Senin, 04 Juni 2012

KUMPULAN TULISAN AKHMAD HUSAINI

Senin, 4 Juni 2012


LEBARAN DAN KEBIASAAN KITA

            Bagi umat Islam di Indonesia, berlebaran adalah suatu tradisi yang telah mendarah daging. Sulit dipisahkan dari kaitan adat istiadat dan kebiasaan yang telah membudaya, telah berakar sejak masa nenek moyang kita memeluk agama Islam berabad-abad yang lalu. Antara ritual keagamaan dan kebiasaan-kebiasaan yang berlaku pada hari lebaran itu, seakan-akan telah menyatu, sulit dipisahkan. Kalau tidak menjadi inti seluruh kegiatan, sekurang-kurangnya merupakan rangkaian yang melengkapi.
            Memang tak bisa dipungkiri. Kebiasaan membeli pakaian baru yang bagus-bagus untuk berlebaran itu, misalnya, merupakan sesuatu yang sulit dihindarkan. Pertama-tama pakaian yang bagus-bagus itu tentunya diperlukan untuk shalat idul fitri. Membuat ketupat  dan penganan yang enak-enak menjelang hari raya itu, biasanya disediakan untuk tamu-tamu yang bersilaturrahmi, disamping untuk dimakan sendiri sekeluarga dan sanak keluarga. Bahkan biasa juga dikirimkan kepada tetangga dekat atau kerabat dekat maupun jauh. Hingga seringkali terjadi, saling kirim mengirim makanan antara sesama tetangga atau kerabat dan karenanya saling mencicipi makanan masing-masing.
            Dalam hal bersilaturrahmi, seringkali terjadi saling kunjung-mengunjungi antara satu sama lain. Namun kebiasaan yang paling umum adalah orang-orang yang lebih muda mengunjungi para orangtua, sesepuh atau pemimpin panutan yang berpengaruh.
            Itu semua, biasanya berlangsung pada hari-hari lebaran, terutama hari pertama setelah turun mimbar. Yakni setelah selesai shalat Ied di masjid atau lapangan.
            Bagaimanapun, kebiasaan-kebiasaan tersebut bukanlah sesuatu yang bisa dilewatkan begitu saja. Akan timbul perasaan kurang enak bila kebiasaan itu tidak dilaksanakan sebagaimana mestinya. Sedih sekali rasanya bila kita tidak ikut berlebaran seperti itu. Terutama bagi mereka yang tinggal jauh dari kampung halaman, jauh dari sanak famili, terlebih-lebih dari orangtua. Rasanya seperti terkucil dari kaum atau kelompok sendiri, terasing dari teman dan handai taulan dan seakan-akan tercabut dari akar kebudayaan yang telah melekat erat dalam jiwa kita. Kebiasaan-kebiasaan itu memang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan kita.
            Namun, bumi berputar terus pada porosnya dan perubahan pun terjadi. Saya kira, tak sedikit diantara kita yang tak mampu melaksanakan kebiasaan- kebiasaan itu sebagaimana yang senantiasa mereka alami dimasa yang sudah-sudah. Mungkin karena urbanisasi, karena transmigrasi dan sebab-sebab lain yang timbul akibat perubahan dan perkembangan zaman. Ini merupakan kenyataan hidup kita masa kini. Pembangunan nasional yang tengah kita galakkan sekarang ini, mau tak mau, membawa efek dan konsekuensi tertentu yang tidak selalu sesuai dengan harapan dan keinginan disamping dampak positif yang menguntungkan. Itulah kehidupan. Diantara yang harus kita terima sebagai kenyataan tak terhindarkan itu, ialah berjauhan dengan sanak famili dan handai taulan, karena harus meninggalkan kampung halaman atau tempat tinggal. Mungkin buat sementara mungkin juga untuk selama-lamanya. Hingga tak bisa tidak, kita terputus dari kebiasaan-kebiasaan masa lalu yang telah melembaga. Atau sekurang-kurangnya tidak bisa seperti dimasa yang sudah –sudah  dengan segala suka duka dan suasana kekeluargaan sebagaimana terjadi pada waktu kita masih terikat pada kebiasaan itu.
            Lalu, bagaimana harus kita lakukan manakala kita tidak bisa lagi berlebaran seperti dulu-dulu ? Pertama-tama, mungkin kita harus ingat, bahwa yang terpenting dari semua rangkaian kebiasaan berlebaran itu ialah shalatnya. Melaksanakan shalat Idul Fitri secara berjamaah, mendengarkan khutbah dan kemudian bersalam-salaman atau bersilaturrahmi. Itulah yang terpokok. Bahkan sebelumnya, yang juga tidak kurang pentingnya, ialah  melaksanakan ibadah puasa (shaum), tarawih, dan tadarus Al-Qur’an pada hari-hari dan malam-malam selama bulan Ramadhan. Kemudian, yang juga termasuk inti berlebaran ialah menunaikan zakat fitrah. Apabila kesemua rangkaian pokok itu telah dilaksanakan, telah ditunaikan, sebenarnya kita telah berlebaran secara tuntas.
            Hal-hal lainnya hanyalah pelengkap yang takkan mengurangi nilai ibadah kita manakala kita tidak mampu melakukannya. Karena sebenarnya, hanya orang-orang yang telah berhasil menempuh rangkaian ibadah itulah yang paling berhak berlebaran. Bukan pakaian baru, makanan serba enak atau minuman berlimpah. Bukan pula sentuhan angan atau kata-kata permohonan saling memaafkan yang bersifat formalitas yang terpenting, tapi keikhlasan hati untuk saling membebaskan diri kita dari rasa iri, dengki, hasud, dan perangai-perangai buruk lainnya. Lagipula, bukan hanya pada hari-hari lebaran saja seharusnya berlebaran itu dilaksanakan, tapi juga untuk hari-hari selanjutnya sepanjang tahun. Lebaran hanyalah motivator, bukan motor. Sebab, motornya yang menggerakkannya ialah iman dan taqwa. Bila demikian, kita sebenarnya dapat berlebaran setiap hari.
            Yang patut kita tekankan pula pada saat berlebaran itu ialah bersyukur kepada Tuhan. Bersyukur karena nikmat yang dilimpahkan-Nya kepada kita, karena kita telah mampu melaksanakan titah dan perintah-Nya dengan tulus.

Kandangan, 15 Maret 2012
           






GEGER WARUNG PAKUMPAYAN


            Malam ini saya tak bisa tidur. Lapar. Tadi tidak makan. Sementara hujan turun hujan cukup lebatnya. Dingin.
            Saya coba buka koran . Pada SKH Banjarmasin Post edisi Selasa, 13 Maret 2012 halaman 28 terdapat judul : ALFI DITEMBAK DI PERUT. Dengan subjudul Diduga Mabuk dan Ngamuk di Mapolsek Angkinang. Ada ilustrasi : 1) Minggu (12/3) pukul 19.40 Wita Alfi (25) naik taksi. 2) Karena membuat ulah diturunkan di Angkinang. 3) Warga emosi, memukuli Alfi. 4) Polisi datang bawa Alfi. Di Polsek,menyerang petugas.  5) Akhirnya, ditembak, kena perut.
            Alfi berasal dari Amuntai. Dilarikan ke RS Bhayangkara Banjarmasin. Di perutnya bersarang timah panas setelah pistol yang coba direbutnya menyalak.
            Saya benar-benar tidak tahu kejadian ini kalau tidak baca koran. Saya kurang pergaulan. Padahal lokasi kejadian dan Polsek tidak jauh dari rumah saya. Warung Pakumpayan sekitar 500 meter. Polsek Angkinang 200 meter.
Dari BPost lah saya tahu kejadian ini. Alfi diduga mabuk obat.
            Sementara hal lain yang berhubungan dengan warung Pakumpayan adalah beredarnya VCD lagu. Lagu tentang keberadaan warung tersebut bersama H. Sofyan Kandangan. Latarnya adalah warung Merry, MIN, MTsN Angkinang, dsb.

Kandangan, 31 Maret 2012



CERITA DARI HAMAK

            Minggu pagi sekitar pukul 10.00 Wita saya berangkat dari rumah ke Hamak. Mendatangi anak-anak MTsN Angkinang yang mengikuti perkemahan LT III disana.
            Saya membawa jaket. Lewat Pakuan, Mandampa, Lokbinuang, Telaga Langsat. Masuk Hamak. Saya mendapatkan tantangan. Dalam kesendirian bersepeda motor ada tanjakan dan turunan yang tinggi. Sangat bernuansa pedesaan. Ada orang menyadap karet dikiri-kanan jalan. Sampai di Hamak Timur. Cari lokasi. Ketemu Khulaifi dan bubuhan Hipta. Mereka datang dari Air Terjun Sumaragi.
            Saya mencari lokasi kemah regu putera. Ketemu dua personel. Yang lain berada di lapangan utama yang juga lokasi peserta regu puteri.
            Saya kesana. Ternyata peserta sedang mengikuti lomba. Di tenda ada dua yang tinggal. Saya nongkrong sebentar. Ada Dedi Wahyudi dan Muchei Rifai. Saya mau ke lokasi air terjun tapi setengah jalan saya balik kembali.
            Kembali ke tenda puteri. Tapi saya tidak betah. Saya kembali ke tenda putera yang berjarak sekitar 300 meter. Duduk disana. Ke sungai buang air kecil. Duh segarnya. Saya betah berlama-lama disana.
            Kegiatan ini ditutup oleh Kakwarcab Pramuka HSS, H. Achmad Fikry. Pada even ini MTsN Angkinang mendapatkan dua gelar juara lomba yakni diperoleh regu putera.
            Menurunkan tenda adalah momen yang sangat melelahkan. Selesai dirapikan beserta barang-barang lainnya.  Lalu membawa kembali barang-barang tersebut ke tempat mobil truk yang menunggu di tepi jalan. Berjarak sekitar 300 meter dari lokasi kemah. Berat juga. Saya membantu seadanya saja. Semampu saya. Kami pulang lewat Mawangi.
            Di Jembatan Merah saya berhenti. Hujan cukup lebat. Saat teduh saya meneruskan pulang.
            Membantu menurunkan barang dan menempatkannya di sekolah.

Kandangan, 25-03-2012


RINDU URBANA

            Saya rindu menulis kembali ke Tabloid Urbana. Bila ada waktu dan kesempatan saya akan kirim tulisan kesana. Pas sekali bila dilengkapi dengan foto.
            Saya akan menulis ke rubrik Mubina, Pustaka, dan Oase. Lalu kalau bisa juga rubrik Seni dan Budaya, Kini dan Dulu, dsb.
            Alangkah serunya bila saya diberi kartu pers oleh pihak Urbana. Ada duit olah baju kaos berlabel Urbana.
Buat stiker Urbana. Lalu disebar kemana-mana. Sebagai bentuk promosi murah Seperti saat ke Air Terjun Haratai. Banyak-banyak saya tempeli stiker Urbana di tempat peristirahatan.
.Setiap hari Senin khusus cari berita / liputan ke sumber berita di HSS, HST, dan Tapin. Bisa pula ke HSU, Balangan dan Tabalong. Sekaligus membantu Zaidinnor, perwakilan Urbana di Banua Enam.
            Biar penampilan sederhana tapi otak cerdas. Ternyata kamu wartawan ya ? Untuk apa kamu menulis ? Begitu banyak pertanyaan yang disuguhkan kepada saya. Saya menulis karena hobi dan sudah menjadi bagian hidup saya.Titik.
            Alangkah indahnya saya buat tulisan ke Urbana. Walaupun tidak dimuat tapi saya sudah berusaha. Masih ada blog pribadi. Jadi sewaktu-waktu kirim lagi. Terus menulis ! Menulis terus !
            Pada Dulu dan Kini saya mengulas tentang dunia pariwisata Loksado. Saya kan wawancara dengan Kadinasparbud HSS. Juga dengan warga dan pemerhati Loksado. Dilengkapi beberapa foto seperti Gunung Kantawan, Balanting Paring, dan jembatan gantung.
            Pada Pustaka saya mengulas buku Mohammad Sobary berjudul Singgasana dan Kutu Busuk.
            Pada rubrik Oase saya menulis profil penjual es keliling di HST. Lalu pada Surat Dari Kandangan saya menulis masa lalu suling Bamban yang fenomenal saat itu.

Kandangan, 27-03-2012










Minggu, 03 Juni 2012

GALERI FOTO HSS

Senin, 4 Juni 2012




 

Anak-anak MTsN Angkinang



Mahadang 








Aktifitas siswa MTsN Angkinang, sedang membaca koran di Perpustakaan Darul Fikri








Selamat datang di Desa Gumbil, Kec. Telaga Langsat




 Beli minyak tanah di Simpang Lima Kandangan



 Rumah Banjar Gajah Manyusu
Di Kandangan, HSS


Malihat koran




Malihat teve



Jalan rusak di Desa Ambutun Kec. Telaga Langsat



Melintas di jalan rusak Desa Mandala Kec. Telaga Langsat



Jalan rusak di Desa Wawaran Kec. Angkinang


Liwar banar rusaknya jalan

IN MEMORIAM OM IBUY

Senin, 4 Juni 2012


PUISI AKHMAD HUSAINI :

AKU ‘KAN SELALU MENGENANGMU

Berita apalagi yang kudengar
untuk meningkahi hari-hari
rohmu telah pergi
hadirkan kesedihan kerabat dan sahabat
aku mengenang dirimu
yang terakhir kali kau ucap padaku 16 Mei 2012 di Telaga Langsat :
Sai…….kada lawas lagi aku pansiun
mungkin aku kada di Kandangan lagi
tarusakan haja kagiatan sastra lawan buhan Aliman
amun kada buhan ikam siapa lagi….

Airmataku tumpah tak terbendung
usai sudah sua kita selama ini
derap langkah kakimu terhenti
dan Kandangan pun menangisimu
inilah tepi jalan yang pernah kau beritahu dulu
kita semua juga ‘kan kesana menuju

Kandangan Berduka, akhir Mei  2012


SEBUAH CATATAN :


BURHANUDDIN SOEBELY DALAM KENANGANKU


            Setiap kali bertemu saya Om Ibuy selalu menyapa, “Apa kabar Sai ? Adalah mangirim tulisan ka surat kabar ? “ujarnya.
            Yang paling berkesan saya diberi buku. Saat kegiatan Kongres Cerpen Indonesia (KCI) V di Banjarmasin taun 2007 saya diberi buku Bahara Mingsang Idang Siritan. Lalu tahun yang sama pada ASKS IV di Amuntai saya diberi buku kumpulan Cerpen Orkestra Wayang. Tahun 2011 saya bertandang ke Kantor Dinas Kebudayaan dan Pariwisata HSS, tempat beliau bekerja. Saya diberi buku Datu Kandangan wan Datu Kartamina.
            Kenangan lain saat mengelola Tabloid Gerbang yang terbit di Kandangan. Tabloid ini terbit sebulan dua kali. Para pengelolanya adalah seniman / sastrawan HSS. Saya termasuk beruntung yang direkrut untuk mengelolanya. Bersama dengan Uda Djarani,  Aliman Syahrani, Muhammad Faried, Abdaludin. Ruslan Faridi, dll
            Om Ibuy (begitu biasanya kami memanggil) selalu pontang-panting mendesain dan tata letak tabloid tersebut. Sementara kami mencari berita / bahan tulisan di lapangan. Sayang tabloid ini tak berusia panjang.
            Om Ibuy juga telah menelorkan beberapa sinetron betema local. Pernah tayang di TVRI. Terakhir sinetron Matahari Samudera . Saya pernah menyaksikannya saat ditayangkan oleh televisi lokal, Kandangan TV.
Selasa (29/05/2012) Nita Anggraini, anak murid saya di MTsN Angkinang, memberitahu Burhanuddin Soebely meninggal dunia. “ Kemarin kakek saya melawat,” ujar Nita.
            Saya kaget. Inna Lillahi wa inna ilaihi raji’un. Saya lagi sibuk jadi tak sempat datang melawat.
            Kandangan kehilangan putera terbaiknya. Sastrawan yang malang-melintang di jagat sastra loka maupun nasional telah pergi menghadap Ilahi.
            Padahal saat Napak Tilas Luran Teks Proklamasi Gubernur Tentara ALRI Divisi IV Pertahanana Kalimntan, saat berada di Telaga Langsat, saya sempat berjabat tangan dengan beliau. Juga saya sempat memfoto beliau dua kali dengan kamera HP.
            Selamat jalan Om Ibuy. Jasamu selalu kami kenang. Saya berjanji akan membuktikan Kandangan akan tetap eksis di dunia kepenulisan.
            Perkenalan dengan Om Ibuy pertama kali tahun 2002. Saat saya gabung mengelola Tabloid Gerbang. Tapi saya sudah lama mengenal namanya lewat buku dan media.
            Aruh Sastra Kalimantan Selatan (ASKS) adalah even cetusan beliau. Yang pertama kali digelar di Kandngan tahun 2004.
            ASKS VIII di Barabai tahun 2011 merupakan Aruh Sastra terakhir beliau bersama-sama rombongan HSS untuk berhadir.
            Yang paling berkesan saat ASKS IV di Amuntai tahun 2007. Saat sidang pleno saya dan Om Ibuy jadi wakil HSS.
            Om Ibuy lahir di Kandangan, 2 januari 1957. Kutipan puisi  yang ditulis beliau tahun 2003, sangat berkesan dihati saya.
……………………..
Percumbuan malam Kandangan
Pastilah ‘kan menyisakan
sebuah bangku batu
karena kau tak lagi disitu
kilir kiliran banyu mataku
kukirimakan di angin lalu
***
Malam itu untuk kesekian kali saya membaca buku La Ventre de Kandangan, Mosaik Sastra HSS 1937-2003. Buku itu saya peroleh 8 tahun silam saat Aruh Sastra Kalimantan Selatan (ASKS)  I di Kandangan.
            Lembar demi lembar saya buka. Entah kenapa saya terhenti pada halaman 198 dan 199.  Ya saya terhenti saat membaca biodata Burhanuddin Soebely. Sastrawan HSS yang selama ini saya kagumi, yang selalu saya ikuti perkembangannya.
            Saya bangga HSS memiliki sosok seperti beliau. Dengan bejibun karya. Beliau tidak saja fokus pada sastra tapi bidang seni yang lainnya.
            Sudah sejak lama saya mengenal namanya lewat karyanya di media massa dan buku.
            Saya bersyuukur tahun 2002 dipertemukan dengan beliau untuk pertama kali. Bertemu tiap hari. Kami mengelola tabloid satu-satunya yang terbit di kota Kandangan : Tabloid Gerbang. Saya bisa saling tukar pengalaman dengan sesama seniman / sastrawan HSS.

Kandangan, 31-5-2012

Jumat, 01 Juni 2012

DIARY HUSS

Sabtu, 2 Juni 2012



SUPER SIBUK


Hari ini aku super sibuk di sekolahan. Ada pengumuman kelulusan kelas IX. Jadi nyiapin tempat untuk orangtua//wali yang hadir. Menyiapkan 102 kursi. Menyusunya menjadi lebih rapi.

Belum selesai sahuaran, tugas lain menghadang. Disuruh mencari air mineral. Memaku pintu pagar yang dirusak siswa. Memaku pintu kelas yang jebol. Menerima berkas siswa baru dari SDN Tawia Barat. Menerima siswa kelas IX yang mengambil sertifikat khatam Qur'an. Duh banyaknya................kada tahan.......

Bawa lari azha. Ke Warnet di Parincahan. Posting blog. Kirim tulisan ke Media Kalimantan. Puaaaaaassss........

Tapi aku mau tidur ahhhh...................

PENGUMUMAN HASIL UJIAN NASIONAL SMP/MTs TAHUN PELAJARAN 2011/2012 DI KABUPATEN HULU SUNGAI SELATAN

Sabtu, 2 Juni 2012

3 (Tiga) Besar SMP/MTs 
Peraih UN 2011/2012 Terbaik se HSS

1. MTs Izharussalam Baruh Jaya ( Peserta : 83 orang Total Nilai :  4.20) Rangking 1
2. MTs Ibnu Mas'ud Putera (Peserta : 5 orang Total Nilai : 33.80) Rangking 2
3. MTsN Amawang (Peserta : 210 orang Total Nilai 33.23) Rangking 3

MENGENANG BURHANUDDIN SOEBELY

Sabtu, 2 Juni 2012



PUISI AKHMAD HUSAINI :

PESAN TERAKHIR OM IBUY

Waktu yang bergegas
16 Mei 2012 adalah pertemuan terakhirku dengannya
saat berada di Tugu Telaga Langsat
kami saling berjabat tangan dan berfoto bersama
tak banyak bicara tak banyak kata

tapi beliau memberi pesan bermakna :
Sai......aku kada lawas lagi pansiun
mungkin aku kada di Kandangan lagi
tarusakan haja kagiatan sastra di HSS lawan buhan Aliman wan Fuad
amun kada buhan ikam siapa lagi ?

Terasa berat mendengar amanat itu
tapi Insya Allah kami akan terus eksis
melanjutkan cita-cita, perjuangan, dan pesan bermakna tersebut
selamat jalan Om Ibuy
Kandangan akan selalu mengenangmu........................

Kandangan, 2 Juni 2012

Pengirim :

AKHMAD HUSAINI
 Jl. A.Yani Km.8 Angkinang Selatan RT.1 No.40
Kec. Angkinang Kab. Hulu Sungai Selatan
Kandangan Kode Pos 71291


Kandangan, Kehilangan Maestro Seniman,
Burhanuddin Soebely Telah Tiada

( Oleh : IDA LAENY )
Hari Selasa (29/5) tepatnya jam 10.00 wita, jenazah seniman hebat asal Kandangan, kabupaten Hulu Sungai Selatan yang menorehkan karya di hati dimakamkan alkah keluarga di Asam Cangkok kecamatan Kandangan. Dan berita duka ini seakan jadi pertanda bahwa regenarasi harus segera dimulai. 

Penyair ternama Burhanuddin Soebely meninggal dunia pada usia 55 tahun di Kandangan, Senin (28/5). Pria yang akrab dipanggil “ Ibouy “ meninggalkan puteri Annisa Firdhasavitri dan seorang isteri wanita asal Banjarmasin Aisyah Farina yang dinikahinya pada Pebruari 1992 lalu.

Bouy yang lahirkan di Kandangan, pada 2 Januari 1957 ini mencurahkan sebagian besar hidupnya dalam dunia sastra dan teater. Menggubah sajak maupun membacakannya, menulis naskah terater sekaligus melakoninya sendiri, dikuasainya dengan sangat matang. Sajak, puisi, essai maupun teater hasil karyanya sudah melegenda di kalangan pecinta seni sastra dan teater di kabupaten HSS, Banua Anam dan Kalimantan Selatan dan tingkat Nasional.

Seniman, sastrawan, budayawan dan sejarawan Kalsel yang juga seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) Dinas Budaya dan Pariwisata HSS dengan jabatan Kepala Bidang Kebudayaan dan Pawisata mulai menulis sejak tahun 1979, antologi sajaknya Palangsaran, Patilaran, Ritus Puisi dan Laventre De Kandangan. Muatan lokal SD dari kelas I sampai kelasVI. .
Tiga novelet yang berhasil dalam ciptanya, Reportase Rawa Dupa, Selaka Kunang Kunang dan konser kecemasan, lintas revolusi fisik tahun 1945 – 1949 daerah Kalsel di HSS ( Adicita Karya Nusa, Yogyakarta dan Pemkab HSS tahun 2001 bersama Uda Djarani E.M).. 

Disamping itu Ketua Dewan Kesenian Daerah (DKD) HSS ini juga aktif dengan sanggar Posko Labastari yang telah bergelar di berbagai kota, seperti mengikuti festival pertunjukan rakyat tingkat Nasional di Surabaya, Jakarta, Bali, Mataram dan Solo.

Almarhum juga pernah mengikuti forum seni lain yaitu Pesta Gendang, Nusantara 6 di Melaka, Malaysia 2003, Festival Nusa DUa di Bali 2003 dan Festival Seni Pertunjukan di Bukit Tinggi Sumatera Barat tahun 2003. Tercatat sebagai Pengurus BPJSM 45 HSS, Wakil Ketua KNPI, Wakil Ketua Pemuda Panca Marga(PPM), Pengurus Gabsi HSS dan aktif dalam Kwarcab gerakan Pramuka kabupaten HSS.

Menurut Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata HSS H Suriani, SSos,MAP, sosok Burhanuddin adalah ulet dan tekun. Mungkin sulit menggantikan untuk meneruskan karya karya sastra dan naskah teater. “ Terakhir, beliau melaksanakan kegiatan membuat video klip lagu lagu Banjar khusus pengarang dari kabupaten HSS.dan ini masih dalam proses,” ujarnya.

Diharapkan, hasil sumbangsih beliau dalam bentuk sastra dan kegiatan lainnya dapat dilestarikan, bagi seniman dan budayawab lainnya, terkhusus di kabupaten HSS . 

Sastrawan dan Budayawan Kalsel Agus Soeseno mengungkapkan bahwa dirinya begitu amat kehilangan. Sebagai sahabat, saudara dan lawan , sosok bouy bagaikan tunggul mesjid dalam wadah olah seni yang banyak memiliki kepiawaan.Dalam diamnya, dia mampu mencipta dan koloborasi antara dunia sastra dan teater. “ Dia mampu membuat puisi, naskah teater, seni tradisi dengan khas budaya dayak asal HSS. Tak dapat dimungkiri, mencari seorang bouy tidak semudah membalik sebelah tangan, perlu waktu. Pasalnya, seseorang yang pintar menulis puisi belum tentu bisa membuat naskah teater dan sekaligus melakoninya. Kurasa, dengan hilangnya tunggul tersebut kedepan kita harus meneruskannya agar kesenian tidak berhenti sampai disini,” ucapnya. 

Dimata tetuha DKD HSS Bahdar Joehan, Burhanudin adalah seorang bersahaja dan tak pernah marah . Secara fisik hampir lupa mengurus dirinya sendiri hanya untuk kepentingan orang lain dan organisasi. “ Kedepan generasi dibelakang siap meneruskan, untuk menyelesaikan program yang belum terselesaikan, kendati saudara bouy telah tiada,” tandasnya.


Rabu, 30 Mei 2012

GALERI FOTO LOKSADO

Rabu, 30 Mei 2012

Mengarungi Sungai Amandit


Membuka Jalur



Perjuangan


Beban


Mananjak lanting




Sabtu, 26 Mei 2012

NAPA JAR SAI......

Sabtu, 26 Mei 2012



MENCARI DARAH

Jangan sia-siakan darahmu. Makanya jangan sampai terjadi pertumpahan darah. Karena mencari darah itu susah.

Ini seperti yang saya alami sendiri belum lama tadi. Untuk keperluan keluarga yang membutuhkan. Cari sana-sini. Golongan darah yang dicari adalah B.

Saya pun berburu darah. Karena keluarga saya itu membutuhkan dua kantong darah. Untuk itu saya berusaha mendapatkan dua orang yang akan mendonorkan darahnya.

Malam, usai shalat Maghrib saya ke Tagana HSS. Di poskonya saya mencari data anggotanya yang punya golongan darah B. Satu-persatu dihubungi lewat HP.

Karena tak membuahkan hasil lantas saya pergi ke Meratus Hijau, sebuah perkumpulan pencinta alam di HSS. Bertemu sang ketuanya langsung. Sehingga urusan lebih mudah. Cari-cari ada yang bersedia. Satu orang, perempuan. Yang lain beda golongan darah.

Untuk mencari yang satu lagi saya ke Tibung, tempat rekan saya Aliman Syahrani. " Aku tak bisa membantu, besok ada kegiatan penting,"ujarnya. Tapi dia menyarankan saya menghubungi BPK Taqwa dan BPK Rangganala.

Besok harinya di RSUD Brigjend H.Hassan Basry Kandangan, tempat keluarga saya dirawat. Rekan dari Meratus Hijau sudah datang. Lalu saya ajak ke ruang laboratorium tempat pemeriksaan darah. Setelah diperiksa ternyata tensi darahnya rendah. Sehingga tak bisa didonorkan.

Sebenarnya saya tak pernah menghadapi masalah seperti ini. Boleh dikata gagap berurusan dengan orang banyak. Apalagi prosedur yang berbelit-belit.

Bingung tak jua mendapatkan orang yang mendonorkan saya pulang ke rumah. Disaat pikiran tidak karuan seperti itu, saya ambil air wudhu lalu shalat sunat dan berdo'a kepada Allah SWT dimudahkan dalam menghadapi segala urusan.

Saya teringat dengan tetangga kampun yang punya golongan darah B. Saya hubungi dia, lantas ia menyanggupi. Karena sesuai, sekantong darahpun didapatkan. Tapi masih perlu satu kantong lagi.

Ada yang menyarankan cari ke tentara atau polisi. Tapi rekan yang lain melarang. " Prosedur cukup sulit," ujar rekan saya.

Lantas saya coba-coba datang kembali ke Tagana HSS. Mungkin ada jalan keluar. Terus terang saja baru kali ini saya menghadapi masalah seperti ini. Biasanya saya cuma membantu teman. Tinggal beres saja. Tapi kali ini saya sendiri yang menjalaninya.

Di sekretariat Tagana HSS ada dua orang anggota Tagana. " PakRieval tadi mau donor. Kalau mau nanti saya hubungi beliau. Karena sekarang ada di Pagar Haur ,"ujar anggota Tagana HSS itu.

Setelah mendapat kepastian saya kembali ke rumah sakit. Sambil menunggu kedatangan mereka. Akhirnya Pak Rieval Cahyadi datang bersama rekan-rekannya.

Di ruang laboratorium ia diperiksa. Namun hasilnya lagi-lagi tidak bisa didonorkan. Tekanan darahnya tinggi. Namun Alhamdulillah berkat Pak Rieval, dengan menghubungi rekannya yang lain, bernama Azhari, bisa mendonorkan darahnya. Sekantong darahpun menggenapi yang sudah ada.

Terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu mendonorkan darahnya. Semoga kebaikan yang diberikan mendapat ganjaran setimpal dari Allah SWT. Amien....

SKETSA KU JUA

Sabtu, 26 Mei 2012



MEMANCING
Sebagian besar warga di Hulu Sungai Selatan terutama kaum laki-laki hobi memancing. Baik itu sekedar hobi atau juga sudah menjadi mata pencaharian. Mereka yang mengeluti pekerjaan ini bermacam-macam seperti petani, guru, PNS, dsb.

Yang pasti dimana-mana mereka selalu ngobrol tentang memancing ikan. Tidak saja di warung tapi juga di pasar bahkan di tempat kerja. Mereka bicara mengenai tempat memancing ikan yang ramai didatangi orang. Juga hasil yang banyak dan ikannya besar-besar.

Menurut Suryani, salah seorang maniak mancing di Angkinang, biasanya para warga memancing ikan jenis papuyu (betok) dan haruan (gabus). " Yang paling digemari memancing ikan haruan, karena hasilnya cukup memuaskan, " ujar Isur, sapaan akrabnya.

Memancing ikan haruan juga sering disebut dengan mamair. Sedang umpan yang digunakan adalah kodok ukuran kecil. Sementara ukuran alat pancingnya tentu lebih besar dari joran papuyu.

Ketika memancing yang harus dibawa adalah keranjang, umpan, dan unjun pair. Menariknya karena hobi bagaimanapun beratnya medan tempat memancing tetap didatangi karena ramai ikan yang mematuk. Tak ada dikenal kata lelah.

Persediaan umpan yang banyak dan kawat harus diperhatikan. Agar tidak menyulitkan di belakang nanti. Ada semacam kepuasan batin dan kebanggaan bila kita mampu mendapatkan ikan yang terlalu besar ukurannya. Kepuasan akan makin bertambah kala melepas ikan dari kawat dan memasukannya ke dalam keranjang.

Pemancing ikan haruan di daerah ini banyak digeluti oleh warga yang berusia dewasa. Adapula yang sudah tua karena sudah berpengalaman. Seakan merekalah pakar memancing.

Memang bakat memancing ikan itu adalah keturunan. Persis apa kata peribahasa, buah tak akan jauh jatuh dari pohonnya. Kalau sang ayah pemancing ikan tentulah anaknya akan menjadi pemancing ikan pula. Karena memang sudah menjadi hobi. Daerah yang jauh sekalipun akan mereka datangi. Itulah penghobi memancing ikan yang ada di HSS.

Mereka berangkat secara rombongan menuju tempat memancing. Kalau jauh tujuannya mereka akan bermalam. Bila dekat maka paling lambat tengah malam mereka akan kembali pulang ke rumah.

Daerah tujuan yang sering didatangi seperti Bangkau, Nagara (HSS), Babirik, Danau Panggang (HSU), Batakan (Tanah Laut), sampai ke Pasir (Kaltim).

Dengan membawa tenda untuk bermalam di tempat pemancingan yang dituju. Karena pada malam hari biasanya ikan haruan yang dipancing sering mematuk. Sehingga hasil yang diperoleh akan lebih banyak. Juga ikan haruannya besar-besar.

Hasil memancing ini biasanya dibawa pulang ke rumah. Nantinya akan dijual atau dikonsumsi sendiri. Agar tahan lama bisa dibuat ikan kering yang disebut dengan garih haruan.

Semua itu merupakan peluang usaha bagi kita semua. Tinggal pilih. Daripada menganggur lebih baik digunakan ke hal yang bermanfaat. Seperti memancing ikan. Ambillah pancing dan datangilah tempat pemancingan yang banyak ikannya. Hasil yang cukup memuaskan tentu sangat diharapkan.

Bayar Iuran Serikat Kematian di Tempat Almarhum Sariansyah

 Selasa, 6 Oktober 2026 Bayar iuran Serikat Kematian di tempat almarhum Sariansyah bin Muhammad Isa, berlokasi di sekitaran RT 1 Desa Angkin...