Rabu, 19 Agustus 2026

Semoga Cepat Kelar Pembangunan Langgar Al Kautsar di Desa Angkinang Selatan

 Rabu, 19 Agustus 2026








Semoga cepat kelar, proses tahapan pembangunan Langgar Al Kautsar, berlokasi di sekitaran RT 1 Desa Angkinang Selatan, Kecamatan Angkinang, HSS, Kalsel, pada hari Sabtu (04/07/2026) siang jelang sore. (ahu)

Semangat Pendaftar PMBM MTsN 3 HSS Tahun 2026 Mengikuti Wawancara dan Daftar Ulang

 Rabu, 19 Agustus 2026





















Semangat pendaftar Penerimaan Murid Baru Madrasah (PMBM) MTsN 3 Hulu Sungai Selatan Tahun Pelajaran 2026/2027 saat mengikuti wawancara dan daftar ulang, di ruang Kelas IX madrasah, pada hari Rabu (17/06/2026) pagi. (ahu)

Ada yang Dibeli di Kawasan Makam Datu Sanggul Tapin Suatu Malam

 Rabu, 19 Agustus 2026






Ada yang dibeli di kawasan Makam Datu Sanggul, Tatakan, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan, pada hari Ahad (21/06/2026) malam Senin. (ahu)

Semen untuk Proyek Pembangunan Panggung Terbuka MTsN 3 HSS

 Rabu, 19 Agustus 2026





Ada tumpukkan semen di depan ruang guru, untuk proyek pembangunan Panggung Terbuka MTsN 3 Hulu Sungai Selatan, pada hari Selasa (18/08/2026) pagi. (ahu)

Cerpen AHU : Kampung Hangkinang, Kampung Kebanggaan

 Rabu, 19 Agustus 2026

Ada kampung yang dikenang karena rumah-rumahnya. Ada kampung yang dikenang karena sungainya. Ada pula kampung yang mungkin tidak tercatat sebagai tempat wisata, tetapi selalu punya cara untuk membuat orang yang pernah tinggal di sana ingin pulang. 

Bagi saya, kampung itu bernama Hangkinang. Nama akrab dari Desa Angkinang Selatan. Kampung kecil yang memanjang di kiri dan kanan jalan nasional Trans Kalimantan. 

Jalan yang setiap hari dilalui kendaraan dari berbagai penjuru. Truk-truk besar, bus antarkota, mobil pribadi, sepeda motor, dan kendaraan pengangkut hasil bumi hilir-mudik tanpa pernah benar-benar peduli bahwa di sisi jalan itu ada sebuah kampung yang menyimpan begitu banyak cerita. 

Di sebelah kiri kampung, mengalir Sungai Angkinang. Airnya mungkin tidak selalu jernih. Kadang tenang, kadang deras, kadang naik ketika hujan berhari-hari mengguyur perbukitan dan daratan di sekitarnya. 

Tetapi sungai itu adalah bagian dari ingatan kami. Sungai bukan sekadar air. Ia adalah batas, jalan, tempat bermain, tempat mencari ikan, tempat orang-orang duduk berbincang, dan menjadi saksi banyak peristiwa yang tidak pernah masuk buku sejarah. 

Di seberang jalan, hamparan sawah dan kebun menjadi sumber kehidupan. Sebagian besar warga Hangkinang adalah petani. Barangkali sekitar sembilan puluh persen kehidupan warga bersentuhan dengan tanah. 

Ada yang menanam padi, berkebun, mengurus tanaman, atau mengolah hasil bumi. Yang lain memilih jalan hidup berbeda. Ada guru, pegawai negeri, pedagang, sopir, dan berbagai pekerjaan lainnya. 

Tetapi apa pun profesinya, tanah kampung seperti selalu mempunyai cara untuk mengikat mereka. Sebab di Hangkinang, bertani bukan sekadar pekerjaan. Ia adalah warisan. 

Ia adalah kebiasaan. Ia adalah cara orang tua mengajarkan kepada anak-anaknya bahwa hidup tidak boleh jauh dari tanah tempat kita berpijak. 

Setiap Kamis, suasana Hangkinang berubah. Pasar tradisional mingguan, Pasar Angkinang, mulai menggeliat. Sejak pagi, orang-orang datang dari berbagai arah. 

Ada yang membawa hasil kebun. Ada yang menjual kebutuhan sehari-hari. Ada yang datang membeli sayur, ikan, beras, pakaian, atau sekadar mencari teman untuk berbincang. 

Pasar itu bukan hanya tempat bertukar barang. Ia juga tempat bertukar kabar.

“Sudah mendengar kabar si anu?”

“Bagaimana harga padi sekarang?”

“Tanaman di kebunmu bagaimana?”

“Anakmu sudah pulang dari kota?”

Pertanyaan-pertanyaan sederhana itu menjadi semacam surat kabar kampung. Dan di sanalah saya sering melihat wajah Hangkinang yang sebenarnya. Hangkinang bukan hanya jalan nasional. 

Bukan hanya sawah. Bukan hanya Sungai Angkinang. Hangkinang adalah manusia-manusianya. Ada Dugal. Ada Abau. Ada Kacit. Ada Undat.

Nama-nama yang mungkin terdengar sederhana bagi orang luar, tetapi bagi kami menyimpan cerita yang panjang. Mereka adalah bagian dari warna kampung. 

Mereka bisa bercanda tentang hal-hal kecil, berdebat tentang sesuatu yang tidak terlalu penting, tetapi tiba-tiba mengeluarkan kalimat yang membuat kita diam dan berpikir. 

Dan tentu saja ada Acil Ukis. Pemilik sekaligus pelayan kedai minuman yang menjadi salah satu tempat orang-orang singgah. Kedai Acil Ukis bukan sekadar tempat membeli minuman. 

Di sana, cerita kampung sering bermula. Orang datang untuk minum kopi atau teh, tetapi pulangnya membawa cerita. Suatu sore, Dugal, Abau, Kacit, dan Undat duduk di kedai Acil Ukis.

Acil Ukis sibuk menuangkan minuman ke gelas.

“Seperti biasa?” tanyanya.

Dugal mengangguk.

“Seperti biasa, Cil. Kopi panas. Jangan terlalu manis.”

Abau tertawa.

“Kenapa tidak mau manis, Gal?”

“Karena hidup sudah cukup manis,” jawab Dugal santai.

Kacit langsung menyela.

“Ah, itu namanya bukan bijak. Itu karena kamu takut gula.”

Tawa pecah.

Acil Ukis ikut tersenyum sambil meletakkan gelas di meja.

“Sudahlah. Kalian ini kalau sudah berkumpul, kampung bisa lupa bekerja.”

Undat yang sejak tadi diam tiba-tiba berkata,

“Justru dari duduk begini kita belajar tentang kampung.”

Mereka semua menoleh.

“Belajar apa?” tanya Abau.

Undat memandang ke arah jalan.

Kendaraan besar melintas, membuat suara gemuruh yang sebentar menenggelamkan percakapan.

“Belajar bahwa kampung akan terus berubah,” katanya. 

“Jalan makin ramai, anak-anak makin banyak pergi ke kota, pekerjaan makin beragam. Tetapi kalau kita lupa kepada tanah dan orang-orang yang membesarkan kita, kita akan kehilangan sesuatu yang tidak bisa dibeli.”

Kacit mengangguk pelan.

“Tanah?”

“Bukan cuma tanah,” jawab Undat. 

“Ingatan.”

Kedai mendadak sunyi.

Acil Ukis meletakkan termosnya.

“Betul,” katanya. “Orang boleh pergi sejauh apa pun. Tapi jangan sampai lupa jalan pulang.”

Kalimat itu sederhana. Namun mungkin begitulah kearifan kampung bekerja. Tidak selalu datang dalam pidato panjang. Kadang ia muncul dari mulut seorang ibu pemilik kedai, di antara gelas kopi, suara kendaraan, dan obrolan sore. 

Saya sering berpikir, apa yang membuat sebuah kampung begitu sulit dilupakan? Mungkin bukan karena kampung itu sempurna. Hangkinang juga bukan kampung yang sempurna. 

Ada jalan yang ramai. Ada debu yang beterbangan ketika musim kemarau. Ada genangan ketika hujan turun deras. Ada sawah yang gagal panen. Ada hasil kebun yang harganya jatuh. 

Ada anak muda yang harus pergi meninggalkan kampung untuk mencari masa depan. Tetapi justru di tengah segala ketidaksempurnaan itulah kehidupan terasa nyata. 

