Kamis, 22 Januari 2026
Pagi itu, jalan kecil di kawasan Timbuk Ril Angkinang terbentang seperti ingatan yang belum selesai dibaca. Aspalnya sederhana, tak tergesa, mengajak siapa pun yang melangkah untuk menurunkan kecepatan—bukan hanya langkah kaki, tapi juga pikiran. Di kanan dan kiri, sawah membentang dalam genangan air yang memantulkan langit pucat, seolah alam sedang bercermin sebelum hari benar-benar dimulai.
Pohon kelapa menjulang tenang, daun-daunnya berbisik pelan diterpa angin pagi. Di sela-sela batang pisang dan pematang sawah, kehidupan desa berdenyut tanpa suara keras. Tak ada klakson, tak ada hiruk-pikuk—yang ada hanya kesetiaan alam pada ritmenya sendiri. Di sinilah waktu terasa lebih manusiawi, tidak memaksa, tidak menuntut.
Pada hari Rabu (21/01/2026) pagi di sekitaran RT 1 Desa Angkinang Selatan ini menghadirkan kesadaran sederhana : bahwa keindahan tak selalu harus dicari jauh. Ia tumbuh diam-diam di kampung halaman, di jalan yang mungkin setiap hari dilalui, namun jarang benar-benar dipandangi.
Timbuk Ril Angkinang mengajarkan bahwa tenang bukan berarti sepi, dan sunyi bukan berarti kosong. Di Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, alam seakan bersekongkol dengan pagi untuk mengingatkan kita—bahwa sebelum dunia menjadi terlalu bising, ada baiknya kita berhenti sejenak, menarik napas, dan mendengarkan belantara berbicara. (ahu)









Tidak ada komentar:
Posting Komentar