Minggu, 04 Januari 2026

Kolam Jepang dan Timbuk Ril di Sungai Angkinang

 Senin, 5 Januari 2026

Oleh : Akhmad Husaini

(Sebuah Catatan Awal Jejak Jalur Batubara Masa Pendudukan Jepang)

Di bantaran Sungai Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, terdapat sebuah cekungan tua yang hingga kini masih jelas terlihat bentuknya. Warga setempat sejak lama menyebutnya Kolam Jepang. Tidak jauh dari kolam itu, terbentang sisa jalur tanah lurus yang dikenal dengan nama Timbuk Ril, istilah lokal untuk jalan perlintasan rel kereta api lama. Kedua tinggalan ini, meski tidak tercatat dalam buku-buku sejarah resmi, hidup dalam ingatan kolektif masyarakat sebagai peninggalan masa pendudukan Jepang.

Keberadaan Kolam Jepang dan Timbuk Ril bukan sekadar cerita turun-temurun. Secara fisik, kolam tersebut masih menunjukkan bentuk buatan manusia, bukan bentukan alam biasa. Letaknya tepat di tepi sungai, suatu posisi yang pada masa lalu sangat strategis. Sementara itu, Timbuk Ril terlihat sebagai jalur lurus yang tidak mengikuti kontur sungai, melainkan memotong persawahan dan kawasan hutan, ciri khas jalur industri atau logistik, bukan jalur perkampungan.

Menurut penuturan warga, jalur Timbuk Ril ke arah hilir mengikuti alur Sungai Angkinang hingga menuju Nagara. Nagara pada masa lalu dikenal sebagai simpul penting jalur transportasi sungai, penghubung daerah pedalaman dengan jalur besar Sungai Barito. Dari arah sebaliknya, ke hulu, Timbuk Ril tidak mengikuti sungai, melainkan mengarah ke kawasan daratan, sawah, dan hutan.

Keterangan ini menjadi semakin bermakna ketika dihubungkan dengan cerita lain yang berkembang di masyarakat. Sekitar sepuluh kilometer dari Kolam Jepang, di wilayah Mangunang, Kecamatan Haruyan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah, dikenal adanya lokasi pengambilan batubara tua. Batubara dari kawasan tersebut, menurut cerita warga, diangkut melalui jalur Timbuk Ril menuju Angkinang, lalu diteruskan lewat jalur sungai ke Nagara.

Bila rangkaian cerita dan jejak fisik ini dirangkai, tampak sebuah pola yang sejalan dengan praktik pendudukan Jepang di Kalimantan Selatan pada tahun 1942–1945. Jepang, yang saat itu mengalami kekurangan bahan bakar dan logistik, banyak membuka tambang-tambang kecil batubara di pedalaman. Untuk mengangkut hasilnya, digunakan rel sempit atau rel lori yang dibangun cepat dengan tenaga kerja paksa (romusha), lalu disambungkan dengan jalur sungai sebagai sarana angkutan utama.

Dalam konteks ini, Kolam Jepang di bantaran Sungai Angkinang kemungkinan besar berfungsi sebagai bagian dari fasilitas pendukung pos kerja dan logistik Jepang. Kolam tersebut dapat digunakan sebagai tempat mandi, penampungan air, dan sanitasi bagi tentara maupun romusha. Sementara Timbuk Ril berfungsi sebagai jalur pengangkutan batubara dari Mangunang menuju titik sungai terdekat yang aman dan mudah dijangkau.

Hingga kini, keberadaan Kolam Jepang dan Timbuk Ril masih bertahan bukan karena perlindungan resmi, melainkan karena ingatan masyarakat. Relnya telah lama hilang, kemungkinan dibongkar atau dimanfaatkan kembali setelah masa perang berakhir, namun bekas jalurnya masih dapat dikenali. Nama-nama lokal seperti “Kolam Jepang” dan “Timbuk Ril” menjadi penanda penting bahwa kawasan ini pernah menjadi bagian dari aktivitas besar yang kini nyaris terlupakan.

Tulisan ini merupakan catatan awal dan belum bersifat final. Data-data yang disajikan masih memerlukan penguatan melalui penelusuran lapangan, wawancara dengan warga lanjut usia, serta pencatatan detail jejak fisik yang tersisa. Meski demikian, jejak Kolam Jepang dan Timbuk Ril di Sungai Angkinang sudah cukup menunjukkan bahwa wilayah ini pernah menjadi bagian dari sistem pengangkutan batubara masa pendudukan Jepang, yang menghubungkan Mangunang, Angkinang, dan Nagara dalam satu jalur logistik pedalaman.

Mencatat jejak kecil seperti ini menjadi penting, sebab di situlah sejarah lokal bertahan. Bukan dalam bangunan megah atau monumen resmi, melainkan dalam kolam tua di tepi sungai, jalur tanah lurus yang membelah sawah, dan cerita warga yang setia menyimpannya selama puluhan tahun. (ahu)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Saat di Warung Padang Pakumpayan Selasa Siang

 Selasa, 6 Januari 2026 Suasana saat berada di warung masakan Padang Pakumpayan, berlokasi di sekitaran RT 3 Desa Angkinang Selatan, Kecamat...