Sabtu, 30 Maret 2013

Kegiatan Kampanye Pemilukada HSS 2013

Sabtu, 30 Maret 2013

Rudy Ariffin saat menyampaikan orasi Kampanye Pemilukada HSS Tahun 2013
di Lapangan Gagah Lurus Kandangan





Pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati HSS beserta isteri
H Muchran B - Abdul Kadir Ahmadi


Band Wali tampil pada kampanye pasangan Sehati
di Durian Rabung , Kec. Padang Batung


Faank, vokalis Wali
Mendapat sambutan hangat warga HSS


Cukup ramai



Sulis tampil dihadapan ribuan warga HSS


Tampil luar biasa


Salam hangat


Foto bareng


Khas HSS (2)

Sabtu, 30 Maret 2013



RAJAH ; SIMBOL SARAT MAKNA

    Dalam masyarakat Banjar, terutama daerah Pahuluan, hal-hal yang berhubungan dengan kedigjayaan sangatlah kental. Baik itu ilmu kesaktian seperti taguh, gancang, ilmu agar disegani, ataupun yang lainnya, masih tumbuh subur. Ilmu-ilmu tersebut diperoleh dengan berbagai cara. Ada yang melalui jalan bauntalan, barajah, bamandi-mandi, mangaji, atau balampah.
    Barajah atau istilah lainnya bawafak bisa ditemui hampir diberbagai pelosok Pahuluan. Biasanya diberbagai daerah diyakini banyak Tuan Guru yang dipercaya bisa marajah atau membuat wafak. Rajah atau wafak merupakan sebuah tulisan, lebih mirip lukisan atau kaligrafi. Biasanya menggunakan huruf, angka, dan simbol-simbol sarat makna dan mengandung sir atau rahasia. Maknanya hanya bisa dipahami orang-orang tertentu.
    Ada berbagai macam jenis rajah sesuai dengan kegunaannya masing-masing. Ada untuk kekebalan, wibawa, berdagang, menjaga rumah, dan agar disayang suami atau isteri. Karena itulah, orang membuat rajahan diberbagai tempat. Ada yang di tubuh, lidah, cincin, kertas, senjata tajam, kaos singlet, dan berbagai tempat lainnya. Bahkan ada juga yang dirajah di (maaf) kemaluannya. Semuanya tergantung jenis serta untuk apa rajah tersebut digunakan.
    Untuk membuat rajah, ada berbagai media atau alat yang biasa digunakan seorang kiai atau di Banua dikenal sebagai Tuan Guru. Dulu, orang barajah biasanya menggunakan dawat (sejenis arang) yang dicampur dengan minyak zaitun, hajar aswad, dan kelambu ka’bah yang dimasukkan ke dalam cupu atau botol kecil tempat minyak.
    Bahan-bahan yang sudah dicampur dan diberikan do’a-do’a khusus dituliskan ke badan dan anggota tubuh lainnya menggunakan sagar hanau (duri pohon enau), atau bisa juga dengan bilah kayu kecil. Bahkan, ada pula yang menggunakan pisau. Kini, seiring waktu, banyak orang yang membuat rajah dengan menggunakan media modern seperti spidol dan pulpen.
    H Muhlis, atau akrab disapa Guru Muhlis, salah seorang yang biasa membuat rajah di daerah Kandangan, mengaku sering didatangi orang dari berbagai pelosok. Mereka datang meminta tubuhnya dirajah. Adapula yang ingin dirajah di tempat lain seperti di baju, cincin, senjata tajam, atau kertas biasa. Ada juga yang ingin dibuatkan rajah di kayu atau dibuatkan camati dan juga babasal (rajah yang dililitkan di pinggang).
    Khusus untuk camati atau babasal, biasanya memakan waktu lama. Bahkan bisa berbulan-bulan. Hal itu, menurut Guru Muhlis disebabkan, dalam proses pembuatannya tidak bisa sembarangan dan harus mencari waktu yang tepat. Untuk rajah ditubuh biasanya tidak memerlukan waktu lama. Hanya memerlukan waktu beberapa menit.
    Menurut Guru Muhlis, untuk bisa mebuat rajah seseorang haruslah memahami betul berbagai jenis rajah dan kegunaannya. Selain itu, si pembuat haruslah mendapatkan izin dari seorang Guru. “ Tidak sembarang orang bisa membuat rajah, harus punya ‘ijazah’ atau ‘izin’,” ujarnya.
    Setiap hari, ada saja orang yang datang ke rumah Guru Muhlis di pedalaman Kandangan meminta dibuatkan rajah. Ada yang ingin agar disayang suami, untuk kekebalan, dan menjadi pejabat. Semua yang datang, siapapun orangnya, selalu dilayani Guru Muhlis dengan ramah.
    Sebelum dibuatkan rajah, ada juga orang yang dimandikan terlebih dahulu. Namun mandinya tak asal mandi. Seseorang yang dimandikan wajib mengenakan kain penutup aurat berwarna putih. Posisinya jongkok sambil menginjak senjata tajam seperti parang, dan menghadap matahari hidup (terbit).
    Usai mandi, kemudian seseorang disuruh masuk ke dalam ruangan khusus untuk dirajah. Saat membuat rajah, seperti di tubuh, biasanya seseorang menghadap kiblat dengan posisi duduk bersila. Setelah membaca do’a khusus, kemudian sang pembuat mulai marajah tubuh orang tersebut.
    Kebanyakan dimulai dengan punggung, lalu ke dahi, kepala, hingga tangan. Usai itu, biasanya orang tersebut diberikan beberapa pesan mengenai pantangan. Untuk masalah pantangan, tidak jauh berbeda dengan ilmu lain. Biasanya segala larangan agama seperti berzina, serta minum-minuman keras adalah pantangan yang wajib ditaati. Selain itu, usai dirajah, seseorang biasanya dilarang mandi dulu untuk beberapa jam. Karena itulah, biasanya orang marajah pada sore atau malam hari.
    Dalam masyarakat Islam sendiri, ada perbedaan pendapat mengenai barajah. Ada yang berpendapat bahwa barajah atau bawafak adalah perbuatan syirik. Namun ada juga yang berpendapat sebaliknya dan menilai hal itu hanya merupakan bagian budaya Banjar yang tak lekang oleh waktu. Bagi mereka yang percaya, barajah tidak lantas membuat seseorang menggantungkan nasib dan keberuntungannya pada rajah itu sendiri.
    Namun, rajah bagi mereka adalah bagian dari ikhtiar atau usaha yang memang wajib dilakukan seseorang. Soal nasib itu hal lain. Bagi orang-orang yang percaya pada keampuhan rajah, segala sesuatu memang tidak akan memberikan bekas, kecuali atas izin dan kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu.***

Sumber : Tabloid Urbana




Bauntalan Yang Tak Pernah Lekang

Sabtu, 30 Maret 2013


Selain ketupat dan dodol, apabila menyebut nama daerah pahuluan, khususnya Kandangan, sejurus tentu terbayang kesan keras dan jagau (jagoan). Bukan hanya itu, urang Kandangan juga dikenal taguh (kebal terhadap berbagai senjata tajam) dan memiliki berbagai ilmu kedigjayaan lain seperti kajian gancang (kuat), bisa menghilang, dan ilmu kabibinian (pemikat perempuan). Kesan ini kian melekat dan akhirnya – sadar tidak sadar dan mau atau tidak – menjadi salah satu ciri khas urang Kandangan.

Untuk menjadi taguh terhadap berbagai jenis senjata tajam, ada beberapa cara yang biasa dilakuakan. Ada yang memperolehnya dengan jalan latihan, mengolah jiwa dan raga melalui tirakat tertentu seperti kajian ataupun amalan. Namun ada juga yang melewati jalan instan seperti bauntalan.

Secara logika, bauntalan mungkin sulit dijelaskan. Namun percaya atau tidak, bauntalan diyakini sebagian masyarakat bisa menjawab keinginan untuk taguh (kebal), sugih (kaya), dan gampang untuk mendekati perempuan.

Bagi masyarakat Kandangan, bauntalan bukan ditujukan untuk menjadi jagoan. Namun yang terpenting adalah menjaga diri dan martabat keluarga. Orang biasanya bauntalan, apabila akan meninggalkan kampung halaman seperti madam ke daerah lain.

Orangtua di Kandangan, sampai sekarang misalnya, masih ada yang mauntali anaknya yang akan bersekolah ke daerah lain. Yang masih tinggal di Kandangan pun, ada juga yang bauntalan. Seperti yang dilakukan Rahman (30). Pemuda ini mengaku bauntalan untuk menjaga diri. “ Ulun bauntalan gasan jaga diri haja, kada gasan bajajagauan (saya bauntalan hanya untuk jaga diri, bukan untuk jadi jagoan),” ujarnya.

Salah seorang tokoh di Kandangan, yang sangat paham dan lama berkecimpung di dunia yang berhubungan dengan untalan, Junaidi (50), atau akrab dipanggil Pambakal Ijun, menyatakan bauntalan tak hanya ada di Kandangan. Menurut laki-laki yang masih terlihat gagah, meski sudah cukup berumur, dikenal, dan disegani masyarakat dan para preman ini, sudah ribuan orang yang datang kepadanya. Mereka antara lain, polisi, tentara, dan preman.

Menurut Pambakal Ijun yang dimasa mudanya tinggal di daerah Telaga Langsat dan dikenal bengal ini, memang yang paling banyak menggunakan untalan adalah orang Kandangan. Seperti hal yang berbau magis lainnya, kata Pambakal Ijun, untalan mempunyai dua aliran, hitam dan putih. Yang oleh masyarakat sering dikenal dengan sebutan untalan kanan kiwa atau manyalah.

Untalan ini ada yang berupa minyak, adapula yang berupa barang. Yang berupa minyak, biasanya dimasukkan dalam botol kecil dan diberi kapas. Kapas yang menyerap minyak inilah yang diuntal orang. Sedangkan yang berupa barang, biasanya langsung diuntal atau bisa juga menggunakan media lain seperti pisang amas.

Ada banyak sekali untalan jenis putih atau kanan. Beberapa diantaranya seperti minyak sembilan wali, minyak raja, minyak gangsa, minyak bintang, mjapahit, minyak bungkang, garanda basi, dsb.

Sama halnya seperti untalan yang beraliran putih, untalan manyalah juga mempunyai beragam jenis. Sebut saja karangka hirang, minyak gajah, dsb. Untalan jenis ini, apabila tidak dikeluarkan, biasanya bisa mengakibatkan si pemakainya mati penasaran atau menjadi hantu gentayangan.

Untalan yang berupa minyak, biasanmya dibuat oleh orang yang berilmu, dengan jalan balampah. Sebut saja minyak bintang, dibuat melalui proses tertentu yang cukup memakan waktu. Pada malam bulan purnama, si pembuat biasanya balampah dengan melakukan ritual tertentu sambil membawa kaminting (kemiri).

Setiap ada satu bintang jatuh, satu kaminting dimasukkan ke kuali. Begitulah sepanjang malam huingga pagi. Setelah selesai, kaminting-kaminting tersebut dibuat minyak dan jadilah minyak bintang. Khasiatnya, hamper mirip dengan ilmu rawarontek, meskipun pemakainya sudah mati, apabila bintang keluar maka orang tersebut akan hidup kembali.

Setiap orang yang bauntalan, biasanya mempunyai pantangan, yakni sesuatu yang tidak boleh dilakuakan. Bisa juga berupa sesuatu yang tidak boleh dimakan. Namun dengan alas an etika, pria ini enggan menyebutkan jenis untalan beserta pantangannya. Namun secara umum dijelaskan Pambakal Ijun, pantangan ini tergantung dengan jenis untalan yang dipakai. Seperti larangan memakan pisang amas, minum-minuman keras, berzina, memakan nasi arwah, dan berbagai pantangan lainnya.

Apabila sesorang memakan atau melanggar pantangan, maka khasiat untalan akan hilang. Bukan hanya itu, pada jenis untalan tertentu, malah bisa berakibat langsung pada penggunanya. Misalnya, timbul penyakit kulit seperti kudis dan kurap, panu atau bahkan bisa membuat yang bersangkutan gila. “ Orang yang bauntalan harus benar-benar menjaga diri dan kelakuan agar jangan sampai melanggar pantangan,” ujar Pambakal Ijun memperingatkan.

