Kamis, 9 Juli 2026
Kamis (09/07/2026) pagi, matahari baru saja naik, memancarkan cahaya hangat yang menerobos di sela-sela rimbunnya dedaunan. Udara masih terasa bersih dan menyegarkan saat saya bersiap memanaskan mesin sepeda motor butut kesayangan. Hari ini ada agenda spesial, menemani Ibu menghadiri undangan walimah pernikahan salah satu kerabat. Tujuan kami adalah Dusun Kamat, sebuah wilayah di Desa Pakuan Timur, Kecamatan Telaga Langsat, Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Secara jarak, tempat ini sebenarnya tidak terlalu jauh dari rumah kami di Desa Angkinang Selatan—hanya sekitar 3,5 kilometer.
Namun, perjalanan singkat ini justru menyuguhkan ketenangan yang mahal harganya. Sepanjang jalan, deru halus motor tua kami seolah menyatu dengan alam. Begitu memasuki kawasan Dusun Kamat, atmosfer khas pedesaan langsung menyergap. Tenang, damai, dan sangat asri. Sesampainya di lokasi, suasana hangat pedesaan itu terpampang jelas, keasrian yang terjaga, halaman berumput hijau yang teduh di bawah naungan pohon rindang menjadi tempat bersandar motor-motor para tamu.
Arsitektur kampung yang khas, di seberang jalan, rumah-rumah warga berdiri sederhana namun kokoh, dikelilingi rimbunnya pohon pisang dan tanaman liar yang menghijau subur. Langit biru bersih, langit pagi itu begitu cerah tanpa celah awan kelabu, seolah ikut merestui kebahagiaan kedua mempelai yang sedang melangsungkan hajatan. Menghadiri walimah di kampung seperti ini bukan sekadar datang untuk makan dan berfoto.
Ini adalah momen merawat silaturahmi, melihat senyum ramah tetangga dan kerabat, serta menikmati kembali ritme hidup pedesaan yang lambat namun menenteramkan hati. Perjalanan sederhana dengan motor butut bersama Ibu pagi ini kembali mengingatkan saya, bahwa kebahagiaan dan kedamaian sering kali tidak butuh kemewahan. Cukup hamparan rumput hijau, langit yang bersih, dan langkah kaki yang disambut hangat oleh kerabat di ujung jalan. (ahu)







Tidak ada komentar:
Posting Komentar