Orang-orang saling mengenal. Jika ada yang sakit, kabarnya cepat sampai. Jika ada yang mendapat musibah, tetangga datang membantu. Jika ada hajatan, orang-orang bergotong royong. Jika musim panen tiba, kegembiraan terasa seperti milik bersama. 

Itulah kearifan yang tidak tertulis. Gotong royong bukan sekadar kata yang sering diucapkan dalam upacara atau tulisan tentang budaya. Di kampung, gotong royong adalah kebiasaan. Ia tumbuh dari kesadaran bahwa hidup seorang manusia tidak pernah benar-benar berdiri sendiri.

Suatu ketika saya bertanya kepada seorang tua di kampung,

“Kenapa orang-orang di sini begitu dekat dengan tanah?”

Ia tersenyum.

“Karena dari tanah kita makan.”

Saya kembali bertanya,

“Kalau suatu hari semua orang tidak lagi bertani?”

Ia terdiam sebentar.

“Tidak masalah kalau pekerjaan berubah,” katanya. 

“Yang jangan berubah adalah rasa hormat kepada tanah.”

Saya mengingat kalimat itu sampai sekarang. Barangkali itulah inti dari kearifan lokal Hangkinang. Modern boleh. Pergi merantau boleh. Menjadi guru, pegawai, pedagang, sopir atau profesi apa pun boleh. 

Tetapi akar jangan sampai putus. Sebab manusia tanpa akar akan mudah lupa dari mana ia berasal. Kini, setiap kali mendengar suara kendaraan melintas di jalan Trans Kalimantan, ingatan saya sering kembali kepada kampung. 

Saya membayangkan Sungai Angkinang yang mengalir di sisi kampung. Saya membayangkan hamparan sawah. Saya membayangkan kebun-kebun yang menjadi tempat orang-orang menggantungkan hidup. 

Saya membayangkan riuh Pasar Angkinang setiap Kamis. Dan saya kembali melihat kedai Acil Ukis. Dugal masih dengan candanya. Abau masih dengan tawanya. Kacit masih dengan celotehnya. 

Undat masih dengan kalimat-kalimatnya yang kadang sederhana, tetapi menyimpan makna. Mungkin waktu telah membawa kami ke jalan masing-masing. Sebagian pergi. Sebagian menetap. Sebagian berubah. 

Namun ada sesuatu yang tetap tinggal. Kenangan. Dan kampung. Sebab kampung bukan hanya tempat kita dilahirkan atau dibesarkan. Kampung adalah tempat pertama kita belajar mengenal manusia. 

Tempat pertama kita belajar bekerja. Tempat pertama kita mengenal kehilangan. Tempat pertama kita memahami kebersamaan. Dan tempat pertama kita mengerti arti pulang. 

Bagi saya, Hangkinang adalah semua itu. Kampung di tepi Sungai Angkinang. Kampung di sepanjang jalan Trans Kalimantan. Kampung dengan pasar Kamisnya. Kampung para petani dan pekerja keras. Kampung yang menyimpan sejuta kisah indah. 

Kampung yang mungkin kecil di peta, tetapi besar di hati orang-orang yang pernah menjadi bagian darinya. Jika suatu hari nanti saya ditanya,

“Dari mana kamu berasal?”

Saya tidak perlu menjawab panjang. Saya hanya akan tersenyum dan berkata :

“Saya dari Hangkinang.”

Sebab di sanalah sebagian besar cerita hidup saya bermula. Dan sampai kapan pun, Hangkinang tetap kampung kebanggaan.***

Angkinang Selatan, 19 Agustus 2026

Pagi yang Menyimpan Harapan di MTsN 3 HSS

 Rabu, 19 Agustus 2026




Beberapa bangunan kelas di MTsN 3 Hulu Sungai Selatan (HSS), berlokasi di sekitaran RT 3 Desa Angkinang Selatan, Kecamatan Angkinang, Kabupaten HSS, Kalimantan Selatan, tampak sederhana dalam cahaya, pada hari Selasa (18/08/2026) pagi. Dari balik bangunan, matahari perlahan menyembul. Sinarnya jatuh di antara dinding, jendela, rerumputan, dan hamparan ladang yang terbentang di belakang sekolah. 

Pemandangan yang barangkali biasa bagi mereka yang setiap hari berada di sini, tetapi menyimpan keindahan tersendiri bagi mata yang bersedia berhenti sejenak. Ada sesuatu yang menenteramkan dari suasana pagi itu. Sekolah berdiri di tepian hamparan hijau, seolah menjadi ruang kecil tempat cita-cita tumbuh sebelum anak-anak itu kelak melangkah lebih jauh menjemput masa depan. Bangunan-bangunan kelas itu mungkin tidak semegah sekolah-sekolah di tengah kota. 

Namun, di balik jendelanya ada suara guru yang mengajarkan pengetahuan, ada anak-anak yang menyimpan mimpi, ada buku-buku yang dibuka setiap pagi, dan ada harapan yang terus dirawat dari hari ke hari. Matahari pagi mengajarkan satu hal sederhana: bahwa cahaya tidak selalu datang dari tempat yang megah. Kadang ia menyelinap dari balik bangunan sederhana, menyentuh tanah, rerumputan, dan dinding-dinding sekolah—lalu diam-diam menghangatkan perjalanan orang-orang yang sedang belajar menata masa depan. 

Di tempat seperti inilah pendidikan menemukan maknanya yang paling sunyi sekaligus paling penting. Sebab sekolah bukan sekadar bangunan dan ruang kelas. Ia adalah tempat di mana masa depan perlahan-lahan diberi bentuk. Dan pagi itu, di MTsN 3 Hulu Sungai Selatan, matahari seperti sedang mengingatkan kita: setiap anak berhak tumbuh bersama cahaya, di mana pun ia belajar dan dari bangunan sesederhana apa pun ia memulai mimpinya. (ahu)

Selasa, 18 Agustus 2026

Puisi AHU : Dedikasi Lelakon Tajam Isyarat Kondisi Wewenang

 Rabu, 19 Agustus 2026

Benalu cumbu aturan gemerlap potensi hikmah

gempita remang ranum ikatan cahaya dimensi stigma

umpama sadar aturan semburat gemilang tangguh

merona sikap perjuangan tajam wibawa perangai jelita

ujung penantian kembara sugesti panorama indah

potensi remang ragam intim purnama sembilu

 

Dedikasi lelakon tajam isyarat kondisi wewenang

lelap obsesi cenderung memikat suara pantang

senyap aroma niscaya kelembutan umpama taktis

langkah kemilau derajat arus stigma poros fanatik

komando jelita musnah impian debaran gelombang

pendam ambisi kelindan umpama remang senang

tahta samudera lampau ikatan remang jengah tentu

 

Kumandang risau pualam nostalgia ilusi cerita sinis

lampau renjana arus konotasi martabat melankolis

gamang lagu wibawa nostalgia panutan ikatan

jurang tabiat hikayat arus senandung bimbang

arus dinamika rembulan cahaya stigma panutan

teguh umpama kenangan urgensi cahaya penasti

 

Panutan diri tajam dimensi lumrah seteru wajah

seteru rindu gempita arus tendensi irama pongah

etalase kemungkinan restu wajah kelindan optimis

suara gemuruh lenyap intonasi anulir parasangka

hunjam terjal kenduri tangguh jejak imajinasi langgam

ruang lingkup senandung irama ilusi jelata nyata

 

Angkinang Selatan, 19 Agustus 2026

Puisi AHU : Selera Taktis Asumsi Nurani Lembut Perjuangan

 Rabu, 19 Agustus 2026

Langkah irama puncak memandang silam ornamen upaya

penuh derai membara lindap sanubari sukma tendensi sinis

arus umpama kehidupan ilusi prasangka derajat tinggi

dinamika penawar cahaya senarai lembut sembilu tegas

wajah peraman lampau etalase selera waktu memantik

ihwal sendu komitmen cerita kenangan indah membara

 

Selera taktis asumsi nurani lembut perjuangan

penerus ketetapan nyata mengikat selera waktu stigma

sandaran hati jejak perjalanan lelah kian sendu meniku

gemerlap potensi ranum aturan kelakar sendu menuang

pertajam nalar ironi nostalgia semerbak konotasi pongah

silam membara kenangan indah perdaya aroma tangguh

seteru pindai pualam kemenangan aturan lindap luruh

 

Umpama kendali wujud irama kian restu perjuangan

potensi igau impian derajat musnah selera fanatik

iringan kecipak sukma prasangka lumrah memantik

semburat kinanti wujud tendensi perdaya mahkota

senandung gulana aturan cahaya tirani kasmaran

jelajah sanubari perjuangan niscaya lembut harapan

 

Jejak panutan kemilau pongah hampa membara

irama sinis gerimis sugesti panutan seloka tuntas

kemarau isyarat langkah tempias belenggu retas

cenderung langgam ketentuan sukma memintal

cahaya dentang ornamen ikatan lindap fantasi

momentum dilematis ketentuan taktis dedikasi

 

Angkinang Selatan, 19 Agustus 2026


Merawat Taman, Menyemai Kepedulian di MTsN 3 Hulu Sungai Selatan

 Rabu, 19 Agustus 2026












Pada hari Rabu (19/08/2026) pagi, di antara rimbunnya dedaunan dan warna-warni bunga yang sedang bermekaran, seorang siswa Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 3 Hulu Sungai Selatan (HSS) menjalankan sebuah amanah sederhana : menyiram tanaman di taman bak semen lingkungan madrasah. Tampak sepele, barangkali. Hanya menyiram tanaman. Namun, dari pekerjaan sederhana itulah tumbuh sebuah pelajaran besar tentang tanggung jawab.

Juga kepedulian, dan kecintaan kepada lingkungan. Dengan mengenakan pakaian seragam yang rapi, ia berdiri di antara sulur-sulur tanaman dan bunga bougenville yang menghiasi taman. Air yang disiramkan bukan sekadar membasahi tanah dan akar. Seolah-olah, setiap tetesnya membawa pesan bahwa kehidupan harus dirawat dengan kesabaran dan ketulusan. 

Tanaman tidak pernah meminta banyak. Ia hanya membutuhkan air, cahaya, tanah yang baik, dan tangan-tangan yang bersedia merawatnya. Demikian pula lingkungan madrasah. Keindahan tidak hadir dengan sendirinya. Ia lahir dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus oleh orang-orang yang peduli. 

Taman bak semen di lingkungan MTsN 3 HSS, yang berada di sekitaran RT 3, Desa Angkinang Selatan, Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, menjadi ruang kecil tempat nilai-nilai itu dipraktikkan. Di sana, siswa tidak hanya belajar dari buku dan papan tulis. Mereka juga belajar dari tanah, daun, bunga, air, dan kehidupan yang tumbuh di sekelilingnya. 

Ada pendidikan yang tidak selalu tertulis dalam buku pelajaran: bahwa sesuatu yang dipercayakan kepada kita harus dijaga. Menjalankan tugas menyiram tanaman berarti belajar bahwa tanggung jawab tidak harus selalu berupa pekerjaan besar. Kadang-kadang ia hadir dalam bentuk yang sangat sederhana—mengambil air, menyiram tanaman yang mulai layu, membersihkan bagian taman yang kotor, atau memastikan bunga tetap tumbuh dengan baik. 

Dan justru dari kebiasaan kecil seperti itulah karakter dapat tumbuh. Pagi itu, di tengah udara yang masih bersahabat dan hijaunya lingkungan madrasah, aktivitas menyiram tanaman terasa seperti sebuah percakapan sunyi antara manusia dan alam. Tangan manusia memberi air, sementara alam menjawabnya dengan daun yang segar, bunga yang mekar, dan suasana yang lebih teduh. 

Barangkali, inilah makna sederhana dari merawat bumi : memberi sedikit dari apa yang kita punya agar kehidupan terus tumbuh. Semoga tangan-tangan muda yang hari ini belajar menyiram tanaman kelak tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas dalam pengetahuan, tetapi juga lembut dalam memperlakukan alam. Sebab madrasah bukan hanya tempat menanam ilmu. 

Madrasah juga tempat menanam kepedulian. Dan setiap tanaman yang tumbuh subur di halaman madrasah adalah pengingat bahwa kebaikan, sekecil apa pun, akan selalu menemukan jalannya untuk tumbuh. Dari taman kecil di Desa Angkinang Selatan, semoga tumbuh kepedulian yang lebih luas—untuk madrasah, untuk lingkungan, dan untuk bumi yang kita warisi bersama. (ahu)

Semoga Cepat Kelar Pembangunan Langgar Al Kautsar di Desa Angkinang Selatan

 Rabu, 19 Agustus 2026 Semoga cepat kelar, proses tahapan pembangunan Langgar Al Kautsar, berlokasi di sekitaran RT 1 Desa Angkinang Selatan...