Sabtu, 14 Februari 2026
Persahabatan Dugal dengan Adi Nanoy sudah terjalin sejak mereka masih sama-sama duduk dibangku SD, sekitar tahun 1990-an. Mereka tinggal di Hangkinang, sebutan lain untuk kampung Angkinang dan Angkinang Selatan. Rumah Dugal dengan Adi Nanoy berjarak sekitar 100 meter saja. Pagi hari mereka sekolah SD, pada siang dan sore hari ikut TP Al Quran di kampung Hangkinang.
Saat pulang sekolah SD lah pergaulan mereka lebih leluasa. Tentunya juga saat hari libur baik hari Ahad maupun tanggal merah. Setamat SD Dugal melanjutkan ke Tsanawiyah sementara Adi Nanoy ke SMP. Berikutnya Dugal ke Aliyah Adi Nanoy di SMA. Karena faktor ekonomi Dugal hanya mampu hingga Madrasah Aliyah pendidikannya. Sementara Adi Nanoy karena orantuanya PNS, dengan begitu mudahnya melanjutkan pendidikan hingga sarjana dan tingkatan di atasnya.
Bukan di dalam provinsi, tapi pendidikannya di Pulau Jawa. Puluhan tahun setelahnya, pendidikan tinggilah yang mengantarkan sukses tidaknya seorang dalam perjalanan hidup. Saat Dugal masih luntang-lantung di Hangkinang. Adi Nanoy teris menebar prestasi kerja. Kabar yang diperoleh Dugal, Adi Nanoy sekarang jadi kepala dinas di kabupaten tetangga. Hubungan persahabatan Dugal mulai terputus sejak Adi Nanoy kuliah di Pulau Jawa.
Hingga sekarang pun mereka tak pernah lagi bertemu. Sibuk dengan pekerjaan dan kekuarga masing-masing. Pengalaman berkesan Dugal dengan Adi Nanoy, saat masih duduk dibangku sekitar Kelas VI. Saat pulang TP Al Qur'an naik sepeda tinjak milik orangtua Adi Nanoy, bajalanan arah ke Kandangan. Berjarak sekitar 8 kilometer. Dugal ikut dibonceng, Adi Nanoy yang membawa sepeda. Itu pengalaman pertama bajalanan paling jauh dibonceng naik sepeda.***