Rabu, 17 Juni 2015

Tradisi Sastra Orang Bakumpai, Catatan dari Pedalaman Kalimantan (3)

Kamis, 18 Juni 2015


Oleh : Setia Budhi

(Makalah disampaikan dalam Aruh Sastra Kalimantan Selatan (ASKS) VI di Marabahan, Kabupaten Barito Kuala, 25 s.d 27 Desember 2009)

Berdasarkan kajian terhadap orang Bakumpai dari aspek ethno linguistik, SAR Ibrahin (1978) menyimpulkan bahwa bahasa Bakumpai yang dipakai oleh masyarakat di Kabupaten Barito Kuala menunjukkan bahwa mereka merupakan bagian dari pada kelompok Dayak Ngaju (Ngaju Isolec). Rahmi (1987) yang menyelidiki agama dan kepercayaan Dayak Bakumpai menyatakan bahwa sebagian besar upacara keagamaan itu dipengaruhi oleh budaya Melayu Banjar.

Hudson (1967) juga memiliki pendapat yang sama. Beliau mengaitkan bahasa-bahasa yang digunakan di kawasan Kalimantan Tengah, terutama di daerah sungai Barito. Beliau mendapati bahasa yang digunakan di kawasan ini adalah Barito Isolec yang sebagian besar dituturkan hampir 350.000 orang Bakumpai di kawasan sungai Barito.

Penyelidikan terhadap Tumenggung Dayak di kawasan sungai Barito yang dilakukan oleh Helius Sjamsuddin (1996) menyebutkan tentang Islamisasi suku Dayak di Kalimantan Tengah pada abad ke 17 dan ke 18 dengan menempatkan suku Dayak Bakumpai dalam aktivitas dakwah atau penyebar agama Islam ke pedalaman Kalimantan. Sementara Sjamsuddin mengkategorikan orang Bakumpai sebagai orang Dayak yang menjadi perantara dua budaya yaitu Melayu dan Dayak. Beliau menyimpulkan bahwa orang Bakumpai berasal dari sukuDayak yang mempunyai kaitan dengan orang-orang Melayu di kawasan pantai bagian selatan Kalimantan.

Schwanner (1853) dan Carl Bock (1881a. 1999b) menyatakan bahwa daerah Marabahan atau Muara Bahan adalah pusat perniagaan yang ramai untuk kawasan sungai Nagara, sungai Kapuas dan sungai Kahayan pada masa itu. Oleh karena itu, tempat tinggal orang Bakumpai di daerah Marabahan menjadi pusat perniagaan yang penting bagi orang-orang Dayak di pedalaman dan orang-orang Melayu di kawasan pantai.

Daerah Bakumpai ialah transhipmen untuk kapal-kapal niaga itu. Schwanner menyatakan bahwa orang Bakumpai telah menyebarkan Islam semenjak tahun 1688. Walaupun beliau tidak mengenali bahasa Bakumpai, tetapi bahasanya memang berbeda daripada bahasa Melayu Banjar. Beliau diberitahu bahwa dalam bahasa Bakumpai terdapat banyak kosakata Dayak.

Walaupun laporan Schwanner menyebut bahwa komunitas suku Dayak Bakumpai membangun rumah di sepanjang tepi sungai Barito yang disebut rakit tetapi istilah rakit hanya dikenal dalam bahasa dan budaya Melayu Banjar, semenetara orang Bakumpai sendiri menyebut bangunan diatas air di pesisir sungai Barito itu dengan istilah huma lanting. Berdasarkan laporan tersebut jelaslah bahwa orang Bakumpai membina rumah diatas sungai Barito.

Hans Scharer (1963), menyebut komunitas Bakumpai hidup dibagian up river (hulu sungai) dan down river (hilir sungai) Barito. Sebagian peneliti, Marko Mahin (2005) menyebutkan bahwa orang Bakumpai merupakan cabang dari Dayak Dusun yang tinggal di bagian pusat Kalimantan yang rapat hubungannya dengan Dayak Siang, Dayak Deyah, Dayak Witu di sebelah utara dan Kahayan di sebelah barat Kalimantan Tengah.

Berdasarkan adat perubahan tradisional yang dijalankan orang Bakumpai, diyakini bahwa orang Bakumpai berasal daripada Dayak Ngaju dan Ot Danum. Salah satu bentuk pengobatan tradisional itu dikenali sebagai badewa mananamba, yaitu proses pengobatan dengan menggunakan kuasa roh dan mantera. Upacara-upacara yang menggunakan sesaji dalam pengobatan tradisional yang dilakukan oleh orang Bakumpai itu agak sama dengan yang dilakukan oleh suku Dayak Ngaju khasnya upacara pengobatan balian di Kalimantan Tengah (Kloke 1985).

Pelbagai pandangan di atas, dapat dipahami bahwa komunitas Bakumpai mempunyai kaitan yang kuat dengan nenek moyang mereka yaitu orang Dayak. Tetapi apabila komunitas Bakumpai memeluk agama Islam maka mereka dikategorikan sebagai Melayu. Walau bagaimanapun, pandangan yang menyatakan bahwa Dayak Islam menjadi Melayu sebagai perkara yang tidak sesuai dengan keseharian komunitas Bakumpai.

Pandangan yang bermula daripada pengkaji asing seperti Sellato (2002), King (1973) dan Mallonkrot (1975), bercanggah apabila dikatakan Bakumpai sebagai Melayu mengikut kemasukan mereka ke dalam Islam. Pada masa ini, telah wujud pendapat daripada pengkaji setempat yang mengatakan bahwa tidak semua orang Dayak yang memeluk Islam dapat dikatakan sebagai Melayu terutama dilihat dari bahasa dan adat kepercayaan terhadap leluhur mereka yang masih berbekalan sehingga kini. (Yusriadi dan Hermansyah : 2003)

Terhadap adanya perbedaan pendapat dikalangan pakar sejarah mengenai istilah yang digunakan untuk menyebut orang Bakumpai, baik Dayak Islam ataupun Dayak Melayu. Apa yang pasti adalah bahwa orang Bakumpai merupakan sebuah komunitas yang tinggal di kawasan sungai Barito, Long Iram Kalimantan Timur dan Samba Bakumpai di sungai Katingan bahwa mereka pada umumnya beragama Islam dan tetap mengekalkan budaya serta kepercayaan leluhur mereka (Setia Budhi, 2009). Jadi di dalam pandangan ini istilah dan asal usul orang Bakumpai nampaknya selalu merujuk kepada Dayak Ngaju dengan pelbagai unsur budaya Melayu dan Islam yang pada abad ke belakang mewarnai kehidupan mereka.

2 komentar:

  1. terima kasih memasukkan tulisan ini dalam blog. semoga bermanfaat. wassalam

    BalasHapus
  2. Sama2 Pak. Salam silaturrahmi selalu. Tulisan Bapak saya dapatkan saat mengikuti Aruh Sastra Kalsel di Marabahan tahun 2009.

    BalasHapus

Undangan Saprah Amal di Amawang Kiri Muka HSS

 Ahad, 18 Januari 2026 Undangan Saprah Amal di sekitaran Amawang Kiri Muka, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantqn S...