Sabtu, 9 Mei 2026
Ada sebuah rasa tenang yang tak terlukiskan saat langkah kaki membawa saya menyusuri jalan sejauh 2,5 kilometer dari Desa Angkinang Selatan. Siang itu, Jumat (08/05/2026), matahari Kalimantan Selatan sedang berada tepat di puncaknya, namun di dalam Masjid Al Husaini Bustani Mursinah, waktu seolah melambat dan suhu mendingin oleh doa-doa yang baru saja melangit.
Sebuah momen yang jujur saya saksikan. Inilah suasana usai shalat Jumat di desa tetangga kami, Desa Bakarung. Saat jamaah lain mulai bergegas kembali ke rutinitas duniawi, beberapa jiwa masih tertinggal di atas hamparan karpet hijau ini. Di sudut sana, masih ada yang bersujud, seolah enggan mengakhiri percakapan pribadi dengan Sang Pencipta.
Beberapa lainnya duduk bersimpuh, membiarkan jemari merangkai puji-pujian, mencari ketenangan di tengah hiruk-pikuk kehidupan Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Sinar matahari yang masuk melalui jendela-jendela tinggi memberikan aura sakral, menyinari pilar-pilar bermotif yang berdiri kokoh menjaga kekhusyukan ruang ini. Bagiku, ia adalah pemberhentian jiwa.
Berlokasi di sekitaran Desa Bakarung, kehadirannya menjadi oase bagi kami penduduk Angkinang dan sekitarnya. Melihat pemandangan ini, saya diingatkan kembali bahwa kebahagiaan paling sederhana seringkali ditemukan dalam heningnya masjid setelah ibadah usai. Tidak ada keriuhan, hanya ada rasa syukur yang meresap ke dalam sanubari. Kadang, jarak 2,5 kilometer adalah perjalanan yang kita butuhkan untuk menemukan kembali diri kita di hadapan-Nya. (ahu)







Tidak ada komentar:
Posting Komentar