Rabu, 19 Agustus 2026

Pagi yang Menyimpan Harapan di MTsN 3 HSS

 Rabu, 19 Agustus 2026




Beberapa bangunan kelas di MTsN 3 Hulu Sungai Selatan (HSS), berlokasi di sekitaran RT 3 Desa Angkinang Selatan, Kecamatan Angkinang, Kabupaten HSS, Kalimantan Selatan, tampak sederhana dalam cahaya, pada hari Selasa (18/08/2026) pagi. Dari balik bangunan, matahari perlahan menyembul. Sinarnya jatuh di antara dinding, jendela, rerumputan, dan hamparan ladang yang terbentang di belakang sekolah. 

Pemandangan yang barangkali biasa bagi mereka yang setiap hari berada di sini, tetapi menyimpan keindahan tersendiri bagi mata yang bersedia berhenti sejenak. Ada sesuatu yang menenteramkan dari suasana pagi itu. Sekolah berdiri di tepian hamparan hijau, seolah menjadi ruang kecil tempat cita-cita tumbuh sebelum anak-anak itu kelak melangkah lebih jauh menjemput masa depan. Bangunan-bangunan kelas itu mungkin tidak semegah sekolah-sekolah di tengah kota. 

Namun, di balik jendelanya ada suara guru yang mengajarkan pengetahuan, ada anak-anak yang menyimpan mimpi, ada buku-buku yang dibuka setiap pagi, dan ada harapan yang terus dirawat dari hari ke hari. Matahari pagi mengajarkan satu hal sederhana: bahwa cahaya tidak selalu datang dari tempat yang megah. Kadang ia menyelinap dari balik bangunan sederhana, menyentuh tanah, rerumputan, dan dinding-dinding sekolah—lalu diam-diam menghangatkan perjalanan orang-orang yang sedang belajar menata masa depan. 

Di tempat seperti inilah pendidikan menemukan maknanya yang paling sunyi sekaligus paling penting. Sebab sekolah bukan sekadar bangunan dan ruang kelas. Ia adalah tempat di mana masa depan perlahan-lahan diberi bentuk. Dan pagi itu, di MTsN 3 Hulu Sungai Selatan, matahari seperti sedang mengingatkan kita: setiap anak berhak tumbuh bersama cahaya, di mana pun ia belajar dan dari bangunan sesederhana apa pun ia memulai mimpinya. (ahu)

Selasa, 18 Agustus 2026

Puisi AHU : Dedikasi Lelakon Tajam Isyarat Kondisi Wewenang

 Rabu, 19 Agustus 2026

Benalu cumbu aturan gemerlap potensi hikmah

gempita remang ranum ikatan cahaya dimensi stigma

umpama sadar aturan semburat gemilang tangguh

merona sikap perjuangan tajam wibawa perangai jelita

ujung penantian kembara sugesti panorama indah

potensi remang ragam intim purnama sembilu

 

Dedikasi lelakon tajam isyarat kondisi wewenang

lelap obsesi cenderung memikat suara pantang

senyap aroma niscaya kelembutan umpama taktis

langkah kemilau derajat arus stigma poros fanatik

komando jelita musnah impian debaran gelombang

pendam ambisi kelindan umpama remang senang

tahta samudera lampau ikatan remang jengah tentu

 

Kumandang risau pualam nostalgia ilusi cerita sinis

lampau renjana arus konotasi martabat melankolis

gamang lagu wibawa nostalgia panutan ikatan

jurang tabiat hikayat arus senandung bimbang

arus dinamika rembulan cahaya stigma panutan

teguh umpama kenangan urgensi cahaya penasti

 

Panutan diri tajam dimensi lumrah seteru wajah

seteru rindu gempita arus tendensi irama pongah

etalase kemungkinan restu wajah kelindan optimis

suara gemuruh lenyap intonasi anulir parasangka

hunjam terjal kenduri tangguh jejak imajinasi langgam

ruang lingkup senandung irama ilusi jelata nyata

 

Angkinang Selatan, 19 Agustus 2026

Puisi AHU : Selera Taktis Asumsi Nurani Lembut Perjuangan

 Rabu, 19 Agustus 2026

Langkah irama puncak memandang silam ornamen upaya

penuh derai membara lindap sanubari sukma tendensi sinis

arus umpama kehidupan ilusi prasangka derajat tinggi

dinamika penawar cahaya senarai lembut sembilu tegas

wajah peraman lampau etalase selera waktu memantik

ihwal sendu komitmen cerita kenangan indah membara

 

Selera taktis asumsi nurani lembut perjuangan

penerus ketetapan nyata mengikat selera waktu stigma

sandaran hati jejak perjalanan lelah kian sendu meniku

gemerlap potensi ranum aturan kelakar sendu menuang

pertajam nalar ironi nostalgia semerbak konotasi pongah

silam membara kenangan indah perdaya aroma tangguh

seteru pindai pualam kemenangan aturan lindap luruh

 

Umpama kendali wujud irama kian restu perjuangan

potensi igau impian derajat musnah selera fanatik

iringan kecipak sukma prasangka lumrah memantik

semburat kinanti wujud tendensi perdaya mahkota

senandung gulana aturan cahaya tirani kasmaran

jelajah sanubari perjuangan niscaya lembut harapan

 

Jejak panutan kemilau pongah hampa membara

irama sinis gerimis sugesti panutan seloka tuntas

kemarau isyarat langkah tempias belenggu retas

cenderung langgam ketentuan sukma memintal

cahaya dentang ornamen ikatan lindap fantasi

momentum dilematis ketentuan taktis dedikasi

 

Angkinang Selatan, 19 Agustus 2026


Merawat Taman, Menyemai Kepedulian di MTsN 3 Hulu Sungai Selatan

 Rabu, 19 Agustus 2026












Pada hari Rabu (19/08/2026) pagi, di antara rimbunnya dedaunan dan warna-warni bunga yang sedang bermekaran, seorang siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 3 Hulu Sungai Selatan (HSS) menjalankan sebuah amanah sederhana : menyiram tanaman di taman bak semen lingkungan madrasah. Tampak sepele, barangkali. Hanya menyiram tanaman. Namun, dari pekerjaan sederhana itulah tumbuh sebuah pelajaran besar tentang tanggung jawab.

Juga kepedulian, dan kecintaan kepada lingkungan. Dengan mengenakan pakaian seragam yang rapi, ia berdiri di antara sulur-sulur tanaman dan bunga bougenville yang menghiasi taman. Air yang disiramkan bukan sekadar membasahi tanah dan akar. Seolah-olah, setiap tetesnya membawa pesan bahwa kehidupan harus dirawat dengan kesabaran dan ketulusan. 

Tanaman tidak pernah meminta banyak. Ia hanya membutuhkan air, cahaya, tanah yang baik, dan tangan-tangan yang bersedia merawatnya. Demikian pula lingkungan madrasah. Keindahan tidak hadir dengan sendirinya. Ia lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus oleh orang-orang yang peduli. 

Taman bak semen di lingkungan MTsN 3 HSS, yang berada di sekitaran RT 3, Desa Angkinang Selatan, Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, menjadi ruang kecil tempat nilai-nilai itu dipraktikkan. Di sana, siswa tidak hanya belajar dari buku dan papan tulis. Mereka juga belajar dari tanah, daun, bunga, air, dan kehidupan yang tumbuh di sekelilingnya. 

Ada pendidikan yang tidak selalu tertulis dalam buku pelajaran: bahwa sesuatu yang dipercayakan kepada kita harus dijaga. Menjalankan tugas menyiram tanaman berarti belajar bahwa tanggung jawab tidak harus selalu berupa pekerjaan besar. Kadang-kadang ia hadir dalam bentuk yang sangat sederhana—mengambil air, menyiram tanaman yang mulai layu, membersihkan bagian taman yang kotor, atau memastikan bunga tetap tumbuh dengan baik. 

Dan justru dari kebiasaan kecil seperti itulah karakter dapat tumbuh. Pagi itu, di tengah udara yang masih bersahabat dan hijaunya lingkungan madrasah, aktivitas menyiram tanaman terasa seperti sebuah percakapan sunyi antara manusia dan alam. Tangan manusia memberi air, sementara alam menjawabnya dengan daun yang segar, bunga yang mekar, dan suasana yang lebih teduh. 

Barangkali, inilah makna sederhana dari merawat bumi : memberi sedikit dari apa yang kita punya agar kehidupan terus tumbuh. Semoga tangan-tangan muda yang hari ini belajar menyiram tanaman kelak tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas dalam pengetahuan, tetapi juga lembut dalam memperlakukan alam. Sebab madrasah bukan hanya tempat menanam ilmu. 

Madrasah juga tempat menanam kepedulian. Dan setiap tanaman yang tumbuh subur di halaman madrasah adalah pengingat bahwa kebaikan, sekecil apa pun, akan selalu menemukan jalannya untuk tumbuh. Dari taman kecil di Desa Angkinang Selatan, semoga tumbuh kepedulian yang lebih luas—untuk madrasah, untuk lingkungan, dan untuk bumi yang kita warisi bersama. (ahu)

Rumbia di Tepi Jalan, Cerita Kecil dari Desa Angkinang Selatan

 Rabu, 19 Agustus 2026




Ketika batang rumbia tak sekadar menjadi sisa tebangan, tetapi berubah menjadi bagian dari ikhtiar warga menjaga ternak tetap sehat dan produktif. Pagi di Timbuk Ril Angkinang, Rabu (19/08/2026), berjalan seperti biasanya. Udara pedesaan masih terasa segar, hamparan sawah membentang, sementara hijaunya pepohonan dan semak di tepian jalan menjadi pemandangan yang akrab bagi warga sekitar. 

Namun, ada satu pemandangan sederhana yang menarik perhatian di tepi jalan, sekitaran RT 3 Desa Angkinang Selatan, Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Beberapa potongan batang rumbia tampak tergeletak di pinggir jalan. Bagi sebagian orang yang melintas, mungkin itu hanyalah batang pohon yang sudah ditebang dan tidak lagi memiliki nilai. 

Tetapi bagi masyarakat setempat, rumbia masih menyimpan manfaat. Batang yang telah diproses dapat dimanfaatkan menjadi paya, salah satu bahan yang biasa digunakan warga sebagai pakan ternak itik. Di situlah menariknya kehidupan masyarakat desa. Sesuatu yang tampak sederhana, bahkan mungkin dianggap tidak berguna, ternyata bisa memiliki nilai ketika berada di tangan orang yang memahami cara memanfaatkannya. 

Batang rumbia tidak berhenti sebagai kayu yang teronggok di tepi jalan. Ia melewati proses, diolah, lalu menjadi bagian dari pakan ternak. Bagi peternak itik, pakan bukan sekadar makanan. Dari sanalah harapan tumbuh—agar ternak tetap sehat, tumbuh subur, dan pada waktunya mampu menghasilkan telur. Ada sebuah siklus kehidupan yang sederhana di sana. 

Dari alam, warga mengambil manfaat. Kemudian manfaat itu diolah dengan pengetahuan dan keterampilan yang diwariskan dalam keseharian. Hasilnya kembali mendukung kehidupan rumah tangga. Tidak selalu harus sesuatu yang mahal untuk menopang perekonomian keluarga. Kadang, yang dibutuhkan justru kemampuan untuk melihat nilai dari apa yang tersedia di sekitar kita. 

Rumbia adalah salah satu contohnya. Di tengah hamparan sawah dan kesibukan warga Angkinang, potongan batang rumbia itu seolah mengingatkan bahwa kehidupan pedesaan memiliki banyak cerita yang sering luput dari perhatian. Cerita tentang ketekunan, pemanfaatan alam, peternakan, dan cara masyarakat bertahan dengan memaksimalkan apa yang ada. 

Mungkin bagi orang yang terburu-buru melintas, batang-batang itu hanyalah pemandangan biasa. Tetapi jika kita berhenti sejenak dan memperhatikannya, ada cerita panjang di baliknya. Tentang alam yang memberi. Tentang tangan-tangan warga yang mengolah. Dan tentang harapan sederhana agar ternak tumbuh subur, cepat bertelur, lalu ikut menghidupi keluarga. Sebuah potongan rumbia di tepi jalan. Kecil dan sederhana, tetapi menyimpan cerita tentang kearifan, ketekunan, dan kehidupan masyarakat Angkinang Selatan. (ahu)

Video : Kardus Bekas Drumband di MTsN 3 HSS

 Rabu, 19 Agustus 2026

Kardus bekas peralatan pembelian drumband, di ruang Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 3 Hulu Sungai Selatan (HSS), berlokasi di sekitaran RT 3 Desa Angkinang Selatan, Kecamatan Angkinang, Kabupaten HSS, Kalimantan Selatan, pada hari Rabu (19/08/2026) pagi. (ahu)

Video : Suasana di Sekitaran Timbuk Ril Angkinang Rabu Pagi

 Rabu, 19 Agustus 2026

Suasana di kawasan Timbuk Ril Angkinang, berlokasi di sekitaran RT 3 Desa Angkinang Selatan, Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, pada hari Rabu (19/08/2026) pagi. (ahu)

Suasana. Hijau di MTsN 3 HSS Selasa Pagi

 Rabu, 19 Agustus 2026






Semangat awal pagi dan suasana hijau yang ada di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 3 Hulu Sungai Selatan (HSS), berlokasi di sekitaran RT 3 Desa Angkinang Selatan, Kecamatan Angkinang, Kabupaten HSS, Kalimantan Selatan, pada hari Selasa (18/08/2026) pagi. Saat ini di bawah kepemimpinan Bapak H Obtain Hary Subagyo MTsN 3 HSS kian gemilang dan eksis. Menjadi madrasah favorit dan terus menorehkan berprestasi dalam berbagai bidang baik akademik maupun non akademik. (ahu)

Menikmati Suasana di Sekitaran Desa Karang Jawa Muka Suatu Pagi

 Selasa, 18 Agustus 2026






Beginilah suasana di sekitaran Desa Karang Jawa Muka, Kecamatan Padang Batung, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, pada hari Rabu (12/08/2026) pagi. (ahu)

Buah Tangan Umrah Kacit dari Tanah Suci

 Selasa, 18 Agustus 2026







Buah tangan atau oleh-oleh Umrah Fansuri atau Kacit, berupa pasahapan, tasbih, dan gantungan kunci, saat sudah berada di rumah saya di sekitaran RT 1 Desa Angkinang Selatan, Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, pada hari Kamis (13/08/2026) malam Jumat. (ahu)

Warga Masyarakat Angkinang Mengikuti Kegiatan HUT ke 81 RI Tahun 2026

 Selasa, 18 Agustus 2026













Warga masyarakat dari berbagai kalangan di Angkinang mengikuti kegiatan memeriahkan dan menyemarakkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke 81 Kemerdekaan RI Tahun 2026 di Kantor Kecamatan Angkinang, di Desa Angkinang, Kecamatan Angkinang, Kabupaten HSS, Kalimantan Selatan, pada hari Kamis (13/08/2026) pagi. (ahu)

Pagi yang Menyimpan Harapan di MTsN 3 HSS

 Rabu, 19 Agustus 2026 Beberapa bangunan kelas di MTsN 3 Hulu Sungai Selatan (HSS), berlokasi di sekitaran RT 3 Desa Angkinang Selatan, Keca...