Sabtu, 13 Juni 2026

Menyusuri Jejak Keturunan Raja Banjar di Parumahan Timbuk Ril Taniran Kubah HSS Ahad Pagi

 Ahad, 14 Juni 2026











Pada hari Ahad (14/06/2026) pagi, saya kembali melangkahkan kaki menyusuri kawasan Parumahan Timbuk Ril, yang ada di sekitaran Desa Taniran Kubah, Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. 

Sebuah kawasan yang masih menyimpan suasana alami dengan pepohonan tinggi, rumpun bambu, dan semak belukar yang tumbuh rapat di sepanjang jalur setapak. Lokasi ini berjarak sekitar 2,5 kilometer dari Desa Angkinang Selatan, tempat saya tinggal. Meski tidak terlalu jauh, perjalanan menuju kawasan tersebut tetap menghadirkan nuansa petualangan tersendiri. 

Jalan setapak yang membelah hijaunya belantara membawa saya menuju sebuah lokasi yang diyakini menjadi tempat peristirahatan salah satu keturunan Raja Banjar. Di tengah rimbunnya vegetasi, saya menemukan sebuah spanduk informasi yang sudah tampak lusuh termakan usia dan cuaca. 

Spanduk itu dipasang pada pepohonan dan memuat keterangan mengenai keberadaan makam Pangeran Abdullah bin Sultan Suriansyah, atau yang dikenal pula sebagai Pangeran Tengah Amandit, beserta makam istrinya, Ratu Nurjannah. 

Temuan tersebut semakin menambah rasa penasaran. Namun, upaya untuk menemukan makam yang dimaksud belum membuahkan hasil. Semak belukar yang tumbuh lebat tampaknya telah menutupi jalur menuju lokasi makam, sehingga keberadaannya masih belum berhasil saya temukan. Ini merupakan kali kedua saya melakukan penelusuran ke kawasan tersebut. 

Meski belum berhasil mencapai tujuan utama, perjalanan ini tetap memberikan pengalaman menarik. Di balik rimbunnya hutan kecil dan sunyinya alam sekitar, tersimpan jejak sejarah yang seolah menunggu untuk kembali ditemukan. Mungkin pada kesempatan berikutnya saya akan datang dengan persiapan yang lebih matang. 

Rasa penasaran tentang letak makam keturunan Raja Banjar ini belum juga terjawab, dan saya merasa pencarian tersebut belum selesai. Ada sesuatu yang selalu menarik ketika sejarah, alam, dan petualangan bertemu dalam satu perjalanan. Parumahan Timbuk Ril bukan sekadar hamparan hijau di pedalaman Desa Taniran Kubah. 

Tempat ini menyimpan cerita masa lalu yang masih hidup dalam ingatan masyarakat. Dan bagi saya, setiap langkah menyusuri jalan setapak di sana adalah bagian dari usaha merangkai kembali kepingan sejarah yang perlahan tertutup oleh waktu dan belantara. (ahu)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menyusuri Sunyi di Sekitaran Parumahan Timbuk Ril Desa Taniran Kubah Ahad Pagi

 Ahad, 14 Juni 2026 Saat sebagian orang memilih menikmati hari libur dengan keramaian, saya justru memilih arah yang berbeda. Pada hari Ahad...