Namun menurut Pambakal Ijun, apapun jenis untalan, semua itu hanyalah suatu ikhitiar atau istilahnya syariat saja. Kesemuanya tetaplah kembali pada ketentuan Yang Maha Kuasa. Ia menganalogikan untalan ini seperti layaknya obat, apabila seseorang sakit dan meminum obat, maka Insya Allah ia akan sembuh. Namun yang menyembuhkan atau tidak bukanlah obat itu, tapi Tuhanlah yang memberikan kesembuhan melalui perantara obat itu. Tuhan memang selalau Maha Kuasa diatas apapun. ***

Sumber : Tabloid Urbana

Kepala MTsN Angkinang Kabupaten Hulu Sungai Selatan

Sabtu, 30 Maret 2013

KEPALA MTsN ANGKINANG
DARI TAHUN KE TAHUN


H. NAWAWI
(1967 – 1970)


ABDUL JAWAD ANSHORI, BA
(1971 – 1977)


Drs. MUHRI YUSUF
(1978 – 1980)


H. RAMLI AMIN
( 1981 – 1987 )


Drs. HM KUSASIE
( 1988 – 1990 )


H. TABERANI YAMANI, BA
( 1991 – 1994 )


Drs. HM ILMI
( 1995 – 1998 )


MASDAR SAMAD
( 1998 - 2000)


Drs. H  BADERUN
( 2000 – 2004 )


M. SYAKHRUL, AB. S.Pd
( 2004 – 2012 )


ABDURRAHMAN  (Pgs.)
( 1 November 2012 – 21 Maret 2013)


GAZALI, S.Ag
( 22 Maret 2013 – sekarang)



Sabtu, 23 Maret 2013

Kampanye Pemilukada HSS 2013

Sabtu, 23 Maret 2013

 Habib Aboe Bakar Al-Habsyi memberikan orasi kampanye



Kampanye cukup meriah





Ada Saweran di Kampanye Sehati

Sabtu (23/3/2013)  siang di Lapangan HM Yusi Kandangan, tepatnya dekat Terminal Bus Kandangan digelar Rapat Umum pasangan Calon Bupati dan Wakil Bupati HSS nomor urut 2, H Achmad Fikry - H Ardiansyah.

Acara dimeriahkan penyanyi dari ibukota Leny KDI, dsb. Ribuan massa menyemut. Walau saat itu cuaca cukup panas.

Sementara para tokoh partai yang hadir diantaranya Habib Aboe Bakar Alhabsy, H Sulaiman HB, Ahmadi Noor Supit, Nasib Alamsyah, dll.

Pada saat selesai memberikan orasi jurkam melemparkan kaos dan jaket kepada massa yang memadati tempat kampanye.

Ada yang menarik saat para penyanyi membawakan lagunya beberapa orang yang naik ke pentas ikut berjoget dan memberikan saweran kepada penyanyi dengan uang pecahan Rp 50 ribu hingga Rp. 100 ribu.

MTsN Angkinang Dalam Lensa

Sabtu, 23 Maret 2013

Pelaksanaan upacara bendera di MTsN Angkinang
Dengan pembina Kapolsek Angkinang


Pengerek bendera


Kapolsek Angkinang memberikan sambutan



Kamis, 21 Maret 2013

HSS Bangga !

Jum'at, 22 Maret 2013




STQ ke 19 Tingkat Kabupaten HSS  Tahun 2013
di Bajayau
Kecamatan Daha Barat

KANDANGAN – Seleksi Tilawatil Qur’an (STQ) Nasional XIX Tingkat Kabupaten Hulu Sungai Selatan berlangsung di Bajayau Kecamatan Daha Barat, 17 s/d 19 Februari 2013. Pembukaan berlangsung hari Minggu (17/2/2013) sekitar pukul 14.00 WITA. Para kafilah diinapkan dirumah-rumah penduduk. Dari Nagara mereka menumpang kelotok menuju tempat kegiatan. Kegiatan dilangsungkan siang hari saja tidak malam.
            Pembukaan berlangsung cukup meriah. Dibuka secara resmi oleh Bupati Dr. HM. Safi’i MS.i. Dihadiri unsur Muspida HSS. Seperti Wakil Bupati HSS H Ardiansyah dan Kepala Kantor Kemenag HSS H Matnor. Juga kafilah utusan dari 11 Kecamatan di HSS yakni Daha Barat, Daha Utara, Daha Selatan, Kandangan, Simpur, Sungai Raya, Angkinang, Telaga Langsat, Loksado, Kalumpang, dan Padang Batung. Dengan jumlah peserta sekitar 265 orang. Warga Daha Barat tumpah ruah ke tempat kegiatan berlangsung.
            Sebelumnya diadakan Pawai Ta’ruf di Dermaga Nagara. Tempat tersebut berubah menjadi semarak selain kafilah dan warga juga jajaran Pemerintah Kabupaten HSS, Tim Kerja LPTQ HSS, Dewan Hakim pada STQ Nasional Tingkat Kabupaten HSS. Pawai Ta’ruf dilepas oleh Wakil Bupati HSS H Ardiansyah yang juga selaku Ketua LPTQ HSS menandai digelarnya STQ. Setelah itu rombongan kafilah langsung menuju Bajayau, Kec. Daha Barat. Mereka menggunakan kelotok di sepanjang sungai Nagara.
            Tampil sebagai Juara Umum adalah Kecamatan Simpur. Sementara untuk Juara Umum Perorangan adalah Kamaruddin dari Kecamatan Angkinang. Tahun depan STQ/MTQ ke 20 akan berlangsung di Kecamatan Kalumpang dengan cadangan Kecamatan Daha Utara.
            Kecamatan Angkinang pada STQ kali ini tampil sebagai peringkat 3. Dengan torehan 7 piala. Yakni Aisyatur Ridha (Juara I Tahfiz 1 Juz), M. Zulfi (Tahfiz 5 Juz), M. Syaifurrahman (Tilawah Remaja), M. Hidayat (Tartil Anak), Nurul Huda (Tilawah Dewasa), Kamarudin (Tilawah Dewasa), Raudhatul Jannah (Tilawah Anak).
            Menurut Aisyatur Ridha, qariah asal Angkinang,  STQ kali ini  berlangsung dengan lancar dan sukses. “ Walau  masih ada kekurangan disana-sini, tapi tidak mengurangi  pelaksanaan kegiatan tersebut,” ujar Ridha.
            Suka duka yang dialami selama STQ ujar Ridha adalah saat menuju tempat kegiatan dengan kelotok. Ada sekitar 15 orang dalam satu kelotok. Sementara mobil dan motor ditinggal di dermaga. Ia baru pertama kali datang kesana. Asyik bermain air. Lalu naik keatap bubungan kelotok. Saat lomba. Pas angin badai hari Selasa merobohkan panggung utama. Makan diantar panitia ke penginapan. Ikan ayam dan nila. Ridha pada STQ kali ini meraih juara I Cabang Tahfiz 1 Juz. Dengan merebut piala dan uang tunai sebesar Rp.250 ribu.
Sementara Ali Akbar, peserta asal Loksado , walau kalah tapi ia bersyukur karena dapat banyak pengalaman dalam kegiatan ini. Namun ia mengeluh karena tempat perlombaan sering dialihkan ke tempat lain.
Lain lagi yang dialami Miftahul Jannah yang juga dari Loksado ia menyatakan cukup menyenangkan mengikuti STQ ini walau tidak juara. “ Mudahan pada kegiatan STQ tahun depan saya dapat meraih prestasi,” harap Miftah.(akhmad husaini)


Aisyatur Ridha
Juara I  Cabang Tahfiz 1 Juz
STQ ke 19 Tingkat Kabupaten Hulu Sungai Selatan
Di Bajayau Kec. Daha Barat
17 s/d 19 Februari 2013



Nuansa Pemilukada HSS 2013

Jum'at, 22 Maret 2013


MUPAKAD Bersama
Membangun HSS

        H Muchran  ( H Bahran) dan Abdul Kadir Ahmadi diberi amanah sebagai calon Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Huklu Sungai Selatan periode 2013-2018 untuk melanjutkan roda pembangunan di Bumi Antaluddin.
        Dukungan pencalonan dan aspirasi dari para ulama, tokoh masyarakat, segenap komponen masyarakat menjadi pertanda keduanya orang yang pantas mengemban amanah tersbut. Keduanya diusung oleh koalisi partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan Partai Gerindra untuk dicalonkan sebagiai calon Bupati dan Wakil Bupati HSS pada Pemilukada 2013 yang berlangsung pada 3 April 2013 .
        MUPAKAD Bersama Membangun HSS. Itulah slogan yang dikibarkan pasangan ini. MUPAKAD menyiratkan  kekompakan dan tekad bersama pasangan ini untuk selalu dalam kebersamaan dalam setiap gerak untuk membangun Banua.
        MUPAKAD juga mencerminkan sikap pasangan ini untuk selalu melibatkan partisipasi segenap komponen dalam pembangunan di daerah. Dan, MUPAKAD juga kependekan dari jati diri pasangan ini, MUCHRAN berpasangan dengan KADIR.
        Tak kenal maka tak sayang. Begitu pepatah lama menyebutkan. Kedua tokoh yang hadir dipentas politik HSS ini taka sing lagi di masyarakat. Keduanya mewakili figure pimpinan teladan dan pantas untuk memimpin HSS lima tahun mendatang.
        H Muchran atau H Bahran, berasal dari Desa Habirau Tengah, Nagara. Ia dikenal warga sebagai pelopor pendidikan untuk mencerdaskan ummat yang berakhlak dan bermoral. Sejak tahun 1965, suami Hj Hasanah ini membuka sekolah keagamaan setingkat madrasah dan sekarang berkembang menjadi pusat pendidikan dengan nama Pondok Pesantren Pendidikan Islam Parigi (PPIP), lengkap dengan panti asuhan untuk menampung warga yang yatim piatu.
        H Muchran kemudian berkiprah ke pentas politik. Ia berpandangan, untuk mencerdaskan ummat tak bisa hanya bergelut pada pusat pendidikan yang dibangunnya dengan susah payah. Aspirasi, ide, dan cita-citanya untuk memajukan pendidikan di HSS harus disalurkan ke wilayah yang lebih luas. Tempatnya adalah legislatif, wadah segala regulasi dan kebijakan daerah digodok bersama eksekutif. Tahun 2009, saat digelar Pemilu, H Muchran terpilih sebagai wakil rakyat dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP).
        Suami Hj Hasanah ini memberikan warna tersendiri pada aktivitas DPRD HSS. Ia juga dipercaya menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan untuk periode 2009-2014.
        Mengabdi total untuk kemajuan daerah adalah cita-cita besar tokoh energik ini. Atas kepercayan dan amanah yang kini diembannya sebagai seorang calon bupati, ia memohon do’a restu dan dukungan dari segenap komponen masyarakat HSS.
        “ Jika masyarakat memberi amanah dan kepercayaan, saya akan melanjutkan pembangunan yang telah dicanangkan para pemimpin di HSS sebelumnya,” ujar H Muchran.
        Abdul Kadir Ahmadi, dari Simpur, Kandangan adalah sosok yang dikenal luas oleh para petani di HSS. Pria yang mendampingi H Muchran atau H Bahran sebagai calon Wakil Bupati terlahir dari keluarga petani. Bahkan, sampai sekarang ia tetap setia dan tak malu mencantumkan salah satu pekerjaannya sebagai petani, meski ia sekarang adalah anggota DPRD HSS dari Partai Gerindra.
        Di kalangan petani HSS, Abdul Kadir Ahmadi diteladani. Keberpihakan dan perhatiannya terhadap kemajuan pertanian di daerah ini selalu mengedepan. Jika ada pembahasan soal pertanian dilegislatif, ia selalu tampil di depan.
        Karena itu, para petani di HSS, bahkan di Kalsel mengamanahkan suami Zakiah ini, sebagai Ketua Forum Komunikasi Pusat Pelatihan Pertanian Perdesaaan Swadaya Kalsel. Ia juga dipercaya sebagai Sekretaris Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kalsel.
        MUPAKAD, H Muchran (H Bahran) dan Abdul Kadir Ahmadi yang dikenal loyal dan selalu mengabdi untuk kemaslahatan ummat ini, sekarang menjadi harapan baru bagi masyarakat di HSS sebagai calon pemimpin mereka dan angin segar untuk pembangunan di Bumi Antalduin yang lebih baik.
        Angin segar itu tercermin dari visi yang diusung MUPAKAD, yaitu “ Terwujudnya Masyarakat yang Agamis, Terampil serta Terciptanya Pertanian yang Tangguh “ di HSS.
        Bagi pasangan ini, jabatan adalah amanah yang tak boleh dikejar, apalagi diperebutkan. Namun, apabila seseorang diberi kepercayaan, tidak ada pilhan lain kecuali melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab. Insya Allah.
        Proses politik yang mempertemukan pasangan MUPAKAD ( H Muchran-Abdul Kadir Ahmadi) bukanlah melalui tahapan yang kebetulan atau instan. Keduanya adalah tokoh politik di masing-masing partai.
        H Muchran adalah Ketua DPC PPP HSS dan Abdul Kadir Ahmadi adalah Ketua DPC Gerindra HSS. Keduanya juga anggota legislatif di DPRD HSS. H Muchran menjabat sebagai wakil ketua, dan Abdul Kadir adalah anggota.
        Berpadunya MUPAKAD dipengaruhi pula hubungan antara PPP dan Gerindra di Kalsel. Koalisi kedua parpol ini sejak 2009 selalu berjalan harmonis, yaitu dimulai dari pengusungan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Kalsel Periode 2010-2015, Dua Rudy (H Rudy Ariffin-H Rudy Resnawan). Begitu pula pada pemilihan calon kepala daerah / wakil kepala daerah dibeberapa kabupaten di Kalsel. PPP-Gerindra selalu bersama-sama.
        Bahkan, di lembaga legislatif (DPRD), PPP-Gerindra juga BERMUPAKAD untuk bergabung dalam satu fraksi. Baik di provinsi maupun di kabupaten / kota.
        Salah satu yang membuat kedua partai ini kompak adalah karena kesamaan visi. PPP-Gerindra sama-sama punya tujuan untuk memberdayakan masyarakat serta meningkatkan kesejahteraan yang dilandasi kehidupan yang agamis, beretika, dan bermoral.
        Tak heran, pencalonan H Muchran - Abdul Kadir Ahmadi tak melalui proses politik yang berliku. Kesepahaman dan kebersamaan dua partai ini memuluskan keduanya untuk tampil di pentas Pemilukada HSS 2013.***



