Selasa, 18 Agustus 2026

Rumbia di Tepi Jalan, Cerita Kecil dari Desa Angkinang Selatan

 Rabu, 19 Agustus 2026




Ketika batang rumbia tak sekadar menjadi sisa tebangan, tetapi berubah menjadi bagian dari ikhtiar warga menjaga ternak tetap sehat dan produktif. Pagi di Timbuk Ril Angkinang, Rabu (19/08/2026), berjalan seperti biasanya. Udara pedesaan masih terasa segar, hamparan sawah membentang, sementara hijaunya pepohonan dan semak di tepian jalan menjadi pemandangan yang akrab bagi warga sekitar. 

Namun, ada satu pemandangan sederhana yang menarik perhatian di tepi jalan, sekitaran RT 3 Desa Angkinang Selatan, Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Beberapa potongan batang rumbia tampak tergeletak di pinggir jalan. Bagi sebagian orang yang melintas, mungkin itu hanyalah batang pohon yang sudah ditebang dan tidak lagi memiliki nilai. 

Tetapi bagi masyarakat setempat, rumbia masih menyimpan manfaat. Batang yang telah diproses dapat dimanfaatkan menjadi paya, salah satu bahan yang biasa digunakan warga sebagai pakan ternak itik. Di situlah menariknya kehidupan masyarakat desa. Sesuatu yang tampak sederhana, bahkan mungkin dianggap tidak berguna, ternyata bisa memiliki nilai ketika berada di tangan orang yang memahami cara memanfaatkannya. 

Batang rumbia tidak berhenti sebagai kayu yang teronggok di tepi jalan. Ia melewati proses, diolah, lalu menjadi bagian dari pakan ternak. Bagi peternak itik, pakan bukan sekadar makanan. Dari sanalah harapan tumbuh—agar ternak tetap sehat, tumbuh subur, dan pada waktunya mampu menghasilkan telur. Ada sebuah siklus kehidupan yang sederhana di sana. 

Dari alam, warga mengambil manfaat. Kemudian manfaat itu diolah dengan pengetahuan dan keterampilan yang diwariskan dalam keseharian. Hasilnya kembali mendukung kehidupan rumah tangga. Tidak selalu harus sesuatu yang mahal untuk menopang perekonomian keluarga. Kadang, yang dibutuhkan justru kemampuan untuk melihat nilai dari apa yang tersedia di sekitar kita. 

Rumbia adalah salah satu contohnya. Di tengah hamparan sawah dan kesibukan warga Angkinang, potongan batang rumbia itu seolah mengingatkan bahwa kehidupan pedesaan memiliki banyak cerita yang sering luput dari perhatian. Cerita tentang ketekunan, pemanfaatan alam, peternakan, dan cara masyarakat bertahan dengan memaksimalkan apa yang ada. 

Mungkin bagi orang yang terburu-buru melintas, batang-batang itu hanyalah pemandangan biasa. Tetapi jika kita berhenti sejenak dan memperhatikannya, ada cerita panjang di baliknya. Tentang alam yang memberi. Tentang tangan-tangan warga yang mengolah. Dan tentang harapan sederhana agar ternak tumbuh subur, cepat bertelur, lalu ikut menghidupi keluarga. Sebuah potongan rumbia di tepi jalan. Kecil dan sederhana, tetapi menyimpan cerita tentang kearifan, ketekunan, dan kehidupan masyarakat Angkinang Selatan. (ahu)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Merawat Taman, Menyemai Kepedulian di MTsN 3 Hulu Sungai Selatan

 Rabu, 19 Agustus 2026 Pada hari Rabu (19/08/2026) pagi, di antara rimbunnya dedaunan dan warna-warni bunga yang sedang bermekaran, seorang ...