Sabtu, 16 Mei 2026
Hujan deras kembali menyisakan genangan air di halaman rumah saya di sekitaran RT 1 Desa Angkinang Selatan, Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, Sabtu (16/05/2026) sore. Dari balik sandaran kursi plastik usang yang mulai basah oleh tempias, suasana kampung tampak lengang dan sendu, sementara air perlahan menggenangi tanah.
Yang berada di antara rumah-rumah panggung tua yang berdiri setia menghadapi musim demi musim. Bagi sebagian orang, hujan mungkin hanya tentang cuaca yang datang dan pergi. Namun di sudut kampung ini, hujan membawa cerita tentang kehidupan yang berjalan apa adanya—anak-anak yang menunggu reda untuk kembali bermain.
Juga warga yang menahan langkah di teras rumah, hingga aroma tanah basah yang selalu menghadirkan kenangan masa kecil. Genangan di halaman bukan sekadar air yang tertampung, tetapi juga potret sederhana tentang keseharian masyarakat bantaran kampung di Kalimantan Selatan. Meski langit mendung dan jalanan tergenang, suasana sore tetap menyimpan ketenangan tersendiri.
Rumah-rumah kayu yang berdiri di atas tiang seolah menjadi saksi bisu bagaimana warga tetap bertahan dan bersahabat dengan alam yang tak selalu mudah ditebak. Di balik hujan yang turun perlahan, terselip harapan agar esok pagi matahari kembali datang membawa hangat bagi kampung kecil di Angkinang Selatan. (ahu)





Tidak ada komentar:
Posting Komentar