Selasa, 10 Maret 2026
![]() |
| Kolam Jepang yang ada di bantaran sungai Angkinang, berlokasi di sekitaran RT 1 Desa Angkinang Selatan, Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. (ahu) |
Angkinang, sebuah kecamatan di
Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Kalimantan
Selatan, menyimpan sejumlah cerita sejarah yang menarik untuk ditelusuri. Di antara
yang masih dikenal oleh masyarakat hingga sekarang adalah Kolam Jepang dan Timbuk Ril. Kedua tempat ini diyakini
berkaitan dengan masa pendudukan Jepang di Indonesia sekitar tahun 1942–1945.
Di wilayah Angkinang terdapat sebuah
kolam yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan sebutan Kolam Jepang. Berdasarkan cerita yang
berkembang dari generasi ke generasi, kolam ini dibuat pada masa penjajahan
Jepang.
Konon, kolam tersebut digunakan
sebagai tempat penampungan air oleh tentara Jepang. Airnya dimanfaatkan untuk
berbagai kebutuhan seperti mandi, mencuci, maupun kebutuhan sehari-hari bagi
tentara dan pekerja yang berada di sekitar wilayah tersebut.
Meskipun tidak banyak catatan
tertulis yang tersisa, keberadaan kolam tersebut menjadi saksi bisu bahwa
wilayah Angkinang juga pernah menjadi bagian dari aktivitas militer Jepang di
masa perang.
Seiring berjalannya waktu, kolam ini
kemudian dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar untuk berbagai keperluan, bahkan
ada yang menjadikannya sebagai kolam ikan atau sekadar tempat yang memiliki
nilai sejarah lokal.
Selain Kolam Jepang, masyarakat
Angkinang juga mengenal sebuah tempat yang disebut Timbuk Ril. Nama ini berasal dari kata rel, yang merujuk pada rel kereta api.
Menurut cerita masyarakat, pada masa
pendudukan Jepang pernah dibangun jalur rel kereta api sederhana yang melintasi
wilayah Angkinang. Jalur tersebut digunakan untuk mengangkut hasil tambang
batubara dari daerah Mangunang menuju wilayah Nagara.
Rel kereta api tersebut membentang
beberapa kilometer melewati wilayah Angkinang. Namun setelah masa penjajahan
berakhir, rel tersebut tidak lagi digunakan dan akhirnya hilang seiring waktu.
Besi rel kemungkinan diambil kembali atau dimanfaatkan untuk keperluan lain.
Kini, yang tersisa hanyalah nama Timbuk Ril yang masih dikenal oleh
masyarakat sebagai penanda sebuah kawasan yang dahulu pernah dilalui jalur rel
kereta api.
Kolam Jepang dan Timbuk Ril mungkin
tidak tercatat dalam buku sejarah besar, namun keberadaannya tetap penting
sebagai bagian dari sejarah lokal
masyarakat Angkinang. Cerita-cerita yang diwariskan secara lisan menjadi
pengingat bahwa daerah ini juga pernah mengalami masa-masa sulit pada zaman
penjajahan.
Melalui tulisan dan dokumentasi sederhana, diharapkan kisah-kisah sejarah lokal seperti ini dapat terus dikenang dan diwariskan kepada generasi berikutnya. (ahu)






























