Selasa, 13 Januari 2026
Seloka Belantara
MELANGKAH DI JALAN, MENULIS DI HATI (Catatan Perjalanan, Renungan, dan Kisah Sederhana dari Sudut-Sudut Kehidupan)
Senin, 12 Januari 2026
Rest Area HGD Kedua di Langgar Al Muttaqin Teluk Masjid Sungai Pandan HSU
Selasa, 13 Januari 2026
Beginilah suasana saat berada di Rest Area Haul Kedua Tahun 1447 H / 2026 M, KH Asmuni atau Guru Danau, di Langgar Al Muttaqin, yang ada di sekitaran Desa Teluk Masjid, Kecamatan Sungai Pandan, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan, pada hari Senin (12/01/2026) malam Selasa. (ahu)
Video : Banjir Masih Menggenang Saat Pulang dari HGD Kedua
Selasa, 13 Januari 2026
Video : Banjir dan Macet Saat Menuju HGD Kedua Tahun 1447 H / 2026 M
Selasa, 13 Januari 2026
Video : Melintasi Jalan Tergenang Banjir di Sungai Buluh HST Senin Sore
Selasa, 13 Januari 2026
Minggu, 11 Januari 2026
Baah di Desa Angkinang Selatan Suatu Pagi
Senin, 12 Januari 2026
Baah yang terajadi di sekitaran RT 3 Desa Angkinang Selatan, Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, pada hari Jumat (19/12/2025) pagi. (ahu)
Ketika Negara Hadir, Tapi Daerah Sekadar Menjadi Latar
Senin, 12 Januari 2026
Pagi
itu Banjarbaru menjadi titik pandang negara. Bendera berkibar, pasukan rapi,
kamera televisi bekerja tanpa jeda. Presiden datang, sebuah program nasional
diresmikan: Sekolah Rakyat, ikhtiar memutus mata rantai kemiskinan lewat
pendidikan.
Segalanya
tampak tertib, terukur, dan resmi.
Namun,
seperti banyak peristiwa besar yang singgah di daerah, ada rasa samar yang
tertinggal—bukan marah, bukan pula iri—melainkan sejenis pertanyaan sunyi: di
manakah wajah daerah dalam peristiwa ini?
Di
barisan depan, deretan pejabat pusat berdiri mengapit Presiden. Nama-nama besar
yang akrab kita dengar dari layar kaca. Sementara pejabat Kalimantan Selatan,
yang tanahnya menjadi tempat acara ini berlangsung, nyaris tak tertangkap
lensa. Mereka hadir, tentu saja, tetapi tidak di ruang utama pandang publik.
Begitu
pula dengan pengisi acara. Anak-anak tampil percaya diri, menyanyikan harapan
dan masa depan. Penampilan mereka rapi, terlatih, nyaris sempurna. Tetapi bagi
mata yang terbiasa membaca gestur dan logat, terasa bahwa mereka bukan berasal
dari tanah ini. Bukan anak-anak sungai, bukan pula anak-anak rawa dan
persawahan yang tumbuh bersama kabut pagi Kalimantan Selatan.
Barangkali
ini sekadar soal teknis. Barangkali demi keamanan, efisiensi, dan kepastian
acara. Dalam logika negara, semua itu masuk akal. Acara ini bukan milik satu
daerah, melainkan peresmian nasional. Banjarbaru hanyalah titik simbolik di
peta Indonesia.
Namun
di situlah letak kegelisahan kecil itu tumbuh.
Ketika
sebuah daerah dipilih sebagai lokasi, sesungguhnya ia bukan sekadar ruang
fisik. Ia adalah sejarah, bahasa, wajah, dan rasa. Ia memiliki anak-anaknya
sendiri yang juga menyimpan mimpi. Ia memiliki pemimpinnya sendiri yang
sehari-hari bergulat dengan persoalan nyata masyarakatnya.
Jika
semua itu hanya ditempatkan sebagai latar, maka daerah perlahan belajar bahwa
kehadirannya tidak sepenuhnya dianggap sebagai subjek.
Ini
bukan soal siapa yang berdiri paling depan, atau siapa yang tampil di panggung.
Ini soal rasa memiliki. Soal bagaimana sebuah kebijakan nasional, sebaik
apa pun niatnya, bisa terasa lebih hangat ketika menyentuh denyut lokal.
Sekolah
Rakyat adalah gagasan besar. Ia menyimpan harapan bagi anak-anak yang selama
ini tercecer oleh keadaan. Tetapi harapan akan tumbuh lebih kuat bila ia berakar
pada tanah tempat ia ditanam.
Mungkin,
di masa mendatang, negara bisa memberi ruang lebih luas—bukan hanya untuk
meresmikan, tetapi juga untuk mendengarkan; bukan hanya menghadirkan program,
tetapi juga menghadirkan wajah daerah.
Karena
pembangunan bukan semata tentang hadirnya negara di daerah, melainkan tentang diakuinya
daerah sebagai bagian utuh dari cerita negara itu sendiri.
Dan Kalimantan Selatan, dengan segala kesederhanaannya, tentu layak menjadi lebih dari sekadar latar belakang. (ahu)
Dari dalam Rumah Melihat Hujan Turun
Senin, 12 Januari 2026
Dari dalam rumah saya, lewat kaca jendela, melihat suasana di halaman rumah, yang berlokasi di sekitaran RT 1 Desa Angkinang Selatan, Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, saat hujan turun, langit temaram, pada hari Ahad (21/12/2025) sore. (ahu)
Video : Lewat Bagian Tengah Jalan Agar Aman Melintasi Banjir
Selasa, 13 Januari 2026
-
Sabtu, 9 November 2024 KH Fakhruddin Nur berasal dari Kuala Tungkal, Provinsi Jambi. Biasa disebut juga Guru Tungkal. Materi ceramahnya men...
-
Sabtu, 30 Maret 2013 Selain ketupat dan dodol, apabila menyebut nama daerah pahuluan, khususnya Kandangan, sejurus tentu terbayang kes...













