Rabu, 05 Juli 2017

Meraih Batas dengan Seksama

Kamis, 6 Juli 2017


Oleh : Akhmad Husaini

Dugal seperti biasa menjalani aktivitas keseharian, pukul 07.00 WITA, ia berangkat menuju tempat kerja bersepeda motor bututnya, berjarak sekitar satu kilometer. Setibanya disana Dugal membuka pintu dan membersihkan ruangan.

Kemudian tirai dibuka, tempat sepatu dikeluarkan, lap kecil diletakkan di depan pintu. Lalu ia masuk ke ruang kerjanya. Jendela dan tirai dibuka, lampu dinyalakan.

Ruangan terasa pengab karena hibak dengan barang. Ia membuka laptop. Menyelesaikan tugas yang kemarin. Bila jenuh Dugal keluar ruangan. Cari kegiatan lain. Ambil air wudhu lalu shalat Dhuha ke mushala, yang berjarak sekitar 10 meter dari ruang kerjanya.

Ia bersimpuh di sana. Suasana madrasah tengah sepi. Guru dan siswa sedang berada di kelas, mengikuti proses belajar mengajar. Di madrasah Dugal sebagai honorer Tata Usaha. Usai shalat Dhuha Dugal kembali ke ruang kerjanya. Melanjutkan tugasnya.

Hari itu madrasah tempat Dugal bekerja pulang lebih awal, pukul 10.30 WITA. Karena para guru akan melakukan perjalanan panjang menuju Sampit, Kalteng dalam rangka ziarah ke makam keturunan Datu Kalampayan yang ada disana.

Sebelumnya mereka saruan selamatan di rumah seorang guru di Longawang. Berjarak sekitar 5 kilometer dari madrasah. Usai saruan para guru pulang ke rumah masing-masing untuk berkemas. Mereka akan berkumpul di satu titik, yakni di depan makam Datu Taniran.

Rencana akan menggunakan satu buah bus yang disewa dari Gambut. Baru pukul 13.00 WITA seluruh guru terkumpul. Dugal pulang ke rumah. Segala bawaan sudah dimasukkan ke dalam tas. Ia tinggal berangkat saja lagi.

Ia jalan Tembok Rel, beli paket internet di sebuah kios ponsel. Agar nantinya selama perjalanan ke Sampit dapat ia laporkan lewat akun facebooknya. Ia berangkat, tapi singgah dulu ke madrasah ada yang diambil. Setelah itu menuju Taniran. Disana sudah terkumpul rekan-rekannya. Hanya tinggal beberapa orang lagi.

Dugal memarkir motornya di rumah seorang temannya. Yang lain juga melakukan hal yang sama. Dugal ikut memasukkan motor rekannya yang lain. Dugal senang membantu dan tidak pelit tenaga.

Lalu mereka menuju bus yang terparkir di depan makam Datu Taniran. Karena saling bahadangan baru beberapa jam kemudian bus berangkat. Apalagi di Kandangan masih ada yang disinggahi yakni Bapak Kepala dan beberapa orang guru. Perjalanan panjang harus dilakukan. Benar-benar melelahkan tentunya.

Walau begitu suasana di dalam bus cukup riang gembira. Sesekali diwarnai dengan celetukan dan gelak tawa. Dugal menjadi bahan candaan karena masih belum nikah, jadi bila ada melihat wanita di pinggir jalan selalu diwarahakan.

Dugal berada di bagian belakang. Ia sambil memposting foto dan tulisan sejam sekali. Baik ke facebook maupun Kompasiana. Doa selalu dipanjatkan agar perjalanan berlangsung lancar sampai tujuan dengan selamat dan kembali ke Banua juga dengan selamat. Di Sekumpul bus berhenti. Ingin ziarah dulu ke makam Guru Sekumpul dan menunaikan shalat.

Dugal melangkah menuju tempat wudhu. Setelah ziarah dan shalat, ia duduk di pelataran mushala Ar Raudhah. Menunggu yang lain selesai shalat dan batutukar. Dugal ketemu rekan wanita asal Martapura, perempuan itu datang dengan anaknya yang berusia tujuh tahunan.

Lalu Dugal memberi temannya itu buku karyanya, sebuah kumpulan puisi. “Makasih Ka lah atas pemberian buku ini, mudahan pian selalu eksis menulis dan berkarya,” ujar wanita itu sembari minta foto bersama dengan kamera hp miliknya.

Dugal kembali menulis status di facebook, hasil perjalanan itu tiap jam. Suasana Sekumpul tampak ramai oleh jamaah yang datang berziarah, walaupun hari itu sudah sore.

Kali ini Dugal ikut ziarah ke Sampit dengan suasana begitu riang gembira. Kenapa ? Ia baru saja ketiban rejeki. Tulisannya di media dan buku mendapat reward dan royalti. Hasilnya ditabung di bank dan dibawa ke Sampit.


Karena punya ATM ia kapan saja bisa mengambil uang untuk keperluan penting. Sepanjang perjalanan ia cukup menikmati sekali. Kadang sinyal internet tak bagus, bahkan tak ada sama sekali. Ia maklum saja akan hal itu. Ke Kalteng kata orang seakan-akan pergi ke hutan. Tapi kalau ke Kaltim seakan-akan pergi ke kota. Maksudnya di Kalteng di kiri kanan jalan kebanyakan hutan belantara saja yang dipandangi.

Rombongan istirahat makan siang di wilayah Jalan Lingkar  Kabupaten  Banjar tepatnya tak jauh di dekat SMA Banua Kalsel. Dengan seksama mereka makan siang karena memang perut sedang keroncongan.

Aura berbeda terasa saat rombongan melintasi kawasan Basarang. Karena memang daerah tersebut, warganya mayoritas berasal dari Bali. Disana banyak terdapat bangunan untuk ibadah. Rombongan baru tiba di rumah teman seorang guru di Bagendang, sekitar pukul 04.00.

Setibanya disana Dugal langsung merebahkan diri sebentar. Setelah sarapan pagi berupa nasi kuning, rombongan menuju lokasi makam di kawasan Pantai Ujung Pandaran yang berjarak sekitar 100 kilometer dari rumah tempat mereka menginap. ***  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar