Kamis, 26 Februari 2026
Pada hari Kamis (26/02/2026) pagi, jelang siang yang mulai meninggi, sepulang dari mengerjakan sebuah tugas, saya singgah di tepian sungai Angkinang, yang ada di sekitar RT 1 Desa Angkinang Selatan, Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Saya melihat aliran sungai tampak tenang, berwarna kecokelatan.
Memantulkan rimbun dedaunan yang menggantung di atasnya. Di antara semak dan ranting yang menjuntai ke air, tampak sebuah bangunan tua—sepotong dinding beton yang kokoh namun telah termakan usia. Konon, warga setempat menyebutnya sebagai “Kolam Jepang”, peninggalan dari masa penjajahan Jepang di Indonesia (1942–1945).
Kini bangunan itu berdiri setengah tenggelam, sebagian sisinya retak dan ditumbuhi lumut. Ranting-ranting liar merambat, seolah berusaha menyatu dengan struktur keras yang dahulu mungkin dibangun dengan penuh perhitungan. Bentuknya menyerupai bak atau sekat beton, dengan bagian atas yang sudah tidak utuh. Dari kejauhan, ia tampak seperti dinding pembatas di tengah aliran sungai.
Namun ketika didekati, terasa jelas bahwa bangunan ini bukan sekadar tumpukan beton biasa. Ada jejak kesengajaan dalam pembuatannya—permukaan yang diratakan, sudut yang dibentuk tegas, dan posisi yang strategis di tepian aliran air. Saya sendiri belum mengetahui secara pasti apa fungsi bangunan ini pada masa penjajahan dahulu.
Apakah ia digunakan sebagai kolam penampungan air ? Tempat perendaman kayu ? Atau mungkin bagian dari sistem pengairan dan pertahanan sederhana ? Pertanyaan-pertanyaan itu masih menggantung, seperti akar-akar yang mencengkeram tebing sungai di sekitarnya.
Yang jelas, keberadaannya menjadi penanda bahwa wilayah Angkinang pernah bersentuhan langsung dengan dinamika sejarah yang lebih besar. Sungai yang kini mengalir tenang ini mungkin dahulu menjadi jalur penting—baik untuk distribusi logistik, aktivitas ekonomi, maupun kepentingan militer pada zamannya.
Waktu telah menggerus banyak hal. Beton mulai rapuh, sudut-sudutnya terkikis, dan alam perlahan mengambil alih. Namun justru dalam pelapukan itulah tersimpan cerita. Bangunan ini menjadi saksi bisu, berdiri diam di tengah arus yang terus bergerak, mengingatkan kita bahwa sejarah tidak selalu tersimpan di museum atau tertulis di buku, melainkan juga tersembunyi di tepian sungai.
Di balik rimbun dedaunan belantara. Barangkali suatu hari nanti akan ada yang menelusuri arsip lama atau menggali kisah dari para tetuha kampung, hingga misteri fungsi “Kolam Jepang” ini dapat terungkap. Untuk sementara, ia tetap menjadi bagian dari fragmen kecil masa lalu yang masih bertahan di tengah derasnya arus waktu. (ahu)








Tidak ada komentar:
Posting Komentar