Rabu, 9 September 2026
Pada hari Senin (07/09/2026) pagi itu, halaman Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 3 Hulu Sungai Selatan (HSS) tampak dipenuhi barisan siswa. Seragam putih dan atribut lengkap mereka berdiri rapi, menghadap tiang bendera.
Suasana upacara berlangsung khidmat, meski udara pagi terasa berbeda karena kabut asap yang belakangan menyelimuti sejumlah wilayah Kalimantan Selatan. Di bawah langit pagi yang teduh, Sang Merah Putih berkibar.
Di hadapan para siswa, guru dan tenaga kependidikan, terselip sebuah pesan sederhana, tetapi begitu penting: pendidikan bukan hanya tentang mengejar nilai, melainkan juga tentang membangun karakter, menjaga kesehatan, dan mempersiapkan diri untuk masa depan.
Upacara bendera dilaksanakan pada Senin (070/9/2026) pagi di MTsN 3 Hulu Sungai Selatan, yang berlokasi di sekitaran Jalan A Yani Km 7,5, Desa Angkinang Selatan, Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan.
Pada kesempatan tersebut, bertindak sebagai Pembina Upacara adalah Kepala Tata Usaha MTsN 3 Hulu Sungai Selatan, Ibu Hj Mariah. Bagi Ibu Hj Mariah, upacara pagi itu menjadi salah satu momen berharga setelah dirinya mendapatkan amanah baru.
Ia baru saja dilantik beberapa hari sebelumnya sebagai Kepala Tata Usaha MTsN 3 Hulu Sungai Selatan. Amanah baru tentu bukan sekadar perubahan jabatan. Di dalamnya terdapat tanggung jawab, proses belajar, sekaligus kesempatan untuk mengenal lebih jauh berbagai hal tentang madrasah dan seluruh dinamika yang ada di dalamnya.
Setiap amanah selalu datang bersama tanggung jawab. Dan setiap tanggung jawab membutuhkan kemauan untuk terus belajar. Pesan itulah yang terasa dalam amanat yang disampaikan di hadapan para siswa.
Sebagai seorang yang baru mengemban tugas, Ibu Hj Mariah menyampaikan bahwa dirinya masih harus banyak belajar tentang berbagai hal seputar madrasah. Sebuah sikap yang justru menunjukkan bahwa dalam dunia pendidikan, tidak ada kata berhenti untuk belajar, baik bagi siswa maupun bagi orang dewasa yang berada di dalamnya.
Di tengah suasana musim kabut asap yang terjadi belakangan ini, kesehatan para siswa juga menjadi perhatian. Kepada seluruh peserta didik, Ibu Hj Mariah berpesan agar senantiasa menjaga kesehatan. Pesan tersebut mungkin terdengar sederhana.
Namun bagi anak-anak yang setiap hari datang ke madrasah untuk belajar, kesehatan adalah modal utama. Bagaimana mungkin seseorang dapat belajar dengan baik jika tubuhnya tidak sehat Bagaimana mungkin cita-cita dapat dikejar jika kesehatan diabaikan ?
Karena itu, menjaga kesehatan bukan hanya urusan orang tua. Para siswa pun perlu belajar bertanggung jawab terhadap dirinya sendiri. Musim kabut asap mengajarkan satu hal penting: ada kalanya kita harus berhenti sejenak, menjaga diri, lalu kembali melangkah dengan lebih kuat.
Yang menarik dari pemandangan pagi itu adalah barisan panjang para siswa. Mereka berdiri dengan seragam putih, sebagian mengenakan peci, sementara para siswi tampak mengenakan busana muslimah. Wajah-wajah muda itu mungkin terlihat sederhana.
Namun sesungguhnya, di balik barisan tersebut tersimpan begitu banyak mimpi. Ada yang kelak ingin menjadi guru. Ada yang bercita-cita menjadi dokter, polisi, tentara, pengusaha, ulama, teknisi, pegawai, atau profesi lainnya. Ada pula yang mungkin belum tahu akan menjadi apa.
Dan itu tidak masalah. Sebab tugas mereka hari ini bukanlah sudah mengetahui seluruh jalan kehidupan, melainkan terus belajar dan mempersiapkan diri untuk menapaki jalan tersebut. Dari halaman madrasah inilah, sedikit demi sedikit, masa depan itu sedang dibentuk.
Setiap pelajaran yang diterima. Setiap nasihat guru. Setiap kedisiplinan dalam mengikuti upacara. Setiap kewajiban yang dilakukan. Semuanya adalah bagian dari proses panjang menuju kedewasaan. Belajar, Pesan untuk terus bersemangat dalam belajar menjadi bagian penting dari amanat upacara.
Para siswa diajak untuk tidak mudah menyerah dalam mengejar cita-cita dan impian. Sebab tidak semua mimpi dapat diraih dalam waktu singkat. Kadang diperlukan bertahun-tahun belajar. Kadang harus melewati kegagalan. Kadang harus menghadapi rasa lelah dan kecewa.
Tetapi justru dari proses itulah seseorang ditempa menjadi pribadi yang lebih kuat. Cita-cita tidak akan datang mengetuk pintu dengan sendirinya. Ia harus dijemput dengan usaha, doa, kedisiplinan, dan kesungguhan. Pagi itu, mungkin para siswa belum sepenuhnya menyadari betapa pentingnya pesan tersebut.
Namun suatu hari nanti, ketika mereka telah dewasa dan melihat kembali perjalanan hidupnya, barangkali mereka akan teringat pada halaman madrasah ini. Teringat pada barisan upacara. Teringat pada guru-guru. Teringat pada nasihat untuk menjaga kesehatan.
Dan mungkin juga teringat bahwa pernah ada seseorang yang berdiri di hadapan mereka dan mengatakan : "Belajarlah dengan sungguh-sungguh. Kejarlah cita-cita dan impian kalian."
Upacara bendera sering kali dianggap sebagai kegiatan rutin setiap Senin pagi. Berdiri. Berbaris. Mengikuti penghormatan. Mendengarkan amanat. Kemudian kembali ke kelas. Namun jika kita mau melihat lebih dalam, upacara bukan sekadar rutinitas. Di sanalah nilai kedisiplinan dilatih. Di sanalah kebersamaan dibangun.
Di sanalah rasa hormat kepada bangsa dan simbol negara ditanamkan. Dan di sanalah, sesekali, sebuah pesan sederhana bisa menjadi bekal yang dibawa seorang anak hingga bertahun-tahun kemudian. Senin pagi di MTsN 3 Hulu Sungai Selatan itu pun akhirnya menjadi lebih dari sekadar sebuah upacara.
Ia menjadi pertemuan antara amanah seorang pejabat baru, nasihat tentang kesehatan, semangat para pendidik, dan mimpi anak-anak yang sedang tumbuh. Di halaman madrasah itu, Sang Merah Putih berkibar. Sementara di bawahnya, ratusan langkah kecil sedang dipersiapkan untuk menuju masa depan.
Semoga dari madrasah ini lahir generasi yang sehat, berilmu, berakhlak, berkarakter, dan tidak pernah takut bermimpi. Sebab boleh jadi, di antara barisan siswa yang berdiri pagi itu, ada calon pemimpin masa depan.
Kelak nanti mereka akan membawa nama baik keluarga, madrasah, daerah, bahkan bangsa dan negara. Dan semuanya berawal dari satu hal sederhana : mau belajar, mau berusaha, dan tidak pernah berhenti bermimpi. (ahu)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar