Ahad, 3 Mei 2026
Pada hari Sabtu (02/05/2026) pagi yang pelan-pelan membuka mata, saya melaju tanpa tergesa di atas sepeda motor tua yang setia menemani. Dari tempat tinggal saya di Desa Angkinang Selatan. Jalan sempit membelah hamparan hijau yang terasa tak berujung—padi-padi berdiri rapi, seolah sedang berdoa dalam diam. Angin berembus ringan, membawa aroma tanah basah dan kehidupan yang sederhana, namun penuh makna.
Langit hari itu bersih, biru luas dengan awan tipis yang mengalir seperti lukisan. Di kejauhan, deretan pepohonan dan perbukitan menjadi garis batas antara bumi dan langit—tenang, kukuh, dan menenangkan. Tak ada hiruk-pikuk kota, tak ada suara mesin yang bersahut-sahutan. Hanya bunyi angin, sesekali kicau burung, dan desau roda yang berputar pelan di atas aspal.
Perjalanan ini mungkin hanya sekitar tiga kilometer dari rumah. Tak jauh, bahkan bisa dibilang biasa saja. Namun di sinilah saya menemukan sesuatu yang sering luput: jeda. Di tengah rutinitas yang menguras tenaga dan pikiran, pagi di sekitar Desa Longawang ini seperti pelukan hangat—mengingatkan bahwa bahagia tak harus jauh dicari. Ada rasa syukur yang tumbuh diam-diam.
Bahwa di tempat sederhana seperti ini, di jalan sunyi yang membelah sawah, hati bisa kembali utuh. Sepeda motor boleh saja butut, perjalanan mungkin singkat, tapi rasa yang tertinggal… begitu dalam dan lama. Kadang, kita hanya perlu berhenti sejenak. Menarik napas panjang. Dan membiarkan alam menyembuhkan apa yang tak sempat kita sadari sedang lelah. (ahu)