Minggu, 11 Januari 2026

Ketika Negara Hadir, Tapi Daerah Sekadar Menjadi Latar

 Senin, 12 Januari 2026

Pagi itu Banjarbaru menjadi titik pandang negara. Bendera berkibar, pasukan rapi, kamera televisi bekerja tanpa jeda. Presiden datang, sebuah program nasional diresmikan: Sekolah Rakyat, ikhtiar memutus mata rantai kemiskinan lewat pendidikan.

Segalanya tampak tertib, terukur, dan resmi.

Namun, seperti banyak peristiwa besar yang singgah di daerah, ada rasa samar yang tertinggal—bukan marah, bukan pula iri—melainkan sejenis pertanyaan sunyi: di manakah wajah daerah dalam peristiwa ini?

Di barisan depan, deretan pejabat pusat berdiri mengapit Presiden. Nama-nama besar yang akrab kita dengar dari layar kaca. Sementara pejabat Kalimantan Selatan, yang tanahnya menjadi tempat acara ini berlangsung, nyaris tak tertangkap lensa. Mereka hadir, tentu saja, tetapi tidak di ruang utama pandang publik.

Begitu pula dengan pengisi acara. Anak-anak tampil percaya diri, menyanyikan harapan dan masa depan. Penampilan mereka rapi, terlatih, nyaris sempurna. Tetapi bagi mata yang terbiasa membaca gestur dan logat, terasa bahwa mereka bukan berasal dari tanah ini. Bukan anak-anak sungai, bukan pula anak-anak rawa dan persawahan yang tumbuh bersama kabut pagi Kalimantan Selatan.

Barangkali ini sekadar soal teknis. Barangkali demi keamanan, efisiensi, dan kepastian acara. Dalam logika negara, semua itu masuk akal. Acara ini bukan milik satu daerah, melainkan peresmian nasional. Banjarbaru hanyalah titik simbolik di peta Indonesia.

Namun di situlah letak kegelisahan kecil itu tumbuh.

Ketika sebuah daerah dipilih sebagai lokasi, sesungguhnya ia bukan sekadar ruang fisik. Ia adalah sejarah, bahasa, wajah, dan rasa. Ia memiliki anak-anaknya sendiri yang juga menyimpan mimpi. Ia memiliki pemimpinnya sendiri yang sehari-hari bergulat dengan persoalan nyata masyarakatnya.

Jika semua itu hanya ditempatkan sebagai latar, maka daerah perlahan belajar bahwa kehadirannya tidak sepenuhnya dianggap sebagai subjek.

Ini bukan soal siapa yang berdiri paling depan, atau siapa yang tampil di panggung. Ini soal rasa memiliki. Soal bagaimana sebuah kebijakan nasional, sebaik apa pun niatnya, bisa terasa lebih hangat ketika menyentuh denyut lokal.

Sekolah Rakyat adalah gagasan besar. Ia menyimpan harapan bagi anak-anak yang selama ini tercecer oleh keadaan. Tetapi harapan akan tumbuh lebih kuat bila ia berakar pada tanah tempat ia ditanam.

Mungkin, di masa mendatang, negara bisa memberi ruang lebih luas—bukan hanya untuk meresmikan, tetapi juga untuk mendengarkan; bukan hanya menghadirkan program, tetapi juga menghadirkan wajah daerah.

Karena pembangunan bukan semata tentang hadirnya negara di daerah, melainkan tentang diakuinya daerah sebagai bagian utuh dari cerita negara itu sendiri.

Dan Kalimantan Selatan, dengan segala kesederhanaannya, tentu layak menjadi lebih dari sekadar latar belakang. (ahu)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Baah di Desa Angkinang Selatan Suatu Pagi

 Senin, 12 Januari 2026 Baah yang terajadi di sekitaran RT 3 Desa Angkinang Selatan, Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kal...