Senin, 13 April 2026
Senin (13/032026) pagi, matahari baru saja menyapa Desa Angkinang Selatan dengan cahaya keemasannya. Namun, bagi kaki-kaki yang melangkah di atas jembatan menuju Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 3 Hulu Sungai Selatan (HSS), keindahan pagi itu kerap tertutup oleh selubung rasa was-was yang nyata. Setiap derit kayu yang terinjak bukan sekadar bunyi mekanis, melainkan sebuah peringatan.
Di RT 3 Desa Angkinang Selatan ini, sebuah jembatan kayu ulin yang seharusnya menjadi penyambung mimpi, kini tampak kian merenta dimakan usia. Jembatan ini bukan sekadar tumpukan kayu. Ia adalah nadi kehidupan. Bayangkan setiap harinya : Guru dan Staf Tata Usaha melintas demi menunaikan amanah mencerdaskan bangsa.
Siswa-siswi dengan tas di punggung meniti bilah-bilah kayu yang tak lagi rata, membawa harapan masa depan di atas titian yang rapuh. Petani dan warga desa yang menggantungkan hidupnya pada jembatan ini untuk menuju sawah, kebun, dan kembali ke rumah mereka masing-masing. Melihat kondisinya yang memprihatinkan, dengan kayu-kayu yang mulai lapuk dan susunan yang tak lagi kokoh.
Siapa pun yang melintas tak akan mampu menyembunyikan rasa cemas. Langkah kaki harus diatur sedemikian rupa, mata harus jeli menatap celah, dan hati tak henti-hentinya berdoa agar hari ini bukan menjadi hari di mana kayu tersebut menyerah pada beban.
Pertanyaannya sederhana namun menyesakkan : Sampai kapan rasa was-was ini harus dipelihara ? Kita seringkali baru tersentak saat musibah sudah terjadi. Kita baru sibuk berbenah saat ada tangis yang pecah karena jatuh atau cidera. Namun, haruskah kita menunggu jatuhnya korban sebelum tangan-tangan pembuat kebijakan bergerak ?
Warga Desa Angkinang Selatan dan keluarga besar MTsN 3 HSS tidak meminta kemewahan. Mereka hanya mendambakan keamanan. Harapan besar kini tertuju kepada Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Hulu Sungai Selatan (HSS) agar memberikan perhatian serius pada sarana vital ini. Keinginan warga sangatlah jelas : Sebuah jembatan beton yang permanen.
Kayu ulin memang kuat, namun ia memiliki batas. Seiring perkembangan zaman dan beban mobilitas masyarakat yang kian tinggi, sudah saatnya kayu-kayu tua ini diistirahatkan dan diganti dengan beton yang kokoh. Jembatan yang kuat akan menjadi bukti nyata kehadiran pemerintah dalam mendukung akses pendidikan dan ekonomi rakyat kecil di pelosok desa.
Warga madrasah dan desa mengetuk pintu hati pihak berwenang. Jangan biarkan langkah anak-anak kita menuju madrasah dibayangi ketakutan. Mari kita bangun bukan hanya jembatan fisik, tapi juga jembatan harapan yang aman bagi mereka yang setiap hari berjuang demi kehidupan yang lebih baik. Karena setiap nyawa terlalu berharga untuk sekadar ditukar dengan kata : Kaina Haja. (ahu)























































