Kamis, 23 Juli 2026
Pada hari Sabtu (18/07/2026) langit siang di atas Kampung Hangkinang membiru bersih, dihiasi gulungan awan putih yang berarak perlahan. Matahari memancarkan teriknya yang hangat, menembus celah-celah dedaunan dan melukis bayang-bayang rimbun di bahu jalan.
Suasana di kawasan RT 1 Desa Angkinang Selatan, Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, siang ini terasa begitu khas. Sebagai kampung yang membelah dan mengapit jalan nasional Trans Kalimantan, Hangkinang tak pernah benar-benar sepi.
Selalu ada ritme kehidupan yang bergerak serasi antara ketenangan pemukiman dan hiruk-pikuk arus lalu lintas. Dari tepi jalan, terlihat truk-truk melaju mengangkut muatan, melintasi aspal mulus dengan garis kuning tegas di tengahnya.
Sisi kiri dan kanan jalan dihiasi deretan rumah warga, pepohonan hijau yang rindang, serta aktivitas harian tetangga yang saling menyapa atau sekadar berdiri menikmati semilir angin siang.
Bagi kami yang tinggal di sini, lalu lalang kendaraan di jalan Trans Kalimantan bukan sekadar kebisingan, melainkan irama harian yang menandai betapa vitalnya peran kampung ini sebagai urat nadi penghubung antar-wilayah di Kalimantan Selatan.
Di balik riuh suara mesin kendaraan, hangatnya rasa kekeluargaan dan kedamaian kampung halaman tetap terasa kental. Sebuah potret sederhana di Sabtu siang, namun selalu berhasil menyimpan kenangan dan rasa bangga akan tanah kelahiran di Bumi Antaludin. (ahu)








Tidak ada komentar:
Posting Komentar