Jurnalis Kandangan

Jum'at, 22 Maret 2013


Saya kenal nama-nama wartawan / jurnalis yang bertugas di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Mereka biasanya ngepos di kota Kandangan. Tepatnya di Press Room Kantor Bupati HSS.
        Mereka adalah Muchei Rifai (Radar Banjarmasin), Syaiful Akhyar (Banjarmasin Post), Sofan (Media Kalimantan), Ida Laeny (Barito Post), dan Norda (Kalimantan Post).
        Namun dari beberapa nama tadi yang saya akrab dan kenal  adalah Ida Laeny, Sofan, dan Syaiful Akhyar.
        Ida Laeny saya kenal sudah sejak lama. Ia pernah jadi penyiar radio, yakni Radio Purnama Nada Kandangan. Juga pernah main sinetron lokal. Suaminya, Aan Maulana sering bareng ikut kegiatan sastra. Suaminya guru sebuah MTs di Kabupaten Tapin. Anak Ida sekolah di MTsN Amawang.
        Sementara Sofan saya kenal saat kegiatan upacara pelepasan peserta Napak Tilas Luran Teks Proklamasi ALRI Divisi IV Pertahanan Kalimantan di Kandangan beberapa tahun silam. Ternyata ia ada hubungan keluarga dengan Fahri Rahman (Tabloid Urbana). Saya sering kirim tulisan ke e-mailnya.
        Kemudian Syaiful Akhyar. Kenal karena sering ketemu saat ia meliput di lapangan. Akhyar pernah jadi wartawan Tabloid Serambi Ummah.

Kandangan, 17-3-2013