Minggu, 04 Januari 2026

Cerpen Akhmad Husaini : Restu di Tanah Angkinang

 Senin, 5 Januari 2026

Oleh : Akhmad Husaini

Bagi Dugal, aroma tanah basah setelah hujan di Angkinang Selatan bukan sekadar bau alam. Itu adalah aroma keringat bapaknya dan doa ibunya yang menyatu dalam lumpur.

Dulu, saat matahari masih malu-malu menampakkan diri di ufuk timur, Dugal kecil sudah harus berteman dengan dingin. Masa kanak-kanaknya tidak dihabiskan dengan mainan mewah, melainkan dengan landai dan rangaman (alat ketam padi). Ia masih ingat betul bagaimana betis kecilnya seringkali gatal dan perih digigit lintah atau tergores tajamnya daun padi di persawahan Angkinang yang seolah tak berujung.

"Sabar, Nak. Tanah ini tidak pernah khianat kalau kita pelihara dengan kasih sayang," bisik ibunya suatu kali, sembari menyeka peluh di dahi Dugal dengan ujung kain sarungnya yang kusam.

Setiap hari Kamis, suasana berubah menjadi riuh. Pasar Kamis Angkinang adalah panggung harapan. Dugal ingat betapa bahagia hatinya jika diajak Ibu ke sana. Di antara tumpukan hasil bumi dan riuhnya tawar-menawar bahasa Banjar yang kental, Ibu selalu menyisihkan sedikit uang hasil menjual sayur untuk membelikannya sebungkus penganan kecil. Bagi Dugal, Pasar Kamis adalah perayaan atas segala kelelahan sepekan di sawah.

Namun, hidup tidak selalu tentang tawa. Ada masa-masa di mana sawah dilanda wereng atau kemarau panjang yang membuat tanah retak-retak seperti harapan yang patah. Di saat-saat paling melelahkan itu—saat tulang punggungnya terasa mau lepas karena mengangkut hasil panen—Dugal melihat ibunya. Perempuan itu, meski tubuhnya kian membungkuk dimakan usia, tak pernah sekali pun mengeluh. Tangannya yang kasar karena kerja keras selalu terangkat dalam doa setiap kali sujud.

"Dugal, keberuntungan itu bukan dicari di langit, tapi ada di bawah telapak kaki ibu dan dalam ridha bapakmu," pesan ibunya setiap kali Dugal merasa putus asa.

Tahun berganti, musim bertukar. Dugal tumbuh menjadi lelaki dewasa yang memegang teguh petuah itu. Ia tak ingin meninggalkan Angkinang hanya untuk mencari kemegahan di kota orang. Ia memilih mengabdi. Ia merawat sawah warisan itu dengan cara yang lebih baik, namun yang terpenting, ia merawat kedua orang tuanya dengan ketulusan yang paripurna.

Kini, hidup Dugal telah berbuah manis. Kesederhanaan tetap menjadi hiasan rumahnya, namun tidak ada lagi kecemasan saat musim tanam tiba. Ia hidup bahagia, bukan karena harta yang melimpah, melainkan karena setiap pagi ia masih bisa melihat senyum ibunya dan mendengar tawa bapaknya di beranda rumah mereka di Angkinang Selatan.

Dugal sadar, keberhasilannya bukan karena pintarnya ia mengolah tanah, melainkan karena derasnya restu yang mengalir dari bibir ibunya—sebuah restu yang lebih subur dari tanah mana pun di Hulu Sungai Selatan.***


Angkinang Selatan, 5 Januari 2026

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Lika-Liku Perjalanan Mengikuti HGS 21 Lewat Jalan Banjir Arah Mali-Mali Banjar

 Rabu. 7 Januari 2026 Melintasi jalan yang tergenang air banjir, arah ke Mali-Mali, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, pada hari Ahad (28...