Senin, 06 Februari 2023

Mencuci Pakaian Paling Unik

 Selasa, 7 Februari 2023

Cara unik yang saya lakukan dalam mencuci pakaian, beberapa tahun terakhir ini, saya praktekkan tanpa menggunakan sabun. Pakaian, terutama baju cukup disiram dengan air begitu saja. Tanpa disikat, dibilas, serta tak pakai sabun cuci dan sejenisnya. Yang unik selain tanpa sabun juga disiram air dengan hitungan ganjil.

Saya menyiram pakaian yang dicuci dengan siramam air dari gayung, minimal tiga kali, selebihnya sebanyak-banyaknya, yang penting ganjil. Hasilnya memang cukup kelihatan. Terlihat daki menempel dileher baju, terutama baju yang sering saya gunakan ke tempat umum.

Bagian leher batagar, kalau berwarna putih tentu sangat kelihatan sekali. Entah kenapa saya begitu malas mencuci pakiaan dengan sabun. Selain tentu kadang tak ada sabunnya, juga ingin cepat selesai lalu dijemur. Apa hasilnya, yang terlihat tentu hal yang tak diharapkan. Baju saya terlihat jelek, kusam, dekil, kumal, dsb.

Kadang saya merasa malu dan minder juga bila bertemu dengan orang banyak. Tentu saya bisa mengubah kebiasaan jelek itu. Tapi itu tadi, ingin cepat, kadang sabun cuci tak ada. Jadilah saya lakukan mencuci pakaian paling unik sedunia.

Sudah bertahun-tahun saya melakoni hal seperti ini. Yang tentu saja bertahun-tahun itu pula saya mengenakan pakaian yang tak layak dibawa ke tempat umum. Baju saya gulunya batagar dan tahi lambuan. Saatnya sekarang saya menghentikan kebiasaan itu. Saya harus mencuci pakaian dengan cara yang baik dan benar.***

 

Dari Diary Akhmad Husaini, Jumat (02/12/2022)

Menengok Sebentar Pasar Pantai Hambawang

 Selasa, 7 Februari 2023

Sudah teramat sering saya pergi ke Pasar Pantai Hambawang, yang terletak di Kecamatan Labuan Amas Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST). Berjarak sekitar 11 kilometer dari Angkinang Selatan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), tempat saya tinggal. Sementara dari Barabai, ibukota Kabupaten HST sekitar 10 kilometer.

Kenapa saya sering ke sana. Sekedar cuci muka, lihat suasana pasar mingguan yang digelar setiap hari Selasa. Merupakan tempat pertemuan para pedagang dan pembeli dari berbagai daerah di Banua Enam. Tak hanya dari HST, tapi juga kabupaten tetangga seperti Kabupaten HSS, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kabupaten Tabalong dan Kabupaten Balangan.

Letaknya yang cukup strategis, berada di tepi jalan Trans Kalimantan, sisi kiri arah menuju Barabai, jadi memudahkan akses menggapainya. Hanya memerlukan waktu sekitar 45 menit dengan menggunakan sepeda motor butut, saya sudah sampai di sana. Melewati Angkinang, Bamban, Pangambau, Barikin, Haruyan, Muara Tabu Darat, hingga akhirnya roda motor saya berhenti berputar di sebuah simpangan.

Lantas saya memarkir sepeda motor di tempat langganan. Lalu saya kujuk-kujuk melihat suasana pasar dari semua sudut. Apabila menarik perhatian saya singgah, bukan untuk membeli tapi sekedar melihat-lihat saja. Bila selesai dan puas saya lanjutkan ke tempat lain.

Yang pernah saya lakukan di pasar ini, potong rambut, minum dan makan di warung, beli ayam dan itik untuk dipelihara di rumah. Kemudian beli buku tulis dan pulpen. Melihat orang berjualan obat untuk keperkasaan pria. Saya tak lama paling sejam dua jam sudah bosan, lantas sesudahnya pulang.***

Diary Akhmad Husaini, Selasa (07/02/2023)

Susah Senang di Rumah Sakit

 Selasa, 7 Februari 2023

Hikmah dari Acil saya bernama Hj Asmiati binti Suliman yang berusia 65 tahun, masuk Rumah Sakit (RS) Brigjend H Hassan Basery (BHHB) Kandangan, sejak malam Rabu lalu, saya bisa jalan-jalan, menginap gratis, di Ruang Penyakit Dalam (RPD) Al Qadr Kamar 12 Lantai II.

Dengan fasilitas yang ada di RPD, ruang luas, kamar mandi, WC, lantai keramik, yang penting ada tempat untuk membaringkan tubuh saya, saat mata mengantuk dan tubuh yang lelah.

Pagi hari pulang ke Angkinang Selatan yang berjarak sekitar 10 kilometer dari Kandangan, jadi total 20 kilometer yang mesti ditempuh. Dengan sepeda motor Supra Fit butut sebagai teman setia, untuk bermalam di RS. Pulang Subuh dengan suasana lengang di jalan sampai ke Angkinang Selatan. Saya cukup asyik dan rileks menjalaninya.

Suka duka di dalam RPD Al Qadr Kamar 12 Lantai II RS BHHB Kandangan. Saat Umanya Madan mau Buang Air Besar (BAB) ke toilet atau WC. Merapikan selimut, menurunkan Umanya Madan dari dipan ke bawah lalu menuntun ke WC. Saya di luar menunggu, sementara Madan masuk membantu Umanya BAB dan menggantung infus di tempat yang aman.

Suasana tak nyaman dirasakan. Saya termasuk paling peka dengan bau tak sedap. Apalagi bau kotoran manusia yang cukup menusuk hidung. Tak bisa lama-lama, sudah muncul mual-mual di perut. Ingin segera buang air ludah. Usai urusan di WC. Umanya Madan naik ke dipan untuk kembali berbaring.

Saya dan Madan rebahan di lantai. Ada dibawa dari rumah tikar plastik animasi. Lumayan untuk mengusir dingin. Sesekali pantau infus, apakah masih ada isinya atau habis. Juga posisi slang infus kalau tertindih tangan, bisa tak jalan. Malam itu saya tidur-tidur ayam. Kadang tertelap kadang bangun. Tidak bisa tidur lagi. Sampai waktu Subuh tiba.

Saya shalat di Kamar 12 Lantai II RPD RS BHHB Kandangan. Berdo’a semoga Umanya Madan segera sembuh dari penyakitnya. Juga urusan ini itu selama di RS yang dilakoni Madan berjalan lancar. Hingga kembali pulang ke rumah secepatnya. Do’a selalu dipanjatkan untuk kebaikan bersama.***

 

Dari Diary Akhmad Husaini, Kamis (08/12/2022)

Syaqil Fauzan Saat Berada di PTSP MTsN 3 HSS

 Kamis, 22 Oktober 2026 Syaqil Fauzan, saat berada di ruang Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 3 Hulu Sun...