Jumat, 23 Januari 2026
Ada
jalan yang setiap hari dilewati tanpa banyak kata, namun diam-diam menanggung beban harapan banyak orang. Jembatan
kayu ulin di lingkungan MTsN 3 Hulu
Sungai Selatan ini bukan sekadar penghubung dua sisi. Ia adalah nadi
kecil yang mengalirkan kehidupan : langkah kaki para siswa madrasah yang
mengejar ilmu, guru yang setia mengabdi, serta warga RT 3 Desa Angkinang Selatan yang saban hari melintas demi urusan
hidup.
Panjangnya sekitar 30
meter, lebarnya 5 meter.
Angkanya mungkin terdengar biasa. Namun di atas bentangan kayu ulin yang kini
mulai menua, setiap pijakan menyimpan kecemasan. Papan-papan yang lapuk, susunan
yang tak lagi kokoh, seolah berbisik pelan: aku lelah, tapi masih bertahan.
Jembatan ini terlalu vital untuk
dibiarkan dalam kondisi memprihatinkan. Ia tidak seharusnya menunggu cerita
pilu terlebih dahulu untuk mendapat perhatian. Jangan sampai suara retak kayu
lebih dulu terdengar, sebelum suara kepedulian datang dari pihak yang
berkompeten di Kabupaten Hulu Sungai
Selatan.
Merawat jembatan berarti menjaga keselamatan. Memperbaikinya berarti menyelamatkan masa depan— terutama bagi anak-anak madrasah yang setiap hari melintasinya dengan tas di
punggung dan mimpi di kepala. Semoga ada tangan yang tergerak,
sebelum jembatan ini benar-benar hanya tinggal kenangan. (ahu)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar