Senin, 11 Mei 2026
Memandang wajah ibu
Adalah menyelami
telaga kasih yang teramat dalam
Tempat berpijah
mutiara-mutiara kehidupan
Lalu bersemi menjadi
bunga-bunga kepribadian
Tempat mengaca diri sembari
bertanya
Tentang peradaban di
musim mimpi
Memandang wajah ibu
Adalah merenung jejak
keseharian
Yang sering lalai dan
alpa diri
Di sanalah kita
tautkan perahu kerinduan
Tempat melimpahkan
beban keseharian
Mengadukan nestapa
diri
Di lautan kasihnya
yang tak kering disemai waktu
Memandang wajah ibu
Adalah merenangi
sungai masa lalu
Di situlah tergambar
garis-garis kearifan
Ketika kita tak sanggup
berenang di arus waktu
Lalu ibu mengajarkan
semua itu
Belajar mengaji pada
rumpun padi
Belajar bernyanyi
dengan bahasa bunga
Belajar tertawa tanpa
membusungkan dada
Memandang wajah ibu
Adalah belajar
mengeja asma Tuhan
Suatu hari nanti akan
kubasuh kaki ibu
Dengan air kembang
budi dan bakti
Sebab di sanalah
tersembunyi pintu-pintu surga
Dan aku pun ingin
memasukinya
Kandangan –
Banjarbaru, Juli 2000