Senin, 5 Januari 2026
Oleh : Akhmad Husaini
Bagi
Dugal, aroma tanah basah setelah hujan di Angkinang Selatan bukan sekadar bau
alam. Itu adalah aroma keringat bapaknya dan doa ibunya yang menyatu dalam
lumpur.
Dulu,
saat matahari masih malu-malu menampakkan diri di ufuk timur, Dugal kecil sudah
harus berteman dengan dingin. Masa kanak-kanaknya tidak dihabiskan dengan
mainan mewah, melainkan dengan landai
dan rangaman (alat ketam padi).
Ia masih ingat betul bagaimana betis kecilnya seringkali gatal dan perih
digigit lintah atau tergores tajamnya daun padi di persawahan Angkinang yang
seolah tak berujung.
"Sabar,
Nak. Tanah ini tidak pernah khianat kalau kita pelihara dengan kasih
sayang," bisik ibunya suatu kali, sembari menyeka peluh di dahi Dugal
dengan ujung kain sarungnya yang kusam.
Setiap
hari Kamis, suasana berubah menjadi riuh. Pasar Kamis Angkinang adalah panggung harapan. Dugal ingat betapa
bahagia hatinya jika diajak Ibu ke sana. Di antara tumpukan hasil bumi dan
riuhnya tawar-menawar bahasa Banjar yang kental, Ibu selalu menyisihkan sedikit
uang hasil menjual sayur untuk membelikannya sebungkus penganan kecil. Bagi
Dugal, Pasar Kamis adalah perayaan atas segala kelelahan sepekan di sawah.
Namun,
hidup tidak selalu tentang tawa. Ada masa-masa di mana sawah dilanda wereng
atau kemarau panjang yang membuat tanah retak-retak seperti harapan yang patah.
Di saat-saat paling melelahkan itu—saat tulang punggungnya terasa mau lepas
karena mengangkut hasil panen—Dugal melihat ibunya. Perempuan itu, meski
tubuhnya kian membungkuk dimakan usia, tak pernah sekali pun mengeluh.
Tangannya yang kasar karena kerja keras selalu terangkat dalam doa setiap kali
sujud.
"Dugal,
keberuntungan itu bukan dicari di langit, tapi ada di bawah telapak kaki ibu
dan dalam ridha bapakmu," pesan ibunya setiap kali Dugal merasa putus asa.
Tahun
berganti, musim bertukar. Dugal tumbuh menjadi lelaki dewasa yang memegang
teguh petuah itu. Ia tak ingin meninggalkan Angkinang hanya untuk mencari
kemegahan di kota orang. Ia memilih mengabdi. Ia merawat sawah warisan itu
dengan cara yang lebih baik, namun yang terpenting, ia merawat kedua orang
tuanya dengan ketulusan yang paripurna.
Kini,
hidup Dugal telah berbuah manis. Kesederhanaan tetap menjadi hiasan rumahnya,
namun tidak ada lagi kecemasan saat musim tanam tiba. Ia hidup bahagia, bukan
karena harta yang melimpah, melainkan karena setiap pagi ia masih bisa melihat
senyum ibunya dan mendengar tawa bapaknya di beranda rumah mereka di Angkinang
Selatan.
Dugal
sadar, keberhasilannya bukan karena pintarnya ia mengolah tanah, melainkan
karena derasnya restu yang mengalir dari bibir ibunya—sebuah restu yang lebih
subur dari tanah mana pun di Hulu Sungai Selatan.***
Angkinang Selatan, 5 Januari 2026

Tidak ada komentar:
Posting Komentar