Senin, 06 Juli 2015

Haruskah Membawa Banyak Arti

Selasa, 7 Juli 2015


Keping hati melara diri
di sepanjang kompetisi peraduan dunia
mestikah semua bisa saling mengadu
untuk persembahkan kenyataan hidup
demi kepuasan bersama
itu memang harus kita jalani
haruskah membawa banyak arti
bila kesetiaan terkadang hilang arah
ini sebuah kesungguhan yang luar biasa
mengaduk banyak perasaan orang lain
banyak pelajaran yang bisa diambil
kau datang dengan penuh senyuman
bukan saatnya lagi sekarang
untuk memudahkan setiap langkah yang pasti
menyikapi hantaman kebijakan yang lebih utama
agar bisa terhindar dari rasa jenuh yang kerap melanda
rona wajah kecantikan memancar pasti
akhlak baik juga menghiasi tingkahnya
singgah mengurai langkah-langkah yang kembara
demi sebuah keputusan yang berhati lara
ini mungkin tak kalian harapkan sepenuhnya
merasa menjadi paling terbaik diantara mereka
mereka tahu dengan keadaan ini sebenarnya
aku berusaha untuk terus setia


Kandangan, 07-07-2015

Bayar Rekening PAM Berjam-jam

Selasa, 7 Juli 2015


Senin (06/07/2015) pukul 07.30 WITA saya ke madrasah tempat saya bekerja. Jaraknya sekitar 1 kilometer dari rumah saya di Desa Angkinang Selatan, Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS). Madrasah tersebut masih satu desa dengan saya. Kalau saya di RT 1, madrasah tersebut di RT 3.

Saat saya datang ruang Tata Usaha (TU) masing lengang. Maklum sedang bulan Ramadhan. Jadi waktu kerja berubah. Kehadiran ke tempat kerja agak landung dari hari biasanya. Kalau hadir biasanya ada sekitar sepuluh orang. Terdiri dari Kepala Madrasah, Kepala TU, dan beberapa orang staf.

Saya membuka pintu TU. Karena memang satu kunci TU ada ditangan saya. Lalu membuka tirai jendela seluruh ruangan yang ada. Juga menempatkan tempat sepatu ke luar ruang. Mengambil pinger print. Setelah itu saya ke dalam ruang kerja saya, di kamar khusus. Buka komputer. Mengetik Data Siswa untuk kelas baru di tahun pelajaran baru.

Pukul 10.00 WITA saya keluar. Menuju ke Kantor Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) HSS Instalasi Kota Kecamatan (IKK) Angkinang. Letaknya di Sungai Hanyar atau Pulantan. Berjarak sekitar 2 kilometer dari tempat saya bekerja. Atau satu kilometer dari rumah saya arah ke Telaga Langsat. Saya ingin bayar rekening Perusahaan Air Minum (PAM) bulan Juli 2015. Saat tiba ruang pembayaran sudah buka. Seorang wanita menyambut saya. Mungkin itu kepalanya. Karena pada rekening tertera nama Mahmudah. Kali ini jumlah yang saya bayar sebesar Rp 42.000.

Setelah dari PAM Angkinang saya tidak balik ke tempat kerja tapi terus arah Telaga Langsat. Tak ada tujuan khusus. Melangkah kemana saya suka, dengan sepeda motor kesayangan Supra Fit yang super butut. Bila melintasi jalanan rusak terasa gararakan. Karena memang saya suka jalan-jalan menikmati alam pedesaan yang ada di Kabupaten HSS, hal itu tak jadi halangan.

Saya melewati Sungai Hanyar di Kecamatan Angkinang. Kemudian di Kecamatan Telaga Langsat ada Mandampa, Lokbinuang, Gala-Gala, Telaga Langsat, Mandala, dan Ambutun. Terus memasuki Kecamatan Padang Batung desa-desa yang dilintasi adalah Pandulangan, Muara Ambarai, dan Karang Jawa.

Menuju Pasar Kandangan singgah beli surat kabar Kompas dan Media Kalimantan. Setelah itu terus melewati desa-desa di Kecamatan Kandangan seperti Jambu, Tibung, Amawang, Pandai, Teluk Aman, dan Gambah Dalam. Masuk ke jalan arah SMPN 7 Kandangan.

Kembali memasuki wilayah Kecamatan Angkinang melintasi Rantawan, Sungai Baru, Bakarung, dan kembali ke tempat kerja di Pakumpayan atau Angkinang Selatan. Entah berapa jarak yang saya tempuh untuk sekedar bayar rekening PAM, yang merupakan rencana awal, sebelum tercetus beberapa saat kemudian setelah bayar rekening PAM untuk jalan-jalan. (akhmad husaini)

Shalat Isya, Tarawih, dan Tadarus Malam ke 20 Ramadhan 1436 H di Langgar Al Kautsar Angkinang Selatan

Selasa, 7 Juli 2015


Saya kembali mengikuti shalat Tarawih di Langgar Al Kaustar, di RT 1 Desa Angkinang Selatan, Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) pada malam ke 20 Ramadhan 1436 H, tepatnya pada Senin (06/07/2015). Sebelumya mengikuti shalat Isya berjamaah di Langgar yang berjarak sekitar 200 meter dari rumah saya, dengan menyeberangi jalan raya.

Bertindak selaku Imam shalat Isya dan Tarawih adalah M Fauzi Rahman dari Bakarung. Saat Tarawih yang membaca shalawat ada dua orang yakni Sari dan Lakum. Untuk jamaah laki-laki ada tiga shaf pada malam itu. Setiap shaf terdiri sekitar 14 orang jamaah. Baik itu tua, dewasa, muda, dan anak-anak. Untuk jamaah perempuan saya kurang tahu karena terlindung kain panglahat. Tapi diperkirakan hampir sama dengan jamaah laki-laki. Kali ini saya berada di shaf kedua. Tepatnya pada sisi kanan. Seluruh rangkaian shalat Tarawih dapat saya ikuti dengan baik hingga selesai.

Usai Tarawih saya tak langsung pulang. Mengikuti Tadarus Qur’an dulu bersama peserta lainnya yang didominasi anak-anak usia MTs/SMP. Selain saya dan Rizal yang dewasa, ada Azmi, Azhar, Yasir, Alfian, Muhajir dan Untung. Kali ini kami membaca ayat-ayat Al Qur’an pada Juz ke 20.

Kami membaca sekitar setengah halaman atau lebih setiap orang secara bergantian. Sejam lebih Tadarus berakhir. Sebelumnya ada menu makanan yang disantap bersama-sama, pemberian Akhyar, yang rumahnya sekitar 10 meter dari langgar, berupa lamang beserta hintalu jaruk dan kacang nagara. Juga ada wadai sumapan dan air sirup memakai es.

Saya menjadi juru kunci Langgar malam itu. Karena Rusbandi, ayah Jawad yang menjadi kaum Langgar, yang biasanya merapikan tempat Tadarus, sudah pulang duluan ada acara pernikahan di seberang rumahnya. Saya sendiri tak hadir karena memang baru tahu dan tidak ada undangan pada acara pernikahan tersebut.

Lalu saya mematikan kipas angin, listrik dalam ruang langgar. Juga memastikan pintu dan jendela terkunci semuanya. Setelah itu juga memasukkan kotak kaca celengan Langgar. Lalu pintu utama saya kunci. Lantas kuncinya saya letakkan di papangkun pintu. Kemudian saya pulang menuju rumah. (akhmad husaini)

Kada Pahapalan, Menulislah !

Selasa, 7 Juli 2015


Saya termasuk orang yang kada pahapalan (tidak mudah menghafal). Memang kemampuan otak saya dalam mengingat cukup terbatas. Saat Sekolah Dasar (SD) dulu pelajaran yang paling tidak disukai adalah Matematika dan pelajaran lainnya yang berhubungan dengan hafalan dan menghitung. Semisal menghafal kalian. Saya mudah lupa. Sehingga nilai Matematika cukup rendah. Tapi ada yang tak pernah lupa, dan selalu diingat, yakni menghitung duit. (He..he.heee)

Sekarang juga masih berlaku. Saat mau mengisi ulang pulsa telepon seluler saya ditanya berapa nomornya, saya tak langsung menjawab, mencari dulu ke inbox untuk mengetahuinya. Padahal sudah bertahun-tahun nomor itu ada dibenak pikiran. Juga saat ditanya orang berapa nomor plat kendaraan saya, saya melihat langsung ke kendaraan baru menyebutnya.

Entah kenapa hal ini bisa terjadi. Saya memang kada pahapalan. Atau sengaja tak mau hafal. Entahlah, yang pasti salah satu cara untuk mengatasi hal itu yang saya kerjakan adalah menulis. Lewat menulislah saya bisa mengingat keadaan masa lalu. (akhmad husaini)