Senin, 12 Januari 2026
Pagi
itu Banjarbaru menjadi titik pandang negara. Bendera berkibar, pasukan rapi,
kamera televisi bekerja tanpa jeda. Presiden datang, sebuah program nasional
diresmikan: Sekolah Rakyat, ikhtiar memutus mata rantai kemiskinan lewat
pendidikan.
Segalanya
tampak tertib, terukur, dan resmi.
Namun,
seperti banyak peristiwa besar yang singgah di daerah, ada rasa samar yang
tertinggal—bukan marah, bukan pula iri—melainkan sejenis pertanyaan sunyi: di
manakah wajah daerah dalam peristiwa ini?
Di
barisan depan, deretan pejabat pusat berdiri mengapit Presiden. Nama-nama besar
yang akrab kita dengar dari layar kaca. Sementara pejabat Kalimantan Selatan,
yang tanahnya menjadi tempat acara ini berlangsung, nyaris tak tertangkap
lensa. Mereka hadir, tentu saja, tetapi tidak di ruang utama pandang publik.
Begitu
pula dengan pengisi acara. Anak-anak tampil percaya diri, menyanyikan harapan
dan masa depan. Penampilan mereka rapi, terlatih, nyaris sempurna. Tetapi bagi
mata yang terbiasa membaca gestur dan logat, terasa bahwa mereka bukan berasal
dari tanah ini. Bukan anak-anak sungai, bukan pula anak-anak rawa dan
persawahan yang tumbuh bersama kabut pagi Kalimantan Selatan.
Barangkali
ini sekadar soal teknis. Barangkali demi keamanan, efisiensi, dan kepastian
acara. Dalam logika negara, semua itu masuk akal. Acara ini bukan milik satu
daerah, melainkan peresmian nasional. Banjarbaru hanyalah titik simbolik di
peta Indonesia.
Namun
di situlah letak kegelisahan kecil itu tumbuh.
Ketika
sebuah daerah dipilih sebagai lokasi, sesungguhnya ia bukan sekadar ruang
fisik. Ia adalah sejarah, bahasa, wajah, dan rasa. Ia memiliki anak-anaknya
sendiri yang juga menyimpan mimpi. Ia memiliki pemimpinnya sendiri yang
sehari-hari bergulat dengan persoalan nyata masyarakatnya.
Jika
semua itu hanya ditempatkan sebagai latar, maka daerah perlahan belajar bahwa
kehadirannya tidak sepenuhnya dianggap sebagai subjek.
Ini
bukan soal siapa yang berdiri paling depan, atau siapa yang tampil di panggung.
Ini soal rasa memiliki. Soal bagaimana sebuah kebijakan nasional, sebaik
apa pun niatnya, bisa terasa lebih hangat ketika menyentuh denyut lokal.
Sekolah
Rakyat adalah gagasan besar. Ia menyimpan harapan bagi anak-anak yang selama
ini tercecer oleh keadaan. Tetapi harapan akan tumbuh lebih kuat bila ia berakar
pada tanah tempat ia ditanam.
Mungkin,
di masa mendatang, negara bisa memberi ruang lebih luas—bukan hanya untuk
meresmikan, tetapi juga untuk mendengarkan; bukan hanya menghadirkan program,
tetapi juga menghadirkan wajah daerah.
Karena
pembangunan bukan semata tentang hadirnya negara di daerah, melainkan tentang diakuinya
daerah sebagai bagian utuh dari cerita negara itu sendiri.
Dan Kalimantan Selatan, dengan segala kesederhanaannya, tentu layak menjadi lebih dari sekadar latar belakang. (ahu)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar