Rabu, 25 Februari 2026
Angin sore menyusup pelan di sela-sela pohon rambai di tepi sungai. Di warung kecil milik Acil Basnah, suara sendok beradu dengan gelas kopi menjadi latar tetap bagi percakapan para lelaki kampung.
Di sudut bangku panjang itu, Dugal duduk bersedekap, wajahnya tak pernah benar-benar lepas dari kerut.
“Lagi-lagi rapatnya diam-diam,” gumamnya pelan, cukup keras untuk didengar tiga orang di sekelilingnya.
“Yang dipanggil itu-itu saja. Orang dekat Pambakal.”
Semua tahu siapa yang dimaksud Dugal. Di kampung itu, jabatan Pambakal—sebutan untuk Kepala Desa—selalu dihormati, setidaknya di permukaan.
Namun di balik dinding rumah dan di meja-meja warung, cerita punya nadanya sendiri.
Menurut Dugal, setiap kebijakan seperti jalan usaha tani, bantuan ternak, hingga pembagian proyek kecil, selalu berputar pada lingkaran yang sama.
Nama-nama yang akrab di telinga. Saudara jauh, kawan lama, atau orang yang paling sering duduk di beranda rumah Pambakal.
“Ini kampung atau keluarga besar beliau saja?” sindirnya suatu sore.
Namun Dugal tak pernah benar-benar melangkah lebih jauh dari warung Acil Basnah. Ia tak pernah datang ke balai desa saat musyawarah terbuka diumumkan.
Ia tak pernah mengajukan usul tertulis, tak pernah pula berdiri untuk bertanya langsung. Keluhannya tumbuh subur, tapi akarnya tak pernah menembus tanah tindakan.
Di dalam dirinya, Dugal merasa sedang membela keadilan. Tapi di mata sebagian orang, ia hanya bagian dari lingkaran keluhan—ramai dalam bisik, sunyi dalam sikap.
Suatu malam, listrik kampung padam lebih lama dari biasa. Orang-orang keluar rumah, duduk di teras, bercakap tanpa lampu televisi.
Untuk pertama kalinya, Dugal melihat Pambakal berjalan kaki menyusuri gang, menanyai warga satu per satu tentang gardu yang rusak.
Langkahnya pelan. Wajahnya lelah.
Entah mengapa, malam itu keluhan Dugal terasa menggantung di tenggorokannya sendiri.
Ia sadar, mungkin benar ada yang tak adil. Mungkin pula ada yang perlu diperbaiki. Tapi kampung kecil itu tak akan berubah hanya oleh gumaman di warung. Kritik tanpa keberanian hanyalah gema yang berputar di ruang sempit.
Dan untuk pertama kalinya, Dugal bertanya pada dirinya sendiri—apakah ia ingin terus menjadi suara di sudut, atau bagian dari perubahan yang selama ini ia tuntut?
Angin sungai berembus lagi. Kali ini lebih dingin.
Angkinang Selatan, 25 Februari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar