Selasa, 13 Januari 2026
Pada hari Selasa (13/01/2026), sawah-sawah di sekitaran RT 3 Desa Angkinang Selatan, Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, terbangun lebih awal dari manusia. Air masih menggenang tipis, memantulkan
langit yang pucat dan sabar. Di dalamnya, barisan padi muda berdiri rapuh namun
yakin—hijau yang belum pekat, tapi sudah cukup untuk menyimpan harapan.
Beberapa
hari lalu, tangan-tangan petani menanamnya satu per satu, menancapkan masa
depan ke lumpur yang dingin. Kini, batang-batang kecil itu mulai belajar tegak,
seolah memahami bahwa hidup memang dimulai dari kebasahan, dari kerendahan,
dari tanah yang mengotori kaki.
Sawah ini bukan sekadar hamparan lahan. Ia adalah halaman doa yang tak dituliskan, tempat harap digantungkan tanpa suara. Di sela sunyi pagi Angkinang Selatan, padi-padi muda itu tumbuh bersama waktu, hujan, dan kesabaran—menunggu musim, menunggu rezeki, menunggu cerita yang akan dipanen beberapa bulan ke depan. (ahu)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar