Senin, 12 Januari 2026

Menyusuri Sore yang Pernah Ada di Hulu Sungai Selatan

 Selasa, 13 Januari 2026

Ada masa—beberapa tahun silam—ketika sore hari tak perlu direncanakan. Cukup menyalakan motor butut kesayangan, mengenakan helm yang sudah banyak menyimpan debu jalan, lalu membiarkan roda membawa tubuh ke mana saja, selama masih berada di wilayah yang akrab di hati : kampung-kampung di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS).

Kini, saya ingin mengulangnya. Bukan untuk mengejar tujuan, melainkan mengejar rasa.

Perjalanan itu biasanya dimulai dari Angkinang. Daerah yang tenang, seolah selalu berbicara dengan suara rendah. Sawah terbentang, parit-parit kecil mengalirkan air yang tak tergesa, dan rumah-rumah kayu berdiri apa adanya. Angkinang seperti halaman pembuka—memberi waktu bagi pikiran untuk pelan-pelan menanggalkan beban.

Dari sana, jalan membawa saya ke Kandangan. Kota yang hidup, namun tetap menyisakan sudut-sudut sederhana. Di beberapa ruas, aroma warung sore bercampur dengan bau aspal yang menghangat. Kandangan bukan sekadar pusat keramaian, tapi persinggahan yang mengingatkan bahwa denyut kota dan desa di Kabupaten HSS tak pernah benar-benar terpisah.

Lalu Simpur. Kecamatan yang sering dilewati tanpa banyak disadari, padahal di sanalah kesahajaan benar-benar terasa. Anak-anak bermain di halaman, sepeda tua bersandar di pagar, dan waktu seperti melambat. Simpur mengajarkan bahwa perjalanan tak selalu butuh cerita besar—cukup hadir dan melihat.

Menjelang sore, saya biasa mengarah ke Sungai Raya. Daerah yang terasa lebih lapang, dengan garis cakrawala yang panjang. Di sini, angin sore terasa berbeda. Jalanan sepi, dan sesekali kendaraan lain melintas, saling menyapa dengan klakson pendek. Sungai Raya seperti ruang bernapas di tengah perjalanan panjang.

Perjalanan berlanjut ke Padang Batung, wilayah yang berlekuk, naik-turun, seakan menguji kesabaran motor tua. Tapi justru di sanalah kenikmatan itu muncul. Setiap tikungan memberi pemandangan baru, setiap tanjakan mengajarkan ketekunan. Padang Batung bukan sekadar jalur lintasan, tapi bagian dari dialog antara mesin, jalan, dan ingatan.

Dan akhirnya, Telaga Langsat. Senja biasanya sudah turun perlahan. Cahaya matahari meredup, menyisakan warna jingga yang menempel di ujung pepohonan. Kampung-kampung mulai tenang, suara azan magrib kadang terdengar dari kejauhan. Di titik ini, saya tahu perjalanan hampir selesai—bukan karena lelah, tapi karena hari memang harus ditutup.

Enam kecamatan. Beberapa jam di atas motor. Tanpa tujuan resmi, tanpa dokumentasi berlebihan. Hanya mata yang melihat, hati yang mencatat.

Kini, semua itu terasa seperti kenangan yang lama disimpan di saku jaket. Tak pernah hilang, hanya jarang dibuka kembali. Mungkin karena kesibukan, mungkin karena usia, atau mungkin karena kita sering lupa bahwa bahagia bisa sesederhana melintasi kampung demi kampung, tanpa perlu alasan.

Jika suatu sore nanti saya kembali menyalakan motor butut itu, semoga bukan hanya jalan yang saya temui, tapi juga diri saya yang dulu—yang lebih ringan, lebih pelan, dan lebih bersahabat dengan waktu. (ahu)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Pagi di Angkinang Selatan : Saat Harapan Mulai Tegak

 Selasa, 13 Januari 2026 Pada hari Selasa (13/01/2026), sawah-sawah di sekitaran RT 3 Desa Angkinang Selatan, Kecamatan Angkinang, Kabupat...