Selasa, 16 Juni 2015

Tradisi Sastra Orang Bakumpai, Catatan dari Pedalaman Kalimantan (2)

Rabu, 17 Juni 2015


Oleh : Setia Budhi

(Makalah disampaikan dalam Aruh Sastra Kalimantan Selatan (ASKS) VI di Marabahan, Kabupaten Barito Kuala, 25 s.d 27 Desember 2009)

            Menurut Riwut (1993), suku Dayak dibagi menjadi 7 (tujuh) kelompok besar yaitu : (1) Dayak Ngaju, (2) Dayak Apu Kayan, (3) Dayak Iban dan Heban atau Dayak Laut, (4) Dayak Klemantan atau Dayak Darat, (5) Dayak Murut, (6) Dayak Punan, dan (7) Dayak Ot Danum. Suku Dayak Ngaju terbagi kepada 4 (empat) suku besar, yaitu : Ngaju, Ma’anyan, Lawangan dan Dusun. Empat kelompok besar ini pula dibagi kepada beberapa kelompok. Salah satu kelompok itu ialah Dayak Bakumpai.
            Orang Bakumpai termasuk dalam kelompok Dayak Ot Danum yang terbagi kepada 68 suku kecil, diantaranya ialah Ngaju, Kapuas, Kahayan, Katingan, Sampit, Seruyan (Riwut, 1993 : 267). Walau bagaimanapun tidak ditemukan keterangan yang jelas sama ada Orang Bakumpai merupakan bagian daripada Dayak Ngaju ataupun Dayak Ot Danum. Namun begitu, perkataan Ot Danum dan Ngaju ternyata memiliki kesamaan makna. Ot artinya Hulu ; Danum artinya air. Jadi, Ot Danum artinya hulu air atau hulu sungai, menunjukkan orang yang tinggal di hulu sungai atau udik, sedangkan Ngaju berasal dari kata Bi-aju. Bi artinya dari ; aju artinya udik jadi Bi-aju artinya dari udik. Ngaju memiliki makna Udik (Riwut, 1993-262). Jadi Ot Danum dan Ngaju memiliki arti yang bersamaan, yaitu berada di hulu sungai. Riwut menyatakan bahwa berdasarkan kawasan yang didiami oleh orang Bakumpai menunjukkan bahwa mereka merupakan sebagian daripada suku bangsa Dayak, yaitu dari kelompok Dayak Ngaju dan Ot Danum.
            Maulani (2000 : 141) berpendapat bahwa orang Bakumpai termasuk suku bangsa Dayak dari salah satu sub Kahayan yang berasal dari suatu desa yang menggunakan istilah Bakumpai di hulu sungai Barito. Mereka menyebar ke selatan dan hidup di sepanjang sungai Barito, sungai Kahayan dan sungai Mentaya Sampit sampai ke Tumbang Samba Kasongan di Kalimantan Tengah.
            Sellato (2002) menyebutkan bahwa bahasa yang digunakan oleh penduduk di pedalaman Kalimantan Tengah adalah sama dengan yang digunakan oleh orang-orang Dayak Ngaju, khususnya di kawasan sungai Barito yang disebut Biaju. Perkataan Ngaju dan Biaju digunakan untuk menyebut suku-suku yang bertempat tinggal di hulu sungai, sama ada di hulu sungai Kahayan ataupun di hulu sungai Barito. Orang Biaju kemungkinan ialah orang Ngaju dan di dalam salah satu rumpun sukunya dipanggil sebagai orang Bakumpai. Sellato memandang dialek Ngaju yang dipergunakan di kawasan Kahayan, Katingan dan Barito sebagai bahasa penghubung (lingua franca) masyarakat Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.
            Pada bagian lain, Sellato (2002) memberi pandangan tentang orang Bakumpai yang diperkirakan datang dari Kalimantan Tengah dan tinggal dalam masa yang lama di Sungai Ratah, yaitu sebuah sungai di kawasan sungai Mahakam, Kalimantan Timur. Sellato berkata bahwa orang Bakumpai merupakan komunitas Dayak yang telah masuk Islam. Pendapat ini memberikan pemahaman bahwa asal-usul orang Bakumpai adalah Dayak Ngaju yang telah memeluk agama Islam atau dengan perkataan lain bahwa orang Bakumpai merupakan orang-orang Dayak yang beragama Islam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Sepeda Motor Butut Teman Setia ke Tempat Kerja

 Senin, 19 Januari 2026 Sepeda motor butut milik saya, ada di dalam rumah, berlokasi di sekitaran RT 1 Desa Angkinang Selatan, Kecamatan Ang...