Senin, 2 Februari 2026
Mengingat dosa-dosa silam adalah bagian dari kejujuran hati. Ia memang tidak selalu nyaman, namun justru dari sanalah pintu kesadaran terbuka. Saat manusia mau menoleh ke belakang, bukan untuk larut dalam penyesalan, tetapi untuk memperbaiki arah langkah ke depan. Saatnya bertaubat sekarang, terlebih menjelang momen mulia malam peribadatan Nisfu Syaban 1447 H, pada hari Senin (02/02/2026) malam Selasa. Malam yang oleh banyak ulama dimaknai sebagai waktu evaluasi, pengampunan, dan penentuan takdir setahun ke depan. Sebuah kesempatan yang sayang jika dilewatkan begitu saja.
Betapa banyak dosa yang mungkin pernah kita lakukan, baik yang tampak maupun tersembunyi. Dosa zina, meninggalkan puasa tanpa uzur syar’i, mengambil milik orang lain tanpa izin, menyakiti hati sesama, lalai dari kewajiban, hingga dosa-dosa kecil yang sering kita anggap sepele. Padahal, sekecil apa pun dosa, jika menumpuk dan tidak disesali, dapat mengeraskan hati. Perbanyaklah istighfar, memohon ampunan kepada Allah SWT dengan penuh kesadaran. Taubat dan istighfar adalah dua hal yang saling berhubungan.
Taubat adalah tekad kembali kepada Allah SWT dengan meninggalkan maksiat, menyesali perbuatan, dan berjanji tidak mengulanginya. Sedangkan istighfar adalah pengakuan akan kelemahan diri, sebuah penghambaan yang jujur bahwa kita tidak luput dari salah dan khilaf. Andai dosa-dosa yang pernah kita perbuat diperlihatkan satu per satu, niscaya kita akan tertunduk malu. Bukan hanya di hadapan manusia, tetapi terlebih di hadapan Allah SWT Yang Maha Mengetahui segala yang tersembunyi.
Maka tidak ada alasan untuk menyombongkan diri. Yang ada hanyalah pengakuan : Ya Allah, sungguh aku banyak berdosa. Malam Nisfu Syaban adalah momentum untuk membersihkan hati, meluruskan niat, dan memperbarui komitmen iman. Mari datang kepada Allah dengan hati yang hancur oleh penyesalan, namun penuh harap akan rahmat-Nya. Karena sebesar apa pun dosa seorang hamba, ampunan Allah selalu lebih luas, selama pintu taubat belum tertutup dan nyawa belum sampai di tenggorokan. (ahu)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar