Kamis, 5 November 2026
Pagi itu, Kamis (05/11/2026), di sebuah sudut yang teduh di Desa Bakarung, Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan Selatan. Di antara lalu-lalang kendaraan dan obrolan pengunjung Warung Gaza Palestina, ada ketenangan lain yang sedang diciptakan.
Seorang lelaki dengan topi pet kotak-kotak dan kacamata yang sedikit melorot, duduk khusyuk. Kaos putih sederhana, celana jeans yang robek di lutut — bukan karena gaya, tapi karena jejak waktu dan kerja keras.
Di hadapannya, bukan piring saji, melainkan kanvas. Itulah Gusti Masdi, seniman lukis asal Kabupaten HSS yang hingga hari ini masih setia menjaga nyala paletnya.
Saya menghampirinya saat ia sedang menyelesaikan sapuan terakhir pada lukisannya. Sebuah pemandangan yang sangat familiar bagi kita, orang Banua: hamparan sawah hijau yang membentang luas, dibatasi galur sungai kecil dan langit biru berawan khas musim penghujan.
Lukisan itu seolah bukan sekadar gambar, melainkan jendela yang mengajak kita menghirup udara persawahan di HSS. Di meja kerjanya yang sederhana — beralas motif bebatuan sungai — berserakan saksi bisu proses kreatifnya.
Dua toples cat akrilik warna kuning dan cokelat tanah masih terbuka, kuas kecil menari di antara jarinya, sebuah ponsel yang menampilkan referensi, dan kacamata cadangan yang tergeletak. Semua terlihat apa adanya, jujur, dan sangat merakyat. Seperti senimannya sendiri.
Gusti Masdi bukanlah pelukis yang menunggu galeri megah. Bagi beliau, galeri terbaik adalah tempat usahanya sendiri, Warung Gaza Palestina. Di sinilah dua kecintaannya bertemu: meracik kopi untuk warga dan meracik warna untuk jiwa.
Sambil menunggu warung, ia terus berkarya. Tak ada alasan untuk berhenti. Melukis itu seperti bernapas. Kalau kita cinta Banua, ya kita lukis Banua. Begitu kira-kira semangat yang terpancar dari gerak tangannya yang tenang namun pasti.
Di tengah gempuran seni digital yang serba instan, sosok seperti Gusti Masdi adalah oase. Ia mengingatkan kita bahwa seni lukis manual masih punya ruh.
Bahwa keindahan sawah di Angkinang, langit biru di Bakarung, dan pepohonan nyiur di kejauhan, layak untuk diabadikan dengan tangan, bukan hanya dengan filter kamera.
Dari sudut warung di Bakarung pagi ini, kita belajar satu hal: seniman sejati tidak butuh panggung yang besar. Ia hanya butuh kanvas, sedikit warna, dan hati yang masih mau melihat keindahan di sekitarnya. Gusti Masdi masih di sana. Masih melukis. Masih setia. (ahu)