Selasa, 13 Januari 2026
Ada
masa—beberapa tahun silam—ketika sore hari tak perlu direncanakan. Cukup
menyalakan motor butut kesayangan, mengenakan helm yang sudah banyak menyimpan
debu jalan, lalu membiarkan roda membawa tubuh ke mana saja, selama masih
berada di wilayah yang akrab di hati : kampung-kampung di Kabupaten Hulu Sungai
Selatan (HSS).
Kini,
saya ingin mengulangnya. Bukan untuk mengejar tujuan, melainkan mengejar rasa.
Perjalanan
itu biasanya dimulai dari Angkinang.
Daerah yang tenang, seolah selalu berbicara dengan suara rendah. Sawah
terbentang, parit-parit kecil mengalirkan air yang tak tergesa, dan rumah-rumah
kayu berdiri apa adanya. Angkinang seperti halaman pembuka—memberi waktu bagi
pikiran untuk pelan-pelan menanggalkan beban.
Dari
sana, jalan membawa saya ke Kandangan.
Kota yang hidup, namun tetap menyisakan sudut-sudut sederhana. Di beberapa
ruas, aroma warung sore bercampur dengan bau aspal yang menghangat. Kandangan
bukan sekadar pusat keramaian, tapi persinggahan yang mengingatkan bahwa denyut
kota dan desa di Kabupaten HSS tak pernah benar-benar terpisah.
Lalu
Simpur. Kecamatan yang sering
dilewati tanpa banyak disadari, padahal di sanalah kesahajaan benar-benar
terasa. Anak-anak bermain di halaman, sepeda tua bersandar di pagar, dan waktu
seperti melambat. Simpur mengajarkan bahwa perjalanan tak selalu butuh cerita
besar—cukup hadir dan melihat.
Menjelang
sore, saya biasa mengarah ke Sungai
Raya. Daerah yang terasa lebih lapang, dengan garis cakrawala yang
panjang. Di sini, angin sore terasa berbeda. Jalanan sepi, dan sesekali
kendaraan lain melintas, saling menyapa dengan klakson pendek. Sungai Raya
seperti ruang bernapas di tengah perjalanan panjang.
Perjalanan
berlanjut ke Padang Batung,
wilayah yang berlekuk, naik-turun, seakan menguji kesabaran motor tua. Tapi
justru di sanalah kenikmatan itu muncul. Setiap tikungan memberi pemandangan
baru, setiap tanjakan mengajarkan ketekunan. Padang Batung bukan sekadar jalur
lintasan, tapi bagian dari dialog antara mesin, jalan, dan ingatan.
Dan
akhirnya, Telaga Langsat. Senja
biasanya sudah turun perlahan. Cahaya matahari meredup, menyisakan warna jingga
yang menempel di ujung pepohonan. Kampung-kampung mulai tenang, suara azan
magrib kadang terdengar dari kejauhan. Di titik ini, saya tahu perjalanan
hampir selesai—bukan karena lelah, tapi karena hari memang harus ditutup.
Enam
kecamatan. Beberapa jam di atas motor. Tanpa tujuan resmi, tanpa dokumentasi
berlebihan. Hanya mata yang melihat, hati yang mencatat.
Kini,
semua itu terasa seperti kenangan yang lama disimpan di saku jaket. Tak pernah
hilang, hanya jarang dibuka kembali. Mungkin karena kesibukan, mungkin karena
usia, atau mungkin karena kita sering lupa bahwa bahagia bisa sesederhana melintasi kampung demi kampung, tanpa perlu
alasan.
Jika
suatu sore nanti saya kembali menyalakan motor butut itu, semoga bukan hanya
jalan yang saya temui, tapi juga diri saya yang dulu—yang lebih ringan, lebih
pelan, dan lebih bersahabat dengan waktu. (ahu)