Jumat, 29 Januari 2016

Lebih Dekat Dengan Sona Barabai DA 3

Sabtu, 30 Januari 2016







Jajaran Pemerintah dan DPRD Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST) mendukung penuh karier Sona atau Rasunah asal Barabai yang merupakan satu-satunya kontestan Dangdut Academy (DA) 3 Indosiar, hasil Audisi Banjarmasin mewakili Kalimantan Selatan yang lulus ke 35 besar. 

Kalau tak ada aral biduan cantik kelahiran Birayang, 13 Maret 1995 ini akan tampil pada 30 Januari 2016 di Indosiar dan tergabung dalam Grup F bersama Weni (Pontianak), Hayati (Sumedang), Angel (Surabaya), dan Putra (Kediri).

Sona merupakan salah satu peserta yang diharapkan mampu membawa nama Banua, terkhusus Kabupaten HST. Oleh sebab itu dimohon do’a dan dukungannya kepada seluruh masyarakat Kalimantan Selatan dan seluruh masyarakat Indonesia pada umumnya dengan cara mengirim SMS :  ketik DA (spasi) SONA kirim ke 97288.

“Terima Kasih kepada seluruh jajaran Pemerintah Kabupaten HST atas dukungan pian sabarataan, semoga bisa mewujudkan cita-cita dan tentunya lebih memperkenalkan lagi kota Barabai sebagai ibukota dari Kabupaten HST yang dikenal dengan Parisj Van Borneo,” ungkap Sona melalui akun facebook.

Penjabat Bupati HST Ngadimun melalui Kabag Humas Protokol HST menyampaikan saat ini Sona sudah menjadi idola baru masyarakat Banua pecinta dangdut. “Sona sudah membawa nama harum banua. Jadi harus didukung oleh semua pihak, “ ujarnya, Senin (25/01/2016).

Menurutnya, dengan tampilnya Sona di televisi, nama Barabai dan Kabupaten HST terdengar di seluruh Indonesia, bahkan hingga ke luar negeri. Karena itu, pemerintah daerah sangat mendukung keberhasilan Sona. "Siapapun warga HST yang berprestasi ya harus didukung, Kami akan memasang spanduk dan baliho serta dukungan SMS setiap kali Sona tampil di Konser D'Academy 3 nanti," ujarnya.***

Biodata Sona Barabai

Sabtu, 30 Januari 2016




Nama Lengkapnya Rasunah, akrab disapa dengan Sunnah. Sedangkan nama yang dipakai pada  DA3 adalah Sona. Dia lahir di Birayang, 13 Maret 1995. Statusnya single. Pendidikannya sekarang kuliah di STKIP PGRI Banjarmasin, Semester V Jurusan Matematika.

Sona mempunyai hobi menyanyi. Makanan favoritnya talang masak asam, pakasam, mandai dan jaring. Alamat Instagram @DA3_sonaaa. Sementara untuk facebook https://www.facebook.com/SonaBarabai.

Penandatangan Pakta Integritas di Kemenag HSS

Sabtu, 30 Januari 2016




Kamis, 28 Januari 2016

Bimbingan Teknis Penelaahan Laporan Keuangan

Kamis, 28 Januari 2016




Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Barabai menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Penelaahan Laporan Keuangan Tingkat Satuan Kerja (Satker) Tahun 2015 di Aula KPPN Barabai Jalan PHM Noor No 28 Barabai, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), belum lama tadi.

Acara dihadiri oleh Kepala KPPN Barabai Khairil Indra, para Narasumber Bimtek, dan undangan lainnya. Sementara para peserta merupakan utusan dari satker Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) dan Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) yang ada di Wilayah Kerja KPPN Barabai. Termasuk pula Bendaharawam MTsN Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Nurhasanah.

Nurhasanah menyampaikan, dia hadir pada kegiatan tersebut sebagai upaya memperkaya wawasan seputar Laporan Keuangan yang selama ini digeluti pada bidang kerja dan tugasnya di madrasah. “Disini saya bertindak pula sebagai Petugas Penyusun Laporan Keuangan (Operator SAIBA) di MTsN Angkinang,” ujar Nurhasanah.

Dijelaskan Nurhasanah, narasumber yang berkompeten dibidangnya menyampaikan informasi dan penjelasan yang lebih detail berkenaan dengan materi kegiatan. “Pada Bimtek tersebut kami para peserta membawa Laporan Keuangan Lengkap, Kertas Kerja Telaah LK, besera laptop yang telah terinstal Aplikasi SAINA, SAS 2015, SAKPA14, SIMAK BMN, dan Persediaan,” ujar Nurhasanah.

Kepala MTsN Angkinang, Gazali, S.Ag, M.Pd.I yang dimintai komentarnya seputar keikutsertaan Bendaharawan di madrasahnya pada Bimtek tersebut dirasakannya sudah cukup bagus. “Dengan adanya Bimtek ini Bendaharawan Madrasah bisa memperkaya wawasan ilmu pengetahuan seputar tugas yang digeluti. Terutama mengenai Laporan Keuangan yang selama ini ditangani di madrasah,” ujar Gazali. (akhmad husaini)

Selasa, 26 Januari 2016

Pertandingan Bulutangkis di GOS Aluh Idut Kandangan

Rabu, 27 Januari 2016








Servis Bola Voli

Rabu, 27 Januari 2016




Ingin Pejabat Sering ke Meratus

Rabu, 27 Januari 2016

Galimun
 
Tubuhnya bungkuk. Kalau berbicara sering terbatuk-batuk. Sebilah parang panjang selalu terselip dipinggangnya. Itulah penampilan Galimun, yang tinggal di pelosok desa, Balai Macatur, Kecamatan Hantakan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Kalimantan Selatan.

Galimun bukanlah orang tenar. Sekolah tidak pernah, hingga baca tulispun dia tak bisa. Namun, pengalaman hidup sebagai pejuang di zaman penjajahan serta keteguhannya memegang adat, membuat dia disegani banyak orang. Tak hanya di lingkungan sendiri, banyak orang luar yang segan dan menghormati dia.

Di masyarakat adat Dayak Meratus, HST, dia adalah tokoh adat yang bersahaja dan diyakini memiliki kelebihan supranatural. Masyarakat pun menasbihkan dia sebagai Ketua Dewan Adat serta Kepala Adat Kundan, Haruyan Dayak yang membawahi 27 balai.

Senin (18/01/2016), Galimun yang gigih melawan berbagai upaya untuk merusak adat dan lingkungan Meratus itu, berpulang. Rasa kehilangan dan ungkapan duka cita untuk kepergian pria yang disebut-sebut berusia 124 tahun itu langsung mengalir deras, termasuk melalui dunia maya.

Salah satunya dari Komunitas Barito Mania Barabai. “Selamat jalan Kai Galimun. Pian banyak melahirkan cerita-cerita kesaktian Dayak Meratus. Juga peduli dengan kehijauan Meratus,” tulis mereka di akun facebook.

Demikian pula Orpala Garimbas, salah satu organisasi pencinta alam. “Beliau tokoh adat yang disegani tak hanya dikalangan masyarakat adat HST, tapi juga di masyarakat Dayak Meratus Kalsel,” tulis anggota Garimbas, Dayat.

Kepastian meninggalnya Galimun diungkapkan seorang cucunya, Muliadi, Selasa (19/01/2016). Menurut dia, sang kakek menghembuskan napas terakhir sekitar pukul 22.00 WITA saat memimpin ritual Aruh Adat di Balai Kumuh, Haruyan Dayak, Hantakan, HST. “Tiba-tiba saja Kai (Kakek) roboh lalu meninggal,” kata Muliadi.

Meskipun sering sakit karena usia lanjut, Galimun masih kuat melakukan perjalanan jauh dengan berjalan kaki. “Terakhir, saya bertemu dengan Kai, seminggu lalu di Pasar Kundan. Saat itu Kai minta uang buat beli rokok,” ucap Muliadi.

Menurut dia, banyak saudara dan kerabat yang terlambat mendapat kabar duka itu. “Jaringan komuniksi seluler tidak ada sehingga banyak saudara dan kerabat yang terlambat mendapat informasi meninggalnya Kai. Jalan menuju kesana juga beresiko karena beberapa hari terakhir hujan. Sangat licin dan banyak tanjakan ekstrem,” ujar dia.

Sementara, Koordinator Bartman Barabai, Iroy malam tadi menginformasikan, jenazah Galimun sudah dimakamkan di Halalangin, Selasa sore. Sesuai tradisi, prosesi pemakaman seorang tokoh adat Dayak dilakukan dengan iringan gendang dari rumah sampai lokasi pemakaman.

“Informasi yang kami terima, Kai meninggal saat Aruh Sambu Umang (ritual adat tolak bala agar tanaman tidak rusak dan diganggu binatang). Katanya, Kai turun dari rumah balai untuk buang air kecil. Namun, tidak beberapa lama ditemukan dalam kondisi kepala berdarah,” kata Iroy.

Beberapa waktu lalu, BPost pernah berbincang secara khusus dengan Galimun. Pertemuan dilakukan di Kantor Kecamatan Hantakan yang ditemui dia dengan jalan kaki dari rumah selama lima jam. Namun, pria itu menegaskan tidak lelah. “Saya baru merasa lelah ketika kaki saya tak bisa melangkah lagi. Saya juga baru merasa sakit jika tubuh tak bisa bangkit dari tidur. Selama masih bisa bangun kemudian berjalan, saya merasa sehat,” kata dia saat itu.

Diakui pria perkasa ini, yang menyerang dirinya hanyalah batuk. Maklum, Galimun termasuk pecandu rokok. Sehari, sedikitnya dua bungkus rokok dia isap. “Saya sudah mencoba berhenti merokok. Sudah kecanduan, tidak bisa berhenti,” katanya.

Pada pertemuan itu, Galimun mengungkapkan harapannya agar para pejabat mengunjungi balai-balai adat agar merasakan sulitnya akses jalan disana. Selain itu bisa mengetahui masih minimnya fasilitas pendidikan dan sarana kesehatan untuk warga. Salah satu perjuangan Galimun untuk mempertahankan hutan Meratus terjadi pada tahun 1999 silam.

Saat itu pemerintah berniat mengalihfungsikan Meratus. “Saya juga tidak setuju terhadap status hutan lindung di pemukiman masyarakat adat. Masyarakat yang sudah bermukim sejak zaman nenek moyang, tidak bisa melakukan apa-apa. Bahkan sekedar mengambil kayu untuk kebutuhan hidup juga dianggap pelanggaran,” tegas Galimun.

Ditegasan dia, masyarakat adat Dayak Meratus adalah keluarga yang baik. “Kalau diperlakukan secara baik, kami pasti membantu pemerintah. Tetapi jika disakiti, kami akan melawan. Kami jangan hanya didekati ketika ada kepentingan,” ucapnya. Selamat jalan Galimun. (hanani)

Sumber : SKH Banjarmasin Post (Edisi Rabu, 20 Januari 2016 Halaman 1 dan 14)

Sebelum Shalat Jumat di Masjid Al Husaini Bustani Mursinah Bakarung HSS

 Rabu, 5 Agustus 2026 Suasana sebelum shalat Jumat di Masjid Al Husaini Bustani Mursinah, berlokasi di sekitaran Desa Bakarung, Kecamatan An...