Sabtu, 5 September 2026
Pada hari Kamis (03/09/2026) pagi saya mengendarai motor butut kesayangan menuju sekitaran Pauh, Desa Bakarung, Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan.
Jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah, hanya sekitar 3 kilometer dari Desa Angkinang Selatan, tempat saya tinggal. Tidak ada tujuan yang terlalu istimewa pagi itu. Hanya perjalanan kecil, menyusuri jalan desa yang diapit hamparan persawahan.
Namun, di tengah perjalanan, mata saya tertumbuk pada sebuah pemandangan yang membuat saya berhenti. Sebatang pohon mati berdiri sendirian di tepi jalan. Batangnya telah mengering. Tak ada lagi daun hijau yang menghiasi ranting-rantingnya.
Cabang-cabangnya menjulur ke segala arah, seperti tangan yang sedang menengadah kepada langit. Ia tampak begitu tua, begitu sunyi. Tetapi anehnya, justru karena itulah ia terlihat indah.
Saya pun berhenti. Mematikan mesin motor. Lalu mengabadikannya dalam sebuah foto. Di belakang pohon itu, hamparan sawah terbentang luas. Sebagian lahan tampak baru selesai dipanen.
Di kejauhan, pepohonan hijau masih berjajar. Sementara langit pagi terlihat pucat, seolah sedang menyimpan banyak cerita. Saya berdiri beberapa saat di sana. Memandangi pohon yang sudah mati itu.
Lalu tiba-tiba saya berpikir : Barangkali hidup manusia juga seperti pohon. Ada waktunya tumbuh. Ada waktunya menghijau. Ada waktunya menghasilkan buah. Dan pada akhirnya, ada waktunya mengering.
Kita sering mengira bahwa sesuatu yang sudah mati berarti tidak lagi memiliki arti. Padahal, sebuah pohon yang mati pun masih bisa meninggalkan pelajaran. Ia pernah memberikan teduh. Pernah menjadi tempat burung hinggap.
Pernah menggoyangkan daun ketika angin datang. Pernah menyaksikan orang-orang melewati jalan di sampingnya, entah dalam perjalanan pergi ataupun pulang. Kini ia tinggal batang dan ranting.
Namun ia tetap berdiri. Seolah ingin mengatakan bahwa tidak semua yang kehilangan daun harus kehilangan makna. Saya pun teringat pada perjalanan hidup manusia.
Ada orang yang sedang berada pada masa terbaiknya. Hidupnya sedang "hijau", penuh harapan, cita-cita, dan rencana. Ada pula yang sedang berada pada musim gugur kehidupannya. Tenaga berkurang, rambut memutih, langkah tidak lagi secepat dahulu.
Dan ada yang mungkin merasa dirinya sudah tidak berguna lagi. Padahal, siapa tahu? Mungkin keberadaan kita tetap berarti bagi seseorang, bahkan ketika kita sendiri merasa tidak lagi memiliki apa-apa untuk diberikan.
Pohon itu juga mengingatkan saya bahwa setiap perjalanan mempunyai batas waktu. Jalan kecil yang saya lalui pagi itu membentang panjang di antara persawahan. Tidak ramai kendaraan.
Tidak ada kemacetan. Hanya suara motor tua saya dan angin yang sesekali menyentuh rerumputan. Motor butut yang selama ini menjadi teman perjalanan saya pun seakan mengajarkan hal yang sama.
Ia tidak perlu baru untuk membawa saya sampai tujuan. Tidak perlu mengilap. Tidak perlu mahal. Yang penting masih mau berjalan. Begitu pula hidup.
Mungkin kita tidak memiliki kehidupan yang sempurna. Tidak punya kendaraan mewah. Tidak punya rumah besar. Tidak selalu mendapatkan apa yang kita inginkan.
Tetapi selama kita masih bisa melangkah, masih bisa bersyukur, masih bisa menikmati pagi, dan masih bisa pulang kepada orang-orang yang kita sayangi— barangkali itu sudah lebih dari cukup. Pohon mati di tepi jalan itu mungkin tidak pernah tahu bahwa pagi itu ada seseorang yang berhenti untuk memotretnya.
Ia hanya berdiri. Diam. Sendirian. Menunggu waktu. Tetapi justru dari pohon yang diam itulah saya mendapatkan sebuah percakapan panjang dengan diri sendiri.
Tentang hidup. Tentang usia. Tentang perjalanan. Dan tentang akhir yang suatu hari pasti datang kepada setiap makhluk. Saya kembali menyalakan motor. Mesinnya terdengar agak kasar seperti biasa.
Saya tersenyum. Lalu melanjutkan perjalanan. Pohon itu saya tinggalkan di belakang. Namun pesannya saya bawa pulang : Hidup tidak selamanya harus tentang menjadi hijau dan indah.
Ada kalanya kita cukup menjadi pohon yang tetap berdiri, meski daun-daun telah gugur. Sebab mungkin, tanpa kita sadari, keteguhan kita berdiri di tengah musim yang sulit adalah bentuk keindahan yang lain.
Dan pagi itu, di sebuah jalan kecil sekitar Pauh, Bakarung, Angkinang, saya belajar lagi satu hal : Perjalanan yang sederhana pun bisa membawa kita pada renungan yang dalam.
Kadang-kadang kita memang tidak perlu pergi jauh untuk menemukan pelajaran tentang kehidupan. Cukup naik motor tua, menyusuri jalan desa, lalu berhenti sejenak ketika hati menemukan sesuatu yang ingin ia bicarakan. (ahu)











Tidak ada komentar:
Posting Komentar