Senin, 01 Juni 2026

Cerpen AHU : Orkestra Rindu Kampung Hangkinang

 Senin, 1 Juni 2026


Oleh : Akhmad Husaini

Musim panen selalu punya cara sendiri untuk membangunkan rindu.

Pagi itu, hamparan sawah di Kampung Hangkinang tampak menguning seperti lautan emas yang bergoyang mengikuti angin. Suara mesin perontok padi bersahutan dengan tawa para petani. Burung-burung pipit beterbangan, seolah ikut merayakan musim yang dinanti sepanjang tahun.

Di bawah rindang pohon rambai dekat Warung Pakumpayan, Dugal duduk bersama tiga sahabatnya: Undat, Gabau, dan Kacit.

"Kalau musim panen begini, aku selalu merasa kampung kita adalah tempat paling indah di dunia," ujar Dugal sambil memandangi sawah.
Undat tersenyum tipis.

"Benar. Tapi anehnya, orang sering lupa kalau Hangkinang juga punya banyak hal yang membuatnya hidup."

Gabau yang sedang menyeruput kopi mengangguk.

"Padahal di sini ada pasar, ada sekolah, ada kantor BRI. Orang datang dari berbagai desa juga. Tapi tetap saja kampung kita sering dianggap sebelah mata."

Kacit terkekeh.

"Mungkin karena kita bukan ibukota kecamatan."

Mereka tertawa. Namun tawa itu segera berubah menjadi hening yang panjang.

Dugal menatap jauh ke arah jalan yang menghubungkan kampung dengan desa-desa lain. Ada sesuatu yang sejak lama mengganjal di hatinya.

"Aku kadang iri," katanya pelan.

"Iri kenapa?" tanya Gabau.

"Iri melihat kampung lain yang selalu disebut-sebut. Padahal Hangkinang juga punya cerita. Kita punya sejarah. Kita punya orang-orang hebat. Tapi seolah-olah kampung ini hanya pelengkap."

Undat meletakkan gelasnya.

"Kampung tidak menjadi besar karena sering disebut orang. Kampung menjadi besar karena dicintai warganya."

Kalimat itu membuat Dugal terdiam.

Di hadapan mereka, Warung Pakumpayan mulai ramai. Para petani berdatangan setelah bekerja di sawah. Sebagian singgah untuk membeli kebutuhan harian, sebagian hanya sekadar berbincang.

Tak jauh dari sana berdiri Kantor BRI Unit yang hampir setiap hari melayani masyarakat. Di sisi lain kampung, bangunan MTsN 3 HSS dan MIN 9 HSS menjadi tempat anak-anak menanam mimpi. Sementara Pasar Angkinang menjadi denyut nadi ekonomi yang tak pernah benar-benar tidur.

Semua itu seperti alat-alat musik yang berbeda.

Ada yang menjadi gendang.
Ada yang menjadi seruling.
Ada yang menjadi rebab.

Dan semuanya memainkan nada yang sama: kehidupan.

"Kalau dipikir-pikir," kata Kacit, "kampung kita ini seperti orkestra."
"Orkestra?" tanya Dugal.

"Iya. Lihat saja. Suara anak-anak sekolah setiap pagi. Suara pedagang di pasar. Suara petani di sawah. Suara orang mengobrol di warung. Semua berbeda, tapi kalau disatukan menjadi lagu kampung."

Gabau tersenyum lebar.

"Berarti kita ini pemain musiknya."
"Bukan," jawab Undat cepat.
"Lalu apa?"
"Kita pendengarnya sekaligus penjaganya."

Angin siang bertiup lebih kencang. Bulir-bulir padi bergerak serempak seperti ombak.

Dugal tiba-tiba merasa dadanya hangat.

Barangkali selama ini ia terlalu sibuk membandingkan kampungnya dengan tempat lain. Terlalu sering melihat apa yang tidak dimiliki Hangkinang, hingga lupa menghitung apa yang sudah ada.

Padahal kampung ini adalah tempat ia dilahirkan.

Tempat ia belajar berjalan.
Tempat ia mencari nafkah.
Tempat orang-orang yang dicintainya tinggal.
"Kalian tahu?" kata Dugal.
"Tahu apa?" sahut Gabau.

"Kalau suatu hari aku pergi jauh, suara yang paling kurindukan bukan suara kota. Bukan suara kendaraan. Tapi suara kampung ini."

"Suara apa?" tanya Kacit.
Dugal tersenyum.

"Suara panen. Suara pasar. Suara anak-anak sekolah. Suara orang bercakap di warung. Semua suara yang membuatku tahu bahwa aku sedang pulang."

Keempat sahabat itu terdiam.

Di kejauhan, azan Dzuhur mulai berkumandang dari Langgar Al Kautsar. Suaranya mengalun lembut menyapu hamparan sawah yang menguning. Saat itulah Dugal sadar. Hangkinang mungkin bukan ibukota kecamatan. 

Mungkin pula tidak sering masuk berita. Namun kampung itu memiliki sesuatu yang tidak bisa dibeli oleh tempat mana pun : kenangan, kebersamaan, dan rasa memiliki. 

Dan bagi orang yang mencintainya, Kampung Hangkinang akan selalu menjadi rumah. Sebuah rumah yang memainkan orkestra rindu sepanjang waktu.***

Angkinang Selatan panas menggantang, Awal Juni 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pendaftar PMBM MTsN 3 HSS Tahun Pelajaran 2026/2027 Nomor 079 Mutiara Putri

 Senin, 1 Juni 2026 Pendaftar Penerimaan Murid Baru Madrasah (PMBM) Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 3 Hulu Sungai Selatan (HSS) Tahun Pela...