Sabtu, 13 Juni 2026

Menyusuri Sunyi di Sekitaran Parumahan Timbuk Ril Desa Taniran Kubah Ahad Pagi

 Ahad, 14 Juni 2026










Saat sebagian orang memilih menikmati hari libur dengan keramaian, saya justru memilih arah yang berbeda. Pada hari Ahad (14/06/2026) pagi bersama sepeda motor butut yang setia menemani perjalanan, saya melaju menuju kawasan Parumahan Timbuk Ril, Desa Taniran Kubah, Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. 

Tak ada tujuan muluk. Tak ada agenda penting. Hanya ingin berjalan-jalan, menghirup udara pagi, dan bercengkerama dengan kesunyian. Saya memang penikmat sunyi. Ada kebahagiaan yang sulit dijelaskan ketika berada jauh dari hiruk-pikuk manusia. Saat suara kendaraan berganti desir angin, ketika percakapan ramai tergantikan kicau burung dan gesekan dedaunan. 

Di tempat-tempat seperti itulah hati terasa lebih lapang dan pikiran menjadi lebih tenang. Pilihan pagi itu pun jatuh kepada Timbuk Ril. Di hadapan saya terbentang jalan tanah yang membelah rimbunnya semak dan pepohonan. Sebuah jembatan tua berdiri sederhana di tengah jalur yang mulai ditelan waktu. Bekas hujan menyisakan genangan kecil di jalan setapak, seakan menjadi saksi bahwa alam masih menjadi penguasa utama di tempat ini. 

Pemandangan yang bagi sebagian orang mungkin biasa saja. Namun bagi saya, ada keindahan yang sulit dicari di tempat lain. Kesunyian. Kesunyian yang hidup. Kesunyian yang seolah menyimpan begitu banyak cerita. Puluhan tahun silam, kawasan Parumahan Timbuk Ril dikenal sebagai tempat yang cukup angker. 

Berbagai kisah mistis pernah beredar dari mulut ke mulut. Cerita tentang penampakan, suara-suara aneh, hingga kejadian yang sulit dijelaskan logika pernah menjadi bagian dari legenda masyarakat setempat. Apalagi setelah ditemukannya makam keturunan Raja Banjar di kawasan ini. Sejak saat itu, cerita-cerita lama kembali muncul dan memperkuat aura misterius yang menyelimuti Parumahan Timbuk Ril. 

Namun pagi itu, saya tidak menemukan rasa takut. Yang saya temukan justru ketenangan. Mungkin karena waktu telah mengubah banyak hal. Atau mungkin karena alam selalu memiliki cara untuk berdamai dengan masa lalunya. Pepohonan tetap tumbuh, rumput-rumput liar terus menghijau, dan jalan-jalan sepi ini tetap menjadi saksi perjalanan waktu yang tak pernah berhenti. 

Saya berdiri beberapa saat, memandangi jalan yang menghilang di balik rimbunan hijau. Membiarkan pikiran berjalan lebih jauh daripada langkah kaki. Di tempat seperti ini, saya belajar bahwa tidak semua kesunyian harus ditakuti. Ada sunyi yang justru menyembuhkan. Ada sepi yang mengajarkan kita mendengar suara hati sendiri. 

Dan di Parumahan Timbuk Ril, pada sebuah pagi yang sederhana, saya kembali menemukan alasan mengapa saya selalu mencintai perjalanan-perjalanan kecil yang membawa saya menjauh dari keramaian dan lebih dekat kepada alam. Karena terkadang, kebahagiaan memang sesederhana menyusuri jalan sunyi bersama sepeda motor tua, ditemani semesta yang sedang bercerita. (ahu)

Menyusuri Jejak Keturunan Raja Banjar di Parumahan Timbuk Ril Taniran Kubah HSS Ahad Pagi

 Ahad, 14 Juni 2026











Pada hari Ahad (14/06/2026) pagi, saya kembali melangkahkan kaki menyusuri kawasan Parumahan Timbuk Ril, yang ada di sekitaran Desa Taniran Kubah, Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. 

Sebuah kawasan yang masih menyimpan suasana alami dengan pepohonan tinggi, rumpun bambu, dan semak belukar yang tumbuh rapat di sepanjang jalur setapak. Lokasi ini berjarak sekitar 2,5 kilometer dari Desa Angkinang Selatan, tempat saya tinggal. Meski tidak terlalu jauh, perjalanan menuju kawasan tersebut tetap menghadirkan nuansa petualangan tersendiri. 

Jalan setapak yang membelah hijaunya belantara membawa saya menuju sebuah lokasi yang diyakini menjadi tempat peristirahatan salah satu keturunan Raja Banjar. Di tengah rimbunnya vegetasi, saya menemukan sebuah spanduk informasi yang sudah tampak lusuh termakan usia dan cuaca. 

Spanduk itu dipasang pada pepohonan dan memuat keterangan mengenai keberadaan makam Pangeran Abdullah bin Sultan Suriansyah, atau yang dikenal pula sebagai Pangeran Tengah Amandit, beserta makam istrinya, Ratu Nurjannah. 

Temuan tersebut semakin menambah rasa penasaran. Namun, upaya untuk menemukan makam yang dimaksud belum membuahkan hasil. Semak belukar yang tumbuh lebat tampaknya telah menutupi jalur menuju lokasi makam, sehingga keberadaannya masih belum berhasil saya temukan. Ini merupakan kali kedua saya melakukan penelusuran ke kawasan tersebut. 

Meski belum berhasil mencapai tujuan utama, perjalanan ini tetap memberikan pengalaman menarik. Di balik rimbunnya hutan kecil dan sunyinya alam sekitar, tersimpan jejak sejarah yang seolah menunggu untuk kembali ditemukan. Mungkin pada kesempatan berikutnya saya akan datang dengan persiapan yang lebih matang. 

Rasa penasaran tentang letak makam keturunan Raja Banjar ini belum juga terjawab, dan saya merasa pencarian tersebut belum selesai. Ada sesuatu yang selalu menarik ketika sejarah, alam, dan petualangan bertemu dalam satu perjalanan. Parumahan Timbuk Ril bukan sekadar hamparan hijau di pedalaman Desa Taniran Kubah. 

Tempat ini menyimpan cerita masa lalu yang masih hidup dalam ingatan masyarakat. Dan bagi saya, setiap langkah menyusuri jalan setapak di sana adalah bagian dari usaha merangkai kembali kepingan sejarah yang perlahan tertutup oleh waktu dan belantara. (ahu)

Suatu Pagi di Tempat Pendaftaran PMBM MTsN 3 HSS Tahun Pelajaran 2026/2027

 Ahad, 14 Juni 2026




Tempat pendaftaran Penerimaan Murid Baru Madrasah (PMBM) Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 3 Hulu Sungai Selatan (HSS) Tahun Pelajaran 2026/2027, di ruang Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) madrasah, berlokasi di sekitaran RT 3 Desa Angkinang Selatan, Kecamatan Angkinang, Kabupaten HSS, Kalimantan Selatan, pada hari Selasa (14/04/2026) pagi. (ahu)

Video : Pemandangan di Sekitaran Arah Menuju Parumahan Timbuk Ril dari Sungai Batung Bakarung HSS Ahad Pagi

 Ahad, 14 Juni 2026

Pemandangan yang tersaji manis di sekitaran jalan arah menuju Parumahan Timbuk Ril dari Sungai Batung, Desa Bakarung, Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, pada hari Ahad (14/06/2026) pagi. Berjarak sekitar 2 kilometer dari Desa Angkinang Selatan, tempat saya tinggal. (ahu)

Video : Parumahan Timbuk Ril Desa Taniran Kubah Ahad Pagi

 Ahad, 14 Juni 2026

Beginilah suasana di sekitaran Parumahan, Timbuk Ril, berlokasi di Desa Taniran Kubah, Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, pada hari Ahad (14/06/2026) pagi. (ahu)

Video : Gagal Menemukan Lokasi Makam Pangeran Tengah Amandit di Parumahan Taniran Kubah

 Ahad, 14 Juni 2026

Saya gagal menemukan lokasi Makam Pangeran Abdullah atau Pangeran Tengah Amandit, di sekitaran Parumahan Timbuk Ril, di Desa Taniran Kubah, Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan,, pada hari Ahad (14/06/2026) pagi. (ahu)

Video : Sekitaran Parumahan Timbuk Ril Desa Taniran Kubah HSS Ahad Pagi

 Ahad, 14 Juni 2026

Suasana di sekitaran Parumahan Timbuk Ril, yang ada di Desa Taniran Kubah, Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, tempat lokasi Makam Pangeran Abdullah bin Sultan Suriansyah, pada hari Ahad (14/06/2026) pagi. (ahu)

Video : Mencoba Menelusuri Makam Keturunan Raja Banjar di Parumahan Taniran Kubah Ahad Pagi

 Ahad, 14 Juni 2026

Saya mencoba menelusuri lokasi makam keturunan Raja Banjar, Pangeran Abdullah bin Sultan Suriansyah / Pangeran Tengah Amandit, di sekitaran Timbuk Ril Parumahan, Desa Taniran Kubah, Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, pada hari Ahad (14/06/2026) pagi. (ahu)

Video : Ahad Pagi Menyimak Suasana di Sekitaran Parumahan Timbuk Ril Arah Wawaran

 Ahad 14 Juni 2026

Suasana di sekitaran Parumahan Timbuk Ril arah ke Wawaran,  berlokasi di Desa Taniran Kubah, Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, pada hari Ahad (14/06/2026) pagi. Berjarak sekitar 2,5 kilometer dari Desa Angkinang Selatan, tempat saya tinggal. Ada pemandangan persawahan, jalan, pepohonan, dsb. (ahu)

Rumput Liar di Depan Rumah di Desa Angkinang Selatan Ahad Pagi

 Ahad, 14 Juni 2026











Rumput liar yang tumbuh di depan rumah saya, berlokasi di sekitaran RT 1 Desa Angkinang Selatan, Kecamatan Angkinang, Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan, pada hari Ahad (14/06/2026) pagi. Dibiarkan tumbuh subur. (ahu)

Alumni MTsN 3 HSS Tahun Pelajaran 2025/2026 Mengambil SKNR di Ruang PTSP Madrasah

 Ahad, 14 Juni 2026



Alumni Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 3 Hulu Sungai Selatan (HSS) Tahun Pelajaran 2025/2026 saat mengambil Surat Keterangan Nilai Raport (SKNR), di ruang Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) madrasah, berlokasi di sekitaran RT 3 Desa Angkinang Selatan, Kecamatan Angkinang, Kabupaten HSS, Kalimantan Selatan, pada hari Rabu (10/06/2026) pagi. (ahu)

Menyusuri Sunyi di Sekitaran Parumahan Timbuk Ril Desa Taniran Kubah Ahad Pagi

 Ahad, 14 Juni 2026 Saat sebagian orang memilih menikmati hari libur dengan keramaian, saya justru memilih arah yang berbeda. Pada hari Ahad...