Rabu, 19 Agustus 2026

Cerpen AHU : Kampung Hangkinang, Kampung Kebanggaan

 Rabu, 19 Agustus 2026

Ada kampung yang dikenang karena rumah-rumahnya. Ada kampung yang dikenang karena sungainya. Ada pula kampung yang mungkin tidak tercatat sebagai tempat wisata, tetapi selalu punya cara untuk membuat orang yang pernah tinggal di sana ingin pulang. 

Bagi saya, kampung itu bernama Hangkinang. Nama akrab dari Desa Angkinang Selatan. Kampung kecil yang memanjang di kiri dan kanan jalan nasional Trans Kalimantan. 

Jalan yang setiap hari dilalui kendaraan dari berbagai penjuru. Truk-truk besar, bus antarkota, mobil pribadi, sepeda motor, dan kendaraan pengangkut hasil bumi hilir-mudik tanpa pernah benar-benar peduli bahwa di sisi jalan itu ada sebuah kampung yang menyimpan begitu banyak cerita. 

Di sebelah kiri kampung, mengalir Sungai Angkinang. Airnya mungkin tidak selalu jernih. Kadang tenang, kadang deras, kadang naik ketika hujan berhari-hari mengguyur perbukitan dan daratan di sekitarnya. 

Tetapi sungai itu adalah bagian dari ingatan kami. Sungai bukan sekadar air. Ia adalah batas, jalan, tempat bermain, tempat mencari ikan, tempat orang-orang duduk berbincang, dan menjadi saksi banyak peristiwa yang tidak pernah masuk buku sejarah. 

Di seberang jalan, hamparan sawah dan kebun menjadi sumber kehidupan. Sebagian besar warga Hangkinang adalah petani. Barangkali sekitar sembilan puluh persen kehidupan warga bersentuhan dengan tanah. 

Ada yang menanam padi, berkebun, mengurus tanaman, atau mengolah hasil bumi. Yang lain memilih jalan hidup berbeda. Ada guru, pegawai negeri, pedagang, sopir, dan berbagai pekerjaan lainnya. 

Tetapi apa pun profesinya, tanah kampung seperti selalu mempunyai cara untuk mengikat mereka. Sebab di Hangkinang, bertani bukan sekadar pekerjaan. Ia adalah warisan. 

Ia adalah kebiasaan. Ia adalah cara orang tua mengajarkan kepada anak-anaknya bahwa hidup tidak boleh jauh dari tanah tempat kita berpijak. 

Setiap Kamis, suasana Hangkinang berubah. Pasar tradisional mingguan, Pasar Angkinang, mulai menggeliat. Sejak pagi, orang-orang datang dari berbagai arah. 

Ada yang membawa hasil kebun. Ada yang menjual kebutuhan sehari-hari. Ada yang datang membeli sayur, ikan, beras, pakaian, atau sekadar mencari teman untuk berbincang. 

Pasar itu bukan hanya tempat bertukar barang. Ia juga tempat bertukar kabar.

“Sudah mendengar kabar si anu?”

“Bagaimana harga padi sekarang?”

“Tanaman di kebunmu bagaimana?”

“Anakmu sudah pulang dari kota?”

Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu menjadi semacam surat kabar kampung. Dan di sanalah saya sering melihat wajah Hangkinang yang sebenarnya. Hangkinang bukan hanya jalan nasional. 

Bukan hanya sawah. Bukan hanya Sungai Angkinang. Hangkinang adalah manusia-manusianya. Ada Dugal. Ada Abau. Ada Kacit. Ada Undat.

Nama-nama yang mungkin terdengar sederhana bagi orang luar, tetapi bagi kami menyimpan cerita yang panjang. Mereka adalah bagian dari warna kampung. 

Mereka bisa bercanda tentang hal-hal kecil, berdebat tentang sesuatu yang tidak terlalu penting, tetapi tiba-tiba mengeluarkan kalimat yang membuat kita diam dan berpikir. 

Dan tentu saja ada Acil Ukis. Pemilik sekaligus pelayan kedai minuman yang menjadi salah satu tempat orang-orang singgah. Kedai Acil Ukis bukan sekadar tempat membeli minuman. 

Di sana, cerita kampung sering bermula. Orang datang untuk minum kopi atau teh, tetapi pulangnya membawa cerita. Suatu sore, Dugal, Abau, Kacit, dan Undat duduk di kedai Acil Ukis.

Acil Ukis sibuk menuangkan minuman ke gelas.

“Seperti biasa?” tanyanya.

Dugal mengangguk.

“Seperti biasa, Cil. Kopi panas. Jangan terlalu manis.”

Abau tertawa.

“Kenapa tidak mau manis, Gal?”

“Karena hidup sudah cukup manis,” jawab Dugal santai.

Kacit langsung menyela.

“Ah, itu namanya bukan bijak. Itu karena kamu takut gula.”

Tawa pecah.

Acil Ukis ikut tersenyum sambil meletakkan gelas di meja.

“Sudahlah. Kalian ini kalau sudah berkumpul, kampung bisa lupa bekerja.”

Undat yang sejak tadi diam tiba-tiba berkata,

“Justru dari duduk begini kita belajar tentang kampung.”

Mereka semua menoleh.

“Belajar apa?” tanya Abau.

Undat memandang ke arah jalan.

Kendaraan besar melintas, membuat suara gemuruh yang sebentar menenggelamkan percakapan.

“Belajar bahwa kampung akan terus berubah,” katanya. 

“Jalan makin ramai, anak-anak makin banyak pergi ke kota, pekerjaan makin beragam. Tetapi kalau kita lupa kepada tanah dan orang-orang yang membesarkan kita, kita akan kehilangan sesuatu yang tidak bisa dibeli.”

Kacit mengangguk pelan.

“Tanah?”

“Bukan cuma tanah,” jawab Undat. 

“Ingatan.”

Kedai mendadak sunyi.

Acil Ukis meletakkan termosnya.

“Betul,” katanya. “Orang boleh pergi sejauh apa pun. Tapi jangan sampai lupa jalan pulang.”

Kalimat itu sederhana. Namun mungkin begitulah kearifan kampung bekerja. Tidak selalu datang dalam pidato panjang. Kadang ia muncul dari mulut seorang ibu pemilik kedai, di antara gelas kopi, suara kendaraan, dan obrolan sore. 

Saya sering berpikir, apa yang membuat sebuah kampung begitu sulit dilupakan? Mungkin bukan karena kampung itu sempurna. Hangkinang juga bukan kampung yang sempurna. 

Ada jalan yang ramai. Ada debu yang beterbangan ketika musim kemarau. Ada genangan ketika hujan turun deras. Ada sawah yang gagal panen. Ada hasil kebun yang harganya jatuh. 

Ada anak muda yang harus pergi meninggalkan kampung untuk mencari masa depan. Tetapi justru di tengah segala ketidaksempurnaan itulah kehidupan terasa nyata. 

Orang-orang saling mengenal. Jika ada yang sakit, kabarnya cepat sampai. Jika ada yang mendapat musibah, tetangga datang membantu. Jika ada hajatan, orang-orang bergotong royong. Jika musim panen tiba, kegembiraan terasa seperti milik bersama. 

Itulah kearifan yang tidak tertulis. Gotong royong bukan sekadar kata yang sering diucapkan dalam upacara atau tulisan tentang budaya. Di kampung, gotong royong adalah kebiasaan. Ia tumbuh dari kesadaran bahwa hidup seorang manusia tidak pernah benar-benar berdiri sendiri.

Suatu ketika saya bertanya kepada seorang tua di kampung,

“Kenapa orang-orang di sini begitu dekat dengan tanah?”

Ia tersenyum.

“Karena dari tanah kita makan.”

Saya kembali bertanya,

“Kalau suatu hari semua orang tidak lagi bertani?”

Ia terdiam sebentar.

“Tidak masalah kalau pekerjaan berubah,” katanya. 

“Yang jangan berubah adalah rasa hormat kepada tanah.”

Saya mengingat kalimat itu sampai sekarang. Barangkali itulah inti dari kearifan lokal Hangkinang. Modern boleh. Pergi merantau boleh. Menjadi guru, pegawai, pedagang, sopir atau profesi apa pun boleh. 

Tetapi akar jangan sampai putus. Sebab manusia tanpa akar akan mudah lupa dari mana ia berasal. Kini, setiap kali mendengar suara kendaraan melintas di jalan Trans Kalimantan, ingatan saya sering kembali kepada kampung. 

Saya membayangkan Sungai Angkinang yang mengalir di sisi kampung. Saya membayangkan hamparan sawah. Saya membayangkan kebun-kebun yang menjadi tempat orang-orang menggantungkan hidup. 

Saya membayangkan riuh Pasar Angkinang setiap Kamis. Dan saya kembali melihat kedai Acil Ukis. Dugal masih dengan candanya. Abau masih dengan tawanya. Kacit masih dengan celotehnya. 

Undat masih dengan kalimat-kalimatnya yang kadang sederhana, tetapi menyimpan makna. Mungkin waktu telah membawa kami ke jalan masing-masing. Sebagian pergi. Sebagian menetap. Sebagian berubah. 

Namun ada sesuatu yang tetap tinggal. Kenangan. Dan kampung. Sebab kampung bukan hanya tempat kita dilahirkan atau dibesarkan. Kampung adalah tempat pertama kita belajar mengenal manusia. 

Tempat pertama kita belajar bekerja. Tempat pertama kita mengenal kehilangan. Tempat pertama kita memahami kebersamaan. Dan tempat pertama kita mengerti arti pulang. 

Bagi saya, Hangkinang adalah semua itu. Kampung di tepi Sungai Angkinang. Kampung di sepanjang jalan Trans Kalimantan. Kampung dengan pasar Kamisnya. Kampung para petani dan pekerja keras. Kampung yang menyimpan sejuta kisah indah. 

Kampung yang mungkin kecil di peta, tetapi besar di hati orang-orang yang pernah menjadi bagian darinya. Jika suatu hari nanti saya ditanya,

“Dari mana kamu berasal?”

Saya tidak perlu menjawab panjang. Saya hanya akan tersenyum dan berkata :

“Saya dari Hangkinang.”

Sebab di sanalah sebagian besar cerita hidup saya bermula. Dan sampai kapan pun, Hangkinang tetap kampung kebanggaan.***

Angkinang Selatan, 19 Agustus 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Semoga Cepat Kelar Pembangunan Langgar Al Kautsar di Desa Angkinang Selatan

 Rabu, 19 Agustus 2026 Semoga cepat kelar, proses tahapan pembangunan Langgar Al Kautsar, berlokasi di sekitaran RT 1 Desa Angkinang Selatan...