Senin, 5 Januari 2026
Oleh : Akhmad Husaini
(Sebuah Catatan Awal Jejak Jalur Batubara Masa Pendudukan Jepang)
Di
bantaran Sungai Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, terdapat sebuah
cekungan tua yang hingga kini masih jelas terlihat bentuknya. Warga setempat
sejak lama menyebutnya Kolam Jepang.
Tidak jauh dari kolam itu, terbentang sisa jalur tanah lurus yang dikenal
dengan nama Timbuk Ril, istilah
lokal untuk jalan perlintasan rel kereta api lama. Kedua tinggalan ini, meski
tidak tercatat dalam buku-buku sejarah resmi, hidup dalam ingatan kolektif
masyarakat sebagai peninggalan masa pendudukan Jepang.
Keberadaan
Kolam Jepang dan Timbuk Ril bukan sekadar cerita turun-temurun. Secara fisik,
kolam tersebut masih menunjukkan bentuk buatan manusia, bukan bentukan alam
biasa. Letaknya tepat di tepi sungai, suatu posisi yang pada masa lalu sangat
strategis. Sementara itu, Timbuk Ril terlihat sebagai jalur lurus yang tidak
mengikuti kontur sungai, melainkan memotong persawahan dan kawasan hutan, ciri
khas jalur industri atau logistik, bukan jalur perkampungan.
Menurut
penuturan warga, jalur Timbuk Ril ke arah hilir mengikuti alur Sungai Angkinang
hingga menuju Nagara. Nagara pada masa lalu dikenal sebagai simpul penting
jalur transportasi sungai, penghubung daerah pedalaman dengan jalur besar
Sungai Barito. Dari arah sebaliknya, ke hulu, Timbuk Ril tidak mengikuti sungai,
melainkan mengarah ke kawasan daratan, sawah, dan hutan.
Keterangan
ini menjadi semakin bermakna ketika dihubungkan dengan cerita lain yang
berkembang di masyarakat. Sekitar sepuluh kilometer dari Kolam Jepang, di
wilayah Mangunang, Kecamatan Haruyan, Kabupaten
Hulu Sungai Tengah, dikenal adanya lokasi pengambilan batubara tua.
Batubara dari kawasan tersebut, menurut cerita warga, diangkut melalui jalur
Timbuk Ril menuju Angkinang, lalu diteruskan lewat jalur sungai ke Nagara.
Bila
rangkaian cerita dan jejak fisik ini dirangkai, tampak sebuah pola yang sejalan
dengan praktik pendudukan Jepang di Kalimantan Selatan pada tahun 1942–1945.
Jepang, yang saat itu mengalami kekurangan bahan bakar dan logistik, banyak
membuka tambang-tambang kecil batubara di pedalaman. Untuk mengangkut hasilnya,
digunakan rel sempit atau rel lori yang dibangun cepat dengan tenaga kerja
paksa (romusha), lalu disambungkan dengan jalur sungai sebagai sarana angkutan
utama.
Dalam
konteks ini, Kolam Jepang di bantaran Sungai Angkinang kemungkinan besar
berfungsi sebagai bagian dari fasilitas pendukung pos kerja dan logistik
Jepang. Kolam tersebut dapat digunakan sebagai tempat mandi, penampungan air,
dan sanitasi bagi tentara maupun romusha. Sementara Timbuk Ril berfungsi
sebagai jalur pengangkutan batubara dari Mangunang menuju titik sungai terdekat
yang aman dan mudah dijangkau.
Hingga
kini, keberadaan Kolam Jepang dan Timbuk Ril masih bertahan bukan karena
perlindungan resmi, melainkan karena ingatan masyarakat. Relnya telah lama hilang,
kemungkinan dibongkar atau dimanfaatkan kembali setelah masa perang berakhir,
namun bekas jalurnya masih dapat dikenali. Nama-nama lokal seperti “Kolam
Jepang” dan “Timbuk Ril” menjadi penanda penting bahwa kawasan ini pernah
menjadi bagian dari aktivitas besar yang kini nyaris terlupakan.
Tulisan
ini merupakan catatan awal dan belum bersifat final. Data-data yang
disajikan masih memerlukan penguatan melalui penelusuran lapangan, wawancara
dengan warga lanjut usia, serta pencatatan detail jejak fisik yang tersisa.
Meski demikian, jejak Kolam Jepang dan Timbuk Ril di Sungai Angkinang sudah
cukup menunjukkan bahwa wilayah ini pernah menjadi bagian dari sistem
pengangkutan batubara masa pendudukan Jepang, yang menghubungkan Mangunang,
Angkinang, dan Nagara dalam satu jalur logistik pedalaman.
Mencatat jejak kecil seperti ini menjadi penting, sebab di situlah sejarah lokal bertahan. Bukan dalam bangunan megah atau monumen resmi, melainkan dalam kolam tua di tepi sungai, jalur tanah lurus yang membelah sawah, dan cerita warga yang setia menyimpannya selama puluhan tahun. (ahu)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar