Senin, 12 Mei 2014
Oleh :
Jumarto Yulianus
Daerah pedalaman di kaki pegunungan Meratus, Kalimantan
Selatan, masih tertinggal. Infrastruktur belum terbangun, prasarana dan sarana
juga minim. Akibatnya, jarang ada guru dari luar daerah ini yang setia mengabdi
di pedalaman.
“Saya berasal dari daerah Pegunungan Meratus. Saya
ingin menjadi guru bagi masyarakat pedalaman. Saya ingin anak-anak pedalaman
selalu didampingi guru ketika mereka belajar,” kata Ining di tepi Sungai Batang
Alai yang melintas di Desa Labuhan. Desa di Kecamatan Batang Alai Selatan,
Kabupaten Hulu Sungai Tengah, tersebut terletak sekitar 200 kilometer dari
Banjarmasin, Kalimantan Selatan.
Kedua bola mata Pak Ining, demikian dia disapa,
tampak berkaca-kaca saat mengisahkan perjuangannya selama 33 tahun menjadi guru
di pedalaman. Dia merasa bangga bercampur haru atas keberhasilan anak-anak
pedalaman yang pernah dididiknya.
“Sekarang cukup banyak diantara anak-anak pedalaman
yang berhasil. Ada yang menjadi guru, polisi, pegawai negeri maupun swasta,”
kata Kepala SD Negrei Pembakulan ini. Pembakulan adalah salah satu desa di
Kecamatan Batang Alai Timur, Hulu Sungai Tengah.
Keberhasilan anak-anak pedalaman menempuh pendidikan
hingga jenjang perguruan tinggi adalah mimpi yang terus dibangun Ining sebagai
tenaga pendidikan di pedalaman. Berbagai upaya dia lakukan agar anak-anak
pedalaman bisa maju dan bangkit dari ketertinggalan.
Ining berasal dari kalangan suku Dayak Meratus, yang
bermukim di kaki Pegunungan Meratus. Dia lahir di Desa Labuhan, yang berjarak
sekitar 15 kilometer dari Barabai, ibukota Kabupaten Hulu Sungai Tengah.
Seperti masyarakat Dayak di pedalaman pada umumnya,
kedua orangtuanya adalah petani. Mereka bercocok tanam padi di lading dan
menyadap getah dari pohon karet.
‘Walaupun orangtua saya hanya petani dan tidak
bersekolah, saya bertekad untuk bersekolah dan menjadi guru,” ujar Ining.
Setelah menyelesaikan pendidikan sekolah dasar di
desanya, Ining melanjutkan pendidikan ke SMP Negeri 1 Batang Alai Selatan di
Birayang. Kemudian dia melanjutkan ke Sekolah Pendidikan Guru (SPG) Bethel di
Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
“Lulus SPG tahun 1981, saya tidak bisa langsung
pulang kampung karena ditugaskan mengajar di daerah transmigrasi di Batulicin.
Waktu itu Batulicin masih termasuk wilayah Kabupaten Kotabaru (Kalsel),” kata
Ining. Sejak tahun 2002, Batulicin menjadi ibukota kabupaten pemekaran, Tanah
Bumbu.
Ining, yang menjelang masa pensiunnya masih berkutat
menyelesaikan pendidikan S-1, menjelaskan, SD di daerah transmigrasi bolk E-1
itu juga berlokasi di daerah pedalaman.
“Karakter masyarakat pedalaman pada umumnya hampir
sama. Mereka jarang mau bersekolah kalau tidak diberi pemahaman,” tutur dia.
Sebagai guru di daerah pedalaman, Ining pun harus
proaktif mengubah paradigm masyarakat terhadap pendidikan. Dia berusaha
meyakinkan mereka tentang betapa pentingnya pendidikan. Sebab, kebanyakan
orangtua melarang anaknya bersekolah. Mereka berpikir tidak ada gunanya
bersekolah karena yang terpenting adalah bekerja mencari uang.
Ketika memberikan pemahaman kepada orangtua murid,
Ining tak jarang ditentang. Namun, bapak dua anak ini tidak menyerah. Dia terus
memberikan pemahaman kepada orangtua murid dan meyakinkan mereka bahwa hanya
dengan sekolah, masyarakat pedalaman di kaki pegunungan Meratus bisa maju.
“Waktu saya mulai bertugas sebagai kepala sekolah di
SD Negeri Tandilang tahun 2008, di Kampung Aing Hangat, yang berjarak sekitar 3
kilometer dari Tandilang, belum ada satu pun anak-anak di kampung ini yang
tamat SD. Sekarang sudah cukup banyak anak yang lulus SD dan melanjutkan ke
SMP,” kata Ining.
Untuk mengajak anak-anak bersekolah, Ining tak
jarang harus menjemput murid-muridnya ke rumah masing-masing. Apalagi jika
murid tersebut tak masuk sekolah selama seminggu tanpa ada pemberitahuan.
“Saya tidak mau membiarkan anak-anak tidak masuk
sekolah dan akhirnya berhenti sekolah,” ucap dia.
Ining bangga melihat anak-anak pedalaman yang pernah
dididiknya telah berhasil. Apalagi tak sedikit diantara mereka bisa sukses
hidup di kota.
“Saya tak bisa lagi menghitung berapa banyak
anak-anak pedalaman yang sudah berhasil,” kata guru yang tak pernah ingin
bertugas di kota ini.
Ining mengakui, keberhasilan sejumlah anak pedalaman
mengenyam pendidikan hingga jenjang perguruan tinggi membuat kehidupan
masyarakat di pedalaman juga lebih baik dibandingkan puluhan tahun lalu.
“Ini karena sudah banyak anak yang bersekolah,
sekarang sudah jarang ada yang menikah dalam usia muda,” ujar dia.
Tujuh tahun menjelang pensiun, Ining tetap setia
setiap hari pergi ke sekolah melewati jalan berbatu dan licin di kala hujan.
Dengan bersepeda motor, dia membutuhkan waktu tempuh sekitar 45 menit dari
rumahnya.
“Sebagai kepala sekolah, saya harus memberikan
contoh kepada murid-murid dan guru-guru yang lain,” ucap dia.
Menurut Ining, pemerintah juga sudah memperhatikan
kesejahteraan guru di pedalaman. Dengan memberikan tunjangan daerah terpencil
sebesar gaji pokok, kesejahteraan guru menjadi lebih baik. “Saya menerima
tunjangan itu sejak tiga tahun lalu.”
Ining ingin merasakan tunjangan itu sebagai insentif
yang meningkatkan semangatnya dalam mengajar dan mendidik anak-anak pedalaman.
“Tak ada lagi alasan bagi guru-guru di pedalaman
untuk malas mengajar,” kata kepala sekolah yang agak menyayangkan baru empat
dari sembilan guru di sekolahnya yang mendapatkan tunjangan tersebut.
Oleh karena mulai memasuki masa pensiun sebagai guru
di daerah kaki pegunungan Meratus, Ining pun berharap ada di antara
murid-muridnya yang mau mengabdi sebagai guru di pedalaman selamanya.
Alasan dia, sudah saatnya anak-anak dari daerah
pegunungan Meratus yang berhasil kembali untuk memajukan masyarakatnya.***
Sumber
: Kompas, 10 Mei 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar