Oleh : Setia Budhi
(Makalah disampaikan dalam Aruh
Sastra Kalimantan Selatan (ASKS) VI di Marabahan, Kabupaten Barito Kuala, 25
s.d 27 Desember 2009)
C. Mitologi Asal Mula Orang Bakumpai
Noreid
Haloi Radam (2001) dan Anna Tsing (1993) dalam penyelidikan mereka tentang
komunitas Dayak di pedalaman Kalimantan Selatan berpendapat, suku Dayak di
kawasan ini kaya dengan mitos. Merujuk
kepada perkara itu pula pengkaji memilih pendapat yang sudah umum di kalangan orang
Bakumpai sendiri bahwa mereka adalah komunitas Dayak dibagian selatan Kalimantan dan mereka percaya terhadap mitos mengenai
asal-usul mereka.
Dalam
perjalanan ke perkampungan orang Bakumpai di kampung pedalaman sungai Barito seperti kampung Sikan, kampung Lahey, kampung Mangkahui, bahkan kampung Tumbang Topus di kawasan Barito
Hulu dapat ditemukan cerita-cerita yang sangat menarik mengenai bagaimana jejaring juriat atau asal-usul
orang Bakumpai.
Kisah-kisah itu merupakan sumbangan yang
sangat penting untuk dapat dijadikan sabagai bahan dasar dalam konteks berbagai pandangan tentang asal mula orang Bakumpai dalam
keterikatan mereka dengan orang di hulu sungai Barito. Bahwa juga cerita Dayak
Ngaju di pedalaman dan
catatan-catatan lisan yang berkembang seperti dalam syair orang Bakumpai
nampaknya juga memuat silsilah orang Bakumpai yang dapat dijadikan sebagai rujukan latar
belakang untuk menggali asal-usul orang Bakumpai.
C.1
Datu Bahandang Balau
Beberapa
narasumber mengatakan bahwa terdapat hubungan yang kuat antara tokoh Datu
Bahandang Balau dengan kerabat Kesultanan Banjar. Orang Bakumpai, menurut konteks syair orang Bakumpai
berasal dari keturunan
orang-orang Dayak yang kawin dengan orang-orang dari suku Melayu Banjar terutama di kawasan
sungai Nagara yaitu Margasari Hulu. Marilah
mengutip syair tersebut sebagai berikut.
Inilah
kisah yang pernah saya mendengarnya
Kisah
dari orang tua-tua kita
Julak
H Hasan dan Anjang Danan menuturkannya
Saya
berjumpa dengan mereka selagi masih muda
Yang
mereka tuturkan mula-mula
Suku
kita Bakumpai ini dari mana asalnya
Dayak
Murung dan Dayak Bijayu lah asal kita
Jadilah
suku Dayak Bakumpai namanya
Mengapa
yang jadi suku Dayak Melayu
Karena
ada riwayatnya pada jaman dahulu
Datu
Bahandang Balau anak Bijulu dan Biyatu
Beristeri turunan Andin di Margasari Hulu
Syair
orang Bakumpai, bahwa Datu Bahandang Balau mempunyai hubungan dekat dengan kerajaan Melayu Banjar. Mitologi ini memberikan
pemahaman bahwa Datu Bahandang Balau
datang ke Istana Banjar bukan tanpa sebab. Beliau memiliki pertalian dengan kerabat Diraja Kesultanan Banjar melalui institusi
perkawinan.
Oleh
karena itu Datu Bahandang Balau yang telah memeluk Islam dapat diterima
oleh kalangan istana dan oleh sebab itu Bahandang Balau mendapat gelar Patih.
Kaitan Datu Bahandang Balau sebagai Ketua Adat Orang Bakumpai di pedalaman, yang memiliki kaitan
dengan keluarga istana dan hal itu sebagai sebuah keadaan yang wajar antara
Dayak dan Melayu.
Syair
orang Bakumpai berikut memberikaan pemahaman tentang kedudukan ketokohan Datu
Bahandang Balau dan asal-usul orang Bakumpai.
Sebelum
kerajaan Banjar dijadikan
Di
Amuntai ada sebuah kerajaan
Di
Margasari mereka ada turunan
Digelar Andin turunan bangsawan Raja Kuripan
Datu
Bahandang Balau berkeluarga di Margasari
Anak Andin Banawa diambil jadi isteri
Pada Kerajaan Kuripan diambil jadi isteri
Diangkat jadi patih pegawai tinggi
Margasari adalah kota pelabuhan
Pelabuhan dari Kerajaan Kuripan
Lambung Mangkurat jadikan kota kerajaan
Raja Banjar pertama titisan Dewa Kayangan
Nampaknya gelar patih yang diberikan kepada Datu Bahandang Balau adalah
sama dengan gelar Patih yang diberikan kepada Gadjah Mada di Kerajaan Majapahit
di pulau Jawa. Syair itu memberi makna Datu Bahandang Balau merupakan tokoh
yang disegani, bukan karena kepiawaiannya dalam aspek pemerintahan kerajaan,
tetapi karena kuasa ‘ilmu’ yang dimilikinya.
Bahandang
Balau orang Dayak yang mempunyai kedudukan penting dalam kehidupan istana, karena beliau ialah ‘orang luar’
yang dapat dijadikan sebagai
perantara untuk membina kampung-kampung kecil sebagai kawasan ‘taklukan’
untuk kepentingan ekonomi dan perluasan kuasa kerajaan Hindu di kawasan selatan
maupun di Tanah Dusun di kawasan Kalimantan Tengah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar