Sabtu, 28 Februari 2028
Langkah basah menuju ampunan. Di tengah guyuran hujan deras yang mengguyur tanpa jeda, saya melangkah menuju Langgar Al Kautsar, yang ada di sekitaran RT 1 Desa Angkinang Selatan, Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, yang berjarak sekitar lima puluh meter dari rumah. Payung saya genggam erat, menahan rintik yang kadang berubah menjadi curahan deras, pada hari Jumat (27/02/2026) malam Sabtu, malam kesepuluh Ramadhan 1447 H.
Hujan malam itu bukan sekadar basah ; ia seperti ujian kecil tentang niat dan langkah—apakah tetap melangkah atau memilih berteduh lebih lama. Langkah saya terasa ringan meski jalanan becek dan udara dingin menusuk sela-sela pakaian. Ada rasa syukur yang sulit dijelaskan setiap kali menuju langgar dalam suasana seperti itu.
Cahaya lampu langgar yang temaram dari kejauhan menghadirkan kehangatan tersendiri—seakan memanggil siapa pun yang rindu bersujud. Malam itu saya berniat mengikuti shalat fardhu Isya berjamaah, dilanjutkan Tarawih. Dalam saf Tarawih, posisi saya berada di saf depan sebelah kanan, tepat di samping dinding langgar.
Di sebelah kiri saya berdiri Rizal, dengan khusyuk yang sama-sama kami upayakan. Ada ketenangan tersendiri berada di saf terdepan—lebih dekat dengan imam, lebih dekat pula dengan gema bacaan ayat-ayat suci. Saya mengenakan baju muslim putih, tapih hijau Chamuy yang sederhana namun nyaman, serta kopiah hitam bermotif yang sudah cukup lama menemani ibadah-ibadah Ramadhan.
Pakaian boleh sederhana, tetapi semoga hati tetap bersih dalam menghadap-Nya. Bertindak sebagai imam Tarawih malam itu adalah Qari Saifurrahman. Suaranya mengalun lembut namun tegas, menyentuh relung hati, terutama ketika membaca ayat-ayat tentang rahmat dan ampunan. Setiap jeda antara rakaat terasa seperti ruang hening untuk merenung—tentang dosa, tentang harapan, tentang doa-doa yang belum sempat terucap.
Pembacaan Shalawat dan Doa ada Sony Ashar, Ipung, dan Budi Nida. Lantunan Shalawat mereka menambah kekhusyukan suasana. Di luar, hujan masih turun, tetapi di dalam langgar, hati terasa hangat. Seakan setiap tetes hujan di luar menjadi saksi langkah-langkah kecil kami menuju ampunan. Ramadhan memang selalu menghadirkan suasana yang berbeda.
Malam kesepuluh ini menjadi pengingat bahwa waktu berjalan begitu cepat. Rasanya baru kemarin kita memulai puasa, kini sudah memasuki fase pertengahan pertama. Semoga sepuluh malam awal yang telah terlewati dipenuhi rahmat, dan sepuluh malam berikutnya membawa ampunan yang lebih luas. Sesuai jadwal, untuk malam Ahad imam Tarawih akan dipimpin oleh Qari Muhammad Ilmi.
Semoga Allah senantiasa menjaga kesehatan para imam dan jamaah, serta memberikan keistiqamahan kepada kita semua untuk terus memakmurkan langgar kecil ini—baik dalam hujan deras maupun malam yang cerah. Hujan malam itu akhirnya reda ketika kami selesai. Namun kesejukan yang tertinggal di hati semoga tak pernah reda. Sebab langkah kecil menuju langgar, sejatinya adalah langkah panjang menuju ridha-Nya. (ahu)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar