Kamis, 23 Juli 2026
 |
Suasana di depan rumah kayu sederhana, di sekitaran RT 1 Desa Angkinang Selatan, Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, saat aliran listrik padam pada hari Kamis (23/07/2026) malam Jumat. (ahu) |
Pada hari Kamis (23/07/2026) malam Jumat, listrik sedang padam, membuat rumah kayu saya yang sederhana ini kembali bersahabat dengan gelap. Di depan rumah, hanya cahaya senter yang sesekali memecah pekatnya malam, menyinari dinding biru yang telah lama menjadi saksi perjalanan hidup, tawa, doa, dan perjuangan.
Sebuah kursi plastik tua berdiri sendiri di beranda. Diam, namun seakan menyimpan ribuan cerita yang tak pernah habis diceritakan. Di tempat inilah sering kali lelah dilepaskan, harapan dirajut, dan rasa syukur dipanjatkan, meski hidup tak selalu berjalan seperti yang diinginkan.
Bagi sebagian orang, padamnya listrik mungkin hanya menghadirkan ketidaknyamanan. Namun di sudut kecil sekitar RT 1 Desa Angkinang Selatan, Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, gelap justru mengajarkan bahwa ketenangan tidak selalu membutuhkan cahaya.
Ada damai yang hanya bisa ditemukan ketika hiruk-pikuk berhenti sejenak. Rumah ini memang sederhana. Dindingnya terbuat dari kayu, lantainya tak selalu sempurna, dan berandanya jauh dari kata mewah. Namun di sinilah keluarga saya berteduh, doa-doa dilangitkan, dan harapan tetap dipelihara dari hari ke hari.
Kesederhanaan bukanlah kekurangan, melainkan ruang yang mengajarkan arti cukup dan bersyukur. Malam akan berlalu, listrik akan kembali menyala, dan kehidupan akan berjalan seperti biasa. Tetapi kenangan tentang sunyi yang menemani malam ini akan selalu mengingatkan bahwa kebahagiaan sering kali lahir dari hal-hal yang paling sederhana. (ahu)