Ahad, 14 Juni 2026
Saat sebagian orang memilih menikmati hari libur dengan keramaian, saya justru memilih arah yang berbeda. Pada hari Ahad (14/06/2026) pagi bersama sepeda motor butut yang setia menemani perjalanan, saya melaju menuju kawasan Parumahan Timbuk Ril, Desa Taniran Kubah, Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan.
Tak ada tujuan muluk. Tak ada agenda penting. Hanya ingin berjalan-jalan, menghirup udara pagi, dan bercengkerama dengan kesunyian. Saya memang penikmat sunyi. Ada kebahagiaan yang sulit dijelaskan ketika berada jauh dari hiruk-pikuk manusia. Saat suara kendaraan berganti desir angin, ketika percakapan ramai tergantikan kicau burung dan gesekan dedaunan.
Di tempat-tempat seperti itulah hati terasa lebih lapang dan pikiran menjadi lebih tenang. Pilihan pagi itu pun jatuh kepada Timbuk Ril. Di hadapan saya terbentang jalan tanah yang membelah rimbunnya semak dan pepohonan. Sebuah jembatan tua berdiri sederhana di tengah jalur yang mulai ditelan waktu. Bekas hujan menyisakan genangan kecil di jalan setapak, seakan menjadi saksi bahwa alam masih menjadi penguasa utama di tempat ini.
Pemandangan yang bagi sebagian orang mungkin biasa saja. Namun bagi saya, ada keindahan yang sulit dicari di tempat lain. Kesunyian. Kesunyian yang hidup. Kesunyian yang seolah menyimpan begitu banyak cerita. Puluhan tahun silam, kawasan Parumahan Timbuk Ril dikenal sebagai tempat yang cukup angker.
Berbagai kisah mistis pernah beredar dari mulut ke mulut. Cerita tentang penampakan, suara-suara aneh, hingga kejadian yang sulit dijelaskan logika pernah menjadi bagian dari legenda masyarakat setempat. Apalagi setelah ditemukannya makam keturunan Raja Banjar di kawasan ini. Sejak saat itu, cerita-cerita lama kembali muncul dan memperkuat aura misterius yang menyelimuti Parumahan Timbuk Ril.
Namun pagi itu, saya tidak menemukan rasa takut. Yang saya temukan justru ketenangan. Mungkin karena waktu telah mengubah banyak hal. Atau mungkin karena alam selalu memiliki cara untuk berdamai dengan masa lalunya. Pepohonan tetap tumbuh, rumput-rumput liar terus menghijau, dan jalan-jalan sepi ini tetap menjadi saksi perjalanan waktu yang tak pernah berhenti.
Saya berdiri beberapa saat, memandangi jalan yang menghilang di balik rimbunan hijau. Membiarkan pikiran berjalan lebih jauh daripada langkah kaki. Di tempat seperti ini, saya belajar bahwa tidak semua kesunyian harus ditakuti. Ada sunyi yang justru menyembuhkan. Ada sepi yang mengajarkan kita mendengar suara hati sendiri.
Dan di Parumahan Timbuk Ril, pada sebuah pagi yang sederhana, saya kembali menemukan alasan mengapa saya selalu mencintai perjalanan-perjalanan kecil yang membawa saya menjauh dari keramaian dan lebih dekat kepada alam. Karena terkadang, kebahagiaan memang sesederhana menyusuri jalan sunyi bersama sepeda motor tua, ditemani semesta yang sedang bercerita. (ahu)










Tidak ada komentar:
Posting Komentar