan menyirip, letak berselang-seling, warna hijau. Bunganya tunggal, tipe kupu-kupu, tumbuh dari ketiak daun, kelopaknya biasanya berwarna biru pucat, dapat dipakai sebagai pewarna makanan. Buah tipe polong, memanjang, berbentuk segiempat dengan sudut beringgit, panjang sekitar 30cm, berwarna hijau waktu muda dan menjadi hitam dan kering bila tua. Bijinya bulat dengan diameter 8-10mm, berwarna coklat hingga hitam. Kandungan protein biji menyamai kedelai (30-39%)

Kecipir tergolong tumbuhan penutup tanah dan pupuk hijau efektif karena pertumbuhannya sangat cepat dan termasuk sebagai pengikat nitrogen dari udara yang paling baik. Dalam budidaya, tidak diperlukan sama sekali pemupukan N.

Secara fisiologi, kecipir sangat sensitif dengan frost. Selain itu, ia adalah tumbuhan hari pendek, hanya berbunga jika panjang hari kurang dari masa kritis (untuk kecipir 12 jam). Bijinya tertutup cangkang keras, sehingga kadang-kadang diperlukan perendaman untuk mempercepat perkecambahan.
Polong kecipir muda siap disayur.

Daun dan buah muda dijadikan sayuran, biasanya direbus atau dijadikan semacam sup. Daun juga berkhasiat sebagai obat radang anak telinga. Akarnya menggelembung, membentuk umbi yang dapat dimakan.

Biji dan daun mengandung flavonoid, saponin, dan tanin.


SKETSA BANUA ENAM

RIWAYAT NAMA TABALONG

Legenda tentang terciptanya nama Tabalong menurut hikayat lisan dari mulut ke mulut yang tersebar sejak tahun empat puluhan, ialah seperti yang di tulis seniman Tabalong dalam buku antologi puisi ” Duri duri Tataba ” tahun 1996 yang di terbitkan Dewan Kesenian Daerah (DKD) Tabalong, menyebutkan bahwa terwujudnya sebutan Tabalong yaitu bermula dari para perambah hutan yang mencari ladang dan huma hingga kakinya terinjak duri - duri Tataba sejenis pohon yang seluruh batangya penuh berduri keras, jenis tanaman ini mempunyai akar Tunjang dan berbuah hanya menjadi makanan burung-burung hutan. Mereka menjerit (dalam bahasa Banjar Hulu, dikatakan ” Jerit ” sama dengan Tahalulung atau sama dengan melolong), karena kesakitan terkena duri-duri Tataba, inilah akhirnya menjadi penyebutan ” TABALONG “. Artinya terinjak duri Tataba…..jadi Tahalulung menjadi nama …” Tabalong “.

SEJARAH SINGKAT TERBENTUKNYA KABUPATEN TABALONG
Pada tanggal 15 Maret 1958, atas permufakatan orang-orang terkemuka di Tanjung, yang di prakarsai oleh Bapak Baharuddin Akhmid yang waktu itu menjabat Asisten Wedana di Kecamatan Tabalong Selatan, maka di bentuklah Panitia sementara Penuntutan Daerah Swatantra Tingkat II Tabalong yang di susun kepengurusannyasebagai berikut:
1. Penasehat : Baharuddin Akhmid
2. Ketua : Juhri
3. Wakil Ketua : A. Salman
4. Sekretaris : Usnan. As
5. Wakil Sekretaris : Abdullah Khairul
6. Bendahara : H. Baderi
7. Pembantu Umum : As,ad
8. Anggota-anggota : A. Syamsi, H. A. Sudani, M. Salman

Setelah Panitia Sementara terbentuk , untuk kepentingan perjuangan serta terjadinya beberapa mutasi terhadap Pegawai Negeri yang sudah duduk dalam kepanitian, maka komposisi dan personalia panitia penuntut mengalami beberapa kali perubahan hingga sampai pada Panitia V, di mana orang-orang yang mempunyai andil besar dan pernah menjadi Panitia Penuntut adalah sebagai berikut :
1. Abdussyukur
2. Amir Hasan
3. A. Sajeli
4. Basuni Ulita
5. A. Husaini
6. Juhrani
7. Majedi Effendi
8. Abdurahman Hamud
9. H. Baderi
10. H. Juhri Taher
11. H. Alikurdi Almas
12. Kadirman
13. H. Abdul Gani
14. Syahrap
15. H. Kurdi
16. Yahya. Z
17. H. Imansyah
18. Hiskia Tiro
19. H. Basuni (Kepala Desa)
20. Idar
21. Masran
Tak luput pula peran mass media dan RRI Banjarmasin selalu menginformasikan segala kegiatan masyarakat Tabalong, dengan kekompakkan perjuangan Panitia dalam segala bidang , akhirnya pada tanggal 5 Mei 1959 dalam sidang Pleno terbuka DPRD Hulu Sungai Utara telah memutuskan menyetujui sepenuhnya tuntutan rakyat Tabalong agar Kewedanaan Tabalong dapat di jadikan Daerah Swatantra Tingkat II Tabalong dengan ibukota Tanjung, yang terkenal dengan resolusi tanggal 5 Mei 1959 Nomor . 2/II DPRD -1959, yang isinya selain menyetujui juga mendesak Pemerintah Pusat agar tuntutan dimaksud dapat dikabulkan.
Perjuangan kearah yang di inginkan terlihat adanya titik terang, langkah semakin jelas, maka di perkuat lagi kedudukan Panitia untuk melancarkan arus perjuangan, maka Panitia sebelumnya di sempurnakan lagi dengan Panitia VI sebagai berikut :
• Ketua Umum : Juhri
• Ketua I : M. Salman
• Ketua II : Maslan
• Penulis I : Usnan. As
• Penulis II : Abdullah
• Bendahara : Norbek
• Pembantu-pembantu : Semua Camat Dalam Kewedanaan Tabalong, Semua Anggota DPRD Hulu Sungai Utara yang tinggal di Kewedanaan Tabalong.
• Seksi Politik : H. Baijuri Y, Ruminto dkk
• Seksi Bangunan : Anang Basar, Donarian dkk
• Seksi Perencanaan : Abdurrahman Projakal dkk
• Seksi Penerangan : A. Syamsi, Hamidhan Baseri
• Seksi Organisasi : Makmod Asnawi, Hamad dkk
Panitia ini telah berusaha dengan sekuat tenaga dan dana uang ada, mengadakan hubungan dengan pihak Pemerintah Propinsi Kalimantan Selatan dengan DPRD GR-nya, serta Tokoh-tokoh politik dan Ormas yang di wakili dalam DPRD- GR Propinsi Kalimantan Selatan , agar dapat dukungan dari mereka atas tuntutan ini.

Dari adanya kegiatan tersebut serta kerja sama yang harmonis, maka dalam sidang istimewa DPRD-GR Kalimantan Selatan telah menyetujui tuntutan rakyat Tabalong, Tapin, dan Tanah Laut masing-masing dijadikan Daerah Swantantra Tingkat II.

DPRD-GR Propinsi Kalimantan Selatan mengeluarkan Resolusi yang di tujukan ke Pemerintah Pusat, memohon Pemerintah Pusat dapat menyetujui dan selanjutnya melahirkan Daerah Tingkat II.

Panitia dalam usahanya memperjuangkan ketingkat Pusat telah menghubungi Gubernur Kalimantan Selatan (waktu itu) Bapak Haji Maksid, untuk memohon nasehat dan petunjuk serta do’a restu untuk berangkat ke Jakarta oleh Bapak Gubernur di berikan Petunjuk-petunjuk dan sekaligus merestui keberangkatan Panitia menemui Bapak Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah, sertya Pejabat-pejabat Tinggi lainnya guna menyampaikan hasrat Rakyat Tabalong di maksud.

Berangkatlah Saudara Juhri dan Usman. As masing-masing selaku ketua Umum dan sekretaris Panitia dan pula oleh Bapak Muhyar Usman selaku wakil dari Pemerintah Propinsi Kalimantan Selatan.

Dalam waktu yang relatif singkat , rombongan Panitia telah dapat di terima oleh Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Bapak IPIK Gandamana dalam percakapan akhir beliau mengatakan, bahwa pada prinsipnya saya dapat menyetujui tuntutan ini dan akan di ajukan pada Sidang DPR-GR yang akan datang.

Sebagai realisasi dari kunjungan Panitia, oleh DPR-GR telah mengutus ketua Komisi ” B ” yaitu Bapak I.S. HandokoWijoyo untuk meninjau ketiga calon Daerah Tingkat II dimaksud, dalam kunjungan ke Tabalong Bapak I.S. Handoko Wijoyo mengatakan ” Tidak ada alasan untuk tidak menyetujui tuntutan Rakyat Tabalong ini.

Perjuangan kita telah meningkat lebih jauh , dimana pada tanggal 5 September 1964 Kewadenaan Tabalong telah di tingkatkan statusnya menjadi Daerah Persiapan Tingkat II Tabalong dengan Kepala Kantornya Bapak Usman Dundrung Bekas Wedana Barabai.

Lahirnya Undang-undang Noor 8 Tahun 1965 Tanggal 14 juni 1965, yang mendorong daerah pesiapan Tingkat II Tabalong ini di tingkatkan lagi menjadi Daerah Otonomi Tingkat II Tabalong, yang menjalankan roda Pemerintahan sendiri baik eksekutif maupun Legislatif dan untuk ini juga Pemerintah tetap di percayakan kepada Bapak Usman Dundrung.

Pada tanggal 1 desember 1965 jam 11.00 pagi bertempat di lapangan ” GIAT ” Tanjung oleh Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah Bapak Dr. Soemarno Sosro Atmodjo dengan di saksikan puluhan ribu rakyat Tabalong dan Pejabat-pejabat tinggi Kalimantan Selatan lainnya, maka papan nama yang di selubungi kain bledru hijau dengan untaian sutra kuning keemasan, telah di buka dengan resmi oleh Bapak Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah dan di balik selubung yang terbuka itu terpampang kalimat yang bersenjata yang berbunyi

“DAERAH TINGKAT II TABALONG DIRESMIKAN 1 DESEMBER 1965″.

Demikianlah sejarah singkat terbentuknya Panitia Penuntutan dan Proses Peresmian berdirinya Daerah Tingkat II Tabalong.
No N a m a Dilantik Akhir Masa
Jabatan Keterangan
1 Usman Dundrung 1 Desember 1965 12 Desember 1966 Penguasa Daerah
2 Usman Dundrung 12 Desember 1966 15 Desember 1971 Bupati Kepala Daerah
3 Usman Dundrung 15 Desember 1971 14 Maret 1972 Pejabat Bupati KDH
4 Badaruddin Kasim, BA 14 Maret 1972 26 Maret 1977 Bupati KDH
5 Badaruddin Kasim, BA 26 Maret 1977 25 Januari 1979 Bupati KDH
6 M. Syarkawi D. 25 Januari 1979 15 Pebruari 1979 Pejabat Bupati KDH
7 H.M. Ismail Abdullah 15 Pebruari 1979 15 Pebruari 1984 Bupati KDH
8 Dandung Suchrowardi 15 Pebruari 1984 15 Pebruari 1989 Bupati KDH
9 Dandung Suchrowardi 15 Pebruari 1989 15 Pebruari 1994 Bupati KDH
10 Obar Sobari 18 Pebruari 1994 18 Pebruari 1999 Bupati KDH
11 Drs.H. Noor Aidi 17 Maret 1999 16 Maret 2004 Bupati Tabalong
12 Drs.H. Rachman Ramsyi, M.si 17 Maret 2004 Sampai Sekarang Bupati Tabalong
13 H. Murhan Effendie, BA 17 Maret 2004 Sampai Sekarang Wakil Bupati Tabalong


Kabupaten Tabalong adalah salah satu Daerah Tingkat II di provinsi Kalimantan Selatan, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Kota Tanjung. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 3.496 km² dan berpenduduk sebanyak 187.208 jiwa (2006). Motto kabupaten ini ialah Saraba Kawa (Serba Sanggup) dalam bahasa Banjar.

Suku bangsa
Suku asli adalah: suku Banjar
Suku Dayak Dusun Deyah (di Kecamatan Muara Uya)
Orang Dayak Warukin (subetnis Suku Dayak Maanyan Benua Lima di Desa Warukin).
Suku Dayak Lawangan
suku Dayak Bukit

Suku bangsa lainnya antara lain:
Suku Banjar: 141.347 jiwa
Suku Jawa: 19.924 jiwa
Suku Bugis: 516 jiwa
Suku Madura: 233 jiwa
Suku Bukit: 1.106 jiwa
Suku Mandar: 12 jiwa
Suku Bakumpai: 41 jiwa
Suku Sunda: 952 jiwa
Lainnya: 6.575 jiwa

(Sumber: BPS - Sensus Penduduk tahun 2000)

Sejarah
8000 SM: Manusia ras Austrolomelanesia mendiami gua-gua di pegunungan Meratus. Fosilnya ditemukan di Gua Babi di Gunung Batu Buli, Desa Randu, Muara Uya, Tabalong.
2500 SM: Migrasi bangsa Melayu Proto dari Yunan ke pulau Borneo yang menjadi nenek moyang suku Dayak (rumpun Ot Danum).
1500 SM: Migrasi bangsa Melayu Deutero ke pulau Borneo.
400: Migrasi orang Sumatera yang membawa bahasa Melayu kuno.
520: Berdirinya Kerajaan Tanjungpuri di Tanjung, Tabalong yang didirikan orang Melayu kuno.
600: Suku Dayak Maanyan melakukan migrasi ke pulau Bangka selanjutnya ke Madagaskar.
1200: Ampu Jatmika, hartawan dari negeri Keling (Tamil) mendirikan kerajaan Negara Dipa semula berkedudukan di daerah aliran sungai Tapin, tempat dimana ia mendirikan Candi Laras.
1200: Orang Tabalong yang berbahasa Melayu Bukit dan bahasa Maanyan mendiami wilayah Tabalong, salah satu dari lima daerah aliran sungai (Banua Lima) yang ditaklukan oleh prajurit Ampu Jatmika dari Kerajaan Negara Dipa yang berkedudukan di Candi Agung, Amuntai.
1362: Kerajaan Nan Sarunai, kerajaan Suku Dayak Maanyan mendapat serangan dari Majapahit.
1363: Wilayah Barito, Tabalong dan Sawuku menjadi daerah taklukan Kerajaan Majapahit. Pangeran Suryanata dari Majapahit berhasil menjadi raja Negara Dipa.
1400: Wilayah Tabalong termasuk dalam wilayah Kerajaan Negara Daha, penerus dinasti Negara Dipa.
1526: Wilayah Tabalong bagian dari Banua Lima, sebuah provinsi dari Kesultanan Banjar.
17 Agustus 1860: Pangeran Antasari mendirikan Benteng Tabalong.
1899: Residen C.A Kroesen memimpin Zuider en Ooster Afdeeling van Borneo
1900: Onderafdeeling Tabalong dan Kelua dipimpin Controleur Klas I C.H. Hall, Kepala Distrik Tabalong adalah Kiai Mohammad Seman dan Kepala Distrik Kelua adalah Kiai Tjakra Widana
1938: Wester afdeeling van Borneo, Zuider en Ooster Afdeeling van Borneo menjadi sebuah propinsi di Hindia Belanda.
1927: Pemberontakan Gusti Barmawi terhadap soal rodi (erakan)
1937: Pemberontakan Hariang, Banua Lawas, Tabalong menyebabkan tewasnya kepala distrik yaitu Kiai Masdulhak.
6 Februari 1942: Jepang menduduki kota Tanjung, Tabalong.
18 Maret 1942: Kiai Pangeran Musa Ardi Kesuma ditunjuk Jepang sebagai Ridzie, penguasa penuh dan tertinggi pemerintah sipil meliputi wilayah Banjarmasin, Hulu Sungai dan Kapuas-Barito.
18 Agustus 1945: Pemerintahan Sukarno-Hatta menunjuk Ir. H. Pangeran Muhammad Noor sebagai gubernur Kalimantan
3 Juni 1949: Pertempuran Serangan Umum Kota Tanjung, Tabalong.
7 Desember 1956: Tabalong termasuk dalam Kabupaten Hulu Sungai Utara bagian dari provinsi Kalsel.
2005: Terpilihnya H. Rudi Arifin sebagai gubernur untuk masa jabatan 2005-2009


ADAT MANYANGGAR DI NEGERI RAWA DANAU BANGKAU


Kue dan makanan sebanyak 41 macam menjadi suguhan utama dalam upacara adat manyanggar danau di Desa Bangkau, Kecamatan Kandangan Kota, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan.
Waktu serasa berhenti pada Minggu pekan pertama Maret lalu di Desa Danau Bangkau, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Tidak ada warga yang menjemur ikan sepat dan gabus di tepian jalan, juga tidak ada yang berperahu untuk menebar jala di rawa luas yang menjadi halaman belakang permukiman.

Pagi itu seluruh warga di Kecamatan Kandangan tersebut berkumpul di beberapa rumah. Mereka "bersembunyi" dari terik mentari untuk menyiapkan aruh atau syukuran besar, manyanggar danau.

Manyanggar atau menebarkan sesaji ke danau adalah tradisi masyarakat Danau Bangkau. Itu adalah bentuk terima kasih warga terhadap alam (danau) yang telah menjadi sumber penghidupan mereka.

Dahulu para leluhur menerjemahkannya dengan memberikan sesaji kepada panggaduh, ruh yang diyakini memelihara rawa Danau Bangkau yang luasnya 19,5 kilometer persegi.

Syukuran diawali dengan pembuatan beragam penganan sebagai sesaji. Penganan itu terdiri atas 41 macam kue, kambing putih dan ayam hitam yang dipanggang, piduduk (semacam ketan), beras kuning, kelapa muda dan tua, pisang, serta kemenyan.

Ragam sesaji itu disiapkan para ibu sehari sebelumnya. Hanya mereka yang tidak dalam masa haid yang boleh membuat sesaji.

"Macam sesaji ini sesuai dengan permintaan panggaduh rawa. Tujuannya, agar warga dijaga keselamatannya dan dilimpahkan banyak ikan," kata Pambakal (Kepala Desa) Danua Bangkau, Badrun.

Prosesi babarasih
Sesaji telah siap dan prosesi babarasih (membersihkan) danau pun kemudian dimulai. Para ibu yang berkain batik tapih bahalai membawa seluruh sesaji dari rumah seorang tetua desa, Haji Subli. Penganan tersebut dibawa ke dalam perahu kelotok (perahu motor).

Atap perahu tersebut juga telah berhias pohon pisang yang berbuah dan pohon beringin dalam pot. Dua tokoh adat, Maisarah dan Uma Atung, telah mengambil tempat di haluan untuk memimpin perjalanan menuju ke tengah rawa.

Perahu kelotok bertolak diiringi 12 perahu kelotok lainnya yang ditumpangi sebagian besar warga Danau Bangkau. Seluruh penumpang-orang dewasa, pararemaja, anak-anak, hingga anak balita-menikmati pengarungan dengan hikmat.

Sepanjang perjalanan Maisarah dan Uma Antung memercikkan air kembang sebagai simbol babarasih. Bersamaan dengan itu, gong, gendang, dan serunai terus dibunyikan. Suaranya mengundang kehadiran beberapa warga kampung lainnya yang berperahu ces.

Bagian rawa yang menjadi lokasi syukuran berbatasan dengan Desa Pahalatan Kabupaten Hulu Sungai Tengah dan beberapa desa di Kecamatan Angkinang, Hulu Sungai Selatan. Meskipun lokasi persembahan hanya sekitar lima kilometer jauhnya dari Desa Danau Bangkau, perjalanan memerlukan waktu hampir satu jam.

Perahu tak bisa dipacu laju karena hampir seluruh permukaan rawa ditutupi rumput dan ilung (eceng gondok). Selain itu, kedua pemimpin perjalanan beberapa kali meminta rombongan perahu berhenti dan di titik-titik perhentian itulah sesaji diletakkan. Tempat perhentian pertama dinamakan Kepala Danau.

Di lokasi tersebut Maisarah menyerahkan satu kelapa kepada seorang pemandu. Kelapa itu telah dibelah batoknya dan diisi telur dan gula merah. Si pemandu kemudian terjun ke air dan menyelam sedalam lima meter untuk meletakkan sesaji itu di dasar rawa.

Kegiatan serupa dilakukan diperhentian kedua, Mungkur Panjang, dan puncak ritual berakhir di perhentian ketiga, Mungkur Kambing.

Di tempat perhentian terakhir ini, kelapa berisi telur dan gula merah ditaruh di dasar danau. Selain itu, di permukaan air dilarungkan daging kambing bakar. Namun, pelarungan hanyaberlangsung sejenak karena daging itu segera diangkat kembali ke atas perahu.

Upacara adat diakhiri dengan pembacaan doa keselamatan dan tolak bala yang dipimpin dua tokoh adat, Alan dan Syahran.

Pada hari itu seluruh warga yang hadir diminta tidak mencari ikan. Sebagai tanda syukur, seluruh makanan yang menjadi sesaji itu kemudian dibagikan. Warga pun berebutan dalam bahagia sehingga beberapa di antaranya tidak kebagian.

Peninggalan leluhur
Pemuka adat, Syahran, mengungkapkan, manyanggar merupakan peninggalan leluhur yang dilaksanakan secara turun-temurun sebelum masuknya agama Islam di daerah tersebut. Setelah Islam masuk, terjadi penyesuaian.

Kue dan penganan sesaji tidak lagi dilarung ke rawa, tetapi dimakan bersama sebagai bagian dari permohonan keselamatan dan bersyukur.

"Tradisi ini termasuk langka karena warga melaksanakannya tiga hingga lima tahun sekali. Itu pun tergantung adanya ’permintaan’. Biasanya, hal itu melalui warga yang mengalami kasarungan atau kesurupan (mengalami keadaan tidak sadar diri) karena kerasukan roh halus dengan menyampaikan agar diadakan aruh di rawa tersebut.
Kepercayaan ini yang membuat tradisi ini masih dilaksanakan hingga sekarang," ungkap Badrun.

Masyarakat Danau Bangkau percaya bahwa tangkapan ikan akan melimpah setelah upacara adat dilaksanakan. Menangkap ikan adalah mata pencarian 80 persen dari 1.641 jiwa penduduk desa.

"Ritual ini membuktikan, semua warga masih patuh menjaga kelestarian habitat ikan untuk kelangsungan hidup mereka sendiri. Sampai kini warga melarang kegiatan yang merusak rawa, seperti menangkap ikan dengan alat yang menggunakan listrik," tutur Badrun.


LESTARIKAN TARI MANDAU TELABANG


,- MARABAHAN – Tari-tarian yang melambangkan adat istiadat masyarakat Dayak Bakumpai sekarang lambat laun semakin tenggelam, seiring perkembangan zaman. Namun, tari-tarian tersebut masih bisa kita jumpai.

Seperti tari Mandau Telabang. Tarian yang mengisahkan tentang sifat – sifat kepahlawanan, patriotisme dan cinta tanah air untuk mempertahankan dan bela negara masyarakat Dayak Bakumpai, masih ada yang melesarikannya. Di Marabahan, tarian ini menjadi ciri khas dan andalan sanggar tari Rindang Bahalap.

“Tarian Mandau Telabang ini mengagambarkan sikap perlawananan masyarakat Dayak Bakumpai kepada musuh yang ingin menyerang dan mereka siap mati demi tanah airnya,” kata Aini Asmuni SP.d selaku pimpinan sanggar Rindang Bahalap Marabahan, kemarin. Karenanya, tarian ini menjadi andalan sanggar ini.

Tari Mandau Telabang, dulunya sangat terkenal diantara tari-tarian masyarakat Dayak Bakumpai. Namun, seiring perkembangan dan kemajuan zaman banyak tari-tarian dari masyarakat yang punah, apalagi waktu masuknya budaya Melayu ke daerah ini tempo dulu. Jadinya banyak masyarakat Dayak Bakumpai yang hijrah ke daerah Kalimantan Tengah, karena berbeda keyakinan dengan budaya Melayu.

“Untuk melestarikan tari Mandau Telabang ini yang merupakan salah satu tarian tertua dibudaya masyarakat Dayak Bakumpai, kami selalu mengajarkan kepada generasi muda agar bisa mengenal dan menarikannya,” ujar Aini.

Banyaknya tari-tarian yang dulu dimiliki oleh masyarakat Dayak Bakumpai menggambarkan betapa majunya budaya dan adat istiadat masyarakat pada tempo dulu. “Hendaknya generasi sekarang bisa memahami dan mau mempelajari akan budaya masyarakat dayak yang hilang ditelan zaman. (mr–87)

Rabu, 23 Desember 2009

SKETSA FILE 24

Kamis, 24 Desember 2009


MENJELANG KEBERANGKATAN

Aku masih saja batuk. Tatkala pikiran masih kelu.


PASAR ITIK ALABIO YANG TERSOHOR ITU

Oleh : Amir Sodikin

RABU dini hari, Pasar Itik Alabio di Hulu Sungai Utara,
Kalimantan Selatan, sudah menggeliat. Lalu lintas mulai padat. Sepeda
onthel, sepeda motor, mobil angkutan desa, mobil pikap, truk,
gerobak, perahu, dan manusia lalu lalang membawa tiga jenis barang
dagangan: itik, telur itik, dan pakan itik.
Nama itik alabio yang tersohor di seluruh Nusantara karena
produktivitas telurnya itu memang berasal dari nama pasar itik di
tepi sungai itu. Bagi masyarakat Hulu Sungai Utara (HSU), itik alabio
adalah penyangga ekonomi rakyat. Sekurangnya 14.000 keluarga
bergantung kepada rantai bisnis 1,2 juta ekor itik.

Beternak itik bagi sebagian orang HSU adalah seni turun-temurun.
Keahlian itu sulit diajarkan kepada orang lain karena sebagian
mengandalkan ketajaman insting dan kepekaan perasaan semata.

Untuk menyeleksi telur yang akan ditetaskan, peternak tidak
perlu "meneropongnya", cukup meraba dan merasakan getaran permukaan
telur. Untuk membedakan jenis kelamin anak itik, peternak hanya
mendengarkan suaranya.

"Kalau kwak-kwak pasti jantan, kalau kwik-kwik berarti betina,"
kata Saiman yang dijuluki "doktor" itik karena keahliannya menangguh
(membedakan jantan-betina). Kalau kwok-kwok? Ah, itu tak ada.
... "Doktor" itik itu sering diundang menangguh ke berbagai daerah
dengan tarif minimal Rp 25 per ekor. (Amir Sodikin)

Foto: 1
Kompas/Amir Sodikin

TELUR BERDERET-Para peternak itik alabio langsung menjual telur itik
mereka secara berderet di Pasar Itik Alabio dengan menggunakan raga-
raga, keranjang khas untuk membawa telur. Harga telur musim kemarau
kali ini anjlok dari rp 750 per butir menjadi Rp 530 per butir.



Foto: 2
Kompas/Amir Sodikin

MENURUNKAN ITIK-Seorang pedagang sedang menurunkan itik dari truk
untuk dimasukkan dalam kandang di pasar. Ratusan pedagang dan pembeli
bertransaksi di pasar itik terbesar di Kalimantan Selatan itu yang
omzetnya mencapi ratusan juta rupiah.



Foto: 3
Kompas/Amir Sodikin

LELAH-Anak-anak itik alabio yang baru berumur satu minggu ini
terlihat lelah dan tidur di kandang itik yang disediakan di Pasar
Itik Alabio. Harga anak itik musim kemarau ini anjlok dari Rp 5.000
per ekor menjadi Rp 3.000



Foto: 4
Kompas/Amir Sodikin

JUALAN PAKAN-Salah satu pendukung berkembangnya peternakan itik
alabio di Hulu Sungai Utara adalah dukungan pakan yang berlimpah.
Seorang penjual pakan sedang melayani pembelian keong untuk pakan
itik, per blek Rp 6000



Foto: 5
Kompas/Amir Sodikin

"DOKTOR ITIK-Untuk membedakan anak itik betina dan jantan secara
cepat perlu orang seperti Saiman ini. Di hulu sungai Utara, Saiman
satu-satunya yang dianggap doktor itik. Dengan hanya mendengarkan
suara anak itik, Saiman bisa memilah 100 itik jantan dan itik betina
dalam waktu sekitar 10 menit.



Foto: 6
Kompas/Amir Sodikin

PASAR ITIK DAN TELUR-Selain menjual itik, pasar itik Albio di Hulu
Sungai Utara, Kalimantan Selatan, juga menjual telur. Seorang
peternak pagi-pagi sekali membawa telur hasil ternaknya dengan
menggunakan gerobak pasar

Senin, 21 Desember 2009

JURNAL HUSS 21

Senin, 21 Desember 2009

CERITA RAKYAT KALIMANTAN SELATAN

RIBUT DAN RINTIK

Dahulu kala ada sebuah keluarga nelayan mempunyai seorang anak laki-laki. Bila mereka pergi bekerja, anaknya tinggal di rumah untuk menjaga rumah.

Pada suatu hari suami-isti nelayan itu memasuki alat penangkap ikan mereka yang berupa tangguk besar. Sial, seekor pun tidak ada yang masuk. Meskipun demikian mereka tidak putus asa. Tangguk tetap dimasukkan dan diangkat berulang-ulang tanpa mengenal lelah. Akhirnya, ketekunan meeka berhasil juga. Pada waktu mereka mengangkat tanggukmereka untuk kesekian kalinya, ternyata di dalamnya terdapat sebutir telur yang sangat besar. Karena ngeri benda ajaib itu, telur itu segera mereka masukkan kembali ke dalam air. Anehnya, setiap kali mereka mengangkat tangguknya, setiap kali ada pula telur itu dan setiap kali segera mereka masukkan kembali ke dalam air. Keadaan ini berulang terus, walaupun telah mereka pindahkan tangguk mereka ke tempat lain. Rupanya telur itu berkeras hati untuk tetap bersama mereka. Akhirnya, karena putus asa telur itu pun dibawa pulang.

Sesampainya di rumah, anak kesayangan mereka sedang tidur pulas. Karena tidak mendapatkan ikan, maka telur itu pun direbusnya. Setelah matang, telur itu mereka makan sebagai lauk teman nasi.

Begitu perut mereka kenyang, timbullah suatu keajaiban. Kedua suami istri itu perlahan-lahan berganti rupa menjadi dua ekor naga yang besar. Keajaiban ini tidak menimpa putra mereka karena ia belum sempat memakan telur itu.

Setelah terjaga dari tidurnya, anak itu pun menjadi ketakutan sewaktu melihat keadaan orang tuanya. Ia pun menangis karena sedih. Melihat itu, kedua naga itu segera menjilati pipi putra merekayang sangat mereka kasihi itu. Setelah anaknya tenang, ayahnya menasehati, agar tidak mekan telur di atas dulang. Telur itu adalah telur naga putih yang hidup di sungai tempat mereka sering mencari ikan dan siapa saja yang memakan telur itu akan menjadi naga seperti mereka. Setelah meninggalkan pesan itu, kedua naga itu pun terjun ke dalam sungai untuk bertempur dengan naga putih yang telah mengubah wujud mereka.

Dua pesan lainnya mereka berikan juga pada putranya. Apabila timbul darah mereh pada sungai, itu berarti mereka kalah. Namun, bila timbul darah putih, itu berarti naga putihlah yang kalah. Tanda hasil pergulatan itu akan terlihat apabila hujan turun rintik-rintik pada hari panas dan timbul pelangi di antara langit dan bumi.

Setelah orang tuanya masuk ke dalam sungai, anak itu duduk termenung. Ia terlalu kecil untuk menghadapi kenyataan hidup seperti itu. Setiap hari ia memandangi air sungai. Berharap agar kedua orang tuanya muncul lagi. Hingga pada suatu hari hujan turun rintik-rintik, di langit ada pelangi berwarna-warni, pada saat itulah air sungai mentembulkan warna putih seperti susu. Anak itu yakin sekarang kalau kedua orang tuanya telah memenangkanpertempuran denga si naga putih.

Namun, ayah dan ibunya tk pernah kembali ke rumah lagi. Anak itu menunggu di tepi sungai dan terus menunggu hingga akhir hayatnya ia memang tidak dapat hidup sendiri tanpa orang tuanya.

Tempat kejadian cerita ini sekarang disebut Lok Si Naga atau Lok Lua artinya Sungai Naga.

KISAH ABU NAWAS

Debat Kusir Tentang Ayam

Melihat ayam betinanya bertelur, Baginda tersenyum. Beliau memanggil pengawal agar mengumumkan kepada rakyat bahwa kerajaan mengadakan sayembara untuk umum. Sayembara itu berupa pertanyaan yang mudah tetapi memerlukan jawaban yang tepat dan masuk akal. Barangsiapa yang bisa menjawab perta­nyaan itu akan mendapat imbalan yang amat menggiurkan. Satu pundi penuh uang emas. Tetapi bila tidak bisa menjawab maka hukuman yang menjadi akibatnya.

Banyak rakyat yang ingin mengikuti sayembara itu terutama orang-orang miskin. Beberapa dari mereka sampai meneteskan air liur. Mengingat beratnya huku­man yang akan dijatuhkan maka tak mengherankan bila pesertanya hanya empat orang. Dan salah satu dari para peserta yang amat sedikit itu adalah Abu Nawas.

Aturan main sayembara itu ada dua. Pertama, ja­waban harus masuk akal. Kedua, peserta harus mampu menjawab sanggahan dari Baginda sendiri.

Pada hari yang telah ditetapkan para peserta sudah siap di depan panggung. Baginda duduk di atas panggung. Beliau memanggil peserta pertama. Peserta per­tama maju dengan tubuh gemetar. Baginda bertanya,

"Manakah yang lebih dahulu, telur atau ayam?" "Telur." jawab peserta pertama.

"Apa alasannya?" tanya Baginda.

"Bila ayam lebih dahulu itu tidak mungkin karena ayam berasal dari telur." kata peserta pertama menjelaskan.

"Kalau begitu siapa yang mengerami telur itu?" sanggah Baginda. .

Peserta pertama pucat pasi. Wajahnya mendadak berubah putih seperti kertas. la tidak bisa menjawab. Tanpa ampun ia dimasukkan ke dalam penjara.

Kemudian peserta kedua maju. la berkata,

"Paduka yang mulia, sebenarnya telur dan ayam tercipta dalam waktu yang bersamaan."

"Bagaimana bisa bersamaan?" tanya Baginda.

"Bila ayam lebih dahulu itu tidak mungkin karena ayam berasal dari telur. Bila teiur lebih dahulu itu juga tidak mungkin karena telur tidak bisa menetas tanpa dierami." kata peserta kedua dengan mantap.

"Bukankah ayam betina bisa bertelur tanpa ayam jantan?" sanggah Baginda memojokkan. Peserta kedua bjngung. la pun dijebloskan ke dalam penjara.

Lalu giliran peserta ketiga. la berkata;

"Tuanku yang mulia, sebenarnya ayam tercipta lebih dahulu daripada telur."

"Sebutkan alasanmu." kata Baginda.

"Menurut hamba, yang pertama tercipta adalah ayam betina." kata peserta ketiga meyakinkan.

"Lalu bagaimana ayam betina bisa beranak-pinak seperti sekarang. Sedangkan ayam jantan tidak ada." kata Baginda memancing.

"Ayam betina bisa bertelur tanpa ayam jantan. Telur dierami sendiri. Lalu menetas dan menurunkan anak ayam jantan. Kemudian menjadi ayam jantan dewasa dan mengawini induknya sendiri." peserta ketiga berusaha menjelaskan.

"Bagaimana bila ayam betina mati sebelum ayam jantan yang sudah dewasa sempat mengawininya?"

Peserta ketiga pun tidak bisa menjawab sanggahan Baginda. la pun dimasukkan ke penjara.

Kini tiba giliran Abu Nawas. la berkata, "Yang pasti adalah telur dulu, baru ayam."

"Coba terangkan secara logis." kata Baginda ingin tahu "Ayam bisa mengenal telur, sebaliknya telur tidak mengenal ayam." kata Abu Nawas singkat.

Agak lama Baginda Raja merenung. Kali ini Bagin­da tidak nyanggah alasan Abu Nawas.


SKETSA KANDANGAN


Lamang Terpanjang Tandai Harjad Kabupaten HSS ke-59
Kamis, 17 Desember 2009 11:26
E-mail Cetak PDF

Kandangan, KP – Lagi-lagi Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) membuat kejutan, setelah dua tahun sebelumnya, mencetak rekor dengan pembuatan dodol terpanjang.

Kali ini pada Hari Jadinya yang ke-59 tahun 2009 ini, membuat rekor terbaru dengan pesta lamang terpanjang yang terbentang di lapangan Lambung Mangkurat Kandangan sepanjang 1.259 meter.

Kenapa diputuskan panjang lamang 1.259 meter, Bupati H Muhammad Safi’i dalam sambutannya mengatakan, angka 12 merupakan bulan Hari Jadi Kabupaten HSS, 59 merupakan usia kabupaten sendiri. Dan lamang dipilih karena merupakan makanan ciri khas di ‘Bumi Antaludin’.

Selain mencetak rekor, panitia juga menyediakan lamang ‘bini’ dan ‘lamang laki’. Dua jenis lamang yang disediakan ini, kalau lamang ‘bini’ terdapat telor di dalamnya. Lamang ‘laki’ sebaliknya, seperti lamang biasa atau tidak ada telor di dalamnya.

Sementara itu, pemotongan lamang secara simbolis dilakukan oleh Gubernur Kalsel H Rudy Ariffin, dan disaksikan oleh bupati, wakil bupati, unsur Muspida dan undangan yang hadir.

Gubernur dan isteri diiringi oleh bupati beserta isteri Hj Herliawati Safi’i, dan unsur Muspida, mengelilingi lamang dan sambil bersalaman dengan masyarakat yang datang ke lapangan untuk menikmati lamang atau hanya sekedar bersalaman dengan orang nomor satu di Kalsel ini.

Tidak hanya itu, ia juga mencicipi lamang yang baru saja dipotong dan tampak menikmatinya.
Gubernur juga memuji, begitu banyak makanan khas yang ada di Kabupaten HSS, selain lamang, ada juga dodol dan ketupat.

``Dengan even ini, kita rayakan dengan kebersamaan, sekaligus juga mempromosikan makanan khas ini. Makanan ciri khas Kabupaten HSS tersedia 24 jam, baik itu lamang, ketupat dan dodol. Inilah khasnya kabupaten yang berjulukan ‘Kota Dodol,’’ terangnya.

Kemajuan HSS sendiri, ia menilai cukup signifikan, apa yang dirasakan masyarakat saat ini, apalagi masalah pelayanan perizinan publik merupakan nomor satu dan ini menjadikan contoh dari kabupaten lain dan kota di luar Provinsi Kalsel. Dibidang lain pun, baik itu pertanian, ekonomi dan kemaslahatan bagi masyarakat sudah terasa.

Menurut Kepala Badan Penyuluhan dan Ketahanan Pangan Ir H Fathurrahman, lamang yang disiapkan sebanyak 1.800 bumbung (tempat lamang dari bamboo.red), rata-rata bumbung berukuran 70 cm. Lalu bila dikalkulasikan maka panjang lamang mencapai 1.259 meter.

Angka tersebut mempunyai makna, karena Harjad digelar bulan 12 dan Ultah yang ke-59. Lamang terpanjang tersusun di sepanjang lapangan Lambung mangkurat, setiap dua bumbung lamang dijaga satu orang PNS di lingkungan Pemkab HSS.

``Pengrajin lamang sendiri sebanyak 16 orang, yang disponsori tunggalnya Bank BPD cabang Kandangan,’’ kata Fatuhurrahman. (noi/K-5)


SKETSA ISLAMI

FADHILAT DAN KHASIAT AL-FATIHAH

Nabi Muhammad s.a.w. pernah bersabda yang bermaksud:

"Membaca Fatihah Al-Quran pahalanya seperti sepertiga Al-Quran"

Juga Nabi Muhammad s.a.w.bersabda:

"Surat Al-Fatihah adalah untuk apa ia dimaksudkankan dalam bacaannya." dan

"Fatihah itu pembukaan maksud bagi orang-orang mukmin."

Sesiapa membaca surah Al-Fatihah dalam keadaan berwuduk sebanyak 70 kali setiap hari selama tujuh hari lalu ditiupkan pada air yang suci lalu diminum maka ia akan memperolehi ilmu dan hikmah serta hatinya dibersihkan dari fikiran rosak.

Diantara khasiat Fatihah ialah siapa yang membaca 'Al-Fatihah' diwaktu hendak tidur, Surah 'Al-Ikhlas' sebanyak 3 kali dan Mu'awwidzatain maka ia akan aman dari segala hal selain ajal. Dan siapa berhajat (berkeinginan sesuatu) kepada Allah s.w.t.maka olehnya dibaca surah Al-Fatihah sebanyak 41 kali diantara sembahyang sunat Subuh dan sembahyang fardu Subuh sampai 40 hari (tidak Lebih) kemudian memohon kepada Allah s.w.t. maka Insyaallah ia penuhi keperluan hidupnya.

*
Barangsiapa membaca Fatihah berserta Bismillah diantara sunat Subuh dan fardu Subuh dengan Istiqomah maka kalau ia inginkan pangkat terkabullah ia dan kalau ia fakir maka akan kaya serta jika ia punya hutang maka mampu membayanrnya dan kalau ia sakit maka akan sembuh serta kalau ia punya anak maka anaknya itu menjadi anak yang soleh, berkat surah Al-Fatihah.
*
Barangsiapa mengamalkan bacaan Al-Fatihah sebanyak 20kali setiap selesai sembahyang fardu lima waktu maka Allah s.w.t. luaskan rezekinya, baiki akhlaknya, mudahkan urusannya, hilangkan keperihatinannya dan kesusahannya, anugerahkan apa yang ia angan-angankan, dapatkan berbagai berkat dan kemuliaan, jadikan ia berwibawa, berpangkat luhur, berpenghidupan baik dan ia pula anak-anaknya terlindung dari kemudharatan dan kerosakan serta dianugerahkan kebahagiaan dan sebagainya.
*
Barangsiapa mengamalkan bacaan Al-Fatihah sebanyak 125 kali selesai sembahyang Subuh maka ia peroleh maksudnya dan ia ketemukan apa yang dicari-cari serta sebaiknya ia panjatkan doa yang bermaksud:

"Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu dengan kebenaran Surah Al-Fatihah dan rahsianya, supaya dimudahkan bagiku semua urusanku, sama ada urusan dunia atau urusan akirat, supaya dimakbulkan permohonanku dan ditunaikan hajatku..........."

*
Barangsiapa mengamalkan bacaan Al-Fatihah diwaktu sahur (tengah malam) sebanyak 41 kali maka Allah s.w.t.bukakan pintu rezekinya dan Dia mudahkan urusannya tanpa kepayahan dan kesulitan. Selesai bacaan Al-Fatihah tersebut dan sebaiknya berdoa:

"Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu dengan kebenaran surah Al-Fatihah dan rahsianya, supaya Engkau bukakan bagiku pintu-pintu rahmatMu, kurnia-Mu dan rezeki-Mu. Dan Engkau mudahkan setiap urusanku, murahkanlah bagiku rezekiMu yang banyak lagi berkat tanpa kekurangan dan tanpa susah payah, sesungguhnya Engkau berkuasa atas setiap sesuatu. Aku mohon kepada-Mu dengan kebenaran surah Al-Fatihah dan rahsianya, berikan apa yang kuhajati........"

Diriwayatkan dari Syeikh Muhyiddin Ibnul Arabi didalam kitab 'Qaddasallaahusirrahu':

"Siapa yang punya maksud maka sebaiknya ia membaca surat Al-Fatihah sebanyak 40 kali sehabis sembahyang Maghrib dan sunatnya, selesai itu ia ajukan permohonan hajatnya kepada Allah s.w.t."

*
Surat Al-Fatihah boleh mengubati penyakit mata, sakit gigi, sakit perut dan lain-lainnya dengan dibacakan sebanyak 41 kali.
*

Ikhtiar mengubati penyakit : Baca SurahAl-Fatihah sebanyak 40 kali pada tempat berisi air, lalu air itu diusap-usapkan pada kedua belah tangan, kedua belah kaki, muka, kepala dan seluruh badan, allu diminum, Insyaallah menjadi sembuh.
*
Kalau Surah Al-Fatihah itu ditulis dengan huruf-huruf terpisah lalu dileburkan dengan air suci dan diminumkan kepada sisakit, maka dengan iradah Allah s.w.t. ia akan sembuh.
*
Ikhtiar menghilangkan sifat pelupa: Tulislah surat Al-Fatihah dengan huruf Arab pada tempat putih dan suci lalu dihapuskan dengan air dan diberi minum pada orang yang pelupa, maka ia akan hilang sifat pelupanya dengan izin Allah s.w.t.
*
Mengubati sakit disebabkan oleh sengatan kala: Ambil sebuah tempat bersih lalu diisi air dan sedikit garam lalu dibacakan padanya Surah Al-Fatihah sebanyak 7 kali lalu diberi minum pada orang yang tersengat kala itu, Insyaallah ia akan sembuh.
*
Mengubati sakit gigi dan lain-lain: Untuk dirinya sendiri = letakkan jari pada tempat yang sakit lalu membaca Al-Fatihah dan berdoa sebanyak 7 kali:

"Ya Allah, hilangkan daripada keburukan dan kekejian yang aku dapati dengan doa Nabi-Mu yang jujur (al- Amin) dan tetap disisi-Mu".

*
Mengubati penyakit gigi orang lain: selesai membaca Al-Fatihah maka berdoa 7 kali:

"Ya Allah, hilangkan daripada orang ini keburukan dan kekejian yang aku dapati dengan doa Nabi-Mu yang jujur (al- Amin) dan tetap disisi-Mu".

Adapun faedah dan khasiat dari Surah Al-Fatihah ialah menyembuhkan penyakit mata yang kabur (rabun)

Sabda Nabi Muhammad s.a.w."

"Barangsiapa yang ingin menyembuhkan kelemahan pandangannya (kabur/rabun) maka hendaklah dilakukan:

*
Memandang bulan pada awal bulan, jika tidak kelihatan atau terhalang oleh awan dan lain-lain hal, lakukan pada malam kedua, juga tidak dapat, cuba pada malam ketiga atau begitu seterusnya hingga nampak kelihatan bulan itu.
*
Apabila telah kelihatan, hendaklah ia menyapukan tangan kanannya kemata dengan membaca Al-Fatihah sebanyak 10 kali.
*
Sesudah itu mengucapkan pula sebanyak 7 kali doa ini:

"Al-Fatihah itu menjadi ubat tiap-tiap penyakit dengan rahmat Mu ya Tuhan yang pengasih penyayang."

*
Lalu mengucapkan "Yaa Rabbi" sebanyak 5 kali.
*
Terakhir mengucapkan pula doa ini sebanyak 1 kali:

"Ya Allah sembuhkanlah, Engkaulah yang menyembuhkan, Ya Allah sihatkanlah, Engkaulah yang menyihatkan".


SKETSA PENCERAH

ADA IMRON KAH DI RUMAH ANDA ?

Oleh : Randu Alamsyah

Seperti biasa Rudi,Kepala Cabang di sebuah perusahaan swasta terkemuka di Jakarta, tiba dirumahnya pada pukul 9 malam. Tidak seperti biasanya, Imron, putra pertamanya yang baru duduk di kelas dua SD yang membukakan pintu. Ia nampaknya sudah menunggu cukup lama.

“Kok, belum tidur?” sapa Rudi sambil mencium anaknya. Biasanya, Imron memang sudah lelap ketika ia pulang dan baru terjaga ketika ia akan berangkat ke kantor pagi hari. Sambil membuntuti sang ayah menuju ruang keluarga, Imronmenjawab, “Aku nunggu Ayah pulang. Sebab aku mau tanya berapa sih gaji Ayah?”

“Lho, tumben, kok nanya gaji Ayah? Mau minta uang lagi,ya?”

“Ah, enggak. Pengen tahu aja.”

“Oke. Kamu boleh hitung sendiri. Setiap hari ayah bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp 400.000,-. Dan setiap bulan rata-rata dihitung 25 hari kerja. Jadi, gaji ayah dalam satu bulan berapa, hayo?”

Imron berlari mengambil kertas dan pensilnya dari meja belajar, sementara ayahnya melepas sepatu dan menyalakan televisi. Ketika Rudi beranjak menuju kamar untuk berganti pakaian, Imron berlari mengikutinya.

“Kalau satu hari ayah dibayar Rp 400.000,- untuk 10 jam, berarti satu jamnya digaji Rp 40.000,- dong,” katanya.

“Wah, pinter kamu. Sudah,sekarang cuci kaki, bobok,” perintah Rudi. Tetapi Imron tak beranjak.Sambil menyaksikan ayahnya berganti pakaian, Imron kembali bertanya,”Ayah, aku boleh pinjam uang Rp 5.000,- nggak?”

“Sudah, nggakusah macam-macam lagi. Buat apa minta uang malam-malam begini? Ayah capek. Dan mau mandi dulu. Tidurlah.”

“Tapi, Ayah…” Kesabaran Rudi habis.

“Ayah bilang tidur!” hardiknya mengejutkan Imron. Anak kecil itu pun berbalik menuju kamarnya.

Usai mandi, Rudi nampak menyesali hardikannya. Ia pun menengok Imron di kamar tidurnya. Anak kesayangannya itu belum tidur. Imron didapatinya sedang terisak-isak pelan sambil memegang uang Rp 15.000,- di tangannya. Sambil berbaring dan mengelus kepala bocah kecil itu, Rudi berkata,”Maafkan Ayah, Nak. Ayah sayang sama Imron. Buat apa sih minta uang malam-malam begini? Kalau mau beli mainan, besok kan bisa. Jangankan Rp 5.000,- lebih dari itu pun ayah kasih.”

“Ayah, aku nggak minta uang. Aku pinjam. Nanti aku kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajan selama seminggu ini.” Iya,iya, tapi buat apa?” tanya Rudi lembut.

“Aku menunggu Ayah dari jam 8. Aku mau ajak Ayah main ular tangga. Tiga puluh menit saja. Ibu sering bilang kalau waktu Ayah itu sangat berharga.Jadi, aku mau beli waktu ayah. Aku buka tabunganku, ada Rp 15.000,-.Tapi karena Ayah bilang satu jam ayah dibayar Rp 40.000,-, maka setengah jam harus Rp 20.000,-. Duit tabunganku kurang Rp 5.000,-. Makanya aku mau pinjam dari Ayah,” kata Imron polos. Rudi terdiam. Ia kehilangan kata-kata. Dipeluknya bocah kecil itu erat-erat.

###

Membaca postingan lama seorang sahabat di sore yang basah kemarin, membuat saya termurung-murung. Berapa banyak Imron yang ingin membeli ayahnya untuk main ular tangga di senja ini ?

Ah, roman panjang kehidupan manusia, tak mudah untuk kita genggam hanya dengan buih-buih mulut motivator, satu dua kata-kata mutiara, dan status-status dangkal di fesbuk.(randu@radarbanjarmasin.com)

Minggu, 20 Desember 2009

SKETSA FILE 21

Senin, 21 Desember 2009

MENGELUHLAH DISINI

PELAYANAN TELKOMSEL PAYAH

Payah-payah! Telkomsel (Kartu AS) payah. Pelayanan internet tidak dapat diakses siang malam. Bagaimana ini. Aku kecewa. Puaskan pelangganmu dong! Buat pelayanan terbaik. Jangan goyahkan keunggulanmu saat ini.


SKETSA CURAH

Malamku terjaga. Batinku tersiksa. Batuk kada sing ampihan hingga kini. Nafas sesak.

SKETSA MTsN ANGKINANG

TRY OUT UAN 2010

Mulai hari Senin (21/12/2009)s/d Kamis (24/12/2009)MTsN Angkinang menggelar ujicoba/try out Ujian Nasional. Dengan 4 lokal.

SKETSA ANEKA

TAGANA HSS BANTU KORBAN KEBAKARAN

Sebuah rumah di Desa Telaga Langsat Kec. Telaga Langsat HSS Sabtu(19/12/2009)hangus terbakar.Untung tidak menjalar ke rumah lainnya. Berkat kesigapan dari petugas BPK HIPTA Angkinang yang diminta bantuan oleh warga.

Untuk meringankan beban korban, Minggu (20/12/2009) anggota Tagana (Taruna Siaga Bencana)Hulu Sungai Selatan membantu membersihkan puing-puing kebakaran. Seperti memisahkan bahan bangunan yang masih bagus dengan yang tidak bagus.

" Ini merupakan bentuk kepedulian kami untuk meringankan beban penderitaan korban yang terkena bencana," ujar Rahmadiansyah, salah satu anggota Tagana HSS.


KARANG TARUNA ANGGREK ANGKINANG SELATAN
SIAP MENGIKUTI KEMAH KARANG TARUNA SE KALSEL DI PAGAT

Karang Taruna Anggrek Desa Angkinang Selatan Kec. Angkinang Kab.HSS siap berpartisipasi pada even kemah karang taruna yang digelar setahun sekali.

Seperti pada kemah karang taruna tahun 2009 ini yang digelar di Pagat Kec. Batu Benawa Kab.HST. Mereka berangkat lebih awal bersama rombongan Kab.HSS lainnya. Yakni hari Selasa(22/12/2009). Sementara agenda kemah berlangsung mulai tanggal 23-26 Desember 2009. Target KT.Anggrek tetap mempertahankan prestasi yang dicapai saat kemah KT di Jembatan Rumpiang Kab. Batola tahun 2008 silam yaitu Juara III Lomba Asah Mampu dan Juara III Menulis Puisi Tentang Karang Taruna.


KOMPASIANA

BERHARAP YANG TIDAK ADA, YANG ADA DISIAKAN

Oleh : Mochamad Yusuf

Sering kita berharap terlalu tinggi. Sesuatu yang belum jelas, masih jauh di angan-angan. Ironisnya yang sudah ada dan yang sudah dimiliki disia-siakan. Yang terjadi kemudian adalah penyesalan.

Telor Blorok

Waktu kecil suatu ketika saya disuruh makan, saya bilang, “Nggak dulu. Saya nunggu nasi selamatan tetangga sebelah.” Saya tahu tetangga sebelah ada acara syukuran. Karena Ibu diminta membantu. Dan jelas terlihat keramaian seperti terop dan loud speaker yang sudah ada. Dan nasi selamatan memang sungguh enak. Lengkap ada ayam, telur, tahu, tempe, sayur dan lainnya.

Namun Ibu memarahi, “Jangan berharap telor blorok.” Artinya jangan berharap telor yang belum tentu ditelorkan oleh ayam. Jadi apa yang ada, ya dimakan. Tidak usah menunggu yang belum jelas, seperti telor yang ada di perut ayam. Tidak kelihatan pasti.

Meski bagi saya nasi selamatan sudah jelas, saya turuti nasehat Ibu ini. Tentu saja kalau kepastiannya sangat besar, saya makan tidak kenyang. Menyisakan perut untuk makan nasi selamatan yang enak itu. Tapi kalau belum jelas apakah diberi atau tidak, saya makan kenyang saja. Kalau memang diberi ya rezeki, kalau tidak diantari ya sudah. Saya tak akan kecewa. Karena haknya tetangga memberi kita atau tidak.

Kini setelah dewasa pelajaran dari Ibu selalu saya camkan. Saya tidak akan berharap dan bersandar pada kepastian yang belum pasti. Misal: ketika ada tawaran diskon gila-gilaan dari sebuah sales waktu jalan-jalan di mall, saya akan berpikir dulu ada anggarannya tidak. Meski di tangan sudah ada kartu kredit, tinggal gesek saja. Saya tidak akan berharap misal pada rezeki ini-itu. Yang di tangan ada uang untuk itu tidak. Kalau ada ya dibeli, kalau tidak ya tidak jadi. Kalau memang jelas sudah ada anggarannya, ya tidak apa-apa gesek kartu kredit. Karena memang praktis.

Dengan sikap seperti ini saya menjadi mudah bersyukur dengan apa yang sudah saya miliki. Tidak gampang kecewa kalau misalnya harapan kita tak tercapai. Karena toh saya tak berkorban untuk itu. Misal: saya sudah menunggu nasi selamatan tersebut dengan tidak makan, eh setelah kelaparan, ternyata tidak jadi juga diantar oleh tetangga nasi selamatan itu.

Selain itu dengan sikap ini saya tak akan membuang waktu, tenaga dan lainnya untuk sesuatu yang belum jelas. Saya optimalkan apa yang dimiliki.

Saya selalu bilang pada diri saya dan keluarga, jangan menunda sesuatu karena sesuatu yang belum jelas. Misal: saya mau rajin shalat kalau sudah punya sepeda motor sendiri. Punya sepeda motor ini tentu saja tidak jelas pastinya. Tanggalnya kapan. Kalau tidak mau shalat ya sudah. Tapi jangan beralasan dengan sesuatu yang lain. (Tentu saja saya juga mengajarkan teori ayam blorok ini).

Hari ini saya baca ada sebuah menteri yang merasa kecewa. Dirinya sebenarnya mencalonkan sebagai anggota DPR. Dan ternyata memang benar terjadi. Suara yang diraih cukup untuk melenggang ke Senayan. Namun dia buang kesempatan itu karena berharap jadi menteri lagi. Sekarang naga-naganya tidak ada tawaran menjadi menteri lagi. Saya bayangkan perasaan menyesal dan kecewa akan timbul padanya.

Kita hanyalah manusia yang tak tahu masa depan. Yang ada adalah sekarang. Kita syukuri dan optimalkan apa yang sudah dimiliki.

Bagaimana menurut anda?

~~~
*Mochamad Yusuf adalah konsultan senior TI, pembicara publik, pengajar sekaligus developer website & software. Aktif menulis dan bukunya telah terbit. Anda dapat mengikuti aktivitasnya di personal websitenya atau di profil Facebooknya.


PESONA KALIMANTAN SELATAN

BUAH KHAS KALIMANTAN KIAN LANGKA
Banjarmasin,18/10 (ANTARA)-Buah-buahan khas Kalimantan yang berada di kawasan Kalimantan Selatan kian kian langka setelah pohon buah-bauah tersebut terus ditebang untuk digunakan sebagai bahan baku gergajian.
Demikian keterangan warga di bilangan Kabupaten Balangan, kepada ANTARA saat melakukan mudik lebaran, demikian dilaporkan Kamis.
Berdasarkan keterangan penduduk Desa Panggung, buah khas yang sudah langka seperti jenis maritam (buah sejenis rambutan tapi tidak berbulu), siwau (juga jenis ramburan juga tidak berbulu) asam hurang (mangga kecil rasanya manis).
Buah lain yang pohon kayunya terus ditebang, tandui (sejenis mangga tetapi rasanya sangat kecut, biasanya disenangi hanya dijadikan rujak), lahung (sejenis durian berbulu panjang dan lancip dengan warna kulit merah tua), serta mantaula (sejenis durian berklit tebal berduri besar rasanya khas).
Buah-buahan yang hanya berada di pedalaman Kalimantan khususnya di Pegunungan Meratus tersebut dicari lantaran pohonnya selalu besar, sehingga bila dijadikan kayu gergajian maka kayu gergajian dari pohon itu volumenya banyak.
“Sejak sepuluh tahun terakhir ini, kayu buahan tersebut ditebang diambil kayunya untuk dijual dan untuk bahan bangunan pembangunan rumah penduduk,” kata Rusli penduduk setempat.
Perbuuan kayu buah-buahan tersebut setelah kayu-kayu besar dalam hutan sudah kian langka pula, setelah terjadi penebangan kayu dalam hutan secara besar-besar dalam dekade belakangan ini.
Sementara permintaan kayu untuk dijadikan vener ( bahan untuk kayu lapis) terus meningkat, setelah kayu-kayu ekonomis dalam hutan sudah sulit dicari,
Bukan hanya untuk vener, kayu-kayu dari pohon buah itu dibuat papan untuk dinding rumah penduduk, atau dibuat balokan serta kayu gergajian.
Beberapa warga menyayangkan penebangan kayu buah tersebut, lantaran jenis kayu ini adalah kayu yang berumur tua.
“Kalau sekarang ditanam maka mungkin 50 tahunan bahkan ratusan tahun baru kayu itu besar,” kata warga yang lain.
Sebagai contoh saja, jenis pohon buah lahung yang ditebang adalah pohon yang ratusan tahun usianya, makanya pohon lahung yang banyak ditebang ukuran garis tengahnya minimal satu meter.
Warga mengakui agak sulit melarang penebangan kayu pohon buah tersebut lantaran itu kemauan pemilik lahan dimana pohon itu berada, sebab pohn itu sebelum ditebang dijual dengan harga mahal, sehingga oleh pemilik lahan dianggap menguntungkan.

PRODUKSI BUAH-BUAHAN LOKAL PEDALAMAN KALSEL MENURUN DRASTIS
Banjarmasin,30/3 (ANTARA)- Produksi buah-buahan lokal Pedalaman Kalimantan Selatan (Kalsel) beberapa tahun belakangan ini mengalami penurunan drastis lantaran pohon buah-buahan itu tidak banyak yang dibudidayakan sementara tanaman yang ada sebagian besar sudah tua-tua dan tidak berproduksi dengan baik lagi.
Wartawan ANTARA yang melakukan perjalanan ke wilayah Kecamatan Awayan, Kabupaten Balangan seperti dilaporkan Minggu memperoleh keterangan dari warga bahwa produksi buah-buahan itu menurun tidak seperti beberapa tahun yang lalu.
“Biasanya saat musim buah seperti sekarang ini, produksi buah-buahan lokal melimpah, seakan tak ada harganya lagi, tetapi sekarang produksi yang ada jumlahnya sedikit, akhirnya buah-buahan lokal itu berharga mahal,”kata Nahlian Noor menuturkan.
Nahlian Noor yang dikenal sebagai pedagang buah di kawasan tersebut mengakui untuk memperoleh buah-buahan dengan jumlah besar untuk dibawa ke kota sekarang sudah sulit sekali, untuk kebutuhan masyarakat setempat saja hampir tak mencukupi apalagi harus dibawa ke luar daerah.
Sebagai contoh buah Pampakin (sejenis durian warna kuning kemerahan) sekarang satu biji sudah seharga antara Rp5 ribu hingga Rp10 ribu di tempat, walau harganya dinilai cukup mahal tetapi kalau dijual di kawasan ini saja sudah rebutan karena produksinya yang sedikit itu.
Padahal tahun-tahun sebelumnya produksi buah Pampakin selalu saja memludak dan banyak dibawa ke Banjarmasin serta kota-kota lain di Kalsel, bahkan dibawa ke Balikpapan dan Samarinda (Kaltim).
Menurunnya produksi buah lokal tersebut karena banyak pohon buah itu tidak dipelihara dengan baik, apalagi dibudidayakan dengan pembibitan yang baru sama sekali hampir tak pernah terlihat lagi.
Bahkan banyak pohon buah lokal yang berpohon besar bukannya dipelihara melainkan justru ditebang karena kayu dari pohon buah ternyata belakangan laku dijual untuk dibuat bahan bangunan seperti papan, kasau, gelagar, dan kayu gergajian yang lain.
Selain itu kayu pohon buah lokal ini juga laku dijual ke berbagai perusahaan vener (bahan pelapis plywood) dengan harga yang menggiurkan, akhirnya banyak warga pemilik buah-buahan lokal tidak mau repot memelihara pohon itu, tetapi dijual dengan harga mahal ke berbagai perusahaan itu, kata seorang warga yang lain.
Di Pedalaman Kalsel, khususnya di kaki Pegunungan Meratus Kabupaten Balangan, Kabupaten Tabalong, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) serta Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) dikenal sebagai sentra buah-buahan lokal Kalsel.
Kawasan ini setiap musim buah memproduksi buah lokal seperti tiwadak (cempedak), durian yang kalau di kawasan setempat terdapat sekitar 30 spicies durian, rambutan sekitar 40 spicies, dan mangga-manggaan yang juga puluhan spicies.
Jenis buah yang biasanya selalu melimpah, adalah langsat terdapat beberapa spicies,rambai beberapa spicies.
Di kawasan tersebut terdapat beberapa jenis buah lokal yang khas dan unik, seperti lahung sejenis durian tetapi durinya panjang-panjang dan lancip warna kulit merah kehitaman, bentuknya bulat dan rasanya sangat khas. Buah lahung kebanyakan dipergunakan sebagai penyedap penganan.
Kemudian juga ada buah maritam, mungkin pamily rambutan tetapi tidak berbulu, kulitnya keras warna kulit hijau kemerahan, rasanya seperti rambutan.
Buah khas lain yang berdasarkan data terdapat di Kalsel tetapi terus menurun populasinya adalah Kasturi (Mangifera casturi), Hambuku (Mangifera spp), Hambawang (Mangifera foetida), Pampakin (Durio kutejensis), Mundar (Garcinia spp), Pitanak (Nephelium spp), Tarap (Arthocarpus rigitus), Kopuan (Arthocarpus spp), Gitaan (Leukconitis corpidae), serta Rambai (Sonneratia caseolaris)
ciri biologis buah kalsel

Nama Umum Spesies : RambutanNama Genus, Spesies, Author(s) : Nephelium lappaceaum LNama Varietas : GarudaNo.
Deskripsi Tanaman : Keadaan Tanaman : Batang (pohon) : lurus, Warna batang : kecoklatan, Percabangan(mulai muncul) : dekat dengan tanah, Kerapatan cabang : sedang, Posisi cabang : horizontal kemudianmelengkung ke atas, Tinggi pohon dewasa : 5,0 – 9,0 m, Keadaan kanopi (mahkota daun) : menyerupai payung,Diameter kanopi daun tanaman dewasa : 7,0 – 9,5 m, Keadaan batang : kasar, Bentuk batang : gilik; Daun Muda: Warna daun atas : hijau tua, Warna daun bawah : hijau keputihan, Bentuk daun muda : bulat panjang denganujung tumpul; Keadaan Daun Tua : Kedudukan daun : mendatar, ujung melengkung ke bawah, Bentuk daun :bulat panjang dengan ujung tumpul, Ujung daun : tumpul; Bunga : Keadaan bunga : bulat kecil bergeromboldalam tandan, Bentuk bunga : bulat, Warna mahkota bunga : kekuningan, Warna benang sari : kuning,Rangkaian bunga : keatas, Bentuk buah : bulat lonjong, rambut panjang, Warna buah : merah, Warna rambut :merah dengan ujung kekuningan; Buah Tua : Sifat buah : mudah mengelotok, Berat buah per biji : 68,15 gr,Ketebalan kulit : sedang, Bentuk buah : lonjong dengan rambut panjang, Warna kulit buah : merah, Bentuk biji : bulat panjang, Ketebalan daging buah : 1,2 cm, Keadaan daging : agak kenyal, Rasa daging : manis, Warna daging buah : putih, Tekstur daging buah : halus, Aroma daging buah : tidak menyengat, Hasil perpohon : 3000 – 4000 buah per tahun; Keterangan : SK Mentan No. 592/Kpts/TP.240/8/90bulat panjang, Ketebalan daging buah : 1,2 cm, Keadaan daging : agak kenyal, Rasa daging : manis, Warnadaging buah : putih, Tekstur daging buah : halus, Aroma daging buah : tidak menyengat, Hasil perpohon : 3000 -4000 buah per tahun

Nama Umum Spesies : RambutanNama Genus, Spesies, Author(s) : Nephelium lappaceaum LNama Varietas : AntalagiNo.

Deskripsi Tanaman : Keadaan Tanaman : Batang (pohon) : lurus, Warna batang : kecoklatan, Percabangan(mulai muncul) : dekat dengan tanah, Kerapatan cabang : sedang, Posisi cabang : horizontal kemudianmelengkung ke atas, Tinggi pohon dewasa : 7,0 – 9,0 m, Keadaan kanopi (mahkota daun) : menyerupai payung,Diameter kanopi daun tanaman dewasa : 8 – 10 m, Keadaan batang : kasar, Bentuk batang : gilik; Daun Muda : Warna daun atas : hijau tua, Warna daun bawah : hijau keputihan, Bentuk daun muda : bulat panjang denganujung meruncing; Keadaan Daun Tua : Kedudukan daun : mendatar, ujung melengkung ke bawah, Bentuk daun: bulat panjang dengan ujung runcing, Ujung daun : meruncing; Bunga : Keadaan bunga : bulat kecil bergeromboldalam tandan, Bentuk bunga : bulat, Warna mahkota bunga : kekuningan, Warna benang sari : kuning,Rangkaian bunga : keatas, Bentuk buah : bulat panjang, agak pipih rambut pendek, Warna buah : kuningkehijauan, Warna rambut : hijau kekuningan, ujung merah; Buah Tua : Sifat buah : ngelotok, kulit biji melekat,Berat buah per biji : 42,0 gr, Ketebalan kulit : sedang, Bentuk buah : bulat panjang, agak pipih rambut pendek, pendek, Warna kulit buah : kuning kehijauan, Bentuk biji : bulat panjang, Ketebalan daging buah : 1,2 cm, Keadaan daging : agak kenyal, Rasa daging : manis, agak kering, agak harum, Warna daging buah : putih, Tekstur daging buah : halus, Aroma daging buah : agak harum, Hasil perpohon : 4000 – 5000 buah per tahun; Keterangan : SK Mentan No. 589/Kpts/TP.240/8/90Warna kulit buah : kuning kehijauan, Bentuk biji : bulat panjang, Ketebalan daging buah : 1,2 cm, Keadaandaging : agak kenyal, Rasa daging : manis, agak kering, agak harum, Warna daging buah : putih, Tekstur dagingbuah : halus, Aroma daging buah : agak harum, Hasil perpohon : 4000 – 5000 buah per tahun

Nama Umum Spesies : RambutanNama Genus, Spesies, Author(s) : Nephelium lappaceaum LNama Varietas : Si BongkokNo.

Deskripsi Tanaman : Keadaan Tanaman : Batang (pohon) : lurus, Warna batang : kecoklatan, Percabangan(mulai muncul) : dekat dengan tanah, Kerapatan cabang : sedang, Posisi cabang : horizontal kemudianmelengkung ke atas, Tinggi pohon dewasa : 6,0 – 8,0 m, Keadaan kanopi (mahkota daun) : menyerupai payung,Diameter kanopi daun tanaman dewasa : 5 – 7 m, Keadaan batang : kasar, Bentuk batang : gilik; Daun Muda : Warna daun atas : hijau tua, Warna daun bawah : hijau keputihan, Bentuk daun muda : bulat panjang denganujung meruncing; Keadaan Daun Tua : Kedudukan daun : mendatar, ujung melengkung ke bawah, Bentuk daun: bulat panjang dengan ujung runcing, Ujung daun : meruncing; Bunga : Keadaan bunga : bulat kecil bergeromboldalam tandan, Bentuk bunga : bulat, Warna mahkota bunga : kekuningan, Warna benang sari : kuning,Rangkaian bunga : keatas, Bentuk buah : lonjong rambut halus, Warna buah : merah tua kecoklatan, Warnarambut : merah tua; Buah Tua : Sifat buah : ngelotok, kulit biji melekat, Berat buah per biji : 50,67 gr, Ketebalankulit : sedang, Bentuk buah : lonjong dengan rambut halus, Warna kulit buah : merah tua, Bentuk biji : bulat panjang, Ketebalan daging buah : 1,2 cm, Keadaan daging : agak kenyal, Rasa daging : manis, agak kering, Warna daging buah : putih, Tekstur daging buah : halus, Aroma daging buah : tidak menyengat, Hasil perpohon : 3500 – 4500 buah per tahun; Keterangan : SK Mentan No. 590/Kpts/TP.240/8/90bulat panjang, Ketebalan daging buah : 1,2 cm, Keadaan daging : agak kenyal, Rasa daging : manis, agakkering, Warna daging buah : putih, Tekstur daging buah : halus, Aroma daging buah : tidak menyengat, Hasilperpohon : 3500 – 4500 buah per tahun

Nama Umum Spesies : RambutanNama Genus, Spesies, Author(s) : Nephelium lappaceaum LNama Varietas : Si Batuk GanalNo.

Deskripsi Tanaman : Keadaan Tanaman : Batang (pohon) : lurus, Warna batang : kecoklatan, Percabangan(mulai muncul) : dekat dengan tanah, Kerapatan cabang : sedang, Posisi cabang : horizontal kemudianmelengkung ke atas, Tinggi pohon dewasa : 7,5 – 9,0 m, Keadaan kanopi (mahkota daun) : menyerupai payung,Diameter kanopi daun tanaman dewasa : 7,5 – 10 m, Keadaan batang : kasar, Bentuk batang : gilik; Daun Muda : Warna daun atas : hijau tua, Warna daun bawah : hijau keputihan, Bentuk daun muda : bulat panjang denganujung meruncing; Keadaan Daun Tua : Kedudukan daun : mendatar, ujung melengkung ke bawah, Bentuk daun: bulat panjang dengan ujung tumpul, Ujung daun : meruncing; Bunga : Keadaan bunga : bulat kecil bergeromboldalam tandan, Bentuk bunga : bulat, Warna mahkota bunga : kekuningan, Warna benang sari : kuning,Rangkaian bunga : keatas, Bentuk buah : bulat rambut panjang, Warna buah : merah, Warna rambut : merahdengan ujung kekuningan; Buah Tua : Sifat buah : ngelotok, kulit biji melekat, Berat buah per biji : 41,1 gr,Ketebalan kulit : sedang, Bentuk buah : bulat dengan rambut panjang, Warna kulit buah : merah, Bentuk biji : bulat panjang, Ketebalan daging buah : 1,2 cm, Keadaan daging : agak kenyal, Rasa daging : manis, berair, Warna daging buah : putih, Tekstur daging buah : halus, Aroma daging buah : tidak menyengat, Hasil perpohon : 6000 – 7000 buah per tahun; Keterangan : SK Mentan No. 591/Kpts/TP.240/8/90bulat panjang, Ketebalan daging buah : 1,2 cm, Keadaan daging : agak kenyal, Rasa daging : manis, berair,Warna daging buah : putih, Tekstur daging buah : halus, Aroma daging buah : tidak menyengat, Hasil perpohon :6000 – 7000 buah per tahun
Nama Umum Spesies : DurianNama Genus, Spesies, Author(s) : Durio zibethinusNama Varietas : Si JapangNo.

Deskripsi Tanaman : Keadaan Tanaman : Batang (pohon) : lurus, Warna batang : kecoklatan, Percabangan(mulai muncul) : 2 meter dari permukaan tanah, Kerapatan cabang : rapat, Posisi cabang : horizontal denganujung ke atas, Tinggi pohon dewasa : 25 m, Keadaan kanopi (mahkota daun) : menyerupai payung sampaikerucut, Diameter kanopi daun tanaman dewasa : 20 m, Keadaan batang : kasar, Bentuk batang : gilik; Daun Muda : Warna daun atas : hijau tua, Warna daun bawah : coklat kemerahan, Bentuk daun muda : bulat panjang;Keadaan Daun Tua : Kedudukan daun : mendatar, ujung daun melengkung ke bawah, Panjang daun : panjang2,5 cm x lebar, Bentuk daun : bulat panjang, Ujung daun : meruncing; Bunga : Keadaan bunga : bergeromboldalam tandan, Bentuk bunga : bulat, Warna mahkota bunga : putih, Warna benang sari : kekuningan, Jumlahbunga per tandan : 5 – 10 buah, Jumlah buah per tandan : 1 – 3 buah, Bentuk buah : bulat panjang, Warna buah :kuning kehijauan, Bentuk duri : kerucut, rapat dan tajam; Buah Tua : Sifat buah : agak mudah dibelah, Beratbuah per biji : 1,5 – 2,5 kg, Ketebalan kulit : 0,5 – 1,0 cm, Jumlah juring per buah : 5 buah, Jumlah pongge per buah: buah : 15 – 20 buah, Bentuk biji : lonjong kecil (10,3 gr), Jumlah biji sempurna : 8 – 15 buah, Ketebalan daging buah : 1,5 – 2,5 cm, Keadaan daging : kering, Rasa daging : manis gurih, Warna daging buah : kuning gading, Tekstur daging buah : halus, Aroma daging buah : harum, Hasil perpohon : 300 – 600 buah per tahun; Keterangan : SK Mentan No. 586/Kpts/TP.240/8/199015 – 20 buah, Bentuk biji : lonjong kecil (10,3 gr), Jumlah biji sempurna : 8 – 15 buah, Ketebalan daging buah : 1,5- 2,5 cm, Keadaan daging : kering, Rasa daging : manis gurih, Warna daging buah : kuning gading, Teksturdaging buah : halus, Aroma daging buah : harum, Hasil perpohon : 300 – 600 buah per tahun
Nama Umum Spesies : DurianNama Genus, Spesies, Author(s) : Durio zibethinusNama Varietas : Si HijauNo.

.Deskripsi Tanaman : Keadaan Tanaman : Batang (pohon) : lurus, Warna batang : kecoklatan, Percabangan(mulai muncul) : 5 meter dari permukaan tanah, Kerapatan cabang : rapat, Posisi cabang : horizontal denganujung ke atas, Tinggi pohon dewasa : 25 m, Keadaan kanopi (mahkota daun) : kerucut, Diameter kanopi dauntanaman dewasa : 20 m, Keadaan batang : kasar, Bentuk batang : gilik; Daun Muda : Warna daun atas : hijautua, Warna daun bawah : coklat kemerahan, Bentuk daun muda : bulat panjang 3 x lebar; Keadaan Daun Tua :Kedudukan daun : mendatar, ujung daun melengkung ke bawah, Panjang daun : panjang 3 cm x lebar, Bentukdaun : bulat panjang, Ujung daun : meruncing; Bunga : Keadaan bunga : bergerombol dalam tandan, Bentukbunga : bulat, Warna mahkota bunga : putih, Warna benang sari : kekuningan, Jumlah bunga per tandan : 5 – 10buah, Jumlah buah per tandan : 1 – 3 buah, Bentuk buah : bulat panjang, Warna buah : hijau, Bentuk duri :kerucut, rapat dan tajam; Buah Tua : Sifat buah : agak mudah dibelah, Berat buah per biji : 2,0 – 2,5 kg,Ketebalan kulit : 1,2 cm, Jumlah juring per buah : 5 buah, Jumlah pongge per buah : 20 – 35 buah, Bentuk biji : lonjong kecil (13,06 gr), Ketebalan daging buah : 1,2 cm, Keadaan daging : agak lembek, Rasa daging : manis gurih, Warna daging buah : kuning menyala/mengkilat, Tekstur daging buah : halus sampai berserat halus, Aroma daging buah : harum, Hasil perpohon : 300 – 400 buah per tahun; Keterangan : SK Mentan No. 586/Kpts/TP.240/8/1990lonjong kecil (13,06 gr), Ketebalan daging buah : 1,2 cm, Keadaan daging : agak lembek, Rasa daging : manisgurih, Warna daging buah : kuning menyala/mengkilat, Tekstur daging buah : halus sampai berserat halus,Aroma daging buah : harum, Hasil perpohon : 300 – 400 buah per tahun

Nama Umum Spesies : DurianNama Genus, Spesies, Author(s) : Durio zibethinusNama Varietas : Si DodolNo.

Deskripsi Tanaman : Keadaan Tanaman : Batang (pohon) : lurus, Warna batang : kecoklatan, Percabangan(mulai muncul) : horizontal mulai ketinggian 3 meter, Kerapatan cabang : rapat, Posisi cabang : horizontal denganujung condong keatas, Tinggi pohon dewasa : 20 m, Keadaan kanopi (mahkota daun) : kerucut, Diameter kanopidaun tanaman dewasa : 10 m, Keadaan batang : kasar, Bentuk batang : gilik; Daun Muda : Warna daun atas :hijau tua, Warna daun bawah : coklat kemerahan, Bentuk daun muda : bulat panjang; Keadaan Daun Tua :Kedudukan daun : mendatar, ujung daun melengkung, Panjang daun : panjang 3,5 cm x lebar, Bentuk daun :bulat panjang, Ujung daun : meruncing; Bunga : Keadaan bunga : bergerombol dalam tandan, Bentuk bunga :bulat, Warna mahkota bunga : putih, Warna benang sari : kekuningan, Jumlah bunga per tandan : 5 – 10 buah,Jumlah buah per tandan : 1 – 2 buah, Bentuk buah : bulat, Warna buah : hijau kekuningan, Bentuk duri : kerucut,rapat dan tumpul; Buah Tua : Sifat buah : agak mudah dibelah, Berat buah per biji : 1,5 – 2,5 kg, Ketebalan kulit :1,10 cm, Jumlah juring per buah : 5 buah,Jumlah pongge per buah:20-25 buah, Bentuk biji: lonjong kecil (13,3 gr), Ketebalan daging buah : 1,2 cm, Keadaan daging : agak lembek, Rasa daging : manis gurih, Warna daging buah : kuning menyala, Tekstur daging buah : halus, Aroma daging buah : harum, Hasil perpohon : 100 – 200 buah per tahun; Keterangan : SK Mentan No. 588/Kpts/TP.240/8/1990Ketebalan daging buah : 1,2 cm, Keadaan daging : agak lembek, Rasa daging : manis gurih, Warna daging buah: kuning menyala, Tekstur daging buah : halus, Aroma daging buah : harum, Hasil perpohon : 100 – 200 buah pertahun
Nama Umum Spesies : Jeruk SiemNama Genus, Spesies, Author(s) : Citrus L.Nama Varietas : BanjarNo.
Deskripsi Tanaman : Tanaman : Tipe tumbuh : tegak; Batang : Panjang duri : 2 – 3 cm, Bentuk batang : gilig,Bentuk percabangan : melengkung keatas, Keberadaan duri : ada; Daun : Panjang helai daun : 6 – 9 cm, Lebarhelai daun : 3 – 5 cm, Rasio panjang/lebar : 2 – 1,8, Bentuk ujung helai daun : acuminate, Pewarnaan anthosianinpada daun muda : hijau kekuning-kuningan, Lekukan daun : ada, Gelombang pada tepi daun : ada; Bunga :Kebiasaan (tipe) berbunga : musiman, Bentuk bunga : seperti lonceng, Warna bunga : putih, Jumlah bunga pertandan : 8 – 10 buah; Buah : Panjang : 5,3 – 5,8 cm, Diameter : 5,9 – 6,8 cm, Jumlah juring per buah : 10 – 13septa, Jumlah biji per buah : 6 – 9 biji, Bentuk buah : bulat agak gepeng, Warna kulit buah masak : hijaukekuningan, Warna daging buah : orange cerah, Rangkaian bakal buah : tersusun dalam tandan (dompolan),Kekerasan permukaan buah : agak lembek, Tingkat kemengkilatan kulit buah : mengkilat, Kulit buah : tipis; Biji :P anjang : 0,8 – 1,16 cm, Lebar : 0,38 – 0,46 cm, Warna luar biji : putih, Permukaan biji : kasar, Keterangan : SKMentan No. 862/Kpts/TP.240/11/1998.BERITA RESMI PVTPendaftaran Varietas LokalNo. Publikasi : 008/BR/PVL/1/2007Pemerintah Kabupaten BanjarTgl. Publikasi : 29 Januari 2007Yayat Hidayat H., Hamidah, M. Syarbaini, Sri Setyasno (BPSBTPH Kal.Sel)dan Surachmat KusumoKec. Sei Tabuk 120.674 phn, Kec. Martapura Timur 5.180 phn, Kec.Martapura Barat 41.250 phn, Kec. Astambul 358.500 phn, Kec. Karang Intan6.728 phn, Kec. Sei Pinang 14.500 phn, Kec. Pengaron 25.000 phn, Kec.Matraman 49.310 phn, Kec. Simpang Empat 87.900 phn.
Nama Umum Spesies : Pisang KepokNama Genus, Spesies, Author(s) : Musa acuminata CollaNama Varietas : ManurunNo.
Tanaman : Tinggi tanaman : 3,0 – 4,5 m; Batang : Warna batang : hijau tua, Lingkarbatang : 95 – 105 cm; Daun : Bentuk daun : jorong memanjang, ujung tumpul, Kedudukan daun : 45 derajat,Panjang daun : 285 – 295 cm, Lebar daun : ujung 88 cm, tengah 92 cm, pangkal 63 cm, Warna daun : atas hijautua, bawah hijau bertepung, Warna pelepah daun : coklat; Bunga : Umur berbunga : 15 – 16 bulan hst, Warnabunga : lemma bening, palea krem, putik putih, benang sari krem, Warna jantung : merah hati; Tandan buah :Jumlah sisir pada tandan buah : 10 sisir (8-12 sisir), Panjang tangkai tandan buah : 16 cm, Panjang tandan buah: 80 cm, Panjang internode tandan buah : 5-8 cm, Lebar tandan buah : 40 cm, Bentuk tandan buah : membulatdengan ujung tumpul; Buah : Jumlah buah per sisir : 12 – 22 buah, Bentuk buah : bersegi dengan ujung tumpul,Jumlah buah pada sisir ketiga : 20 biji, Panjang buah : 13,5-15,5 cm, Panjang tangkai buah : 3 cm, Lebar buah :3,5-3,85 cm, Ketebalan kulit buah : 0,30-0,43 cm, Warna kulit buah : muda hijau, tua kuning, Warna daging buah: muda putih, Warna buah masak : orange agak putih; Sifat-sifat khusus : Rasa buah : manis, Ketahanan terhadap hama : kurang tahan penggulung daun (Yayat Hidayat H., M. Syarbaini, Andriani, Faturrahman, Sri Setyasno, TriSusanto, EPH. Ahyani (BPSBTPH Kal.Sel) dan Surachmat KusumoKec. Kertak Hanyar 7.000 phn, Kec. Sei Tabuk 4.913 phn, Kec. MartapuraTimur 9.600 phn, Kec. Astambul 11.000 phn, Kec. Karang Intan 75.000 phn,Kec. Sei Pinang 508.000 phn, Kec. Pengaron 442.400 phn, Kec. SambungMakmur 437.000 phn, Kec. Mataraman 5.123 phn, Kec. Simpang Empat191.600 phn.terhadap hama : kurang tahan penggulung daun (Erionata thrax), Ketahanan terhadap penyakit : kurang tahanlayu Fussarium sp. Keterangan : SK Mentan No. 498/Kpts/TP.240/10/2000.

Nama Umum Spesies : RambutanNama Genus, Spesies, Author(s) : Nephelium lappaceaum L.Nama Varietas : Zainal MahangNo.

Keadaan Tanaman : Batang (pohon) : lurus, Warna batang : kecoklatan, Percabangan(mulai muncul) : dekat dengan tanah, Kerapatan cabang : sedang, Posisi cabang : horizontal kemudianmelengkung ke atas, Tinggi pohon dewasa : 6,0 – 9,0 m, Keadaan kanopi (mahkota daun) : menyerupai payung,Diameter kanopi daun tanaman dewasa : 8 – 11 m, Keadaan batang : kasar, Bentuk batang : gilik; Daun Muda : Warna daun atas : hijau tua, Warna daun bawah : hijau keputihan, Bentuk daun muda : panjang persegi;Keadaan Daun Tua : Kedudukan daun : mendatar, ujung melengkung ke bawah, Panjang daun : 10-20 cm, lebar8-11,5 cm, Bentuk daun : panjang persegi, Ujung daun : meruncing; Bunga : Keadaan bunga : bulat kecilbergerombol dalam tandan, Bentuk bunga : bulat, Warna mahkota bunga : hijau kekuningan, Warna benang sari :hijau kekuningan, Rangkaian bunga : keatas, Bentuk buah : bulat telur, Warna buah : merah tua, Warna rambut :merah tua; Buah Tua : Sifat buah : ngelotok, daging buah tidak lengket pada biji, Berat buah per biji : 69,3 gr,Ketebalan kulit : 0,2 cm, Bentuk buah : bulat telur, Warna kulit buah : merah tua, Bentuk biji : bulat telur sempit, Ketebalan daging buah : 0,4 cm, Keadaan daging : agak kenyal, Rasa daging : manis, Warna daging buah : putih susu, Tekstur daging buah : halus, Aroma daging buah : tidak menyengat, Hasil perpohon : 70-140 kg per tahun; Keterangan : SK Mentan No. 460/Kpts/PD.210/9/2003.Ketebalan daging buah : 0,4 cm, Keadaan daging : agak kenyal, Rasa daging : manis, Warna daging buah : putihsusu, Tekstur daging buah : halus, Aroma daging buah : tidak menyengat, Hasil perpohon : 70-140 kg per tahun

Nama Umum Spesies : LangsatNama Genus, Spesies, Author(s) : Lansium domesticumNama Varietas : Tanjung B-1No

Deskripsi Tanaman : Keadaan Tanaman : Batang (pohon) : lurus, Warna batang : kecoklatan, Percabangan (mulai muncul) :3 dari permukaan tanah, Kerapatan cabang : sedang, Posisi cabang : melengkung ke atas, Tinggi pohon dewasa : 15 m,Keadaan kanopi (mahkota daun) : menjulang, Diameter kanopi daun tanaman dewasa : 6 m, Keadaan batang : kasar/berlekuk,Bentuk batang : gilik; Daun Muda : Warna daun atas : hijau terang, Warna daun : hijau kuning bawah, hijau terang atas,Bentuk daun muda : oval, Tepi daun : rata, ujung daun runcing; Keadaan Daun Tua : Kedudukan daun : mendatar, Ukurandaun : p. 13,0-16 cm, l. 6,1-7,5 cm, Panjang tangkai daun : 0,4-0,5 cm, Permukaan daun : atas mengkilat, bawah kasar,Panjang tangkai daun 1,5 cm; Bunga : Keadaan bunga : bergerombol dalam tandan, Bentuk bunga : seperti mangkuk, Warnamahkota bunga : putih kusam, Warna benang sari : putih, Panjang tangkai bunga : 0,4-0,6 cm, Jumlah bunga per tandan : 18-28 kuntum, Jumlah buah per tandan : 18-29 buah, Bentuk buah : lonjong, Warna buah : kuning kusam, Ukuran buah : tinggi 4-4,7 cm, diameter 3-3,7 cm, Panjang tangkai buah : 16-20 cm; Buah Tua : Sifat buah: dipencet tidak pecah,Warna buah masak: kuning kusam, Ketebalan kulit : 1-1,2 mm, Jumlah juring per buah : 5 juring, Berat buah per biji : 22,3-29,3 gr, Warna daging buah : putih bening, Tekstur daging buah : halus, Rasa : manis, Aroma : tidak ada, Jumlah biji per buah : 0-1 biji, Bentuk biji : pipih dan lonjong, Kandungan air : 80%, Kadar gula : 13,2 brix, Kandungan asam : 2,8 ml KOH/asam, Kadar vitamin C : 0,0004 mg, Serat kasar : 2%, Kandungan karbohidrat : 0,4%, Kandungan protein : 3%, Hasil perpohon : 125-150 kg/pohon/tahun; Keterangan : SK Mentan No. 490/Kpts/SR.120/12/2005.kuning kusam, Ketebalan kulit : 1-1,2 mm, Jumlah juring per buah : 5 juring, Berat buah per biji : 22,3-29,3 gr, Warna dagingbuah : putih bening, Tekstur daging buah : halus, Rasa : manis, Aroma : tidak ada, Jumlah biji per buah : 0-1 biji, Bentuk biji :pipih dan lonjong, Kandungan air : 80%, Kadar gula : 13,2 brix, Kandungan asam : 2,8 ml KOH/asam, Kadar vitamin C : 0,0004mg, Serat kasar : 2%, Kandungan karbohidrat : 0,4%, Kandungan protein : 3%, Hasil perpohon : 125-150 kg/pohon/tahun;Keterangan : SK Mentan No. 490/Kpts/SR.120/12/2005.Erma Budiyanto, Tri Susanto Eko P., Hj. Rizlatun Maidah, H.M. Syarbaini,Andriani, Sodik, Habibah, A. Hidayat, Rofiq Arliansyah (BPSBTPH).Kec. Tanjung, Kec. KeluaJumlah total 4500 pohon
Nama Umum Spesies : Mangga KuiniNama Genus, Spesies, Author(s) : Mangifera indica L.Nama Varietas : Anjir BatolaNo.

Deskripsi Tanaman : Keadaan Tanaman : Percabangan : sedang, Kedudukan cabang : seperti payung; Batang : Bentukbatang : gilik kulit pecah-pecah, Warna batang : kecoklatan, Daun : Letak daun : pad a tangkai daun, Letak tangkai daun :menempel pada cabang muda, Bentuk dasar daun : acute, Bentuk ujung daun : runcing (attenuate), Bentuk daun secaramendatar : melengkung, Lekukan daun : ada, Lekukan pada garis daun : ada, Relief daun permukaan atas : ada, Bentuk daun: jorong, Warna daun : muda merah ungu, tua hijau tua, Warna tulang daun : hijau kekuningan, Antosianin pada daun muda :ada, Corak warna antosianin pada daun muda : merah ungu, Intensitas warna antosianin pada daun muda : gelap; Bunga : Letak rangkaian bunga : ujung ranting (dompolan), Warna bunga : mahkota putih, bagian tengah merah hati, Bentuk bunga :kerucut; Malai : warna malai : merah hati; Buah : Jumlah buah per malai : 3-5 buah, Jumlah buah per pohon : 600-700 buah,Panjang buah matang : 11 cm, Lebar buah matang : 6,8 cm, Diameter tangkai buah : 0,2 cm, Diameter buah : 8,2 cm, Beratbuah : 456,7 gr, Warna buah : pangkal kuning, lainnya hijau, Bentuk buah muda : lonjong, ujung berparuh, Bentuk melintang buah : elips luas, Bentuk buah matang : lonjong, Kerapatan lentisel pada buah matang : agak jarang, Ketebalan kulit : 0,2cm, Permukaan kulit buah : agak licin, Ketebalan daging buah : sedang, Kedalaman tangkai buah : sedang, Tekstur daging buah : agak berserat, Ada tidaknya tangkai buah : ada, Warna daging buah : kuning orange, Keadaan leher buah : ada; buah : elips luas, Bentuk buah matang : lonjong, Kerapatan lentisel pada buah matang : agak jarang, Ketebalan kulit : 0,2cm,Permukaan kulit buah : agak licin, Ketebalan daging buah : sedang, Kedalaman tangkai buah : sedang, Tekstur daging buah :agak berserat, Ada tidaknya tangkai buah : ada, Warna daging buah : kuning orange, Keadaan leher buah : ada; Biji : Teksturserat : halus, Ketebalan endocarp : 0,2cm, Bentuk biji : kecil lonjong pipih, Panjang biji : 8,6 cm, Lebar bji : 5,7 cm, Tebal biji :4,9 cm; Sifat khusus : Rasa buah : manis, Bagian yang bisa dimakan : 55-70%, Kadar gula : 11,55 %, Kandungan serat kasar :2,55%, Vitamin C : 0,03%, Aroma : harum; Keterangan : SK Mentan No. 413/Kpts/TP.240/7/2002.Tgl. Publikasi : 29 Januari 2007Y. Hidayat H., M. Syarbaini, Hj. Rizlatun M., Helwian Noor, Andriani, TriSusanto, Yuyun Rahmawati, Agus Mahyudin, H. Ahyani, Habibah(BPSBTPH).Pemerintah Kabupaten Barito KualaKec. Anjir Muara, Kec. PasarJumlah total 1500 pohon
Nama Umum Spesies : DukuNama Genus, Spesies, Author(s) : Lansium domesticumNama Varietas : Padang BatungNo.

Deskripsi Tanaman : Keadaan Tanaman : Batang (pohon) : lurus, Warna batang : coklat abu-abu,Percabangan (mulai muncul) : 3 meter dari permukaan tanah, Kerapatan cabang : rapat, Posisi cabang :horizontal dengan ujung keatas, Tinggi pohon dewasa : 15 m, Keadaan kanopi (mahkota daun) : piramid tumpul,Diameter kanopi daun tanaman dewasa : 16 m, Keadaan batang : kasar/berlekuk, Bentuk batang : gilik; Daun Muda : Warna daun atas : hijau tua, Warna daun bawah: hijau kekuningan, Bentuk daun muda : oblong ujungruncing; Keadaan Daun Tua : Kedudukan daun : mendatar, Panjang daun : 15-24,5 cm, lebar 9-11,5 cm, Bentukdaun : oblong ujung runcing, Ujung daun : meruncing, Panjang tangkai daun : 1,5 cm; Bunga : Keadaan bunga :bergerombol dalam tandan, Bentuk bunga : bulat, Warna mahkota bunga : kuning, Warna benang sari : putih,Jumlah bunga per tandan : 25-30 kuntum, Jumlah buah per tandan : 23-38 buah, Bentuk buah : bulat, Warnabuah : kuning; Buah Tua : Sifat buah : dipencet mudah pecah, Warna buah masak : kuning, Ketebalan kulit : 1-2mm, Jumlah juring per buah : 5 juring, Ukuran buah : P. 2,9-4,1 cm, L. 2,5-3,7 cm, Bentuk biji : pipih, Jumlah biji sempurna : 1-2 biji, Ketebalan daging buah : 0,2 cm, Keadaan daging : kering, Rasa daging : manis, Warna daging buah : bening, Tekstur daging buah : kenyal, Aroma daging buah : lembut, Kadar gula : 8,87 brix, Hasil perpohon : 300-500 kg/pohon/tahun; Keterangan : SK Mentan No. 360/Kpts/LB.240/6/2004.sempurna : 1-2 biji, Ketebalan daging buah : 0,2 cm, Keadaan daging : kering, Rasa daging : manis, Warnadaging buah : bening, Tekstur daging buah : kenyal, Aroma daging buah : lembut, Kadar gula : 8,87 brix, Hasilperpohon : 300-500 kg/pohon/tahun
(diambil dari situs diinternet)

Rabu, 16 Desember 2009

SKETSA FILE 17

Kamis, 17 Desember 2009


MENGENAL ISLAM LEBIH DEKAT

DPD II Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Hulu Sungai Selatan kembali menggelar Daurah Islamiyah. Kali ini berlangsung pada hari Ahad, 20 Desember 2009 bertepatan tanggal 3 Muharram 1431 H. Tempat kegiatan Masjid Al-Minnah Kandangan (eks TK Al-Minnah). Waktu pukul 08.00-12.00 Wita. Dengan nara sumber Ustadz Abu Mahbub dan Ustadz Hamdani, M.Ag. Tema yang akan dibawakan Mengenal Islam Lebih Dekat.


HOBI CAMAT ANGKINANG

Walaupun aku urang Angkinang, tapi kurang mengenal dengan kegiatan pemerintahan di Kecamatan Angkinang.

Beberapa waktu lalu aku ke Kantor Camat Angkinang. Ada yang diurus. Terbaca di depan ruang camat: Drs. M. Eka Surya Agus, M.Si. Aku sudah akrab dengan nama itu. Juga sudah tak asing dengan wajahnya. Dialah Camat Angkinang sekarang. Aku sering melihat wajahnya kala saat shalat Jum'at di masjid Al-Aman Angkinang.

Menurut informasi, camat yang satu ini hobi main bulutangkis. Buktinya saat aku masuk ke kantor camat dia sedang bersimbah keringat usai main bulutangkis di gedung serbaguna.


NAMA-NAMA KECAMATAN DI KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN

1. Angkinang
2. Kandangan
3. Sungai Raya
4. Simpur
5. Telaga Langsat
6. Kalumpang
7. Padang Batung
8. Loksado
9. Daha Selatan
10.Daha Utara
11.Daha Barat


NOMER REKENING LISTRIK
JAMBERI
ANGKINANG SELATAN
25194

LOKSADO NAN EKSOTIS

Loksado adalah nama sebuah desa di Kandangan Kalimantan Selatan, sekitar 2.5 jam dari Banjarmasin. Desa ini dilintasi sebuah sungai bernama Amandit, sangat cocok untuk ber-arung jeram atau rafting (maen rakit), musim yang cocok untuk bermain rakit adalah sekitar Bulan April - Juni dimana debet airnya tidak terlalu dangkal dan tidak terlalu dalam (...yang sedang-sedang aja..).
Pada jaman dahulu kala sekitar April 2002 , Ita, Nurul dan aku mencoba untuk ber-rafting ria disana. Jadul banget deh gaya-nya. walau hanya begitu kami sangat happy, sayang waktu itu kami tidak sempat bermandi sumber air hangat doi Tanuhi setelah ber-rafting ria. e tanya kenapa ?!? cerita dari warga setempat, masyarakat sekitar pemandian air hangat itu memang sengaja memblokir jalur air, sebagai wujud protes terhadap pengelola permandian yang belum menyelesaikan ganti rugi tanah mereka yang dipakai untuk akses ke permandian tersebut. "Oo..." , mudah-mudahan sekarang masalah tersebut sudah terselesaikan. Karena aku sudah berencana untuk mengunjungi Loksado lagi.
Selain itu, waktu itu kami sempat juga menjajaki desa Malaris dimana masih terdapat peninggalan rumah betang dayak meratus. Rumahnya panjang dan membentuk huruf "L". Rumah itu ceritanya dahulu kala dihuni oleh berpuluh-puluh keluarga. waaah...kompak sekali ya.

TENTANG AKHMAD HUSAINI DI BANJARMASIN POST

Ingat, tulisan saya tentang sikap iklas yang dicontohkan pemancing ikan pada edisi lalu (baca: Ikhlas Menulis Membawa Berkah) dicomot dari isi pengajian ustadz Ahmad Bayani di Musala Banjarmasin Post Group. Andai tidak segera saya tulis ... .,, Posisi berikut untuk ditempatkan di kota-kota seluruh Indonesia. Penempatan: Bangka, Pekanbaru, Palembang, Lampung, Bekasi, Bogor, Cirebon, Semarang, Solo, Yogyakarta, Malang, Bali, Pontianak, Banjarmasin ... Kirimkan surat lamaran beserta CV paling lambat 20 Desember 2009 ke: HRD PTI Cosmetics Jl. Swadharma Raya, Kampung Baru V, No. 44B Jakarta 12250. Tuliskan Kode posisi & Area Penempatan yang disanggupi di sebelah kiri atas amplop ... .,, Sejak (Februari 2005) menjadi staf pengajar di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia dan Daerah (PS-PBSID) FKIP Universitas Lambung Mangkurat (UNLAM), Banjarmasin, Kalimantan Selatan, esai dan cerpennya ikut menghiasi lembaran ... Esai-esainya tentang jurnalistik dan kebudayaan lokal juga menghiasi lembar opini SKH Banjarmasin Post. Analisis ilmiahnya mengenai sastra dapat dibaca di Jurnal Pendar (Solo), Jurnal Metafor, dan Jurnal Wiramartas (Banjarmasin ). ... .,, GENERAL INFORMATION Full Name : Ahmad Rizky Mardhatillah Umar Nick Name : Rizky Place & Date of Birth : Banjarmasin (South Kalimantan), January 25th, 1990. Address : Jl. H. Hasan Basri Komplek Kejaksaan RT. 18 No. ..... Semua suka FACEBOOK October 8, 2009. Facebook diluncurkan pertama kali pada tanggal 4 Februari 2004 oleh Mark Zuckerberg sebagai media untuk saling mengenal bagi para mahasiswa Harvard. Dalam waktu dua minggu setelah diluncurkan, separuh dari semua ... .,, Ini saya kutipkan berita terbaru dari Harian Banjarmasin Post Online, tanggal 19 November 2009. PERSOALAN pencairan dana penyetor modal, dipastikan tidak berpengaruh bagi sejumlah usaha yang didirikan Lihan bersama pihak lain. Berdasar hasil penelusuran BPost .... Februari 12, 2009. “Entah apa yang dirasakan oleh 1300 orang yang di kumpulkan oleh Hannruf Comunication. Acara pemecahan rekor muri untuk peserta catting terbanyak, tapi yang terjadi adalah not connecting. ... .,, Kamis,12 November 2009. TENTANG AKHMAD HUSAINI AKHMAD HUSAINI,lahir di Angkinang,Kabupaten Hulu Sungai Selatan, 18 November 1979. Menamatkan pendidikan di MAN (Madrasah Aliyah Negeri) 2 Kandangan. Aktif menulis sejak tahun 1996. Karyanya berupa cerpen, puisi, artikel, dsb pernah disiarkan dan dipublikasikan di BBC London Siaran Bahasa Indonesia, Radio Australia, RRI Nusantara III Banjarmasin, SKM Media Masyarakat, SKM Gawi Manuntung, SKH Banjarmasin Post, SKH Metro Banjar ... .,, Berita Copy paste dari Banjarmasin Post . Waspada Penipuan Ngaku Orang Dekat Lihan! Senin, 23 November 2009 | 08:12 WITA MARTAPURA, SENIN - Nasib baik masih menaungi Jarni (50). Seorang kerabat mengatakan memiliki kenalan yang bisa mencairkan .... Setelah ditutupnya kesempatan berinvestasi pada akhir bulan Januari 2009, kini kesempatan tersebut dibuka lagi sejak hari senin tanggal 23 Februari 2009 tadi. Apabila nilai dari keperluan dari dana investasi telah terpenuhi, ...
Related Search
Banjarmasin Post - 7 Februari 2009, Syarifah Ramsey - United Kingdom - Email, Address, Phone number , Video Mesum Janda Beredar di Banjarmasin *** Be[here2]Share ***, Menulis Tanpa Berguru Blog Archive Kredit Tulisan, nice adventure in kalimantan selatan - Page 6 - SkyscraperCity, Buku Tamu Komunitas Blogger Kalimantan Selatan, BanjarLinux - Banjarmasin Linux User Group - Server Linux, Think and Act to Achieve! Penang International Airport., Banjarmasin Post - 16 Februari 2009, BanjarLinux - Banjarmasin Linux User Group - Question & Suggestion,

TEKA-TEKI HUMOR

Kumpulan Teka-Teki 4

Jauh dimata dekat di hati......apa'an......?
Jawab:Usus!!!

Hewan apa yang seluruh anggota tubuhnya di kepala?
Jawab:Kutu rambut

Kalo di pencet lembek, kalo di tonjok keras ?
Jawab:Tahu nempel di tembok

Apa bedanya ban mobil dengan kondom?
Jawab:Kalo ban mobil tiba-tiba bocor, nyawa bisa hilang,
kalo kondom bocor, nyawa bisa nambah

Nyarinya susah, setelah dapet, langsung dibuang apaan?
Jawab:Upil

Burung apa yang sayapnya satu?
Jawab:Burung ngelamar kerjaan (sayap satunya megang map)

Kenapa nyamuk kalau terbang pasti bunyinya nging nging dikuping ?
Jawab:Sebab nyamuk menghisap darah, coba kalau menghisap "solar " pasti
bunyinya bremmmmmmm......bremmmmmm...bremmmmmm..bremmmmmmmm

Kenapa nyamuk lebih kurus dari lalat?
Jawab:Soalnya nyamuk suka begadang

Kenapa orang mati di bungkus dgn kain kafan?
Jawab:Kalau dikasih kain batik ntar dia ke kondangan....!!

Orang Bungkuk tidurnya gimana ?
Jawab:Merem


CERPEN ISLAMI

Cerpen islami - Asma Nadia -
Thursday, September 13, 2007

Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.

Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi.Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap.Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.

Kamu pasti bercanda!

Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!

Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.

Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!

Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.

Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?

Nania terkesima.

Kenapa?

Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.

Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!

Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur.Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!

Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata 'kenapa' yang barusan Nania lontarkan.

Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

Tapi kenapa?

Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.

Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.

Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!

Cukup!

Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak 'luar biasa'. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.

Mereka akhirnya menikah.

***

Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.

Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.

Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.

Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.

Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.

Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.

Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?

Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.

Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.
Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.

Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.

Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..

Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.

Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!

Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.

Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

Baru pembukaan satu.
Belum ada perubahan, Bu.
Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.

Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

Masih pembukaan dua, Pak!
Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

Bang?
Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.

Dokter?

Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.

Mungkin?
Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu?
Bagaimana jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

Pendarahan hebat!

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.

Nania, bangun, Cinta?
Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,

Nania, bangun, Cinta?
Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.

Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.

Baik banget suaminya!
Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!

Nania beruntung!
Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.

Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.

Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi
sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

Seperti yg diceritakan oleh seorang sahabat..

- Asma Nadia -
Menjelang hari H, Nania masih saja sulit mengungkapkan alasan kenapa dia mau menikah dengan lelaki itu. Baru setelah menengok ke belakang, hari-hari yang dilalui, gadis cantik itu sadar, keheranan yang terjadi bukan semata miliknya, melainkan menjadi milik banyak orang; Papa dan Mama, kakak-kakak, tetangga, dan teman-teman Nania. Mereka ternyata sama herannya.

Kenapa? Tanya mereka di hari Nania mengantarkan surat undangan.

Saat itu teman-teman baik Nania sedang duduk di kantin menikmati hari-hari sidang yang baru saja berlalu. Suasana sore di kampus sepi.Berpasang-pasang mata tertuju pada gadis itu.

Tiba-tiba saja pipi Nania bersemu merah, lalu matanya berpijar bagaikan lampu neon limabelas watt. Hatinya sibuk merangkai kata-kata yg barangkali beterbangan di otak melebihi kapasitas. Mulut Nania terbuka. Semua menunggu. Tapi tak ada apapun yang keluar dari sana. Ia hanya menarik nafas, mencoba bicara dan? menyadari, dia tak punya kata-kata!

Dulu gadis berwajah indo itu mengira punya banyak jawaban, alasan detil dan spesifik, kenapa bersedia menikah dengan laki-laki itu. Tapi kejadian di kampus adalah kali kedua Nania yang pintar berbicara mendadak gagap.Yang pertama terjadi tiga bulan lalu saat Nania menyampaikan keinginan Rafli untuk melamarnya. Arisan keluarga Nania dianggap momen yang tepat karena semua berkumpul, bahkan hingga generasi ketiga, sebab kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga membawa serta buntut mereka.

Kamu pasti bercanda!

Nania kaget. Tapi melihat senyum yang tersungging di wajah kakak tertua, disusul senyum serupa dari kakak nomor dua, tiga, dan terakhir dari Papa dan Mama membuat Nania menyimpulkan: mereka serius ketika mengira Nania bercanda.

Suasana sekonyong-konyong hening. Bahkan keponakan-keponakan Nania yang balita melongo dengan gigi-gigi mereka yang ompong. Semua menatap Nania!

Nania serius! tegasnya sambil menebak-nebak, apa lucunya jika Rafli memang melamarnya.

Tidak ada yang lucu, suara Papa tegas, Papa hanya tidak mengira Rafli berani melamar anak Papa yang paling cantik!

Nania tersenyum. Sedikit lega karena kalimat Papa barusan adalah pertanda baik. Perkiraan Nania tidak sepenuhnya benar sebab setelah itu berpasang-pasang mata kembali menghujaninya, seperti tatapan mata penuh selidik seisi ruang pengadilan pada tertuduh yang duduk layaknya pesakitan.

Tapi Nania tidak serius dengan Rafli, kan? Mama mengambil inisiatif bicara, masih seperti biasa dengan nada penuh wibawa, maksud Mama siapa saja boleh datang melamar siapapun, tapi jawabannya tidak harus iya, toh?

Nania terkesima.

Kenapa?

Sebab kamu gadis Papa yang paling cantik.

Sebab kamu paling berprestasi dibandingkan kami. Mulai dari ajang busana, sampai lomba beladiri. Kamu juga juara debat bahasa Inggris, juara baca puisi seprovinsi. Suaramu bagus!

Sebab masa depanmu cerah. Sebentar lagi kamu meraih gelar insinyur.Bakatmu yang lain pun luar biasa. Nania sayang, kamu bisa mendapatkan laki-laki manapun yang kamu mau!

Nania memandangi mereka, orang-orang yang amat dia kasihi, Papa, kakak-kakak, dan terakhir Mama. Takjub dengan rentetan panjang uraian mereka atau satu kata 'kenapa' yang barusan Nania lontarkan.

Nania Cuma mau Rafli, sahutnya pendek dengan airmata mengambang di kelopak.

Hari itu dia tahu, keluarganya bukan sekadar tidak suka, melainkan sangat tidak menyukai Rafli. Ketidaksukaan yang mencapai stadium empat. Parah.

Tapi kenapa?

Sebab Rafli cuma laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yg amat sangat biasa.

Bergantian tiga saudara tua Nania mencoba membuka matanya.

Tak ada yang bisa dilihat pada dia, Nania!

Cukup!

Nania menjadi marah. Tidak pada tempatnya ukuran-ukuran duniawi menjadi parameter kebaikan seseorang menjadi manusia. Di mana iman, di mana tawakkal hingga begitu mudah menentukan masa depan seseorang dengan melihat pencapaiannya hari ini?

Sayangnya Nania lagi-lagi gagal membuka mulut dan membela Rafli. Barangkali karena Nania memang tidak tahu bagaimana harus membelanya. Gadis itu tak punya fakta dan data konkret yang bisa membuat Rafli tampak 'luar biasa'. Nania Cuma punya idealisme berdasarkan perasaan yang telah menuntun Nania menapaki hidup hingga umur duapuluh tiga. Dan nalurinya menerima Rafli. Di sampingnya Nania bahagia.

Mereka akhirnya menikah.

***

Setahun pernikahan.

Orang-orang masih sering menanyakan hal itu, masih sering berbisik-bisik di belakang Nania, apa sebenarnya yang dia lihat dari Rafli. Jeleknya, Nania masih belum mampu juga menjelaskan kelebihan-kelebihan Rafli agar tampak di mata mereka.

Nania hanya merasakan cinta begitu besar dari Rafli, begitu besar hingga Nania bisa merasakannya hanya dari sentuhan tangan, tatapan mata, atau cara dia meladeni Nania. Hal-hal sederhana yang membuat perempuan itu sangat bahagia.

Tidak ada lelaki yang bisa mencintai sebesar cinta Rafli pada Nania.

Nada suara Nania tegas, mantap, tanpa keraguan.

Ketiga saudara Nania hanya memandang lekat, mata mereka terlihat tak percaya.

Nia, siapapun akan mudah mencintai gadis secantikmu! Kamu adik kami yang tak hanya cantik, tapi juga pintar! Betul. Kamu adik kami yang cantik, pintar, dan punya kehidupan sukses!

Nania merasa lidahnya kelu. Hatinya siap memprotes. Dan kali ini dilakukannya sungguh-sungguh. Mereka tak boleh meremehkan Rafli.

Beberapa lama keempat adik dan kakak itu beradu argumen.

Tapi Rafli juga tidak jelek, Kak!
Betul. Tapi dia juga tidak ganteng kan?

Rafli juga pintar!
Tidak sepintarmu, Nania.

Rafli juga sukses, pekerjaannya lumayan.
Hanya lumayan, Nania. Bukan sukses. Tidak sepertimu.

Seolah tak ada apapun yang bisa meyakinkan kakak-kakaknya, bahwa adik mereka beruntung mendapatkan suami seperti Rafli. Lagi-lagi percuma.

Lihat hidupmu, Nania. Lalu lihat Rafli! Kamu sukses, mapan, kamu bahkan tidak perlu lelaki untuk menghidupimu.

Teganya kakak-kakak Nania mengatakan itu semua. Padahal adik mereka sudah menikah dan sebentar lagi punya anak.

Ketika lima tahun pernikahan berlalu, ocehan itu tak juga berhenti. Padahal Nania dan Rafli sudah memiliki dua orang anak, satu lelaki dan satu perempuan. Keduanya menggemaskan. Rafli bekerja lebih rajin setelah mereka memiliki anak-anak. Padahal itu tidak perlu sebab gaji Nania lebih dari cukup untuk hidup senang. Tak apa, kata lelaki itu, ketika Nania memintanya untuk tidak terlalu memforsir diri. Gaji Nania cukup, maksud Nania jika digabungkan dengan gaji Abang.

Nania tak bermaksud menyinggung hati lelaki itu. Tapi dia tak perlu khawatir sebab suaminya yang berjiwa besar selalu bisa menangkap hanya maksud baik..

Sebaiknya Nania tabungkan saja, untuk jaga-jaga. Ya? Lalu dia mengelus pipi Nania dan mendaratkan kecupan lembut. Saat itu sesuatu seperti kejutan listrik menyentakkan otak dan membuat pikiran Nania cerah.

Inilah hidup yang diimpikan banyak orang. Bahagia!

Pertanyaan kenapa dia menikahi laki-laki biasa, dari keluarga biasa, dengan pendidikan biasa, berpenampilan biasa, dengan pekerjaan dan gaji yang amat sangat biasa, tak lagi mengusik perasaan Nania. Sebab ketika bahagia, alasan-alasan menjadi tidak penting.

Menginjak tahun ketujuh pernikahan, posisi Nania di kantor semakin gemilang, uang mengalir begitu mudah, rumah Nania besar, anak-anak pintar dan lucu, dan Nania memiliki suami terbaik di dunia. Hidup perempuan itu berada di puncak!

Bisik-bisik masih terdengar, setiap Nania dan Rafli melintas dan bergandengan mesra. Bisik orang-orang di kantor, bisik tetangga kanan dan kiri, bisik saudara-saudara Nania, bisik Papa dan Mama.

Sungguh beruntung suaminya. Istrinya cantik.
Cantik ya? dan kaya!

Tak imbang!

Dulu bisik-bisik itu membuatnya frustrasi. Sekarang pun masih, tapi Nania belajar untuk bersikap cuek tidak peduli. Toh dia hidup dengan perasaan bahagia yang kian membukit dari hari ke hari.

Tahun kesepuluh pernikahan, hidup Nania masih belum bergeser dari puncak. Anak-anak semakin besar. Nania mengandung yang ketiga. Selama kurun waktu itu, tak sekalipun Rafli melukai hati Nania, atau membuat Nania menangis.

Bayi yang dikandung Nania tidak juga mau keluar. Sudah lewat dua minggu dari waktunya.

Plasenta kamu sudah berbintik-bintik. Sudah tua, Nania. Harus segera dikeluarkan!

Mula-mula dokter kandungan langganan Nania memasukkan sejenis obat ke dalam rahim Nania. Obat itu akan menimbulkan kontraksi hebat hingga perempuan itu merasakan sakit yang teramat sangat. Jika semuanya normal, hanya dalam hitungan jam, mereka akan segera melihat si kecil.

Rafli tidak beranjak dari sisi tempat tidur Nania di rumah sakit. Hanya waktu-waktu shalat lelaki itu meninggalkannya sebentar ke kamar mandi, dan menunaikan shalat di sisi tempat tidur. Sementara kakak-kakak serta orangtua Nania belum satu pun yang datang.

Anehnya, meski obat kedua sudah dimasukkan, delapan jam setelah obat pertama, Nania tak menunjukkan tanda-tanda akan melahirkan. Rasa sakit dan melilit sudah dirasakan Nania per lima menit, lalu tiga menit. Tapi pembukaan berjalan lambat sekali.

Baru pembukaan satu.
Belum ada perubahan, Bu.
Sudah bertambah sedikit, kata seorang suster empat jam kemudian menyemaikan harapan.

Sekarang pembukaan satu lebih sedikit. Nania dan Rafli berpandangan. Mereka sepakat suster terakhir yang memeriksa memiliki sense of humor yang tinggi.

Tigapuluh jam berlalu. Nania baru pembukaan dua. Ketika pembukaan pecah, didahului keluarnya darah, mereka terlonjak bahagia sebab dulu-dulu kelahiran akan mengikuti setelah ketuban pecah. Perkiraan mereka meleset.

Masih pembukaan dua, Pak!
Rafli tercengang. Cemas. Nania tak bisa menghibur karena rasa sakit yang sudah tak sanggup lagi ditanggungnya. Kondisi perempuan itu makin payah. Sejak pagi tak sesuap nasi pun bisa ditelannya.

Bang?
Rafli termangu. Iba hatinya melihat sang istri memperjuangkan dua kehidupan.

Dokter?

Kita operasi, Nia. Bayinya mungkin terlilit tali pusar.

Mungkin?
Rafli dan Nania berpandangan. Kenapa tidak dari tadi kalau begitu?
Bagaimana jika terlambat?

Mereka berpandangan, Nania berusaha mengusir kekhawatiran. Ia senang karena Rafli tidak melepaskan genggaman tangannya hingga ke pintu kamar operasi. Ia tak suka merasa sendiri lebih awal.

Pembiusan dilakukan, Nania digiring ke ruangan serba putih. Sebuah sekat ditaruh di perutnya hingga dia tidak bisa menyaksikan ketrampilan dokter-dokter itu. Sebuah lagu dimainkan. Nania merasa berada dalam perahu yang diguncang ombak. Berayun-ayun. Kesadarannya naik-turun. Terakhir, telinga perempuan itu sempat menangkap teriakan-teriakan di sekitarnya, dan langkah-langkah cepat yang bergerak, sebelum kemudian dia tak sadarkan diri.

Kepanikan ada di udara. Bahkan dari luar Rafli bisa menciumnya. Bibir lelaki itu tak berhenti melafalkan zikir.

Seorang dokter keluar, Rafli dan keluarga Nania mendekat.

Pendarahan hebat!

Rafli membayangkan sebuah sumber air yang meluap, berwarna merah. Ada varises di mulut rahim yang tidak terdeteksi dan entah bagaimana pecah! Bayi mereka selamat, tapi Nania dalam kondisi kritis.

Mama Nania yang baru tiba, menangis. Papa termangu lama sekali. Saudara-saudara Nania menyimpan isak, sambil menenangkan orangtua mereka.

Rafli seperti berada dalam atmosfer yang berbeda. Lelaki itu tercenung beberapa saat, ada rasa cemas yang mengalir di pembuluh-pembuluh darahnya dan tak bisa dihentikan, menyebar dan meluas cepat seperti kanker.

Setelah itu adalah hari-hari penuh doa bagi Nania.

Sudah seminggu lebih Nania koma. Selama itu Rafli bolak-balik dari kediamannya ke rumah sakit. Ia harus membagi perhatian bagi Nania dan juga anak-anak. Terutama anggota keluarganya yang baru, si kecil. Bayi itu sungguh menakjubkan, fisiknya sangat kuat, juga daya hisapnya. Tidak sampai empat hari, mereka sudah oleh membawanya pulang.

Mama, Papa, dan ketiga saudara Nania terkadang ikut menunggui Nania di rumah sakit, sesekali mereka ke rumah dan melihat perkembangan si kecil. Walau tak banyak, mulai terjadi percakapan antara pihak keluarga Nania dengan Rafli.

Lelaki itu sungguh luar biasa. Ia nyaris tak pernah meninggalkan rumah sakit, kecuali untuk melihat anak-anak di rumah. Syukurnya pihak perusahaan tempat Rafli bekerja mengerti dan memberikan izin penuh. Toh, dedikasi Rafli terhadap kantor tidak perlu diragukan.

Begitulah Rafli menjaga Nania siang dan malam. Dibawanya sebuah Quran kecil, dibacakannya dekat telinga Nania yang terbaring di ruang ICU. Kadang perawat dan pengunjung lain yang kebetulan menjenguk sanak famili mereka, melihat lelaki dengan penampilan sederhana itu bercakap-cakap dan bercanda mesra..

Rafli percaya meskipun tidak mendengar, Nania bisa merasakan kehadirannya.

Nania, bangun, Cinta?
Kata-kata itu dibisikkannya berulang-ulang sambil mencium tangan, pipi dan kening istrinya yang cantik.

Ketika sepuluh hari berlalu, dan pihak keluarga mulai pesimis dan berfikir untuk pasrah, Rafli masih berjuang. Datang setiap hari ke rumah sakit, mengaji dekat Nania sambil menggenggam tangan istrinya mesra. Kadang lelaki itu membawakan buku-buku kesukaan Nania ke rumah sakit dan membacanya dengan suara pelan. Memberikan tambahan di bagian ini dan itu. Sambil tak bosan-bosannya berbisik,

Nania, bangun, Cinta?
Malam-malam penantian dilewatkan Rafli dalam sujud dan permohonan. Asalkan Nania sadar, yang lain tak jadi soal. Asalkan dia bisa melihat lagi cahaya di mata kekasihnya, senyum di bibir Nania, semua yang menjadi sumber semangat bagi orang-orang di sekitarnya, bagi Rafli.

Rumah mereka tak sama tanpa kehadiran Nania. Anak-anak merindukan ibunya. Di luar itu Rafli tak memedulikan yang lain, tidak wajahnya yang lama tak bercukur, atau badannya yang semakin kurus akibat sering lupa makan.

Ia ingin melihat Nania lagi dan semua antusias perempuan itu di mata, gerak bibir, kernyitan kening, serta gerakan-gerakan kecil lain di wajahnya yang cantik. Nania sudah tidur terlalu lama.

Pada hari ketigapuluh tujuh doa Rafli terjawab. Nania sadar dan wajah penat Rafli adalah yang pertama ditangkap matanya.

Seakan telah begitu lama. Rafli menangis, menggenggam tangan Nania dan mendekapkannya ke dadanya, mengucapkan syukur berulang-ulang dengan airmata yang meleleh.

Asalkan Nania sadar, semua tak penting lagi.

Rafli membuktikan kata-kata yang diucapkannya beratus kali dalam doa. Lelaki biasa itu tak pernah lelah merawat Nania selama sebelas tahun terakhir. Memandikan dan menyuapi Nania, lalu mengantar anak-anak ke sekolah satu per satu. Setiap sore setelah pulang kantor, lelaki itu cepat-cepat menuju rumah dan menggendong Nania ke teras, melihat senja datang sambil memangku Nania seperti remaja belasan tahun yang sedang jatuh cinta.

Ketika malam Rafli mendandani Nania agar cantik sebelum tidur. Membersihkan wajah pucat perempuan cantik itu, memakaikannya gaun tidur. Ia ingin Nania selalu merasa cantik. Meski seringkali Nania mengatakan itu tak perlu. Bagaimana bisa merasa cantik dalam keadaan lumpuh?

Tapi Rafli dengan upayanya yang terus-menerus dan tak kenal lelah selalu meyakinkan Nania, membuatnya pelan-pelan percaya bahwa dialah perempuan paling cantik dan sempurna di dunia. Setidaknya di mata Rafli.

Setiap hari Minggu Rafli mengajak mereka sekeluarga jalan-jalan keluar. Selama itu pula dia selalu menyertakan Nania. Belanja, makan di restoran, nonton bioskop, rekreasi ke manapun Nania harus ikut. Anak-anak, seperti juga Rafli, melakukan hal yang sama, selalu melibatkan Nania. Begitu bertahun-tahun.

Awalnya tentu Nania sempat merasa risih dengan pandangan orang-orang di sekitarnya. Mereka semua yang menatapnya iba, lebih-lebih pada Rafli yang berkeringat mendorong kursi roda Nania ke sana kemari. Masih dengan senyum hangat di antara wajahnya yang bermanik keringat.

Lalu berangsur Nania menyadari, mereka, orang-orang yang ditemuinya di jalan, juga tetangga-tetangga, sahabat, dan teman-teman Nania tak puas hanya memberi pandangan iba, namun juga mengomentari, mengoceh, semua berbisik-bisik.

Baik banget suaminya!
Lelaki lain mungkin sudah cari perempuan kedua!

Nania beruntung!
Ya, memiliki seseorang yang menerima dia apa adanya.

Tidak, tidak cuma menerima apa adanya, kalian lihat bagaimana suaminya memandang penuh cinta. Sedikit pun tak pernah bermuka masam!

Bisik-bisik serupa juga lahir dari kakaknya yang tiga orang, Papa dan Mama.

Bisik-bisik yang serupa dengungan dan sempat membuat Nania makin frustrasi, merasa tak berani, merasa?

Tapi dia salah. Sangat salah. Nania menyadari itu kemudian. Orang-orang di luar mereka memang tetap berbisik-bisik, barangkali selamanya akan selalu begitu. Hanya saja, bukankah bisik-bisik itu kini berbeda bunyi?

Dari teras Nania menyaksikan anak-anaknya bermain basket dengan ayah mereka.. Sesekali perempuan itu ikut tergelak melihat kocak permainan.

Ya. Duapuluh dua tahun pernikahan. Nania menghitung-hitung semua, anak-anak yang beranjak dewasa, rumah besar yang mereka tempati, kehidupan yang lebih dari yang bisa dia syukuri. Meski tubuhnya tak berfungsi
sempurna. Meski kecantikannya tak lagi sama karena usia, meski karir telah direbut takdir dari tangannya.

Waktu telah membuktikan segalanya. Cinta luar biasa dari laki-laki biasa yang tak pernah berubah, untuk Nania.

Seperti yg diceritakan oleh seorang sahabat..

- Asma Nadia -

Selasa, 15 Desember 2009

SKETSA FILE 16

Rabu, 16 Desember 2009

PANTUN-PANTUN AKHMAD HUSAINI

Baulah kalayangan nang paling halus
Andak kahiga maambil banang
Amun kakak-kakak kalas IX sudah lulus
Jangan kada ingat lawan kami di MTsN Angkinang

Manulis cerpen sasuai tema
Tuntung dikatik kirim ka koran
Amun buhan pian sudah masuk SMA
Rajin-rajin balajar jangan banyak pacaran

Piring bahari piring malawin
Gugur ka lantai kada singhaja
Amun buhan pian kaina sudah kawin
Pasan ulun cukup dua ikung anak haja


PUISI DARMANSYAH ZAUHIDIE

KANDANGAN KOTAKU MANIS

Roma atau Paris
Indah Kandangan kotaku manis

Di Kandangan aku dilahirkan
Dibelai timang sang matahari
Dipeluk cium sang rembulan

Di Kandangan aku kenal diri dan cinta
Susah senang seluruh duka

Roma atau Paris
Indah Kandangan kotaku manis

(1960)


PUISI-PUISI AKHMAD HUSAINI

EPISODE PERPISAHAN

Detik selalu berdetak
jam selalu berubah
hari selalu berganti

Perpisahan itupun kini tlah tiba
yang senantiasa harus kita jalani
perpisahan menawarkan kesedihan panjang
perpisahan membayang duka nestapa

Tangisan yang abadi bukanlah rengekan
kepiluan hati adalah sebuah keabadian yang nyata

Tetes airmata tak lagi mimpi
kitapun menangis kembali
karena perpisahan adalah sesuatu yang pasti

Kandangan, 29-5-2009


BOCAH SD TEWAS

Warga Desa Kambang Basar (Kambas) Kec. Padang Batung Kab. HSS Selasa (15/12/2009) sore geger. Pasalnya seorang warganya tewas terseret arus saat mandi di sungai.

Korban tewas bernama Akhmad Yannor (12) siswa kelas VI SDN Kambas. Anak sulung dari dua bersaudara itu baru ditemukan sekitar pukul 16.00 Wita. Tatkala ada orangtua yang lewat melihat tangan korban terselip diakar.

Peristiwa ini berawal dari sepulang sekolah Yannor disuruh orangtuanya makan siang. Tapi tidak mau. Alasannya mau mandi bersama teman-temannya di kampung. Kebetulan saat itu kondisi sungai pasang akibat diguyur hujan lebat dinihari sebelumnya. Entah kenapa sehingga Yannor terseret arus atau longsor. Saat itu korban bersama sekitar puluhan temannya asyik mandi.


SERBA-SERBI PUNCAK PERINGATAN HARI JADI KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN
Rabu, 16 Desember 2009

LAMANG LARIS MANIS

Pesta Rakyat Lamang Kandangan dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Hulu Sungai Selatan heboh. Ribuan warga memadati tempat acara digelar yakni Lapangan Lambung Mangkurat Kandangan. Namun inilah masalahnya. Sifat tidak penyabar. Belum diresmikan oleh Gubernur Kalsel lamang sudah ludes separo. Warga berebut.

Baulah idabul kada ruus. Manyupanakan haja. Apalagi momen ini diliput wartawan media baik elektronik maupun cetak. Kacian deh lo Safi'i.

Kegiatan ini digelar atas kerjasama Pemkab HSS dengan Bank BPD Kalsel.

CERITA GUBERNUR

Saat memberi sambutan di Pendopo Kab. HSS Gubernur Kalsel Rudi Ariffin memberitahu bahwa dulunya ia sekolah SR di Tinggiran. Ayahnya kepala SMP Kandangan. Isteri Rudi berasal dari Amawang.


DATA SISWA MTsN ANGKINANG
TAHUN PELAJARAN 2009/2010

Nama : Mahdalena
Kelas : IX B
TTL : Taniran Kubah, 26 Juni 1996
Agama : Islam
Alamat : Taniran Kubah Kec. Angkinang
Ayah : H. Mahjani
Ibu : Isnaniah
Hobi : Mendengarkan musik dan belajar
Cita-cita : Ingin jadi perawat
Pelajaran Favorit : Matematika dan Qur'an Hadits
Bangun Tidur Jam : 05.00
Tidur Malam Jam : 21.00
Aktivitas Saat libur : Jalan-jalan/santai
Setamat MTsN melanjutkan ke : SMAN 2 Kandangan

Nama : Maulida Agustina
Kelas : IX B
TTL : Telaga Langsat, 4 Agustus 1995
Alamat : Telaga Langsat
Agama : Islam
Ayah : Akhmad Rauyani
Ibu : Norjainah
Hobi : Membaca buku, belajar, dan bermain
Cita-cita : Ingin jadi dokter
Bangun Tidur Jam: 05.30
Tidur Malam Jam : 22.00
Pelajaran Favorit : SKI
Aktivitas saat libur : Bermain
Setamat MTsN melanjutkan ke : SMA

Nama : Aysenna Anggrainy
Kelas : IX A
TTL : Mandala, 7 Agustus 1996
Alamat : Desa Mandala Kec. Telaga Langsat
Agama : Islam
Ayah : Ir.H. Syaifullah
Ibu : Mardiah
Hobi : Belajar dan bermain
Cita-cita : Ingin menjadi PNS
Bangun Tidur Jam : 05.30
Tidur Malam Jam : 21.00
Pelajaran Favorit : IPS
Aktivitas Saat Libur : Belajar dan bermain
Setamat MTsN melanjutkan ke : SMAN 1 Kandangan

PASAR ANGKINANG

Kegiatan pasar berlangsung setiap minggu yakni hari Kamis. Lokasinya berada di Desa Angkinang Selatan Kec. Angkinang Kab.HSS. Para pedagang berasal dari desa-desa tetangga maupun dari Kandangan. Ikut mendenyutkan gairah perekonomian di Kecamatan Angkinang. Berlangsung sejak tahun 1950-an.


MENANTIKAN KEMAJUAN HSS

Hingga saat ini belum dirasakan perubahan yang signifikan di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Diusianya yang sudah 59 tahun daerah ini hanya begitu-begitu saja, jalan ditempat. Sebagai masyarakat awam tentunya berharap suasana harus berubah ke arah yang lebih maju. Pembangunan harus lebih digiatkan lagi sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Sehingga masa depan HSS akan cerah dan tak tertinggal dengan daerah lainnya di Kalimantan Selatan.

Untuk itu kita harus bersama-sama membangun HSs ke arah yang lebih baik dan terencana. Wakil rakyat di DPRD HSS jangan hanya pandai memberi janji manis kepada warga. Semua kalangan harus turun tangan sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Segala rintangan harus dijalani dengan kesabaran. Pola pembangunan yang searah dan sejalan harus memperhatikan kepentingan umum.

Diharapkan pemimpin HSS mengakomodir suara rakyat yang paling lemah sekalipun. Dengarkan siapa saja yang berbicara dan jangan tersinggung jika ia menyinggung. Kau bukan malaikat, kemungkinan kau melakukan kesalahan yang tidak kau sadari dan segeralah kau mawas diri.

Jangan sekali-kali kau merasa yang paling benar, sebab jika seseorang pemimpin sudah dihinggapi perasaan yang palig, maka ia akan terlepas dari kebenaran yang ditempuhnya.

Jangan kau merasa dirimu yang paling pandai, yang paling benar atau yang paling berkuasa.

Akhirnya selamat memajukan HSS, semoga sukses !


LANGGAR AL-KAUTSAR GELAR PENGAJIAN

Setelah absen beberapa bulan, pengajian usai shalat Maghrib di Langgar Al-Kautsar Desa Angkinang Selatan Kec. Angkinang Kab. HSS kembali digelar yakni setiap malam Kamis. Dengan penceramah Guru Bakeri dari Padang Batung.

Materi yang dibawakan seputar masalah fiqih. Kegiatan ini cukup antusias disambut warga masyarakat, baik tua maupun muda, laki-laki perempuan. Sebagai bentuk menggairahkan kembali syiar Islam. Diharapkan ini kegiatan ini dapat berkelanjutan sampai kapanpun.


PENGALAMAN MISTERI :

LINDA YANG MALANG

Oleh : Akhmad Husaini

Takut, sedih, prihatin, itulah yang kurasakan, bergelayut dihati, tatkala kualami peristiwa menakutkan ini. Takut karena bertemu dengan arwah gentayangan dan sedih serta prihatin, begitu tahu nasib malang arwah penasaran itu, yang mati karena dibunuh, yang sebelumnya diperkosa.

Kejadian misteri ini kualami akhir September 2001 lalu, di sebuah penginapan di Pasar Petung, Penajam, Kalimantan Timur.

Ceritanya, pulang dari sebuah urusan dan sekaligus berkunjung ke rumah keluarga di Balikpapan, aku berencana pulang langsung ke Kandangan. Padahal hari sudah sore. Pihak keluarga sebenarnya memintaku pulang besok hari saja.Tapi aku menyatakan, tak apa malam di jalan, karena sudah biasa aku naik motor malam hari.

Tapi, sampai di Penajam--setelah naik feri dari Balikpapan ke Penajam sekitar 40 menit--, aku jadi ragu dan kuputuskan bermalam saja di Penajam.

Setelah dicari-cari, aku menemukan sebuah penginapan sederhana di Pasar Petung, Penajam. Singkat cerita karena kelelahan, aku langsung membaringkan tubuh ke tempat tidur. Saking lelahnya, aku langsung tertidur.

Tengah malam aku terbangun karena ingin buang air kecil. Jarak Wc dengan kamarku sekitar 3 meter. Saat melangkahkan kaki, tiba-tiba aku dicegat seorang wanita. Aku terkejut. Wanita itu sangat cantik, terlihat masih sangat muda. Aku....ragu, di tengah malam begini, ada wanita secantik ini. Jangn...jangan...

Namun kucoba untuk tenang dan tak berpikiran macam-macam. " Mau kemana mas ?" tanya wanita itu kepadaku. " Ke WC." " Mas Linda ikut ya," ujar wanita itu lagi. Baru kutahu, nama wanita itu Linda. " Tunggu sebentar," jawabku, seraya bergegas ke WC. Tak sampai satu menit dalam WC, aku keluar. Alangkah terkejutnya aku, karena wanita itu telah lenyap. Kutengok kanan kiri, muka belakang, tak ada siapa-siapa, diluar pun tak ada orang, kecuali kesunyian malam.

Seketika bulu kudukku merinding, rasa takutku menjadi-jadi, pikiranku tak lain, tertuju pada wanita yang kusimpulkan pasti makhluk halus. Saking takutnya, sampai pagi tiba, aku tak bisa memejamkan mata. Aku hanya rebahan di kasur.

Paginya, sebelum aku pulang ke Kandangan, sebentar kuutarakan pengalamanku tadi malam. Menurut resepsionis di penginapan itu, Linda memang pernah bekerja di penginapan ini. " Namun Linda telah lama meninggal, sekitar lima tahu silam. Ia jadi korban pemerkosaan dan pembunuhan seorang tamu penginapan ini, kasihan ia," ujar karyawan penginapan itu.

Kaget, takut dan prihatin, begitu aku mendengar pengakuan karyawan itu. " berarti yang menemuiku tadi malam adalah arwah Linda," kataku dalam hati.

* Cerita diatas pernah dimuat di SKH Metro Banjar edisi Rabu, 11 Juni 2003

KUMPULAN KATA-KATA MUTIARA

Berikut kumpulan kata-kata Mutiara yang saya dapatkan dari email seorang teman lagi. Jadi beruntunglah saya yang sering mendapatkan email-email motivasi, kata mutiara dan inspirasi. Kumpulan kata-kata mutiara ini pun dapat anda emailkan, begitu pula dengan blog ini, pada teman anda, saudara, rekan, yang mungkin menyukai isi dari blog yang apa adanya ini (Segala yang ada dikeluarin semua, hehe…). Blog ungkapan curahan hati, sharing saja. Walau isi blog ini belum tentu benar, silahkan liat dan pahami dari “kata mata” anda.. Karena saya gak pake kacamata..Loh, kacamata dengan “kaca mata” ini beda artinya…
1. Jangan tertarik kepada seseorang karena parasnya, sebab keelokan paras dapat menyesatkan. Jangan pula tertarik kepada kekayaannya, karena kekayaan dapat musnah. Tertariklah kepada seseorang yang dapat membuatmu tersenyum, karena hanya senyum yang dapat membuat hari-hari yang gelap menjadi cerah. Semoga kamu menemukan orang seperti itu.

2. Ada saat-saat dalam hidup ketika kamu sangat merindukan seseorang, sehingga ingin hati menjemputnya dari alam mimpi dan memeluknya dalam alam nyata. Semoga kamu memimpikan orang seperti itu.

3. Bermimpilah tentang apa yang ingin kamu impikan, pergilah ke tempat-tempat kamu ingin pergi, jadilah seperti yang kamu inginkan, karena kamu hanya memiliki satu kehidupan dan satu kesempatan untuk melakukan hal-hal yang ingin kamu lakukan.

4. Semoga kamu mendapatkan kebahagiaan yang cukup untuk membuatmu baik hati, cobaan yang cukup untuk membuatmu kuat, kesedihan yang cukup untuk membuatmu manusiawi, pengharapan yang cukup untuk membuatmu bahagia dan uang yang cukup untuk membeli hadiah-hadiah.

5. Ketika satu pintu kebahagiaan tertutup, pintu yang lain dibukakan. Tetapi acapkali kita terpaku terlalu lama pada pintu yang tertutup sehingga tidak melihat pintu lain yang dibukakan bagi kita.

6. Sahabat terbaik adalah dia yang dapat duduk berayun-ayun di beranda bersamamu, tanpa mengucapkan sepatah katapun, dan kemudian kamu meninggalkannya dengan perasaan telah bercakap-cakap lama dengannya.

7. Sungguh benar bahwa kita tidak tahu apa yang kita milik sampai kita kehilangannya, tetapi sungguh benar pula bahwa kita tidak tahu apa yang belum pernah kita miliki sampai kita mendapatkannya.

8. Pandanglah segala sesuatu dari kacamata orang lain. Apabila hal itu menyakitkan hatimu, sangat mungkin hal itu menyakitkan hati orang itu pula.

9. Kata-kata yang diucapkan sembarangan dapat menyulut perselisihan. Kata-kata yang kejam dapat menghancurkan suatu kehidupan. Kata-kata yang diucapkan pada tempatnya dapat meredakan ketegangan. Kata-kata yang penuh cinta dapat menyembuhkan dan memberkahi.

10. Awal dari cinta adalah membiarkan orang yang kita cinta menjadi dirinya sendiri, dan tidak merubahnya menjadi gambaran yang kita inginkan. Jika tidak, kita hanya mencintai pantulan diri sendiri yang kita temukan di dalam dia.

11. Orang-orang yang paling berbahagia tidak selalu memiliki hal-hal terbaik, mereka hanya berusaha menjadikan yang terbaik dari setiap hal yang hadir dalam hidupnya.

12. Mungkin Tuhan menginginkan kita bertemu dengan beberapa orang yang salah sebelum bertemu dengan orang yang tepat, kita harus mengerti bagaimana berterima kasih atas karunia itu.

13. Hanya diperlukan waktu semenit untuk menaksir seseorang, sejam untuk menyukai seseorang dan sehari untuk mencintai seseorang tetapi diperlukan waktu seumur hidup untuk melupakan seseorang.

14. Kebahagiaan tersedia bagi mereka yang menangis, mereka yang disakiti hatinya, mereka yang mencari dan mereka yang mencoba. Karena hanya mereka itulah yang menghargai pentingnya orang-orang yang pernah hadir dalam hidup mereka.

15. Cinta adalah jika kamu kehilangan rasa, gairah, romantika dan masih tetap peduli padanya.

16. Hal yang menyedihkan dalam hidup adalah ketika kamu bertemu seseorang yang sangat berarti bagimu dan mendapati pada akhirnya bahwa tidak demikian adanya dan kamu harus melepaskannya.

17. Cinta dimulai dengan sebuah senyuman, bertumbuh dengan sebuah ciuman dan berakhir dengan tetesan air mata.

18. Cinta datang kepada mereka yang masih berharap sekalipun pernah dikecewakan, kepada mereka yang masih percaya sekalipun pernah dikhianati, kepada mereka yang masih mencintai sekalipun pernah disakiti hatinya.

19. Sungguh menyakitkan mencintai seseorang yang tidak mencintaimu, tetapi yang lebih menyakitkan adalah mencintai seseorang dan tidak pernah memiliki keberanian untuk mengutarakan cintamu kepadanya.

20. Masa depan yang cerah selalu tergantung kepada masa lalu yang dilupakan, kamu tidak dapat hidup terus dengan baik jika kamu tidak melupakan kegagalan dan sakit hati di masa lalu.

21. Jangan pernah mengucapkan selamat tinggal jika kamu masih mau mencoba, jangan pernah menyerah jika kamu masih merasa sanggup jangan pernah mengatakan kamu tidak mencintainya lagi jika kamu masih tidak dapat melupakannya.

22. Memberikan seluruh cintamu kepada seseorang bukanlah jaminan dia akan membalas cintamu! Jangan mengharapkan balasan cinta, tunggulah sampai cinta berkembang di hatinya, tetapi jika tidak, berbahagialah karena cinta tumbuh di hatimu.

23. Ada hal-hal yang sangat ingin kamu dengar tetapi tidak akan pernah kamu dengar dari orang yang kamu harapkan untuk mengatakannya. Namun demikian janganlah menulikan telinga untuk mendengar dari orang yang mengatakannya dengan sepenuh hati.

24. Waktu kamu lahir, kamu menangis dan orang-orang di sekelilingmu tersenyum – jalanilah hidupmu sehingga pada waktu kamu meninggal, kamu tersenyum dan orang-orang di sekelilingmu menangis.

Semoga 24 Kata-kata Mutiara di atas dapat menyejukkan hati yang membacanya. Karena bahaya juga kalo bacanya panas, ntar laptop / komputernya bisa gawat. Kalo terasa tidak menyejukkan juga, silahkan ambil minuman, pasti deh terasa dingin kata-kata mutiara ini…