Sabtu, 28 Februari 2026
Pada hari Rabu (25/02/2026) pagi, mentari belum sepenuhnya meninggi ketika hamparan pahumaan (bahasa Banjar, sawah) milik warga, yang ada di sekitaran RT 3 Desa Angkinang Selatan, Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, memancarkan pesonanya. Udara masih terasa lembap, sisa embun semalam seakan enggan beranjak dari ujung-ujung daun padi yang sedang dalam masa pertumbuhan.
Warnanya hijau segar, pertanda kehidupan yang terus bergerak, perlahan namun pasti. Dari kejauhan, hamparan padi tampak seperti permadani alam yang terbentang luas. Setiap helai daun berdiri tegak, menari lembut tertiup angin pagi. Sesekali terdengar suara burung dari pepohonan yang tumbuh di tepian sawah, menambah syahdu suasana.
Di latar belakang, deretan pohon kelapa dan rimbunnya pepohonan tropis menjadi pagar alami yang menjaga ketenangan lahan pertanian warga ini. Pahumaan bukan sekadar lahan bercocok tanam. Ia adalah nadi kehidupan masyarakat desa. Dari tanah yang diolah dengan keringat dan doa inilah, harapan tumbuh bersama batang-batang padi. Prosesnya tidak instan. Ada kerja keras yang dimulai sejak pengolahan lahan, penanaman bibit, hingga perawatan rutin agar tanaman terhindar dari hama dan penyakit.
Kini, ketika padi memasuki fase pertumbuhan dan menghijau, terselip rasa lega sekaligus harap agar musim panen nanti membawa hasil yang melimpah. Hijau yang mendominasi pandangan bukan hanya menyegarkan mata, tetapi juga menenangkan hati. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, sawah-sawah seperti ini menjadi pengingat bahwa ketahanan pangan dan keseimbangan hidup berawal dari desa.
Dari tangan-tangan petani yang sabar merawat tanaman setiap hari, tanpa banyak sorotan, namun perannya begitu vital. Pagi itu, cahaya matahari yang mulai menyibak awan tipis memantulkan kilau lembut di atas hamparan padi. Garis-garis pematang yang membelah sawah menjadi jalur yang biasa dilalui para petani untuk memeriksa tanaman mereka.
Di sanalah interaksi manusia dan alam terjadi—sunyi, sederhana, namun sarat makna. Desa Angkinang Selatan mungkin tak selalu disebut dalam berita besar, namun kehidupan di dalamnya menyimpan cerita tentang ketekunan, kebersahajaan, dan harapan. Pahumaan yang menghijau ini adalah simbol keberlanjutan tradisi bertani yang diwariskan turun-temurun.
Setiap musim tanam adalah bab baru, dan setiap panen adalah hasil dari kesabaran panjang. Melihat hamparan padi yang masih muda ini, kita diajak untuk belajar tentang proses. Bahwa segala sesuatu membutuhkan waktu untuk tumbuh. Bahwa hasil yang baik lahir dari perawatan yang konsisten. Dan bahwa di balik sebutir nasi yang tersaji di meja makan, ada kisah panjang tentang tanah, air, matahari, dan kerja keras manusia.
Pahumaan di RT 3 Desa Angkinang Selatan pagi itu tidak hanya menghadirkan pemandangan indah. Ia menghadirkan pengingat—tentang pentingnya menjaga lahan pertanian, menghargai petani, serta merawat harmoni antara manusia dan alam. Di hamparan hijau yang menyejukkan itulah, harapan-harapan sederhana tumbuh, setinggi batang padi yang perlahan menuju masa panen. (ahu)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar